29 Mei 2008

Ke Bali yang kemarin

Bali. Sejak lama sekali saya ingin mengunjungi pulau ini. Tayangan pariwisata di televisi saat saya masih kecil, mengibaratkan Bali sebagai serpihan surga yang terserak di bumi. Pulaunya para dewata. Wow, seperti apa ya?

Mendengar begitu hebat pujiannya, mestinya Bali ya itu luar biasa. Dalam angan saya waktu itu, sudah sewajarnya Bali menjadi salah satu tempat yang harus disinggahi. Ya, suatu saat saya ingin ke sana, entah bagaimana caranya. Biar Gusti Pangeran saja yang mengurusnya. Bukankah begitu bunyi salah satu doa yang sering kami orang kampung panjatkan? "Duh Gusti, mudahkanlah segala urusanku. Apa-apa yang baik, berikanlah. Sedang apa-apa yang buruk, jauhkanlah." Plus dengan sedikit tambahan: "Bali itu baik kan Gusti? Kau tentu tau maksudku, berikan ya..." :D

Bertahun kemudian di akhir mei tahun lalu, pabrik saya mengadakan acara di Sanur Bali. Dan saya termasuk yang ditugaskan bersama 2 orang rekan sepabrik. Seperti kata pepatah, ibarat ketiban bulan, saya luar biasa senang. Terima kasih atas hadiahmu ya Gusti.. Inilah pertama kalinya saya mengalami dua hal: naik pesawat dan ke Bali.


Selama tiga hari (30 Mei - 1 Mei 2007), acara dimulai dari pagi hingga malam hari. Sehingga praktis saya hampir tak bisa meninggalkan penginapan. Cuma sekali saya (dan juga ketiga teman saya) sempat diajak seseorang menikmati makan malam di tepi pantai Jimbaran yang berpasir putih berangin lembut beraroma sugih. Seorang baik hati yang baru ketahuan maunya setelah beberapa bulan berlalu. Biarin lah, itu urusan lain. Beraneka hidangan laut segar terasa luar biasa nikmat. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah menemukan hidangan laut yang lebih nikmat dari itu.

Selain itu, waktu cuma diisi dengan kerja, makan dan tidur di penginapan. Namun begitu, ada hal menarik yang masih ingin saya ulangi suatu saat nanti. Menikmati bulan purnama muncul dari batas cakrawala sembari tiduran di kamar penginapan di tepi pantai pasir putih. Tanpa lampu penerangan yang mencolok, air laut menjadi keperakan. Hening. Menarik bukan?

Tapi itu dulu. Nah, pada kesempatan kedua kemarin, kebetulan waktu saya lebih longgar dari yang pertama.

Penerbangan Eksekutif dan Executive Lounge

Sebenarnya tugas kerja saya bikin wedang di sana hanya dua hari tanggal 15 dan 16 Juni. Namun bos pabrik berbaik hati mengijinkan saya berangkat tanggal 14 (rabu) dan baru kembali tanggal 18-nya (minggu). Dan yang mengejutkan adalah, saya terbang dengan menggunakan kelas eksekutif maskapai terbaik negeri ini. Dalam hal ini, saya ditugaskan berdua dengan teman sepabrik.

Lalu, apa kelebihan kelas eksekutif di banding kelas ekonomi? Dari yang sempat saya amati:

Pertama, si penumpang berhak menggunakan Executive Lounge sambil menunggu penerbangan. Di sini tersedia beberapa macam minuman, makanan berat, makanan ringan, koran dan majalah, juga layanan pijat.

Kedua, ruangan kelas eksekutif lebih kecil dari kelas ekonomi namun jumlah penumpangnya jauh lebih sedikit. Misal, jika pada kelas ekonominya kursi disusun 4-4, maka pada kelas ini cuma 2-2. Sehingga koridor antar deretan kursi menjadi lebih lapang

Ketiga, kursinya. Kursinya lebih lega, jarak antar kursi dengan kursi di depannya lebih longgar. Sehingga kaki bisa diselonjorkan dengan bebas. Juga tersedia sandaran kaki yang bisa dilipat dengan menekan tombol di sandaran tangan sebelah kiri.

