09 Desember 2008

Orang asing naik bis kota

Suatu malam di bawah jembatan layang karet, tepat di pojokan hotel Le Meridien, dua orang asing (sepertinya india singapura) menghampiri saya. Rupanya mereka hendak ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju ganti. Setelah berbincang-bincang dengan bahasa inggris yang ala kadarnya:

Orang India: Where I have to stop the bus?
Saya: In Jakarta, you can stop the bus every where.
Orang India: What?
Saya:Yup. Every where!

Kedua orang India itu saling pandang dengan muka bingung. Sapertinya mereka takut saya salah ucap.

Selamat datang di Jakarta mister...

boso enggrese elek yo ben

05 Desember 2008

Gopur

Umumnya, orang jawa menamai anaknya dengan beberapa kata. Untaian nama itu biasanya mengandung doa, jampi-jampi dan harapan bapak-ibunya. Kalaupun cuma satu kata, paling tidak nama itu terdiri dari beberapa suku kata. Poniran, tulkiyem atau Sandemo misalnya. Tapi jarang sekali orang jawa menamai anaknya hanya dengan dua suku kata.

Teman yang akan saya ceritakan termasuk perkecualian itu. Orangnya kurus, rambut kriwil dan kulit yang legam. Namanya Gopur. Ya, Gopur dengan huruf "p" dan bukan "f". Di KTP, Surat Lahir (bukan Akte Lahir lho) dan ijasahnya , nama itu satu satunya yang tertulis tanpa embel-embel.

Menurut cerita yang diingatnya, dulu dia dinamai Abdul Ghofur. Cilakanya, pada saat dia ditanya kepala sekolah dasar sewaktu pengisian rapor, dia menyebut namanya cuma Gopur. Maka, jadilah nama itu satu satunya yang melekat hingga sekarang.

Saya mengenalnya sebagai tetangga kos di Sendowo, Jogja, 12 tahun lalu. Bahasa jawa yang ngapak, kampung yang bertetangga dan sama-sama suka makan telo membuat kami menjadi sahabat akrab sejak itu. Dia memiliki energi berlimpah yang membuatnya tak bisa diam. Dari membuat kaligrafi (kebiasaannya sejak di pesantren mbanyumas), kemampuannya menggambar teknik, membuat replika pesawat hingga kemampuannya dangdutan di depan kos.

Pada awal-awal masa kuliah, saya benar-benar takjub kepadanya secara materi. Maksud saya, sebagai orang kampung kami kok duitnya bisa banget ya? Kalo dia di kampung banyak duitnya, oke lah. Tapi ini kan di kota? Rasanya kok aneh, orang kampung juga kaya di kota.

Bajunya bagus-bagus, makanan selalu melimpah dan berbagai perangkat elektronik koleksinya membuat anak kos yang lain betah nongkrong di kamarnya. Maka, jadilah kamar itu semacam markas besar anak-anak kos lainnya.

Usut punya usut, ternyata kakaknya kerja di arab menjadi TKW. Ow, pantes saja. Di kemudian hari, kakaknya pernah bercerita pada saya, bahwa dia dikasih jatah minimal 1 juta setiap bulan. Suatu kali bahkan pernah hingga 2,5 juta. Bandingkan dengan saya yang cuma 120 ribu. :P... Itu sebelum krisi moneter lho.

Orang bilang dunia tak selamanya indah. Begitulah. Sampai akhirnya sang kakak mudik dari rantau dan tak lagi bisa menyokongnya. Ditambah lagi krisi moneter yang mulai melanda siapa saja. Masa-masa sulit itu mulai membayang. Dia pun kelimpungan menafkahi dirinya sendiri. Mulai dari MLM versi Ahadnet, jualan stiker partai, menjadi penunggu warung angkringan hingga jadi penjual nasi goreng.

Pada masa masa itu, seringkali hidup terasa sesak sekali dengan uang yang cuma sepuluh-dua puluh ribu di kantong. Sementara jadwal "gajian" masih seminggu lagi. Bersama Ucok, perantau dari Toba, uang segitu biasanya kami belikan singkong dan mie instan semuanya. Maka, selama seminggu kalo kami ngga kentut-kentut melulu ya sulit buang air besar. (Sampai kemudian saya hijrah ke jakarta akhir 2005.)

Selain kreatif, dia juga sableng. Begitu sablengnya, dia pernah mencoba merasai (maaf) tinjanya sendiri. "Pait-pait sepat. Mirip sawo mentah", katanya tergelak. Saya merindunya. Rindu kesablengannya, kekonyolannya, juga kreatifitasnya.

Kemarin dia mengirim pesan pendek: "tgl 13 Desember nanti aku ujian pendadaran". Setelah 12 tahun kuliah!

Betapa pun lamanya itu, selamat ya bro. Kini namamu tak lagi tunggal, sudah ada tambahan di belakangnya. Gopur, ST!

12 November 2008

Hari Baik Bulan Baik


Foto oleh Mas Iman Brotoseno
Desain oleh Bartley
Undangan ini juga bisa dilihat di sini.

21 Oktober 2008

Kartu Pos dari Mas Luigi


Sebuah kartu pos dari Afrika saya terima setelah cuti panjang kemarin. Pengirimnya Mas Luigi Pralangga.

