31 Januari 2008

Nama

Apalah arti sebuah nama? Usang dan klise memang, tapi begitulah.

Pangkal masalahnya adalah nama saya yang berbau arab. Ketika ditulis dalam huruf latin, hasilnya bisa berbeda. Maka tak heran, akte lahir saya salah. Kesalahannya, terjadi penggandaan huruf konsonan yang tak perlu (huruf f-nya dobel). Ejaannya pun masih menggunakan pola lama dimana huruf kh ditulis sebagai ch. Yang terakhir masih bisa diterima.

Karena administratif birokrat kita yang kacau, merevisi akte adalah pilihan yang tidak masuk akal, memakan waktu lama dan jelas menjengkelkan. Belum lagi perjalanan ke kota kabupaten yang tidak gampang untuk ukuran waktu itu. Oleh sebab itu, meski sudah berakte, menjelang lulus dari sekolah dasar, Bapak memutuskan untuk mengganti akte saya. Saya pun memiliki akte ganda. Cilakanya, nama saya di ijasah SD juga tidak persis benar dengan akte. Di kemudian hari, saya baru menyadari bahwa penulisan nama di akte lahir saya yang kedua pun masih belum tepat juga. Ya sudah, mau gimana lagi? Terima nasib saja.

Tak cuma berhenti disitu. Penulisan selanjutnya di identitas KTP, SIM, dan dokumen lain yang berhubungan identitas dasar itu, seringkali salah. Di setiap jenjang sekolah, saya menemui pertanyaan berulang setiap kali menghadapi kenaikan kelas dan, tentu saja kelulusan. Di tingkat perguruan tinggi juga demikian. Sampai tingkat ini, saya masih tak peduli. Biarin saja. Toh yang penting, untungnya (orang jawa memang selalu beruntung), semua penulisan ijasah yang saya punya seragam.

Sampai dengan kemarin. Kali ini saya benar-benar kesal. Sudah lewat seminggu dari jadwal, gaji kok belum dapat juga? Gimana ini? Biasanya keterlambatan terjadi paling lama 3-4 hari. Pernah juga terlamat 5 hari, tapi itu cuma sekali. Penanggung jawab keuangan pabrik bilang, gaji saya sudah ditransfer sebagaimana yang lain dan tidak ada catatan pengembalian uang. Sebaliknya, dari pihak bank juga tidak ada keterangan jelas.

Setelah 3 hari berturut-turut menanyakan hal yang sama, akhirnya ketahuan juga pangkal masalahnya. Sekali lagi soal nama. Nama saya di rekening bank dan di kepegawaian ternyata berbeda meski nomer rekening yang tercantum sama. Entah sudah muter kemana gaji saya itu. Sampai tidak, kembali pun tidak. Seperti arwah gentayangan saja, gerutu saya.


Dia berjanji akan mengurusnya besok. Dan sepertinya, baru senin depan saya bisa gajian. Seperti yang sudah-sudah, transfer antar bank memakan waktu sehari pada hari biasa, dan 3 hari jika dilakukan hari jumat.

Gondok dan sedih? Iya, tapi cuma sedikit. Pasalnya, semalam bos gembul menghampiri kos saya. Dengan senyum-senyum tur mbedani, dia membanting segepok uang ratusan ribu dari balik bajunya ke lantai seraya bertanya: "saiki butuhmu opo? aku akeh duit hasil proyekan minggu wingi ki." (artinya: kamu pengin apa? aku banyak uang hasil pekerjaan sampingan minggu kemarin nih).

Hore...

29 Januari 2008

Radio

Hah. Hari gini masih seneng ndengerin radio? Ya, saya itu.