Keempat, tersedia monitor besar di depan, serta monitor kecil pada masing masing kursi yang menayangkan video yang sedang diputar. Terletak di bawah sandaran tangan sebelah kanan.

Kelima, penumpang berhak mendapatkan bantal tambahan dan selimut. Saya sempat menanyakan ke petugas, ternyata boleh diambil lho...

Keenam, pilihan makanan dan minumannya lebih banyak. Bahkan bisa dipesan menu tertentu dengan sarat pesanan dilakukan sebelum 24 jam sebelum penerbangan. Sesudah makan, disediakan handuk basah yang wangi untuk membasuh muka. Membasuh yang lain juga tidak dilarang ding. :P

Ketujuh, sesampai di tujuan penumpang di jemput dengan bis khusus terpisah dari kelas ekonomi. Bagasi juga sudah diturunkan petugas saat penumpang sampai di tempat pengambilan bagasi.

Kedelapan, penumpang kelas ini boleh mengganti jadwal semaunya. Bahkan jika sudah terlambat sekalipun. (kalo yang ini info dari Sir Mbilung)

Penginapan Leyeh-leyeh

Sesampai di Ngurah Rai waktu menunjukkan pukul 12:10 WIT. Kami langsung menuju penginapan di ujung Tanjung Benoa. Namanya Conrad. Penginapan dengan konsep resort ini tiap kamarnya dikelilingi kolam renang. Setelah kolam, langsung berhadapan dengan laut. Penginapan yang luar biasa ini, rate-nya pun bikin saya geleng-geleng kepala. Per malamnya hampir setara gaji saya sebulan. Duh! Coba kalo biayanya boleh diminta mentahnya saja, bisa cepat kaya saya. hehehehe.

Hari pertama diisi dengan leyeh-leyeh. Lha, teman saya itu ndak mau diajak jalan-jalan je. Barang cuma ke pantai pun tak mau. Sudah begitu, ditinggal pergi juga tak sudi. Padahal dia cuma tidur di kamarnya yang bersebelahan dengan saya lho. Panas, katanya. Uh, dasar perempuan.

Ya sudah, akhirnya saya jalan-jalan sendiri menyusuri pantai. Menonton para bule-bule bermain paraglideng, jetski, voli pantai, juga berjemur. Maap, daripada kena sensor, mending ndak ada skrinsut.

Malam beranjak, perut minta diisi. Di tepi kolam. Listrik diredupkan, obor-obor besar menjulang dinyalakan, suguhan tarian bali kontemporer di mulai. Makanannya, musiknya, penarinya, atmosfernya, udara laut, sulit dilukiskan. Makan malam yang tak bisa dilewatkan bukan?

Makan selesai, giliran tanda-tangan tagihan yang membuat mata langsung mendelik. Busyet! Ini makan termahal kedua yang pernah saya alami. Untungnya saya tak bayar sendiri. :P

Setelah makan malam, rekan kembali ke kamar, saya menuju pantai. Di tepi pantai bersebelahan ujung kolam, pada dipan yang biasa dipakai untuk berjemur, saya berbaring. Menikmati semilir angin laut dan bulan yang mendekati purnama hingga tengah malam menjelang. Dua malam berikutnya, hal yang sama menjadi ritual bagi saya.

Tiba-tiba saya kepikiran, anak-anak lagi pada ngapain di HI ya?

Bertemu Sir Mbilung and the gang

Jumat sore sehabis acara, jatah menginap semalam lagi saya tinggalkan. Kali ini saya langsung menuju kantor Sir Mbilung di Sanur yang lokasinya ternyata tak jauh dari tempat saya dulu menginap pada kesempatan pertama dulu.

Jarak Benoa ke Sanur ditempuh lebih dari sejam, menghabiskan lebih dari 130 ribu menggunakan taksi berwarna biru. *penting ga sih?* Taksi Bali memang mahal.

Sesampainya tujuan, pakde sudah menunggu. Di ujung mulut sebuah jalan kecil bernama Pangembak no 2, dia berkantor. Petugas keamanan menyambut saya seperti tamunya wong agung. Waduh, ternyata saya bertemu pembesar.