Siapa dia? Saya mengenalnya sekitar dua tahun lalu, dari blog, sebagai tentara yang berkecimpung dalam pasukan perdamaian PBB di Afrika. Gita meralat saya, tapi biarlah saya tetap menganggapnya demikian. Soalnya saya merasa lebih susah memahaminya kalau harus dijelaskan lagi. hehehe.

Bukankah bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian adalah hal yang luar biasa bagi seorang prajurit (maupun bukan) di muka bumi manapun? Apalagi seorang tentara yang bergelut dengan dunia maya dan terutama ngeblog? Begitulah dia.

Kartu itu bertulis tangan dan berperangko (Amerika) asli. Sebuah kombinasi yang sudah sulit ditemukan bukan?

Saya jadi ingat. Dulu. Dulu sekali. Saya pernah mendengar istilah sahabat pena. Sebuah hubungan kekerabatan yang dilakukan melalui surat menyurat. Saling berbagi kabar, juga pikiran dan mungkin juga keluh kesah. Katanya. Makanya daftar sahabat pena selalu muncul dalam setiap majalah anak-anak usia sekolah waktu itu. Menurut cerita di bangku sekolah, "Habis Gelap Terbit lah Terang" adalah salah buku fenomenal yang dilahirkan dari tradisi ini.

Sayangnya, saya selalu ketinggalan untuk edisi kapan pun, dan dari majalah manapun. Gimana enggak? Lha wong saya, maksud saya keluarga saya yang dipelosok, tak pernah berlangganan majalah manapun. Jadi ya hanya kebetulan-kebetulan saja yang membuat saya memiliki majalah.

Namun sebenarnya, saya belum pernah melakukan kegiatan korespondensi macam begini. Surat surat yang saya kirmimkan ke orang tua semasa sekolah menengah karena harus merantau biasanya cuma berisi sepenggal kalimat ogah-ogahan namun bernada kritis: "Putro waras arto telas". Surat menyurat dengan orang lain tak pernah benar-benar rutin.

Kini, model begini sudah dilupakan orang. Kemudahan teknologi internet juga telepon telah mengikis kebiasaan ini. Namun tak bisa dipungkiri, kartu pos dengan tulisan tangan dan perangko asli menimbulkan kesan yang jauh lebih hangat dan bersahabat.

Terima kasih mas Luigi, selamat atas kelahiran putra ketinganya. Salam hangat dari pusat Jakarta.

Ya, Jakarta sedang hangat-hangatnya sekarang. Rata-rata 34 derajat Celcius menurut rilis badan meteorologi beberapa hari lalu. Hujan belum turun, padahal musim hujan seharusnya sudah berlangsung hampir dua bulan dari jadwal seharusnya. Sangat hangat dan sumuk.

15 Oktober 2008

Berbahagia

...Berbahagia memang tak susah. Hanya kita saja yang didera berbagai ambisi dan cita-cita, terlalu penat oleh beban berat kehidupan, jadi lupa betapa kebahagiaan itu bisa diraih kapan saja di mana saja.


Dikutip dari sini.

29 September 2008

Selamat Berlebaran, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Jika dicermati, sebenarnya pergaulan dengan Gusti Allah itu jauh lebih enak ketimbang dengan manusia. Allah Maha Pengampun. Lembaga pengampunan-Nya banyak sekali. Beristighfar; menghapus doa; bersembahyang; menghapu dosa; berpuasa; menghapu dosa; berbuat baik; menghapu dosa; dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan (sebagian) manusia. Salah sedikit marah, bahkan sering kehilafan yang tidak disengaja pun sulit dimaafkan. Maka, untuk meminta maaf atau memaafkan, orang memerlukan timing tertentu seperti Lebaran ini.

Selamat Berlebaran, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Dikutip dari tulisan Gus Mus dalam Membuka Pintu Langit:

22 September 2008

Gelang Keseimbangan


Dua orang Ibu-ibu dan seorang Bapak datang ke pabrik. Berjas dan berbaju necis serta wewangian yang layak. Mereka menenteng map berisi brosur, tas-tas kerja dan juga sebuah laptop mini. Salah satunya sepertinya berasal dari negeri seberang, terlihat dari logat melayunya yang kental. Cerita tentang pentingnya kesehatan segera mengalir.

Salah satu sebab terjadinya berbagai penyakit dalam tubuh adalah karena terjadinya ketidak-seimbangan magnetik di sekitar kita. Berkurangnya sumber magnet alami bumi, juga terutama akibat munculnya peralatan modern. Radiasi dari alat-alat inilah yang paling banyak andil dalam mengacaukan sistem ketidak-seimbangan tubuh. Masih ingat cerita tentang dua telur yang diletakkan diantara dua handphone yang berbicara secara terus menerus selama 65 menit? Telurnya matang!

Ketidak-seimbangan ini menyebabkan gangguan: insomnia, migrain, kelelahan, sembelit, ketegangan dibelakang bahu, sakit leher dan tulang belakang, pusing yang hilang timbul. Juga konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat, residu polusi udara yang dalam jangka panjang akan menyebabkan berbagai penyakit. Mulai dari penyakit degeneratif, penyakit akibat gangguan imunitas tubuh, gangguan pencernaan, gangguan hormonal, dan lain sebagainya.