Ceritanya, baru seminggu ini saya mendapatkan hadiah dari bos berupa sebuah kotak suara (speaker) berdebu bekas dari sisa pindahan kemarin. Speaker berukuran kira-kira seperempat kardus indomie, yang meski tak jelek, tak bisa dibilang bagus lagi. Tak apa lah. Toh, yang penting suaranya. Lagi pula kotak ini, jika dihubungkan dengan komputer, cukup untuk memperdengarkan musik jedug jedug mirip yang diperdengarkan penjual CD bajakan di belakang pabrik. Tentu saja tak bisa sekencang dan sebagus itu. Di samping itu, speaker ini dilengkapi dengan radio FM. Speaker saya ini punya kelebihan lain yang unik. Cara mematikannya mudah. Jika sudah bosan, kabelnya tinggal disentuh kaki saja. Mati. Diatas segalanya, kotak ini bisa dijadikan pijakan saat kaki saya terasa pegal akibat mondar-mandir. Menyenangkan sekali.


Setelah hampir 2 tahun meja tempat saya membuat wedang sepi, kini ada suara lain tak cuma suara kertas-kertas bon yang dibuka. Rasanya jauh lebih menyenangkan daripada menonton tipi yang isi, tokoh, cerita dan pembuatnya ya itu-itu saja. Juga lebih menyenangkan daripada mendengarkan daftar lagu dari pemutar elektronik. Hal yang paling menarik dari radio adalah: penyiar yang berganti-ganti dengan gaya dan bahan obrolan yang sering kali tak terduga. Contohnya, berkaitan dengan meninggalnya pak harto dan untuk itu pemerintah menganjurkan masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama seminggu. Pagi ini, sang penyiar mengajukan sebuah pertanyaan: "Apa iya masyarakat kita masih meyimpan bendera? Sedangkan pada acara 17 Agustusan dimana penjual bendera bertebaran dimana-mana saja masih banyak rumah yang tidak mengibarkan bendera. Nah, siapa di antara pendengar yang masih memiliki bendera?". Hasil polingnya, tak sempat saya simak.

Kelebihan lain dari radio adalah koleksi lagunya yang variatif. Bahkan iklannya pun seringkali tak kalah menyenangkan daripada ocehan si penyiar dan lagu-lagu yang diputar. Mungkin karena iklan ini secara khusus dibuat untuk versi suara saja, sehingga lebih mengembangkan imajinasi pendengarnya.

Kembali ke speaker. Speaker saya ini punya kelebihan lain yang unik. Cara mematikannya mudah. Jika sudah bosan, kabelnya tinggal disentuh kaki saja. Mati.

Sayangnya, frekuensi yang bisa diputar hanya 84 - 90 MHz. Itu pun dengan kualitas suara yang tak bisa dibilang baik. Yah, lumayan lah buat unen unen.

Masih ada yang ndengerin radio?

22 Januari 2008

Pindahan

Kepada mba dan mas penghuni bedeng sebelah, dengan ini saya mengucapkan pamit. Kami pindah sejak hari senin, 14 januari 2008 kemarin. Pindah ke lapak yang lebih besar, biar bisa melayani para penggemar wedang dengan lebih layak. Tidak jauh kok, cuman ke seberang perempatan saja. Cuma adu padon, kata orang jawa.

Silahkan mampir, jika sempat...

17 Januari 2008

Terminal




Lanjutan cerita sebelumnya.

Terminal (atau bandara, seperti kita semua sudah paham) adalah tempat datang dan perginya banyak orang. Dan Changi adalah salah satunya. Terminal yang luar biasa. Ukurannya yang luas, megah, bersih dan menyenangkan. Maka tak perlu heran jika pakde dan para koleganya dari berbagai negara di asia, beberapa kali melakukan rapat sehari di sana. Semua keperluan pribadi selama rapat tersedia di sekilingnya, dengan harga yang sama dengan diluar terminal. Bandingkan dengan terminal di Indonesia. Sehabis rapat, peserta bisa langsung kembali ke negaranya masing-masing. Hemat dan praktis. Meski bagus, cara ini bisa dipastikan tidak akan ditiru pejabat kita. Sudah bukan rahasia umum, jika lamanya dinas sebanding dengan jatah (uang) perjalanan. Tidak peduli apakah dinasnya penting atau tidak, yang penting lama. Lama berarti uang banyak, singkat berarti sedikit. Itulah mengapa, anggota dewan senang melakukan perjalanan dinas. Dan tidak mungkin cuma sehari tentunya. Catatan: tidak berlaku untuk tukang wedang...