Setelah pipis (hayah), pakde mengajak saya menuju tempat favoritnya. Di sebuah gubuk berlayanan internet beratap ilalang di tepi kolam renang bersebelahan dengan dapur. Pembikin wedang pun segera dipanggil. Segelas kopi jahe manis menemani perbincangan kami hingga beranjak malam.

Sesudah itu, pakde mengajak saya dan dua orang teman kantornya makan bebek bali masih di seputaran Sanur. Dewi dan Novi menyusul kemudian. Mungkin karena sudah agak lelah, kali ini makanan tak terasa istimewa. Sampai dengan kafe itu tutup, kami baru bubaran. Selanjutnya, saya nebeng tidur di tempat pakde sampai hari minggu.

Jengjeng Bali

Hari pertama. Pagi-pagi, Dewi, Nana dan Novi berkumpul di kos pakde. Rencananya, hari ini kami akan ke Ubud, pusat seni dan kerajaan Bali. Tujuan pertama: Warung Nuri's yang memproklamirkan diri sebagai Naughty Nuri's Warung and Grill. Silahkan tanya mbah gugel untuk mengetahui lebih lanjut.

Menurut info, makanan terbaik disini adalah babi panggang. Proses pemangganggan dilakukan langsung di depan gerai, sehingga aromanya menggugah selera yang lain. Namun bagi yang menghindarinya, makanan yang lain juga tak kalah istimewa. Capcay, ayam, nasi campur (berisi sayuran dan ayam) sangat layak santap. Soalnya harga, jangan kuatir. Cukup 15 ribu sampai dengan 60 ribu, lidah dijamin termanjakan.

Maka tak heran, meski warung ini sepintas sederhana layaknya warung tradisional lainnya, yang datang kesini kebanyakan berombongan. Bule-bule terlihat lebih mendominasi saat rombongan kami mampir. Pada jam-jam padat pembeli, calon penikmat harus rela mengantri menunggu kursi kosong.

Dari Nuri's, kami menuju pusat Ubud. Sementara Pakde, Nana dan Bayi' mengunjungi toko buku, Dewi dan Novi memandu saya menyusuri pasar Ubud sampai dengan Puri Ubud.

Tentang pasar, ada hal menarik di sini. Rupanya setiap pasar di bali dilengkapi dengan tempat persembahyangan. Kalau tidak salah, untuk menyembahyangi dewa-dewa jahat. Dalam kepercayaan masyarakat bali, dewa yang baik maupun yang jahat tetap dipuja. Dewa yang baik dipuja untuk mendapatkan berkah kebaikan, sedang yang jahat untuk menghindari kejahatannya. Persembahan keduanya di bedakan dari letak sesajinya. Dewa baik sesajinya di atas, sedang dewa yang jahat sesaji ada dibawahnya. Koreksi jika saya salah.

Selanjutnya ke Puri Ubud. Menurut para pemandu, Puri Ubud merupakan keratonnya kerajaan Ubud. Meski saat ini raja tidak memiliki kekuasaan administratif, namun keluarga kerajaan masih sangat dihormari masyarakat ubud. Buktinya, acara-acara kerajaan selalu dibanjiri ribuan orang.

Kebetulan waktu itu salah satu keluarga kerajaan ada yang baru meninggal, sehingga berbagai persiapan dilakukan untuk upacara ngaben (pembakaran mayat) agung. Sesuai kepercayaan bali, proses ngaben dilakukan pada saat baik bulan baik. Kira-kira mirip dengan cara perhitungan primbon jawa. Sepertinya Menurut info, upacara kali akan diadakah tanggal 24 Juli bulan depan. Silahkan hadir jika sempat.

Salah satu persiapan yang dilakukan adalah mengecat ulang gamelan keraton. Kegiatan ini disebut prada (dilafazkan menjadi "prade"). Cat perangkat didominasi warna merah darah dan kuning emas. Konon, tinta emas yang dipakai untu memprada perangkat itu adalah tinta emas betulan. Setidaknya begitu penuturan pemandu saya.

