13 Maret 2008

Mbok Temo

Namanya Mbok Temo. Rasanya belum terlalu lama dia menumpang di pekarangan keluarga kami. Sekitar 10 tahun, sangat mungkin lebih. Saya tak ingat betul. Ya, kurang lebihnya segitu lah. Menumpang rumah bukan sesuatu yang luar biasa di kampung kami. Disebut menumpang rumah karena mereka mendirikan rumah di atas tanah orang lain. Seijin pemilik tanah tentunya. Hingga mereka punya tanah sendiri, atau sampai mereka merasa ada tumpangan yang lebih baik. Beberapa diantaranya bahkan sampai mati.

Selain Mbok Temo, masih ada orang lain yang nebeng di pekarangan kami. Kang Likin beserta 4 anaknya. Mbok Mud (janda dengan anak yang tak jelas entah dimana) juga pernah menumpang. Sebelumnya, keluarga Kang Timin dan 3 anaknya, hingga sang anak perempuannya kembali dari arab dan mampu membeli sebidang tanah. Namun sayang, istrinya meninggal sebelum pindahan tiba akibat TBC. Pada masa yang lebih lampau, keluarga Ro'ul beserta entah berapa anaknya. Sampai kemudian ditransmigrasikan pemerintah. Hanya lamat-lamat yang saya ingat saat mereka memboyong seluruh harta mereka yang cuma sebuntalan sarung. Masih ada beberapa penumpang lainnya, tapi tak semua saya ingat nama-nama mereka.

Namun di antara kesemuanya, Mbok Temo lah yang paling miskin. Begitu miskinnya sampai-sampai rumah yang kini dihuninya merupakan karya bersama penduduk kampung. Iuran bahan rumah, tenaga, sampai konsumsi. Ia tinggal sendiri pada awalnya. Kemudian dengan Parno, seorang anak kecil yang diakuinya sebagai cucu.

Sebuah rumah mungil. Berukuran sekitar 3x5 meter, ukuran yang tak normal untuk ukuran kampung. Berlantai tanah, berdinding anyaman bambu yang dikapur putih, bertiang kayu dan bambu, beratap campuran: genteng, anyaman rumbia, daun kelapa dan plastik transparan yang hanya dijual di Gandrung Mangu. Pintu depan dibikin dari anyaman bambu dan berengsel bambu ukuran kecil yang dilubangi sedemikian rupa sehingga berbentuk mirip gasing anak-anak kota seharga seribuan rupiah. Ada 3 ruangan di dalamnya. Ruang pertama adalah ruang tamu yang sekaligus tempat tidur, tempat makan, tempat parkir sepedanya Parno, dan juga jemuran baju saat musim hujan tiba. Ruang kedua adalah dapur. Yang ada disini hanya tungku dan sedikit tumpukan kayu bakar. Begitu sempitnya ruangan ini, hingga jika ada orang ketiga, ruangan ini tak akan cukup. Ruangan ketiga adalah tempat tidur yang berukuran sedikit lebih besar dari ambin. Entah ada apa di dalamnya, saya tak tahu.

Kesehariannya, dia berdagang pecel. Agar para pembeli tidak meminta bumbu terlalu banyak sehingga mengecilkan margin keuntungannya, dia membuat bumbu pecelnya sangat pedas. Begitu pedasnya, hingga saya selalu diare beberapa jam setelah memakannya. Dasar penduduk kampung kami memang hobi pedas, pecelnya tetap laku. Dan untuk itu, dia harus berkeliling kampung hingga ke perkampungan di bukit sebelah desa. Omzetnya 10-15 ribu sehari, katanya beberapa bulan yang lalu. Sudah termasuk ongkos untuk membeli bahan mentahnya, terigu, minyak goreng dan upah seharian jalan. Jika kerjaan sawah sedang banyak dimana banyak orang tiba-tiba memiliki uang, ia cukup ngetem di depan pesantren sampai dagangannya habis. Tak ada yang mengajaknya turun ke sawah. Terlalu kurus, kecil dan tak bertenaga. Singkatnya, tak bisa kerja.

Suatu sore menjelang magrib saat idul kurban tiba bertahun-tahun yang lalu, saya melihatnya membawa seekor ayam jago ke rumah Mbah Sarbini (almarhum), Kyai pendiri pesantren kami. Saya terbahak-bahak mendengar berita bahwa jago itu dipersembahkannya sebagai hewan kurban. Dengan beberapa teman, saya berdebat sengit tentang hewan kurban yang berupa ayam. Dilihat dari segi ilmu fikih manapun, tidak ada yang namanya kurban berupa ayam. Kesimpulannya, kurbannya itu tidak syah.