Namun jangan takut Saudara. Kini tersedia alat yang bisa mengembalikan peran medan magnet bumi itu. Yang akan membereskan semua masalah tanpa anda perlu lelah. Yang akan mengembalikan keseimbangan bioenergi sel dalam tubuh Anda. Sekaligus melancarkan aliran darah, mengembalikan "Natural Self Healing", menghilangkan "Natural Killer Cell", membantu regenerasi sel dan sebagainya.

Percayalah, gelang ini bisa menjadi obat yang luarbiasa. Yang menyembuhkan begitu banyak penyakit. Juga mengatasi masalah kekayaan kebahagiaan keluarga Anda.

Cukup dengan XXX saja, hidup anda akan menjadi lebih baik.

Dalah hati saya membatin: Yah, namanya juga MLM. Ada-ada saja cara kreatif mereka menawarkan produk.

Tapi satu gelang mengapa tidak? Apalagi jika itu adalah gratisan...

18 September 2008

Muktamar Blogger II

Sampeyan blogger yang suka ngumpul-ngumpul ala ndeso? Ayo ikuti Muktamar Blogger II 2008. Muktamar kali ini yang mengusung tema "Blogging for Wit-witan" adalah kelanjutan dari Muktamar yang lalu.

Melalui acara ini diharapkan puyeng-puyeng, pegel-pegel dan roso ati terhadap kota nJakarta menjadi plong. Yang terlanjur jadi penghuni jakarta bisa curhat sekaligus nyari teman ndesonya. Yang dari luar kota (perlu diingat, orang Jakarta menganggap luar Jakarta bukanlah kota) bisa melihat Jakarta langung dari jantungnya langsung, Bunderan Hotel Indonesia.

Ayo tunggu apalagi? Keluarkan uneg-uneg dan gerutumu. Bergabunglah dengan kami di emperan BHI.

Tidak ada syarat dan ketentuan. Sampeyan datang, sampeyan muktamirin. Sampeyan boleh datang pake sarung, sendal jepit dan caping gunung. Tak perlu khawatir, tidak ada AC disini. Jadi sampeyan ndak mungkin masuk angin.

Acara ini digelar malam sebelum Pesta tetangga sebelah berlangsung. Yah, semacam malam towong (malam menjelang acara inti hajatan) lah. Untuk lengkapnya, silahkan lihat di sini...

Traveller's Cheque

Belakangan istilah Travellers's Cheque (orang keuangan pabrik sering menyebutnya "TC"), atau disebut juga Cek Perjalanan, atau ada juga media yang menyebut Cek Pelawat, begitu sering terdengar. Itu makanan apa sih?

Menurut info yang saya terima dari orang keuangan, terdapat dua jenis cek dalam transaki perbankan. Cek (biasa) dan cek perjalan.

Secara sederhana, cek (biasa) adalah lembaran surat bank yang bisa digunakan untuk mengambil uang di bank. Cek dicairkan dengan cara mengurangi sejumlah uang dari rekening seseorang. Besarnya uang yang tertera pada cek jenis ini tergantung jumlah nominal yang diisi oleh pihak yang mengeluarkan (pemilik rekening). Inilah kelebihan cek jenis ini. Jumlah yang diterakan lebih fleskibel.

Masalahnya, karena ditulis manual, bisa saja terjadi ketidak-sesuaian antara jumlah tertulis dengan deposit yang tersimpan dalam rekening tersebut. Karena itulah bisa dimengerti, mengapa sampai ada kejadian pembayaran dengan cek kosong oleh PSSI tempo hari itu.

Sedangkan cek perjalanan tidak dicairkan dari rekening manapun, tapi langsung bisa diuangkan di bank yang mengeluarkan cek tersebut. Lha trus sumber uangnya didebet darimana? Pada kasus cek perjalanan, sumber dananya harus diserahkan pemohon di awal transaksi kepada bank penerbit. Istilah kasarnya, si pemohon harus membeli dulu sesuai satuan-satuan nominal tertentu (jutaan hingga ratusan juta). Plus tambahan biaya administrasi.

Sehingga, dari situ saja dapat diketahui kelebihan cek perjalanan di banding cek biasa. Kepastian bisa diuangkan. Makanya, cek perjalanan sudah menjadi alat bayar yang umum. Pasti, mudah, ringkas dan flesiksibel. Itulah sebabnya, pelaku penyuapan belakangan sering menggunakan cek jenis ini.

Lha, kok sampeyan tahu tentang TC? Ya maklum saja. Saya ini tukang wedang yang sering berperan juga menjadi kurir.

Jadi, kalau tulisan ini terasa kurang pas ya harap dimaklumi. Cuman bala dhupak gitu loh...

11 September 2008

E-book dan dunia pendidikan kita

Gara-gara ikut ngurusi proyek pengumpulan seribu buku, saya jadi tahu. Bahwa kebijakan pemerintah membeli hak cipta buku-buku bahan ajar ternyata masih belang-blentong (bolong-bolong).