Kembali ke terminal Changi.

Salah satu hal yang membuatnya istimewa adalah layanan publiknya. Begitu turun dari pesawat, berderet brosur dan peta telah tersedia pada rak-rak di lorong menuju pemeriksaan imigrasi. Mulai dari informasi perbelanjaan, hiburan, penginapan hingga jalur-jalur MRT, beserta keterangan harganya. Semua itu gratis. Sebagai catatan, tidak hanya di Changi, pada hampir semua tempat di Temasek, layanan publiknya patut diacungi dua jempol. Setidaknya begitulah menurut saya. Air minum dimana-mana, internet dengan koneksi yang mengagum dan pijit kaki (dengan mesin) di ruang tunggu, toilet yang bersih dan wangi, kereta listrik (MRT) menuju ke stasiun kereta terdekat. Sekali lagi, gratis. Soal kenyamanan, tidak usah diragukan.
Sebagai orang Indonesia, saya jelas senang. Saat hendak kembali ke Jakarta, sambil menunggu waktu check in tiba, iseng-iseng saya mencoba coba-coba fasilitas umum itu . Telpon umum kondisinya, seperti kebanyakan telepon umum yang lain, terawat baik. Kondisi seperti ini pasti sulit ditemukan di Jakarta. Telpon dari bandara ke tanah air ternyata lebih mahal dari di luar bandara. Jika di luar bandara tarifnya 20 sen semenit, di sini 1 dollar cuma bisa semenit. Dengan kurs dollar singapura setara Rp 6.500, silahkan hitung sendiri. Sebagai perbandingan, sebotol air mineral dijual seharga 2 dollar.
Bosen mencoba-coba fasilitas itu, ganti main kamera. Saat jeprat sana jepret sini, tiba-tiba ada yang menyapa saya dalam bahasa Indonesia.
"Mas, memangnya boleh moto-moto di bandara ya?”
"Memang ngga boleh? Saya malah ngga tau tuh. Wong ngga ada yang melarang”, jawab saya tidak yakin.
"Kalo gitu, tolong potoin kami dong…”, pintanya agak ragu-ragu.
Rupanya ada 2 teman lain bersamanya. Kami segera terlibat dalam pembicaraan (sepertinya hanya orang Indonesia yang punya kebiasaan begini). Mereka semua sedang transit menuju Thailand, mengerjakan penambangan minyak lepas pantai. Sebelumnya, mereka mengerjakan proyek yang sama di Natuna. Bosnya mengirim mereka melalui Batam. Dari Batam mereka menyeberang dengan kapal. Legal, tentu saja.
Mendengar logat jawa mereka, saya iseng-iseng bertanya.
"Jawanya mana mas?”

"Cilacap”
"Hah? Cilacapnya mana?”, kali ini saya menggunakan bahasa jawa dialek Cilacapan.
"Kesugihan mas" (Kesugihan adalah salah satu kecamatan di Cilacap, sekitar 30 menit naik bis)
"Kesugihannya mana?”, cecar saya.
"Keleng” (Kesugihan bagian barat)
"Keleng? Kenal Pak Fulan ngga?”
"Itu Pak Lik saya”
"Wah, kita saudara mas. Pak Fulan itu saudara Bapakku. Bapakku asli pesanggrahan (timur Keleng) lho…”
Kami terbahak-bahak sampai-sampai orang-orang sekitar menengok ke arah kami dengan muka bingung. Kami sama-sama sulit mempercayai. Di sini. Berjarak entah berapa ribu kilometer dari rumah, "kebetulan” lah yang mempertemukan kami. Dunia memang ajaib….

Bengawan Solo dipake Temasek, kok ngga ada yang protes ya?

Internet cepet. Sayangnya harus berdiri.

Pijet gratis...

15 Januari 2008

Duren

Mengisi liburan, menagih janji Pakde. Duren. Duren. Duren....

