09 Maret 2008

Buku Bajakan

Barusan saat saya makan malam yang masih terlalu sore di warteg sabang, saya mendapati penjual buku keliling. Buku kedua (Sang Pemimpi) dan ketiga (Edensor) dari tetralogi Laskar Pelangi ditawarkan masing-masing seharga 40 ribu. Saya tawar keduanya 40 ribu, penjualnya malahan mengomel. Ya sudah, saya tinggal pergi saja. Eh, tak tahunya kemudian dia memanggil saya dan menyatakan setuju. Dengan wajah sumringah, si bapak memberikan kedua buku yang masih betutup plastik itu pada saya. Dus, kosong lah isi dompet saya.

Harga aslinya saya tak tahu. Begitupun apakah buku ini asli atau tidak, saya tak bisa bedakan. Teman saya yang wartawan bilang, cara membedakan buku asli dan bajakan adalah dari warna kertasnya. Setidaknya itu berlaku untuk bukunya Andrea Hirata. Buku asli dicetak pada kertas coklat, sedangkan yang palsu putih. Silahkan cek kebenarannya.

Sebagai orang awam, juga boke, asli maupun palsu tak ada bedanya. Yang penting ada tulisannya, bisa dibaca dan halamannya (semoga) lengkap. Dulu pas jamannya saya masih kuliah di universitas ndeso itu dulu, hampir tak ada saya punyai buku-buku. Kalau pun ada ya paling paling foto-kopian, itu pun bukan saya yang bayar. Sebagai upah mengkopi untuk teman-teman sekelas. Mungkin generasi setelah saya (yang lebih makmur, yang SPP dan uang bla bla bla-nya selangit) tak lagi mengalaminya. Semoga.

Kata orang-orang pinter, harga buku di indonesia memang mahal. Seberapa mahal saya tak tahu. Yang saya tahu, orang kampung tak pernah membutuhkannya. Lagi pula membaca tak akan mengurangi jumlah rumput yang harus mereka siangi. Atau memperbanyak hasil padi dan palawija mereka. Tidak juga membuat ternak mereka lebih pintar beranak. Lebih ekstrim lagi, buku tak membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.

"Orang miskin memang selalu menyusahkan sepanjang zaman", begitu kata teman saya mengolok-olok.

32 komentar:

Totok Sugianto mengatakan...

jadi begitu cara membedakan buku asli atau bajakan ya, baru tahu saya :D

Bangsari mengatakan...

@totoks: katanya sih gitu mas. tapi ga tau benera pa gak

balibul mengatakan...

kenthus, duit mu kae yo bajakan. duit tanpa seri.

nothing mengatakan...

stop pembajakan...bunyi kampanye pemerintahan presiden Susi,...tapi saya juga tetep suka beli barang bajakan, mulai buku, dvd vcd, sampai kaos bola...[lha murah je...]

kw mengatakan...

selama kantong masyarakat masih belum sanggup beli, bajakan akan terus merajalela. dan saya "agak mendukung" hehehheheh.

khusus buku, jangankan membajak, "mencuri" pun "halal" kok untuk ilmu pengetahuan. :(

Mbilung mengatakan...

paragraf ke dua dari bawah. Opo iyo?

tata mengatakan...

apapun dilakukan untuk mendapatkan barang yang terjangkau termasuk yg bajakan di beli..mau apalagi..

Hedi mengatakan...

bajakan karena buku asli dipajak dan berharga mahal...menghilangkan bajakan cuma satu, zero tax, titik!!!

iway mengatakan...

kemaren baca kolom di korantempo kok ada bangsari.blogspot.com ya?
hehehheeh dah jadi seleb sekarang :D

kenny mengatakan...

wah baru tahu jg klo ada buku bajakan

omith mengatakan...

tp isine bajakan jg gag?
tar jagann2 halamannya ada yg ilang hahhaha..:)

mikow mengatakan...

duit bajakan (tinggal ngeprint sendiri dipabrik) emang untuk beli sesuatu yg bajakan :P

evi mengatakan...

jebul ga cuma sawah aja yg dibajak ya...?

-=«GoenRock®»=- mengatakan...

Jare duwite hasil nglembur arep nggo ngambakke kebon mburi omah, kok malah nggo tuku buku bajakan

blanthik_ayu mengatakan...

woconen sik pul..ojo nganti ganti jenenge..dari ikal dadi bangsari hahahahaha

sluman slumun slamet mengatakan...

bener kan kata saya!

Fenrisar mengatakan...

See Here or Here

mrbambang mengatakan...

Aku sudah selesai baca buku LasKar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Kemarin di pameran buku Islam di Istora beli Edensor harganya 30ribuan setelah di diskon. Ada sedikit rasa bersalah jika membeli buku bajakan, untuk itu saya usahakan untuk membeli buku buku yang asli. Tapi kalau download lagu bajakan kok biasa biasa aja ya? Gedurakkkk

iim fahima mengatakan...