Di hari kedua, peserta jengjengnya cuma tinggal saya, Pakde dan Dewi. Sekalian mengantar saya ke bandara, mereka mengajak saya berkeliling Denpasar. Mencari brem dan arak pesanan kawan. Brem di dapat dengan mudah di supermarket yang khusus menyediakan oleh-oleh khas bali. Tapi, ternyata arak tidak dijual bebas dan hanya dapat ditemukan di tempat-tempat tertentu. Kami pun berburu sampai ke kampung-kampung.

Setelah mendapat keduanya, atas rekomendasi Dewi, kami makan siang di warung bergaya surabayaan yang saya lupa namanya. Cah kangkung, dan sambal terongnya mantap dan pedas luar biasa. Saya sampai pesan lagi setelah itu. Hasilnya, saya cuma bisa thenger-thenger di lounge bandara maupun di pesawat.

Benar benar liburan yang menyenangkan....

Terima kasih Pakde, Dewi, Nana, Bayi' dan Novi...

22 Mei 2008

Wong jakarta kelelegen dondong

Ya iya lah... Masa iya dong? Abdul saja abdullah, masa abdul dong?
atau
Ya iya lah... Masa iya dong? Mulan saja jameela, masa jamil dong?

Tak ada hujan tak ada angin, beberapa hari belakangan, kalimat ini tiba-tiba populer di pabrik wedang. Menggantikan kalimat lain yang sebelumnya juga sempat sangat populer
"Udah ujyan, becek, ngga ojhek...".

Terus terang saya heran. Kok orang jakarta senang dengan kelatahan ya? Mbok yaa kreatif sedikit gitu loh. Masa setiap kali ada kata atau kalimat yang populer, yang lain langsung ikut-ikutan. Emangnya kalo ngga ikut trus jadi ngga gaul gitu ya? Hehehe

Jangan-jangan, barusan pada klelegen (jawa, menelan secara tak sengaja) biji dondong ya? Ada yang tau darimana virus ini berasal kisanak?

13 Mei 2008

Uang kondangan: berapakah nominal yang pantas?

Sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita untuk memberikan sumbangan saat seseorang yang kita kenal (atau tak jarang dianggap kenal) lagi punya gawe. Mulai dari pernikahan, khitanan, kelahiran, bermacam syukuran hingga kematian. Harga sosial yang harus dibayar sebagai tanda guyub rukun. Meski pada kenyataannya terdapat oknum si empunya gawe yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan. Ya, benar. Mencari untung. Modusnya, semua biaya hajatan didapat dari berhutang pada sebuah toko kelontong. Setelah hitung-hitungan hasil "panen", barulah semua hutang dibayarkan. Perkara setelah itu ternyata hasilnya tekor, ya terima nasib. Paling tidak sudah berusaha. :P

Di kampung, tepatnya kampung saya, sumbangan biasanya disampaikan secara langsung saat menyalami sohibul hajat. Umumnya berupa beras plus tempe, bihun, mie keriting, sayuran, panganan (pacitan) hingga hasil bumi. Namun kini, tradisi sumbangan berupa barang itu sudah mulai berkurang. Mulai mengikuti model orang kota yang cukup memasukkannya ke dalam kotak sumbangan bertuliskan "masukkan uang sumbangan disini" plus daftar absen di pintu masuk. Karena lubang kotaknya kecil, tentu saja sumbangannya tak mungkin berupa untelan telo. Lha, terus sumbangan berupa barang dibawa kemana? Ya langsung ke dapur seperti biasanya.

Menurut saya, penyampaian sumbangan melalui kotak ini terasa lebih bermartabat. Tuan rumah tidak terkesan mencari untung, si pemberi sumbangan juga tak perlu minder jika sumbangannya cuma sedikit.

Masalahnya, jika karena suatu dan lain hal, kita tak bisa menghadiri acara tersebut dan harus menyampaikannya secara langsung kepada calon si punya hajat. Yang tentunya lebih mudah dalam betuk uang bukan? Hendak dititipkan ke teman kok belum tentu bisa hadir. Mau tak mau akhirnya ya harus disampaikan sendiri.

Lantas bagaimana jika sesudah itu amplop langsung dibuka oleh si penerima? Bagaimana kalau kemudian sumbangannya dianggap kurang pantas? Lalu yang disebut pantas itu berapa?