Ceritanya, kemarin itu ada seorang donatur yang siap membiayai pengadaan buku-buku pelajaran anak-anak Bangsari. Terutama yang untuk kelas 3 MTs. Pertimbangannya, ya karena kelas tiga itu sudah hampir lulus. Kan sayang sekali kalau mereka sampai kekurangan bahan belajar. Untuk kelas yang dibawahnya, insya allah akan menyusul kemudian. Dengan catatan, selama dananya masih cukup.

Rencana awalnya begini. Kami akan mengunduh materi bahan ajar yang dipublikasikan di websitenya Diknas, dan kemudian akan kami perbanyak sendiri. Dengan dicetak sendiri, fotokopi atau mencoba melobi penerbit tertentu.

Untuk keperluan itulah kemudian saya meminta bapak saya (sebagai ketua komite sekolah di MTs Bangsari) mengumpulkan data buku pelajaran apa saja yang dijadikan sebagai bahan ajar di sana. Bukunya apa, pengarangnya siapa, penerbitnya apa, kebutuhannya berapa dan sebagainya.

Nah, kemarin pagi sebelum berangkat kerja, daftar yang saya minta tiba di kos melalui kiriman pos. Sesampainya di pabrik, segera saya kirimkan ke beliau melalui mesin faks. *Memakai fasilitas pabrik itu termasuk korupsi ndak ya?*

Sebentar kemudian ada respon dari beliau, bahwa tak satu pun dalam daftar itu sesuai dengan yang terpampang dalam website Diknas. Terang saja saya terkaget-kaget. Segera saya teliti daftar tersebut. Dan ternyata benar saudara-saudara. Tak satu pun yang sama. Lha, bagaimana ini?

Buru-buru saya telpon ke Bapak di kampung mengenai hal ini. Bapak menjelaskan bahwa buku-buku itulah yang dipakai di sana. Mengapa tidak sesuai standar Diknas? Lha bagaimana mau menyesuaikan dengan Diknas, informasinya saja mereka tidak tahu harus mencari kemana.

E-book yang selama ini dicanangkan pemerintah itu tak sampai ke sana. Internet saja tak ada, maka jangankan murid, gurunya saja tak pernah tahu internet itu apa.

Maka, kalau ada materi yang lebih up to date, tentu saja mereka bergembira. Karena toh biasanya soal Ujian Nasional itu sesuai dengan standar yang dibuat dari pusat.

"Informasi perubahan kebijakan dari Diknas pusat biasanya baru sampai disini sekitar 1-2 tahun ajaran. Jadi ya harap maklum", kata bapak.

Bayangkan! Untuk kampung saya yang cuma di pelosok Cilacap saja membutuhkan waktu selama itu, bagaimana yang di pedalaman Kalimantan atau Papua sana ya? Itu pun dalam keadaan normal. Maksud saya, buku hardcopy yang tinggal terima saja butuh waktu dua tahun, bagaimana dengan e-book yang harus di ini itukan lebih dulu?

Benar-benar sulit dibayangkan.

Atau, jangan-jangan proyek ini baru cocok diterapkan satu generasi yang akan datang ya? Semoga saja tidak...

10 September 2008

Makan murah meriah di sisi Thamrin


Ada sebuah tanah kosong tepat di sebelah hotel Sari Pan Pacific. Tanah yang terbentang dari tepi jalan Thamrin hingga Sabang. Kira-kira dua kali luas lapangan bola. Tanah yang menjadi sengketa beberapa pihak selama bertahun tahun.

Yang namanya tanah kosong di pusat segitiga emas, tentu saja mengundang orang untuk memanfaatkannya. Sebagian besar ruang kosong ini sudah di patok menjadi areal parkir motor dan mobil. Sisanya, para pedagang. Mereka memarkir gerobak dagangannya sekaligus membuka lapak di ujung timur berbatasan dengan Sabang. Juga ada dua warung penjual nasi atau biasa disebut dengan warteg.

Salah satunya berjualan mepet tembok yang berbatasan persis dengan areal parkir taksi Sari Pan Pacific. Pemiliknya, suami istri dari Kebumen yang sudah tinggal di tanah ini dari tahun 80-an. Meski dibatasi tembok setinggi 2 meteran, jual beli berjalan lancar. Si istri melayani di warung, sementara sang suami melayani di dalam tembok. Pelanggannya: supir taksi, pekerja hotel dan tukang wedang. :P.

Untuk kebebasan memakai ruang ini, mereka harus membayar 150 ribu rupiah sebulan kepada aparat. Tentang siapa aparat ini, mereka tak tahu. Pokoknya begitu masanya tiba, mereka datang menagih sewa.

Warung satunya lagi adalah warteg ini. Terletak di bawah pohon kersen subur yang menaunginya. Atapnya hanya sedikit lebih tinggi dari tinggi orang dewasa. Sebuah gubuk kecil yang dihuni beberapa orang, juga seorang anak kecil. Sebagaimana umumnya pengelola warteg, mereka berasal dari Tegal.

Makanan keduanya cocok untuk lidah saya, lebih cocok lagi untuk kesehatan kantong saya. Bayangkan saja, untuk nasi porsi setengah plus sambal-sayur dan bawal goreng cukup 5 ribu rupiah saja.