Kalo kamus bahasa inggris-indonesia yang dijual di lampu merah itu bajakan, bukan? Kok mureee harganya?

Ndoro Seten mengatakan...

welha... 40 ribu?
wah kapusan sampeyan ndoro!
kemarin di pameran buku istora diobral 31 ribu tok kok

ebeSS mengatakan...

Kata orang-orang pinter, harga buku di indonesia memang mahal.

lha berarti sing ngomong murah terus mborong . . . ? . . . :P

Ade Hidayat mengatakan...

Maaf, tanpa mengurangi etika. Saya numpang info, mudah2an bermanfaat:

Sekarang, kesadaran membaca dan menulis sangat signifikan di kalangan masyarakat, baik awam maupun profesional. Kesadaran ini diilhami oleh pentingnya membaca bagi keberlangsungan masa depan yang dinamis dan maju. Secara lokal, Indonesia mungkin masih dianggap ketinggalan menyadari pentingnya membaca dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah maju lebih dahulu. Wajar saja, Amerika dan Eropa mendapatkan prestasi besar dalam dunia pradaban modern kini, sebab mereka 15 tahun ke belakangnya telah memiliki kegemaran dan kesadaran pentingnya membaca.

Dari itu, mari kita rapatkan persepsi kita bahwa membaca itu sangat penting dan bermanfaat. Melalui milis ini semua hal ini bisa digagas bersama. P

Partisifasi Anda sangat kami tunggu untk ikut bergabung di milis mediabaca@yahoogroups.com ini.

Join silakan klik: http://groups.yahoo.com/group/mediabaca


Selamat bergabung!

merahitam mengatakan...

Jadi inget jaman kuliah dulu. Tiap Dosen nyuruh beli buku wajib, harus blusukan di Kwitang dan seharian pindah dari satu kios ke kios lain, nawar sampai mati-matian, begitu dapat, sampai rumah diperiksa, ada aja halamannya yang nggak lengkap.

*menghela nafas dalam-dalam*

Kirain makin kesini harga buku murah, eh ternyata ya makin mahal.

*menghela nafas dalam-dalam lagi*

MAY'S mengatakan...

Katanya membaca itu penting... Kalau emang uangnya cuma cekak aos bisane beli yang bajakan yah tak apa kan? Daripada ndak beli sama sekali = ndak baca sama sekali juga ya?

snydez mengatakan...

ketika ada bazar buku, dikampus [dulu]
gue iseng nawar sebuah buku, yang gue ga butuh banget.
si penjual nawar dengan harga lumayan tinggi.
trus gue bilang "sepuluh ribu ya?".,.
terus mencoba untuk ngeloyor, soalnya emang gak butuh..

eh langsung, di iyain.. nasibb...

walhasil, buku itu pun sampe sekarang ngejogrog jarang disentuh :D

didut mengatakan...

hmm..kalo gak terlalu byk punya duit bisa cari rental buku yg lengkap...biasanya ada byk novel pilihan :D

elly.s mengatakan...

habis kalo yg Ori mahal nyang bajakan seliweran pijimane doonng..
sementara seperti kata pak guru Ade Hidayat mbaca itu penting...
Untuk ukuran yang bokek2 kayak aq (n mas ipul) mending beli bajakan drpd gk baca sama sekali...

Btw pinjem napa?

hanny mengatakan...

karena buku dibajak, penulis jadi gak dapet royalti... karena gak dapet royalti kehidupan jadi ga sejahtera, karena jadi ga sejahtera, mereka ga nulis lagi, karena dengan nulis mereka ga bisa mencukupi kebutuhan hidup.

pesan moral: seorang penulis sejati tidak bisa hidup jika tidak menulis. ia tidak peduli apakah menulis bisa menghidupinya atau tidak, karena jika tidak menulis ia merasa tidak hidup.

hihihi, pesan moral pribadi ;p

Nazieb mengatakan...

Maka daripada itu, jangan jadi penulis di Indonesia, jadi pembajak sajah..

-tikabanget- mengatakan...

pertama.
duit di dompet abis??!!!
bang ipul yang katanya calon berduit meteran??!!!

kedua,
hihihi,sayah asal dapet baca, mo palesu mo aseli mo bajakan mo PDF ndak masalah.. **ngakak**

dan ketigax,
percayalah, ada orang yang harus ngamen berhari hari buat beli satu buku sekolah..

Dewie mengatakan...

Daripada mbajak buku, mending mbajak sawah...
*ngelus2 kebo*

Parta Suwanda mengatakan...

mas.., kalo makan siang suka di sabang yah.., saya juga kalo makan siang disitu murah meriah sambil liat-liat barang-barang baru

salam kenal mas..