27 Maret 2008

Buku Saku Warga Negara Republik Indonesia

Penerbit Balai Pustaka
Cetakan Ketiga - Januari 1979
196 halaman (belum termasuk halaman yang hilang)
Setiap bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat mutlak memerlukan, bahwa setiap warga negaranya minimal mengetahui, memahami dan menghayati hal-hal pokok yang sangat mendasar tentang kenegaraan tanah airnya, untuk dapat membangun suatu bangsa dan negara yang dicita-citakannya dengan dukungan ketahanan nasional yang kokoh.
Buku ini disusun oleh para ahli kita yang berwewenang dengan menggunakan sumber-sumber resmi yang ada. Sangat praktis dan berguna bagi para guru dan siswa Sekolah Lanjutan, sehubungan dengan Pendidikan Moral Pancasila dan pelajaran-pelajaran di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.

Ingin melihat Indonesia dengan kacamata positif? Bacalah buku ini. Isinya sungguh menggugah, menenteramkan. Simak saja pendahuluannya:
TANAH AIRKU INDONESIA

Sungguhlah berbahagia kita bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang besar memiliki Tanah Air yang luas, lagi pula kaya dan indah permai keadaan alamnya. Sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Esa pula Tanah Air kita sangat baik letaknya, yakni antara dua Benua dan dua Samudera yang luas merupakan pusat pertemuan antarbangsa sedunia. Keadaan alam yang sukar dicari bandingannya merupakan daya tarik bagi bangsa asing dan adalah modal yang besar bagi pariwisata.

Tidaklah mengherankan jika kepulauan Nusantara ini oleh Multatuli digambarkan sebagai "pending zamrud yang membujur sepanjang katulistiwa". Tak kurang dari 13.500 pulau besar kecil bertebaran antara benua Asia dan Australia dan antara Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia. Itulah wilayah Republik Indonesia, Tanah Air dan Tanah Tumpah Darah kita! Kepulauan Indonesia yang luasnya 2.000.000 km persegi dan panjangnya — antara Sabang dan Merauke — adalah 5.000 km, hampir menyamai benua Eropa besarnya.

Kepulauan Insulinda yang kini (tahun 1979) berpenghuni 137.000.000 jiwa yang beraneka ragam suku-bangsa dan bahasa daerahnya ini menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan Bangsa serasi dengan kepentingan pribadi atau golongan. Pembinaan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dikem­bangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam Negara Indonesia yang berdasarkan Panca-sila ini, manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya, sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajiban-kewajiban azasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama dan keper-cayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya. Dan karena itu dalam negara ini dikembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, sikap tenggang rasa dan "tepa salira", sikap tidak sewenang-wenang terhadap orang lain, serta sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.
Sebuah buku yang sangat layak baca. Menggetarkan! Percayalah, negara ini baik-baik saja. Sangat baik.

Semoga...

17 Maret 2008

Melepas Kang Presiden

Entah sejak kapan kegiatan nongkrong HI itu dimulai. Menurut catatan, sebelum bulan juni 2006.

Pada awalnya, kegiatan ini diadakan di monas. Anggotanya cuma keluarga kebon kacang. Terkadang ada peserta lain, tak jauh-jauh dari alumni nuklir universitas ndeso. Lesehan di rerumputan, terkadang membawa makanan kecil dan tikar dari kosan. Setelah beberapa kali merasakan dirubung semut merah yang gatelnya minta ampun, tempat nongkrong pun berpindah ke tempat lain. Beberapa tempat sempat dicoba sampai ditemukan tempat yang tepat, Bunderan Hotel Indonesia (BHI). Pertimbangannya: akses gampang, meeting pointnya gampang dicari, tempat lesehan mewah bermarmer italia.

Kebetulan waktu itu sedang dimulai proyek pembangunan hotel indonesia yang katanya dibikin hendak nyundul langit. Tanpa usaha, kami mendapat banyak teman ngobrol dari berbagai daerah di jawa. Mulai dari orang-orang banyuwangi, sampai purbalingga. Orang-orang proyek. Dari situ saya baru tahu bahwa sistem penggajian mereka ternyata lebih manusiawi dari pada saya. Kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore mendapat bayaran sehari. Lembur sampai jam 8 malam, bayarannya 2 hari. Sampai jam 12 malam, 3 hari. Besoknya boleh datang telat pula. Akumulasi gaji sebulannya ternyata jauh melampaui gaji saya. Dan untuk itu, mereka tak memerlukan ijasah apa pun. Asyik bukan?