Belum lagi ditambah gratisan hidangan pencuci mulut. Silahkan tinggal ambil sendiri di atas kepala. Buah kersen. :P

05 September 2008

Bacaan tartil di internet


Internet masih saja membuat saya tergumun-gumun. Termasuk dalam hal yang satu ini.

Tahukan Anda bahwa layanan bacaan tartil Al Qur'an dan terjemahannya juga tersedia di internet? Atau, jangan-jangan malah sampeyan sudah lebih dulu tahu saya.

Untuk Anda yang belum tahu, cobalah buka website ini. Silahkan pilih Surat , Ayat (settingan default untuk seluruh ayat pada surat dimaksud), Juz dan juga pentartilnya. Setelah itu tinggal klik tombol "play" di sebelah kiri bawah.

Surat dan terjemahan yang sedang dibaca, ditandai dengan higlight pada teksnya yang bergerak menyesuaikan suara pentartil.

Selain dalam bahasa Indonesia, bahasa lain yang tersedia adalah: Belanda, Inggris, Perancis, Turki dan Urdu.

Proses buffering juga cepat, untuk surat-surat panjang seperti surat Al Baqarah sekalipun. Jadi untuk yang fakir benwith juga tidak masalah.

Nah, sekarang pindah topik. Mmengenai kemajuan teknologi ini, guju ngaji saya di Jombang dulu secara berguaru sering menyinggung sikap kita yang menurutnya senang enaknya saja: "Kalau tape-nya yang rajin tadarrus, ya tape itulah yang masuk surga". Maklum saja, waktu itu belum banyak piranti yang lebih canggih dari itu.

Secara berkelakar pula saya menjawab: "Dan yang punya tape juga dipastikan masuk surga. Karena sudah memberikan kesempatan tape-nya untuk masuk lebih dulu". hehehe

Nah, silahkan tinggal pilih tape, eh komputer Anda atau diri sendiri...

04 September 2008

Bunderan HI


Saat masih ada Laporan Khusus di TVRI jaman dulu, acara ini selalu didahului penayangan gambar-gambar Bunderan HI dengan air mancurnya, Tugu Pancoran, Monas dan Istana Negara sebagai ikon keberhasilan pembangunan. Tayangan yang terus menerus tentu saja meninggalkan jejak yang mendalam pada benak banyak pemirsanya. Termasuk saya.

Maka, ketika pertama kali sampai di Jakarta pada 3 puasa yang lalu, ndoro seten sebagai kompatriot saya di Kebon Kacang segera mengajak berziarah pada tempat-tempat tersebut. Supaya sah saratnya sebagai orang nJakarte, katanya.

Monas, Istana Negara (meski cuma depannya saja) dan Bunderan HI kami sambangi. Sedang Tugu Pancoran tidak.

Dan di sini, di pusat pembangunan yang dibangga-banggakan itu, kini saya berada. Di sini pula saya menemukan orang-orang senasib. Orang-orang yang yang "terpaksa" ke Jakarta karena tak banyak lapangan kerja di kampung. Buruh bangunan (pembongkaran HI), atau para pekerja di plasa indonesia. Juga para penjual wedang.

Perjalan hidup saya bahkan tak kemana-mana, hanya seputaran situ. Membosankan sebenarnya, tapi tak buruk-buruk amat lah...

Lokasi: foto diambil dari Grand Hyatt - Plasa Indonesia

Cimpluk Berry


Dalam angan saya, seandainya cimplukan tumbuh di eropa, mungkin ia akan dikenali sebagai salah satu jenis buah berry. Cimpluk Berry, katakanlah.

Dan sepertinya sangat keren jika kemudian cimplukan yang banyak tumbuh liar di sini, diburu orang karena harganya menjadi mahal dan bergengsi.

Coba saja sampeyan perhatikan. Bentuk dan rasanya saya kira sudah memenuhi sarat untuk masuk keluarga berry (pakde ndobos sangat fasih mengenai hal ini).

Buahnya bulat kecil seujung kelingking yang terbungkus oleh balon selubung yang terlalu besar sehingga menyisakan rongga udara. Saat selubungnya berubah warna menjadi kecoklatan, itu pertanda cimplukan didalamnya sudah matang. Tapi kalau di kampung saya, itu jarang sekali terjadi karena biasanya sudah keburu diembat. Bahkan dari sebelum berbuah, pohon cimplukan ini sudah dithengi (diincar) anak-anak.

Warnanya kuning jika sudah matang dan rasanya manis. Sangat cocok untuk dijadikan topping kue ini bukan?

Lokasi: Resto Fiesta - Sari Pan Pacific

Lesehan Bu Gendut Blok M


Bertempat di sebuah emperan kecil di salah satu pojok Blok M, tak jauh dari terminal. Satu-satunya petunjuk yang saya dapat dari KW, lesehan itu berada di dekat Pojok Busana.

Tak ada daftar menu, spanduk apalagi papan nama. Kami menyebutnya lesehan Bu Gendut, mengacu pada pemiliknya seorang ibu-ibu bertubuh makmur yang semanak.