08 Januari 2008

Cerita dari tur wedus bagian 2: kunjungan kambing


Saat kami sampai ke bangsari, pinjaman kambing yang sudah disalurkan sebanyak 43 ekor. Adapun jumlah anak yang sudah mendapatkan pinjaman kambing adalah sebanyak 16 anak, 3 orang sedang dalam tahap tindak lanjut dan 2 anak sebagai cadangan. Daerah sebarannya meliputi: Karang reja (dusun yang saya tinggali), Cipaku ( di ujung timur bangsari, dekat hutan perbukitan), Medeng (sebelah Cipaku), Sidadadi (bersebelahan dengan dusun saya di arah barat), Cililing (sebelah barat Sidadadi) dan Jakatawa (dekat Sitinggil, di arah selatan). Saldo yang tersisa masih 3, 52 juta rupiah yang rencananya akan digunakan untuk 3 anak lagi dalam waktu dekat. Nama anak dan tempat tinggalnya adalah sebagai berikut:
  1. Cipaku (7 anak): Nur Huda, Amin Rido, Andriyanto, A. Baehaqi, Saefulloh, Nurotun Hasanah, Yasrofi
  2. Medeng (3 anak): Hamdan, A. Rubangi, Wifayatul Amani (1)
  3. Karangreja (2 anak): Irfan Sutrisno, Arif Faozi
  4. Sidadadi (2 anak): Bilkis Andiyah, Zaenuri
  5. Jakatawa (1 anak): Basirin
  6. Cililing (1 anak): Wifayatul Amani (2)
  • On Progress: Tukiran dan Samsul Maarif (Karangreja), Muhsinun (Petenanangan, dekat Gandrung Mangu)
  • Cadangan: Nasirotul Fajriyah (Karangreja), Umi Faizah (Medeng)
Catatan: terdapat 2 nama kembar dengan orang yang berbeda, atas nama Wifayatul Amani.

Sebagai tambahan informasi, semalam saya mendapat 2 pesan pendek dari rumah. Pesan pertama mengabarkan satu kambing jenis etawa yang dipelihara Arif Nurfaozi mati akibat keracunan pakan. Pesan kedua berisi berita gembira, kambing Wifayatul Amani (1) telah melahirkan 2 ekor jantan.

Laporan detilnya bisa diunduh disini.

Karena para penerima kambing tersebar di beberapa tempat di bangsari, kami mengunjungi mereka menggunakan mobil pinjaman berikut sopirnya dari bu lik dan 2 sepeda motor. Bapak saya, Iqbal, Hadi, 3 orang temannya Ibun (Gigih, Wildan, Yusuf), Mita, Vita mengendarai mobil. Saya, Ibun, mukhlis (adik saya) dan gembong (adik ipar saya), serta baha (tetangga rumah) mengendarai sepeda motor. Tujuan pertama adalah dusun Cipaku dan Medeng, sekitar 2 kilometer dari rumah saya. Di sini ada 7 murid yang menerima pinjaman. Daerah ini relatif tertinggal dibanding daerah lain di bangsari. Sedangkan Medeng bersebelahan dengan Cipaku, juga masih dekat dengan hutan. Di sini ada 3 murid yang menerima pinjaman kambing.

Baru saja hendak sampai di tujuan, pepeng saya mendapat telpon dari pepeng. Begitu saya angkat telpon, terdengar suara dari seberang sana.


"Saya sudah sampai sitinggil nih. Gimana?"
"Lha maunya gimana?"
"Ya dijemput no...."
"Ok. Segera menuju tekape. Sendiri pa sama temen?"
"Sendiri."
"Sip"
Klik! Telpon pun dimatikan dan saya meluncur menjemput pepeng yang baru tiba dari semarang. Begitu ketemu, saya salami dan langsung nangkring di belakang saya. Melewati rumah saya, saya tawari:

"Makan dulu ndak?"
"Ndak, masih kenyang"

Eh, dii tengah jalan tiba tiba dia bilang:
"Dari pagi perutku ndak kemasukan nasi. Laper nih..."
Gubrak!
"Jadi, balik nih?"
"Mmm... Ngga usah deh. Ntar aja, ngga papa"

Perjalanan pun dilanjutkan. Alhasil, saya ketinggalan kunjungan. Terus terang, selain penerima pertama tidak satupun dari daftar yang bapak saya beri saya kenal sebelumnya. Nama-nama itu sendiri dikumpulkan bapak bersama dewan guru. Jadi, saat saya sampai, saya tak tahu anak keberapa dan nama yang sedang dikunjungi. Balibul punya rekaman videonya lengkap.