Kemudian iseng-iseng kami (lebih tepatnya kang presiden) menulis di blog sekaligus mengundang wong-wong ndeso lainnya untuk bergabung. Beberapa diantaranya bahkan sudah jadi juragan. Cah bagus Kangmas Endik (yang kemudian hari jadi manajer pembangunan menara HI sebelah utara) kemudian bergabung mengendarai sepeda tuanya, Hartog. Lalu Sam Hedi, Kang Joem, Nino, Alex, Bebek (almarhum), Inul, Mbok Rondo, KW, lalu yang lain-lain (yang tak bisa saya sebut satu persatu). Mana yang lebih dulu, saya tak ingat. Saya heran, jebule wong ndeso di nJakarta ini banyak sekali.

Setelah 2 tahun, kini kang presiden hendak pergi. Sebuah cita-cita lama yang selalu diidamkan. Meninggalkan Jakarta. Mulai besok hari (18 Maret 2008). Semoga sukses kang...

Londo gemblung nan asik

Pengelana dari Jerman yang sudah keluyuran ke berbagai belahan dunia termasuk pelosok-pelosok Indonesia. Dari siaran pagi sebuah radio swasta di jakarta, informasi ini saya sapat. Aneh, lucu sekaligus mengherankan. Silahkan kunjungi mereka di sini atau di sini.

Berontong tidak berontong


Ada seorang petani mempunyai seekor kuda cantik
Semua teman datang dan bilang:
"Betapa beruntung mempunyai kuda cantik"
Tetapi petani bilang:
"Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.."

Suatu hari kuda liar
Dan teman datang dan bilang: "Sungguh malang"
Orang petani Bilang: "Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.."


Kuda kembali lagi membawa seekor kuda kecil
Sekarang petani bilang: "Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.." 2X

Kuda kecil tumbuh menjadi besar
Dan petani mempunyai seorang putra
Dia (sang putra, peny) harus menjinakkan
Dan dia menonggang
Putra terjatuh
Dan dua kudanya patah
Dan putra pergi ke rumah sakit
"Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.." 2X
Semua pemuda berperang tetapi perang tidak kembali lagi
Semua mati
Putra sehat kembali dari rumah sakit
"Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.." 3X

13 Maret 2008

Mbok Temo

Namanya Mbok Temo. Rasanya belum terlalu lama dia menumpang di pekarangan keluarga kami. Sekitar 10 tahun, sangat mungkin lebih. Saya tak ingat betul. Ya, kurang lebihnya segitu lah. Menumpang rumah bukan sesuatu yang luar biasa di kampung kami. Disebut menumpang rumah karena mereka mendirikan rumah di atas tanah orang lain. Seijin pemilik tanah tentunya. Hingga mereka punya tanah sendiri, atau sampai mereka merasa ada tumpangan yang lebih baik. Beberapa diantaranya bahkan sampai mati.

Selain Mbok Temo, masih ada orang lain yang nebeng di pekarangan kami. Kang Likin beserta 4 anaknya. Mbok Mud (janda dengan anak yang tak jelas entah dimana) juga pernah menumpang. Sebelumnya, keluarga Kang Timin dan 3 anaknya, hingga sang anak perempuannya kembali dari arab dan mampu membeli sebidang tanah. Namun sayang, istrinya meninggal sebelum pindahan tiba akibat TBC. Pada masa yang lebih lampau, keluarga Ro'ul beserta entah berapa anaknya. Sampai kemudian ditransmigrasikan pemerintah. Hanya lamat-lamat yang saya ingat saat mereka memboyong seluruh harta mereka yang cuma sebuntalan sarung. Masih ada beberapa penumpang lainnya, tapi tak semua saya ingat nama-nama mereka.

Namun di antara kesemuanya, Mbok Temo lah yang paling miskin. Begitu miskinnya sampai-sampai rumah yang kini dihuninya merupakan karya bersama penduduk kampung. Iuran bahan rumah, tenaga, sampai konsumsi. Ia tinggal sendiri pada awalnya. Kemudian dengan Parno, seorang anak kecil yang diakuinya sebagai cucu.

Sebuah rumah mungil. Berukuran sekitar 3x5 meter, ukuran yang tak normal untuk ukuran kampung. Berlantai tanah, berdinding anyaman bambu yang dikapur putih, bertiang kayu dan bambu, beratap campuran: genteng, anyaman rumbia, daun kelapa dan plastik transparan yang hanya dijual di Gandrung Mangu. Pintu depan dibikin dari anyaman bambu dan berengsel bambu ukuran kecil yang dilubangi sedemikian rupa sehingga berbentuk mirip gasing anak-anak kota seharga seribuan rupiah. Ada 3 ruangan di dalamnya. Ruang pertama adalah ruang tamu yang sekaligus tempat tidur, tempat makan, tempat parkir sepedanya Parno, dan juga jemuran baju saat musim hujan tiba. Ruang kedua adalah dapur. Yang ada disini hanya tungku dan sedikit tumpukan kayu bakar. Begitu sempitnya ruangan ini, hingga jika ada orang ketiga, ruangan ini tak akan cukup. Ruangan ketiga adalah tempat tidur yang berukuran sedikit lebih besar dari ambin. Entah ada apa di dalamnya, saya tak tahu.