Saya sendiri lebih suka menyebutnya, lesehan yang dahsyat. Yang sebagaimana umumnya masakan standar kaki lima, makanannya kaya dalam hal rasa. Rendang, telor asin, kikil, sate telor puyuh, urap, ayam bakar, ayam dan lele goreng, udang sambal goreng, tempe goreng, bothok, pare dan kangkung terhampar di lapak setinggi lulut. Anda tinggal liat, tunjuk dan nikmati.



Menilik rasanya yang pedas dan "berani", saya menduga si ibu ini berasal dari daerah pesisir jawa. Namun dugaan saya salah besar. Aslinya Solo. Masih bertetangga dengan pentraktir kita malam itu. Maka, pantas saja jika gudeg dan areh (kuah untuk gudeg) tersaji juga di situ.

Untuk semua makanan plus minuman kami bertujuh (KW, Mumu, Iqbal, Zam, Suprie, Omith dan saya sendiri), cuma menghabiskan 129 ribu rupiah.

Sekali-kali, mampirlah kesana kisanak...

Dari Presiden HI untuk Blogger

Judul : Mengenal dan Mempercantik Blog
penulis : Bahtiar Rifai, ST & Eko Priyo Utomo,ST
penerbit : Yrama Widya, Bandung
halaman : 120
cetakan : 1
tahun : september 2007
ukuran : 12,5 x 19,5 cm
ISBN : 978-979-543-551-8

Untuk detailnya silahkan lihat di sini...

02 September 2008

In memorian "Bebek" Susiawan Wijaya

Ia datang ke HI saat semuanya masih sepi. Tinggal bersama saudaranya di mampang, di belakang salah satu stasiun swasta, juga Universitas Paramadina yang kelak dia mendapatkan tambatan hatinya. Dengan motor bebek yang kreditnya sempat tersendat-sendat karena di PHK, dia selalu antusias menghadiri suatu kopdar ke kopdar lainnya. Hampir setiap hari. Dalam sebuah pertemuan di semanggi, dia bercerita bahwa dia baru saja menghadiri kopdar kelompok si A. Dan setelah acara selesai, dia menuju kopdar yang lain. Itulah makanya dia disebut Panglima Kopi Darat (Pangkopdar).

Beberapa kali menginap di kebon kacang, hanya untuk memuaskan kehausannya akan komputer. Dia suka memperbaiki settingan komputer saya semalaman dan keesokannya dia memberikan laporan lengkap. "Perfomance-nya sudah kuoptimalkan, fitur-fitur yang tak perlu juga sudah ku hilangkan. Bla... bla... bla...", dia terus saja nyerocos. Saya tak tega dengan perjuangannya, pura-pura saya menganngguk. Padahal saya ndak paham apa yang dia omongkan. hehehe

Dia juga sangat kecanduan Internet. Begitu kecanduannya, pernah pada suatu tengah malam dia mengajak saya dan kang Bah ke pabrik untuk sekedar meng-update blog dan ubo rampene. Cilakanya, fingerprint saya hanya mempan pada pintu pertama yang sekaligus berfungsi sebagai absen para buruh. Maka, di emper pabriklah kami akhirnya nongkrong. "Yang penting luberan wifinya masih kenceng", katanya girang. Dia ngenet, sementara saya molor di kursi sampai pagi. Belakangan bagian HRD ngomel-ngomel karena terdapat absen saya yang tidak normal. hahaha

Tak pernah ketinggalan, rokok Dji Sam Soe filter yang selalu ditentengnya kemana pun. Cara merokoknya seperti kereta jaman dulu, selalu ngebul setiap saat. Pernah suatu ketika saat jalan-jalan di belakang Plasa Indonesia, dia tak mau saya ajak makan siang karena rupanya dia sedang tidak punya uang selain untuk rokok.

Setelah beberapa bulan menganggur, ia pergi ke Aceh atas bantuan Kang Bah, sekitar dua tahun lalu. Dia sempat bercerita posisi yang ditawarkan kalau tak salah adalah database administrator. Untuk itu dia girang setengah mati karena dalam perhitungannya, dia pasti akan banyak berhubungan dengan internet.

Tiga hari sesudah keberangkatannya, saya sempat menelponnya. Dia misuh-misuh karena ternyata senjata kerjanya cuma PC offline dan database yang dimaksud ternyata hanya olah data melalui Microsoft Excel. Dengan area kerja yang berpindah-pindah, kesempatan beronline tentu saja semakin sulit. Itulah makanya gaji pertamanya dia belikan handpone 3G. Masalah yang timbul kemudian, ternyata kesukaannya berinternet menghabiskan sebagian pendapatannya.

Oleh karenanya, dia bertekad kembali ke Jakarta. Dimana wifi dan tempat nongkrong sangat melimpah, katanya.

Sayang sekali, Tuhan berkehendak lain. Setelah kepulangannya yang terakhir (yang seperti sebuah perpisahan), Tuhan memanggilnya.

Foto diambil dari sini tanpa ijin

21 Agustus 2008

Program kambing setelah hampir setahun


Plong. Begitulah yang saya rasakan setelah melihat hasil program kambing itu. Bagaimana tidak? Sejak diluncurkan hampir setahun yang lalu, tidak banyak kesempatan untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Terus terang saya sempat khawatir kalau-kalau program ini gagal. Memang sih program ini adalah kerja bersamanya anak-anak BHI, bukan kerja saya sendiri. Tapi sebagai orang Bangsari, saya seperti dibebani kewajiban lebih tentunya.