Bertahun-tahun setelahnya, saya baru menyadari kekeliruan masa kecil itu. Selalu ada cara untuk berkurban, membuktikan ketulusan hati. Bahwa kurban tak harus dilihat dari wujudnya. Ah, saya jadi malu. Soal itu sampeyan pasti lebih tahu...

Gambar diambil dari sini.

27 komentar:

venus mengatakan...

cuma bisa nangis dalam hati, pul :(

-=«GoenRock®»=- mengatakan...

Nang ndesoku kono yo isih ono koyo mengkene iki Kang. Nang ngomahku dhewe ono wong sidji jenenge Mbok Nah. Deweke wes dianggep koyo keluarga dhewe. Digawekke kamar nyang mburi omah. Ra ndhuwe keluarga blas, saiki wes tuwo mlakune we nunuk-nunuk. Untunge wong2 nang ndesoku rodo gemati dadine tetep kopen.

didut mengatakan...

terima kasih sudah berbagi cerita :D

balibul mengatakan...

wee layout karo tempeklatenya ganti ya mas..

melu dongo mbah temo mu kui

Parta mengatakan...

hmmm... kalo baca cerita ini sediiih banget mas, tapi hebat buat si mbah walaupun miskin harta tapi kaya hatinya... semoga alloh selalu melindunginya

Totok Sugianto mengatakan...

mbah temo adalah secuil dari potret cerita orang miskin di seantero negeri ini. masih banyak yang senasib dengan mbah temo. smoga mereka bisa bertahan dan tetap bisa makan

nothing mengatakan...

kisah yang luar biasa

pitik mengatakan...

wah..ternyata kowe landlord yo?aku pas rono kae kok ga pethuk karo simbah iku?

bahtiar mengatakan...

seng nulis apik ... :)

nanging ati2 yen nulis kanthi apik ...

iso mlebu sudutpandang.com loo :)

Hedi mengatakan...

siap-siap masuk tempo lagi :P

mikow mengatakan...

tulisan apik, menggetarkan hati

Dew mengatakan...

Jd inget kampung Simbah...
Trus mbayangke, pekarangan njenengan seluas apa ya? Pekaranganku boro2 ditumpangi rumah, buat parkir aja sesek...

evi mengatakan...

wah...selain juragan duit rupanya juragan tanah juga :)

kenny mengatakan...

mugo2 mbah temo diparingi kesehatan terus.

sarah mengatakan...

Kasiian yaa,seperti tertampar membaca cerita ini.
Masih banyak juga orangOrang di luar sana yang mungkin nasibnya lebih malang dari mbah temo.
Semoga mereka segera diberi kemudahan ya.

Aris mengatakan...

Iya selalu ada cara utk berkorban. Niat tulus Mbok Temo memang layak ditiru. Niatnya sama seperti Yu Timah dlm tulisannya Ahmad Sobari dan saya kutip ulang disini:

http://arishu.blogspot.com/2007/12/yu-timah-dan-hari-raya-kurban.html

Thanks sudah berbagi.

elly.s mengatakan...

kita buat blogger for mbah temo yuk mas...

Fany mengatakan...

ehem.. tuan tanah ya ternyata :)

aduh baca ceritanya jadi.... *gak bisa komen*
**sedih**

kw mengatakan...

:(

Zololkis mengatakan...

This comment has been removed because it linked to malicious content. Learn more.

oon mengatakan...

cirikhas kehidupan dikampung ditanah jawa...
tapi kalau dipulau seberangnya...dikasih pinjem buat usaha, akhirnya yang punya tanah yang akhirnya pindah :(

horee...akhirnya tau cara komeng diblogger...

yati mengatakan...

:(

-tikabanget- mengatakan...

:(
anaknya kemana ituh pul.. :(

suka sedih kalo subuh subuh jalan, liat simbok2 tuwa bungkuk manggul kaayu ato barang jualan ke pasar..

harusnya mereka umur segitu dah nikmatin hidup..

intan mengatakan...

Subhanalloh .. cantik sekali hatimu Mbah Temo..

Teguh Budi mengatakan...

Kisah yang luar biasa mas...mak nyes juga saya membacanya. suwun

putrinegeridongeng mengatakan...

10 sapi gemuk dan seekor ayam. mana kurban yang lebih berharga?

10 sapi gemuk yang dikurbankan oleh seseorang yang masih mampu membeli ratusan ekor sapi...
atau seekor ayam dari mbok temo yang mungkin harus memeras peluhnya berhari-hari untuk mendapatkan ayam itu...

Ali Rahmat mengatakan...

Mulia banget atine Mbok Temo.