Dari Cipaku, kami menuju medeng. Anak pertama adalah Wifayatul Amani. Dia sedang membantu ibunya memasak di dapur. Saya sempat menuju dapur dan sempat menyapa neneknya yang sedang terbaring sakit di dipan dekat meja makan yang kosong.

"Ngga sakit kok. Cuma terkena seng dan susah dibawa jalan. Kalo dibawa jalan sakitnya terasa sampai ke perut", katanya.
"Langsung ke dokter ya. Semoga cepat sembuh."

Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore dan langit bermendung tebal. Kami segera pamit untuk mengunjungi Rubangi dan Hamdan. Seperti sudah diceritakan pada seri pertama, rumah mereka bersebelahan. Di rumah Rubangi kami mendapati satu-satunya kambingnya (bukan kambing dari program ini) yang baru beranak di ruang tamu. Ya, di ruang tamu sebelah meja dan tempat duduk tamu. Ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur, tempat jemuran dan tempat sepeda. Setelah ngobrol sebentar, kami pun pamit. Ternyata ibunya sempat menyuguhi kami semua segelas teh panas. Lumayan untuk menghilangkan haus dan menghangatkan badan. Hujan mulai turun dan kami harus bergegas. Setelah menyeruput teh, kami menuju hamdan.

Rumah Hamdan cuma berjarak sekitar 50 meter. Dia dan 2 saudaranya yatim. Seperti kebanyakan daerah situ, ibunya buruh. Hujan yang semakin deras dan waktu yang sudah jam 5 membuat kami menyudahi kunjungan ini.

Saya berencana esok harinya kita mengunjungi sisanya, sekitar 6 orang lagi plus 3 orang yang dalam proses. Namun teman-teman yang lain punya pandangan lain.
"Kunjungan sudah cukup merepresentasikan, jadi beso ke Nusakambangan saja", usul salah satu.
"Betul", kata yang lain serempak.
"Ok, besok kita kesana."
Dasar ngga mau rugi, bilang aja pingin jalan-jalan. hehehe

Saya langsung teringat pada blogger cilacap ini. Untuk minta panduan dan minta makan-makan gratis. Memanfaatkan keseleban kami tentunya. hehehehe.

Bagi yang ingin tahu lebih lengkapnya, bisa menghubungi panitia.
Cerita terkait ada di sini, di sini, dan di sini plus di sini.
Laporan detilnya bisa diunduh disini.

07 Januari 2008

Cerita dari tur wedus bagian 1: perjalanan

Akhirnya yangberangkat ke bangsari dari Stasiun Kota ada 9 orang. Gus Hadi Pitik, Kyai Iqbal Balibul, Ibun, 3 orang temannya Ibun (Gigih, Wildan, Yusuf), Mita, Vita (yang baru kami kenal secara fisik) dan saya sendiri. Mila hanya mengantarkan kami sampai kereta berangkat. Ada acara keluarga di Bandung esok harinya. Iqbal hampir saja ketinggalan kereta setelah sebelumnya terjebak macet dari serpong dan dia baru muncul 5 menit sebelumpemberangkatan. Kang pres memutuskan tidak ikut disebabkan sedang meriang selama seminggu, begitu juga istrinya. Yudi harus menyelesaikan proyek besarnya di kantor. Pito sedang terkena wajib pulang setelah liburan panjang sebelumnya harus ngendon di kantor. Meski begitu, dia sempat ikut menunggu rombongan kami berangkat dari kos kebon kacang. KW jauh-jauh hari sebelunya sudah mengabari tak bisa ikut. Sam Hedi sedang banyak pekerjaan plus tak bisa meninggalkan kebaktian akhir tahun. Begitu pun rombongan dari semarang (kecuali pepeng) dan jogja juga belum bisa bergabung.