Bagaimana nantinya saya harus menjelaskannya kepada para penyumbang? Apalagi sebagian besar diantara penyumbang adalah blogger. "You can run, but you can not hide". Blogger gitu loh.

Selama ini perkembangannya saya pantau dari informasi Bapak di kampung. Hanya saja, Bapak pun memiliki kesibukannya sendiri yang tak bisa diabaikan. Sehingga informasi yang didapat terkadang bersifat kira-kira.


Penyebabnya antara lain karena daerah sebaran penerima bantuan kambing yang luas. Mereka tersebar di beberapa dusun. Mulai dari Jakatawa di ujung selatan desa, Sidadadi di barat, Karangreja di bagian tengah, Cililing dan Kebogoran di bagian utara hingga Medeng dan Cipaku di ujung timur. Dari Jakatawa hingga Cipaku kira-kira berjarak 10 kilometer. Mungkin lebih.

Jumlah pemeliharanya juga lumayan banyak. Setidaknya diperlukan waktu dua hari penuh untuk menyambangi ke-16 pemelihara kambing itu. Yang paling memakan waktu adalah adanya dialog. Apalagi bapak adalah mantan pendidik, sebagaimana kebiasaan di kampung mana saja, guru adalah jabatan seumur hidup. Dus, di banyak rumah yang dikunjungi saya seperti menyaksikan reuni guru murid. Terkadang konsultasi malah.

Sudah begitu, tidak semua keluarga pemelihara berhasil kami temui. Maklum saja, petani biasanya berada di sawah hingga sore menjelang. Beberapa kunjungan akhirnya dipandu tetangga si anak didik.

Untungnya, kebiasaan angon (menggembala) sudah jarang dilakukan karena menghabiskan waktu dan tenaga yang lebih banyak. Jadi tanpa tuan rumah pun, kambing masih bisa dicek di kandang.

Dan alhamdulillah kekhawatiran itu tak terbukti sama sekali. Semuanya berjalan baik, melampaui perkiraan saya.

Selengkapnya ada di bloggers for bangsari. Rincian penerima pinjaman kambing ada di sini. Foto-foto bisa dilihat di sini.

07 Agustus 2008

Masjid Perahu

Satu lagi masjid hebat yang tersembunyi di Jakarta


Secara tak sengaja saya "menemukan" masjid ini. Penerangan di depan gang yang hanya ala kadarnya membuat tulisan pada plang kecil menuju masjid tak begitu jelas terlihat. Sempat malahan saya mengira jalan ini menuju sebuah komplek kuburan atau setidaknya melewati tanah kosong. Ceritanya, waktu itu saya sedang mencari jalan pintas menuju ke seputaran Saharjo. Namun, adanya kejutan ini segera menyita perhatian saya. Kejutan yang menyenangkan.

Dari Karet naiklah angkot M 44. Turun di depan apartemen Casablanca, tepat sebelum angkutan naik ke flyover. Di antara dua tower apartemen yang menjulang, terdapat sebuah gang kecil yang diterangi neon 10-an watt. Terdapat beberapa anak undakan menurun yang tak bisa dilalui dengan kendaraan.

Kira-kira 15 meter berjalan, senyap langsung menyergap. Gegap gempita deru kendaraan menghilang tanpa bekas. Inilah kompleks masjid itu.

Kelelawar, Pilar Kayu Jati Utuh, Al-Qur'an raksasa dan Batu Mulia

Pohon-pohon besar menaungi atap dan pelataran masjid yang, menurut angan-angan saya, sepertinya relatif sedikit terkena cahaya matahari di waktu siang. Diapit dua bangunan bersusun yang menjulang di sisi sisi kanan-kirinya, menjadikan masjid ini mirip seperti tempat persembunyian yang sempurna. Kelelawar-kelelawar besar beterbangan kesana kemari berpesta buah juwet yang sedang meranum. Beberapa diantaranya berjatuhan mengotori pelataran.

Ingatan saya langsung tebang ke masa lalu. Ah, seandainya tidak malu, ingin sekali saya bergabung dalam serta pesta mereka. Suasana ini mengingatkan saat saya pada masa kecil dulu di Bangsari. Pohon juwet belakang rumah Mbah Kyai Sarbini karena buahnya yang lebat, menjadi salah satu pohon incaran anak-anak seputaran pesantren. Berebut saling memanjat dengan sengit, terkadang diselingi sedikit adu mulut. Simbah dengan sabar menunggui kami dari kejauhan sambil terkekeh-kekeh. Hmm, kesenangan itu ernyata sederhana.

Cicitan segerombolan kelelawar membuat saya tersadar kembali. Sebuah perahu besar di samping kiri masjid langsung menyita perhatian saya. Saya sempat bingung hendak melanjutkan perjalanan atau mampir sebentar. Ndilalahnya, saat itu azan isya sedang dikumandangkan. Sehingga ada alasan untuk memasuki masjid.


