18 April 2008

SMS Mimpi

Jumat, 18 April 2008 pukul 09:17:56, sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya.
"Bpk. MUCH. SYAEFULLOH Yth, Siap memiliki Lexus? Saksikan undian Gebyar Hadiah Tahapan di acara TV Gebyar BCA Indosiar Sabtu pukul 21 WIB. TAHAPAN BCA "
Pengirim:
BCA
Pusat pesan:
+62816124
Sempat saya balas: "pekken wae le..." (bahasa jawa, yang artinya kurang lebih "ambil saja nak...")
Lha jebule gagal.

09 April 2008

Murah kok mau bagus

Dua hari ini telepon selular saya mengalami gangguan. Maksud saya, memang dari providernya sana yang bermasalah. Sinyal penuh tapi tak bisa digunakan untuk menelepon maupun ditelpon. Begitulah resiko layanan hemat, harap diterima kalau cuma seadanya. Murah gitu loh...

Mengeluh? Nehi lah yaw.

Sebelum datangnya era komunikasi bergerak, toh hidup saya baik-baik saja. Telpon tidak, pager tidak, kebutuhan online (email, chatting dan blog) pun tidak. Mau ketemu orang ya harus menyambangi ke tempatnya. Perkara setelah sampai di tempar ngga ketemu orang yang kita tuju, itu soal lain. Mau berkomunikasi dengan keluarga (karena saya merantau sejak lulus sekolah menengah) ya harus dengan surat. Pesannya pun cukup singkat saja: "Putro waras, arto telas" (Ananda sehat, uang habis).

Itulah kelebihan dunia yang tak mengglobal. Adanya ketidak-pastian. Bukankah ini juga sekaligus berguna untuk melatih orang bersikap lebih taktis dan strategis plus sabar? *halah*. Intinya, tanpa ponsel hidup ini tak masalah.

Begitu juga saat mati lampu (mungkin lebih tepat mati listrik). Sampai dengan tahun 2000 saat dimana kampung kami belum juga berpenerangan listrik, orang-orang justru lebih banyak saling ngendong (bertamu) dan ngumpul. Setelah masuknya listrik, orang-orang kemudian dilanda tren baru. Sepertinya semua orang tersihir oleh kotak ajaib bernama televisi. Maka muncullah ritual baru, menthelengi (nonton) tivi. Setiap waktu, setiap saat. Apa lacur, kebutuhan untuk srawung (bersosialisasi) pun menjadi jauh berkurang. Otak orang Indonesia pun mengalami cekokan baru, iming-iming menjadi artis, kaya, tampil bergaya dan terkenal.

Ya, saya merindukan saat itu. Tanpa HP dan listrik. Benar-benar membebaskan.

Eh, maap... HP saya dah bunyi lagi nih...
Type rest of the post here

04 April 2008

Manajemen Ketakutan.


Salah satu kunci keberhasilan dalam manajemen modern adalah adanya target yang jelas. Untuk mencapainya, semua sumber daya (karyawan maksudnya) dikerahkan sebaik-baiknya.

Dengan asumsi etos kerja bangsa kita yang kurang jos ditambah sikap bossy para punggawa, maka cara yang paling gampang untuk mencapai target adalah dengan memberikan cambukan. Semakin banyak ancaman, plus teriakan jika perlu, karyawan akan berusaha lebih giat lagi.

Dus, lahirlah apa yang disebut Manajemen Ketakutan.

gambar diambil dari sini.

Bekerja itu untuk Bekerja atau untuk Menyelesaikan Pekerjaan?

Orang kampung (terutama kampung saya bangsari) menganggap yang namanya bekerja itu ya bekerja. Bekerja itu ya melakukan pekerjaan dengan tangan sendiri. Jika hanya ongkang-ongkang, meski sudah selesai atau sambil mengawasi pekerjaan anak buah, itu disebut tidak bekerja. Kami menganggapnya pemalas.

Orang kota yang modern menganggap kerja itu ya harus jelas. Lebih spresifiknya, harus sesuai dengan deskripsi kerja (istilah kerennya job description). Pada level yang lebih tinggi, yang namanya bekerja itu ya menyuruh orang lain.

Permasalahannya, dalam budaya kita seringkali bos tidak bisa membedakan keduanya. Sehingga, meski sudah menyelesaikan pekerjaan, kita akan selalu diberi pekerjaan baru. Begitu pekerjaan baru selesai, akan diberi pekerjaan yang lain lagi. Akibatnya, pekerja yang efisien mendapat pekerjaan bertumpuk lebih banyak dari pekerja yang lamban. Iming-imingnya: "Perusahaan akan melihat apa yang kamu kerjakan". Perhatikan: akan!!!

Perihal job desc? Tai kucing!

gambar diambil dari sini.