Kereta berangkat jam 20:20. Kereta ekonomi jurusan Kroya. Sempat terjadi sedikit dialog antara balibul dengan penumpang lain yang tak mendapatkan jatah tempat duduk tapi menempati tempat duduk kami. Perawakan Iqbal yang tinggi gendut membuat mereka miris. Kami pun duduk dengan tenang. Tidak juga ding, nyatanya hampir semua tempat senderan tangan di gerbong kami juga dijadikan tempat duduk penumpang. Uyel-uyelan, panas dan sumuk, kereta berangkat.

Sepanjang jalan sampai dengan bandung, penumpang terus bertambah banyak dan sepertinya tidak ada yang turun. Mungkin karena bertepatan dengan libur 4 hari, yang tentu saja menjadi alasan bagi orang jakarta untuk keluar kota. Tapi kereta ekonomi sepanjang saya tahu memang tidak pernah kehabisan penumpang. Mau libur atau tidak tetap saja banyak penumpang. Di Bandung, Bahaudin tetangga saya yang (seperti kebanyakan pemuda sana) bekerja di perusahaan garmen, ikut bergabung.


Perjalanan ini tak beda dengan perjalanan-perjalanan pulang saya yang lalu. Teman-teman sepertinya kesulitan beradaptasi dengan kereta kambing ini. Mungkin tak pernah membayangkan kereta seperti ini ada di republik ini. Sepanjang jalan mereka terjaga. Ngobrol, ngopi, makan kacang, udud, mendengar pedagang (yang kata balibul lewat tiap 17 detik), menggoda bencong yang lewat dan misuh-misuh.

Dengan wajah pucat pasi karena tak tidur, kaki bengkak akibat tak bisa bergerak leluasa, badan lengket dan bau, kebelet kencing dan pup, serta lapar plus haus yang mendera, sampailah kami di Gandrung.
Waktu menunjukkan waktu jam 7 pagi. Waktu tempuh yang sama dengan kereta eksekutif mungkin sudah sampai ke ujung timur pulau jawa. Entahlah, saya belum pernah naik kereta mahal itu.

Dari stasiun Gandrung, kami naik bus ke Sitinggil. Sekitar 15 menit perjalanan. Di sini kami sempat mampir sebentar ke rumah kakak saya untuk meminjam motor. Dari Sitinggil jarak rumah saya masih 3 kilo lagi. Vita diboncengkan ibun dengan motor, dan Mita naik ojek. Gus pitik dan Kyai Balibul ngajak berjalan kaki sambil melemaskan otot. Yang lain mengamini. Jadilah kami bertujuh berjalan kaki.

Sepertiga jalan, warung mendoan di tepi saluran irigasi langganan saya sudah buka. Kami pun mampir. Pagi-pagi begini cocok sekali rasanya makan mendoan panas yang lebarnya seperti buku tulis itu sambil ngopi atau teh nasgitel. Namun karena jalan, berkeringat dan kehausan, kami semua memesan es teh. Hmmm... Mak nyus!
Bertujuh kami cuma habis 17 ribu untuk 11 mendoan (rupanya sudah naik jadi seribuan sebuah) dan 7 es teh (juga seribu segelas).

Sehabis ngemil, ibun dan adik saya datang menjemput dengan sepeda motor. Balibul dan Gus pitik dibonceng duluan, sisanya jalan kaki. Lumayan untuk melemaskan kaki.

Sesampainya di rumah, makanan sudah menunggu. Oseng-oseng belut bakar pedas, opor mentok, oseng-oseng pepaya, oseng-oseng tempe, lumbu kobis favorit dan mendoan menunggu disantap. Mandi dengan cepat dan sesudahnya kami pun makan. Badan lelah perut kenyang, kami pun tidur. Sekitar jam sepuluh kalo tak salah ingat, dan baru saya baru bangun jam setengah satu.

Saya bangunkan yang lain untuk sholat dan makan siang. Jam 2 siang, supir bu lik sudah siap menunggu di depan rumah. Selanjutnya, kami mengunjungi kambing-kambing itu.

Cerita terkait ada di sini, di sini, dan di sini plus di sini.