Maka, bisik-bisik sesama calon penyumbang menjadi hal yang jamak. Supaya tidak disebut sok kaya. Atau sebaliknya, supaya tak terlalu sedikit. Lebih tepatnya, supaya terasa wajar dan tak dibilang pelit.

Maka, pertanyaan ini masih terasa relevan. Berapakah nominal uang kondangan yang pantas?

05 Mei 2008

NII: Negara yang dijanjikan itu?

"kenapa sih kerja kalian semua ngata-ngatain aja, lihat dulu tuh negara kalian, kalian mestinya baca lebih banyak buku biar paham soal Islam yang sebenarnya, soal infaq, dari zaman rasul juga udah diterapin, kalian nya aja yang ngga tau dan ngga mau tau, saya yakin kalian ini orang-orang yang ngaku tuhannya Allah, tetapi ketika di ajak berqur'an langsung memperlihatkan kuduk kalian, sombong....udah banyak yang saya saksikan, orang-orng yang saya ajak pada hancur hidupnya karena kesombongannya. tapi lihatlah nanti, orang yang tak pernah belajar, lihatlah, nanti! suatu saat kamu akan menjilat ludah sendiri, makanya banyak-banyak baca dan bandingkan buku-buku tafsir yang ada, jangan asal ngemeng.dosa!"

Demikian salah satu komentar dalam tulisan terdahulu. Pengirimnya menggunakan identitas deepestheart. Blog itu tak bisa dibuka dan menyisakan sebuah pesan: "Blog ini melanggar Syarat Layanan Blogger dan hanya terbuka bagi pengarangnya saja".

Keadaan negara Indonesia yang carut marut ini sering kali dijadikan promosi gratis bagi gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Menggunakan logika: karena menjadi warga negara Indonesia hanya kacau yang didapat, pastilah dengan menjadi warga negara Islam semuanya akan lebih baik. Selanjutnya disertai dalil-dalil: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.2:208)"

"Tuh, kan. Apa saya bilang? Cuma negara islam yang bisa mengatasi keadaan ini. Coba kalo dari dulu, pasti hal beginian tak akan sampai terjadi. Masuklah ke dalam tanah yang dijanjikan Allah", kata Abi saat mentilawahi saya dulu. Juga disertai tekanan: "jika tak hijrah ke negara islam (masuk NII), berarti kamu kafir. Dan pada masanya negara itu berdiri, darahmu menjadi halal bagi kami". Cara pendekatan seperti ini seringkali terbukti ampuh dalam merekrut anggota baru.

Berbeda dengan aliran islam lain yang hidup di Indonesia, gerakan ini sulit terdeteksi. Oleh karenanya, meski terus eksis dan berkembang, resistensi terhadap kelompok ini jarang benar-benar kuat. Sebagian kalangan malah menganggap NII adalah proyeknya aparat kita sendiri guna melemahkan gerakan kelompok islam radikal. Pada sebagian kasus, tempat tilawah yang dekat dengan aparat sering dijadikan argumen yang menguatkan dugaan itu. Tempat saya mendapat tilawah dulu juga cuma berjarak tak lebih dari 50 meter dari sebuah markas korps berseragam. Seperti sebuah pepatah lama, “Jika ingin membunuh kuda, gunakanlah kuda!"

Tak bisa dipungkiri, gerakan ini masih hidup dan terus mencari pengikutnya di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan sampai ke negara tetangga. Seorang mantan penggiat pernah memperkirakan, tak kurang dari 200 ribu pengikut yang tersebar di berbagai kota di Indonesia masih aktif hingga saat ini. Kang Bahtiar punya pengalaman yang jauh lebih banyak mengenai hal ini.

02 Mei 2008

Akhirnya, negara kita sudah bebas korupsi

"Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hendak dibubarkan". Begitu beritanya di sini dan di sini.

Logikanya, karena KPK tak diperlukan lagi, itu berarti sudah tak ada lagi korupsi di negara kita. Bukan begitu ki sanak?

Akhirnya, sebagai orang awam saya bisa ikut berbahagia. Sambil berdoa, semoga semuanya bertambah baik. Supaya tidak perlu terus kecemplung di jakarta dan bisa balik kampung. Semoga...