Kesehariannya, dia berdagang pecel. Agar para pembeli tidak meminta bumbu terlalu banyak sehingga mengecilkan margin keuntungannya, dia membuat bumbu pecelnya sangat pedas. Begitu pedasnya, hingga saya selalu diare beberapa jam setelah memakannya. Dasar penduduk kampung kami memang hobi pedas, pecelnya tetap laku. Dan untuk itu, dia harus berkeliling kampung hingga ke perkampungan di bukit sebelah desa. Omzetnya 10-15 ribu sehari, katanya beberapa bulan yang lalu. Sudah termasuk ongkos untuk membeli bahan mentahnya, terigu, minyak goreng dan upah seharian jalan. Jika kerjaan sawah sedang banyak dimana banyak orang tiba-tiba memiliki uang, ia cukup ngetem di depan pesantren sampai dagangannya habis. Tak ada yang mengajaknya turun ke sawah. Terlalu kurus, kecil dan tak bertenaga. Singkatnya, tak bisa kerja.

Suatu sore menjelang magrib saat idul kurban tiba bertahun-tahun yang lalu, saya melihatnya membawa seekor ayam jago ke rumah Mbah Sarbini (almarhum), Kyai pendiri pesantren kami. Saya terbahak-bahak mendengar berita bahwa jago itu dipersembahkannya sebagai hewan kurban. Dengan beberapa teman, saya berdebat sengit tentang hewan kurban yang berupa ayam. Dilihat dari segi ilmu fikih manapun, tidak ada yang namanya kurban berupa ayam. Kesimpulannya, kurbannya itu tidak syah.

Bertahun-tahun setelahnya, saya baru menyadari kekeliruan masa kecil itu. Selalu ada cara untuk berkurban, membuktikan ketulusan hati. Bahwa kurban tak harus dilihat dari wujudnya. Ah, saya jadi malu. Soal itu sampeyan pasti lebih tahu...

Gambar diambil dari sini.

09 Maret 2008

Buku Bajakan

Barusan saat saya makan malam yang masih terlalu sore di warteg sabang, saya mendapati penjual buku keliling. Buku kedua (Sang Pemimpi) dan ketiga (Edensor) dari tetralogi Laskar Pelangi ditawarkan masing-masing seharga 40 ribu. Saya tawar keduanya 40 ribu, penjualnya malahan mengomel. Ya sudah, saya tinggal pergi saja. Eh, tak tahunya kemudian dia memanggil saya dan menyatakan setuju. Dengan wajah sumringah, si bapak memberikan kedua buku yang masih betutup plastik itu pada saya. Dus, kosong lah isi dompet saya.

Harga aslinya saya tak tahu. Begitupun apakah buku ini asli atau tidak, saya tak bisa bedakan. Teman saya yang wartawan bilang, cara membedakan buku asli dan bajakan adalah dari warna kertasnya. Setidaknya itu berlaku untuk bukunya Andrea Hirata. Buku asli dicetak pada kertas coklat, sedangkan yang palsu putih. Silahkan cek kebenarannya.

Sebagai orang awam, juga boke, asli maupun palsu tak ada bedanya. Yang penting ada tulisannya, bisa dibaca dan halamannya (semoga) lengkap. Dulu pas jamannya saya masih kuliah di universitas ndeso itu dulu, hampir tak ada saya punyai buku-buku. Kalau pun ada ya paling paling foto-kopian, itu pun bukan saya yang bayar. Sebagai upah mengkopi untuk teman-teman sekelas. Mungkin generasi setelah saya (yang lebih makmur, yang SPP dan uang bla bla bla-nya selangit) tak lagi mengalaminya. Semoga.

Kata orang-orang pinter, harga buku di indonesia memang mahal. Seberapa mahal saya tak tahu. Yang saya tahu, orang kampung tak pernah membutuhkannya. Lagi pula membaca tak akan mengurangi jumlah rumput yang harus mereka siangi. Atau memperbanyak hasil padi dan palawija mereka. Tidak juga membuat ternak mereka lebih pintar beranak. Lebih ekstrim lagi, buku tak membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.

"Orang miskin memang selalu menyusahkan sepanjang zaman", begitu kata teman saya mengolok-olok.