Maap baru posting sekarang. Seperti biasa, lagi ribet dengan pekerjaan. Versi videonya ada di kyai gembul.

05 Januari 2008

Ringan, lucu, layak baca dan perlu

"Pria benci kritik - itu sebabnya, mereka lebih memilih menikah dengan perawan"

Demikian salah satu kutipan (yang menurut saya) menarik dari buku ini. Sebuah buku yang dihadiahkan Paman untuk teman kami yang berulang tahun tempo hari. Tentang mengapa buku ini sampai ke saya dan bukan pada yang berhak, saya tak tahu persis. Lha wong tiba-tiba saja pagi tadi saat saya lagi meriang, kang pres ke kos saya sambil menenteng buku setebal 146 halam ini seraya berpesan pendek: "iki bukune endik, aku mau ke bekasi dulu ya". Selanjutnya mbuh, saya terlelap kembali.

Dibubuhi sebuah pesan bertulis tangan berhuruf latin plus cap merah berlogo raja gombal:

"untuk endiks. semoga lekas besar. - des 07"

"Pria memang egois!", begitu saya sering dengar kaum wanita mengeluh. "Dasar cerewet!", balas kaum pria. Ya, begitulah! Pria dan wanita memang mahluk yang berbeda. Secara fisik, dan terlebih lagi secara psikis.


Perbedaan ini didasari atas dasar kebutuhan primitif manusia purba. Pria pencari makanan, dan wanita menjaga sarang. Perjalanan dalam berburu makanan membuat kemampuan pria berkembang dalam hal yang bersifat spasial, membaca peta (berguna untuk kembali ke sarang), pandangan yang fokus pada titik buruan dan kareanya mengabaikan obyek lain (itulah mengapa laki-laki selalu menengok ketika melihat wanita yang menarik, dan dengan mudah ketahuan wanita pasangannya), kemampuan komunikasi non verbalnya tidak berkembang (wanita menganggap laki-laki tak bisa berbicara dengan baik, juga gampang ketahuan saat berbohong). Sebaiknya, wanita karena kebutuhan menjaga sarang dan karenanya jarang berpindah-pindah menyebabkan kemampuan spasialnya tikak berkembang (sulit membaca peta). Selalu waspada terhadap perubahan sekecil apapun disekitarnya termasuk perilaku anak-anak dan pasangannya (itulah mengapa wanita sangat mudah mengetahui jika prianya selingkuh). Kemampuan komunikasinya berkembang sangat baik (wanita bisa memahami maksud orang lain cukup dengan berhadapan saja dalam waktu beberapa detik saja, tanpa orang itu mengatakan apa pun).

Di zaman modern dimana pria tidak lagi perlu berburu, kemampuan komunikasi non verbal pria tidak lah berkembang dan justru wanitalah yang berkembang pesat. Akibatnya, dalam hubungan lintas gender, pria merasa wanita adalah mahluk luar biasa rumit dan tak bisa dimengerti. Sebaliknya, wanita mengangap pria tidak pengertian dan mau menang sendiri.

Buku ini juga membahas tentang mengapa pria takut dengan komitmen, mengapa wanita umur 36-38 tahun cenderung menyukai pria muda (berondong), mengapa wanita jika pipis selalu berombongan, mengapa pria tidak bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dan masih banyak lagi. Saya mendapat kesan dalam buku ini, wanita lebih unggul dari pria (Berbahagialah engkau wahai para wanita).

Apakah keduanya benar-benar berbeda dan tak bisa menciptakan hubungan yang serasi?

"Kesadaran pria utamanya tertuju untuk mencapai prestasi; memperoleh hasil; mencapai tujuan, status, dan kekuasaan; dan memenangkan kompetisi. Kesadaran wanita terfokus pada komunikasi, kerjasama, keharmonisan, cinta, saling berbagi, dan hubungan kita satu sama lain. Kekontrasan ini sedemikian hebatnya hingga jika pria dan wanita berencana untuk hidup bersama saja sudah sungguh menakjubkan."

Dengan begitu banyak perbedaan, masih berminat menikah?

NB: maap belum sempat posting kambing bangsari nih...