29 Januari 2008

Radio

Hah. Hari gini masih seneng ndengerin radio? Ya, saya itu.

Ceritanya, baru seminggu ini saya mendapatkan hadiah dari bos berupa sebuah kotak suara (speaker) berdebu bekas dari sisa pindahan kemarin. Speaker berukuran kira-kira seperempat kardus indomie, yang meski tak jelek, tak bisa dibilang bagus lagi. Tak apa lah. Toh, yang penting suaranya. Lagi pula kotak ini, jika dihubungkan dengan komputer, cukup untuk memperdengarkan musik jedug jedug mirip yang diperdengarkan penjual CD bajakan di belakang pabrik. Tentu saja tak bisa sekencang dan sebagus itu. Di samping itu, speaker ini dilengkapi dengan radio FM. Speaker saya ini punya kelebihan lain yang unik. Cara mematikannya mudah. Jika sudah bosan, kabelnya tinggal disentuh kaki saja. Mati. Diatas segalanya, kotak ini bisa dijadikan pijakan saat kaki saya terasa pegal akibat mondar-mandir. Menyenangkan sekali.


Setelah hampir 2 tahun meja tempat saya membuat wedang sepi, kini ada suara lain tak cuma suara kertas-kertas bon yang dibuka. Rasanya jauh lebih menyenangkan daripada menonton tipi yang isi, tokoh, cerita dan pembuatnya ya itu-itu saja. Juga lebih menyenangkan daripada mendengarkan daftar lagu dari pemutar elektronik. Hal yang paling menarik dari radio adalah: penyiar yang berganti-ganti dengan gaya dan bahan obrolan yang sering kali tak terduga. Contohnya, berkaitan dengan meninggalnya pak harto dan untuk itu pemerintah menganjurkan masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama seminggu. Pagi ini, sang penyiar mengajukan sebuah pertanyaan: "Apa iya masyarakat kita masih meyimpan bendera? Sedangkan pada acara 17 Agustusan dimana penjual bendera bertebaran dimana-mana saja masih banyak rumah yang tidak mengibarkan bendera. Nah, siapa di antara pendengar yang masih memiliki bendera?". Hasil polingnya, tak sempat saya simak.

Kelebihan lain dari radio adalah koleksi lagunya yang variatif. Bahkan iklannya pun seringkali tak kalah menyenangkan daripada ocehan si penyiar dan lagu-lagu yang diputar. Mungkin karena iklan ini secara khusus dibuat untuk versi suara saja, sehingga lebih mengembangkan imajinasi pendengarnya.

Kembali ke speaker. Speaker saya ini punya kelebihan lain yang unik. Cara mematikannya mudah. Jika sudah bosan, kabelnya tinggal disentuh kaki saja. Mati.

Sayangnya, frekuensi yang bisa diputar hanya 84 - 90 MHz. Itu pun dengan kualitas suara yang tak bisa dibilang baik. Yah, lumayan lah buat unen unen.

Masih ada yang ndengerin radio?

21 komentar:

aprikot mengatakan...

dengerin radio nek koncoku sing siaran ae mas, soale mesti jenengku di sebut. tp saiki wes ga tahu lah ga ono IMELDA FM nang kene je anane nang SMG

didut mengatakan...

masih dunk .. walau hanya sekali-kali :D

mikow mengatakan...

Kakimu sakti, apa aja yg tersentuh mati? :D

Pinkina mengatakan...

masih, aku masih dengerin radio mas pas lg bengong di busway ato pas nyuci, radio di hape tapinya :D

Maruria mengatakan...

lha yo podo kang..aku yo masih mendengarkan radio ko. Terutama pagi-pagi soalnya isine lagu thok. Lagu-lagune ap tu det pisan..Heuheu..

nothing mengatakan...

wah, mas..sampeyan yo kere jebule...
koyo aku...
nang kos yo mung ada radio kecil dan alhamdullilah ada speaker kecilnya, jadi ga pake earphone [ini pun juga dikasih teman], tivi ga duwe, komputer buat nge game yo ga ono..opo neh internet....
[jan kaum buruh tenan...]

Hedi mengatakan...

wah ga pernah Pul, belum punya speaker kaya awakmu. Bosmu masih punya yg laen ga, mbok aku dikasih...

kw mengatakan...

wah aku juga dah lama gak pernah dengerin radio lagi. terakhir mungkin waktu masih di kampung, malam-malam jam 10 dengerin sandiwara mak lampir: misteri rumah tuah ha ha ha
hmm waktu begitu cepat berlalu ya....

pitik mengatakan...

wah..saiki iso ngrungokne campursari yo..

Cewek Nongkrong mengatakan...

radio : cara mudah update lagu dangdut .. :)

linda mengatakan...

ngacung
saya selalu dengerin radio tiap pagi pak tp melalui hape :)

-=«GoenRock®»=- mengatakan...

Aku mung ngrungokke radio yen pas sasi poso wae kang, dienggo nunggu bedhuk magrib :P

Evi mengatakan...

saya masih dengerin radio (i-radio 89.6),tiap hari mulai jam 6.30 smp jm 10, pk HP tapinya....enak bisa ketawa-ketiwi, soalnya penyiarnya ancur becandanya.
kdg pake earphone (sblm bel masuk bunyi tentunya) stlh itu speakernya on biar tetangga sebelah dengar jg.

Anang mengatakan...

dengerin radio bisa ngilangin setress

sluman slumun slamet mengatakan...

wah saya dah pernah dengerin radio tuh....
lha gak punya radio....
:D

mei mengatakan...

channel favorit, sonora..hihi(ibu ibu bangettt -P)

elyswelt mengatakan...

wah .. gambar radione seksi yo Mas, pakai hak tinggi ! :D

Pacul Cicipilah mengatakan...

nek nang kene....GCD fm always....nonstop musik

Fany mengatakan...

dulu pas jaman sekolah sih tiap hari, sambil nemenin belajar. *dadine yo malah ora sinau tapi cekikikan karo nyanti2*

kalo sekarang sih biasa dengerin radio kalo lampu mati doank (pake sejenis ipod), soalnya gak ada hiburan laen kl pas mati lampu hehehe...

kenny mengatakan...

kenalke aku karo bos'e :D

-tikabanget- ™ mengatakan...

cara lain mematikan speaker.

banting.