Rupanya perahu di samping masjid itu adalah tempat wudlu jamaah wanita. Waktu itu tak satu pun terlihat. Saya pun memasukinya. Rupanya bentuk perahu itu berfungsi sebagai hijab (pembatas) saat jamaah wanita mengambil air wudlu. Sebuah ide yang cerdas. Seniman hebat pun saya rasa akan mengacungi jempol untuk ide ini.

Selesai wudlu, beberapa jamaah pria mulai muncul. Tak banyak jamaah malam ini. Kalau tak salah ingat, semuanya cuma ada delapan orang termasuk saya dan imam.

Bagian inti masjid tidak terlalu besar. Kurasa hanya sedikit lebih besar dari empat kali ukuran kamar kosku. Empat pilar kayu berukuran besar menegakkan bangunan ini. Semuanya terbuat dari kayu jati berdiameter kira-kira 60-an centimeter. Dua pilar belakang terbuat dari gelondongan kayu utuh tanpa sentuhan pahat. Sedang dua yang di depan terbuat dari potongan-potang kayu jati (tatal-jawa) yang disatukan dan diukir. Sepertinya, sang pendiri sengaja meniru pilar Masjid Agung Demak. Karena saya belum pernah mengunjungi Masjid Demak, jadi saya ya hanya mengira-ngira saja. Setidaknya begitulah cerita yang pernah saya dengar.




Lantai dan dinding bagian dalam ini terbuat dari marmer kehijauan. Sedang garis shof marmer berwarna putih. Hal ini sangat berbeda dengan lantai bagian serambi yang “cuma” terbuat dari keramik putih polos sebagaimana umumnya masjid jaman sekarang.

Sisi depan yang sejajar ruang imam dihiasi kayu jati berukir. Begitu pun tempat imam memimpin sholat. Sebuah batu putih berukuran lebih besar dari kepala manusia diletakkan persis di depan tempat khutbah. Sebuah batu mulia yang mirip giok atau jade.

Selesai jamaah, seorang makmum saya tanyai mengenai batu itu. Tidak cuma menjelaskan tentang batu depan tempat khutbah itu, beliau mengajak saya melihat koleksi batu di ruang yang lebih dalam. Belasan batu mulia yang jauh lebih besar ada di sini. Ada yang hijau sangat licin dan transparan, sampai-sampai lantai dibawahnya samar terlihat. Ada yang berwarna merah bata, hitam dan juga putih kecoklatan. Ada juga yang masih kasar dan belum dipoles.

Belasan batu besar itu semuanya mengelilingi sebuah mushaf Alqur'an raksasa. Taksiran saya besarnya 2x1,5 meter dengan ketebalan sekitar 30-an centi. Kulit luarnya terbuat dari kayu jati yang berukir serumit dinding pengimaman. Mushaf ini selesai dibuat sekitar akhir 90-an oleh salah seorang ustad. Penyelesaiannya sendiri memakan waktu beberapa tahun, katanya tak menyebutkan rinciannya.

Dia kemudian bercerita, masjid ini didirikan sekitar awal tahun 60-an. Sang pendiri yang merupakan salah satu tokoh thoriqoh (atau tarekat) menjadikan batu-batu itu sebagai bagian dari laku ritual. Untuk menciptakan suasana yang mampu mendatangkan ketenangan batin, jelasnya. Entah benar atau tidak, saya akui suasana di masjid ini memang sangat menentramkan hati dan pikiran.

“Coba, untuk apa orang muslim jauh-jauh datang ke mekah berhaji? Mereka itu ya hendak menemui ibunya batu dari segala batu.”

Saya menebak yang dia maksud adalah Hajar Aswad (secara bahasa berarti batu hitam), yang terletak pada salah satu sudut kubus Ka'bah.

Ajaran thoriqoh yang mengajarkan kesederhanaan dan kezuhudan membuat mereka tidak mau mengekpos masjid ini keluar. “Untuk apa kami dikenal?”, ungkapnya.

Belum sempat saya menanyakan filosofi perahu di samping masjid, beliau sudah mengundurkan diri. Sepertinya saya perlu kembali lagi suatu saat.

Lokasi: Masjid Agung Al-Munada Darrossalam "Baiturrohman" (Masjid Perahu)
Jl. Menteng Dalam RT 003/RW 05 Tebet Jakarta Selatan

04 Agustus 2008

Gerakan 1000 Buku

The Journey: Buku sumbangan pertama
dari Zen si Pejalan Jauh, berkardus-kardus lainya menyusul tiap jumat malam

Maka, pergilah sebentar dari rumah. Sisakanlah waktu dalam hidupmu kawan, untuk melihat dan menikmati dunia. Hidup tidak melulu cuma harta, tahta, dan kehormatan. Dengan berdarmawisata, banyak hal yang akan kita peroleh, yang tidak akan kita dapati di bangku sekolah. Hidup adalah merangkai segala macam pengalaman dalam kehidupan. Hidup adalah menyiapkan diri untuk membawa bekal menuju perjalanan panjang sesungguhnya; menghadap Allah Swt.
Gola Gong! Pada era 80-an ia dikenal sebagai penulis novel remaja . Pada zaman kejayaannya, sebanyak 60 karya telah dibukukan dan sebagian lagi dimuat di sejumlah majalah terkenal remaja. Tapi itu hanya sampingan. Yang lebih hebat lagi, dia mengelilingi Asia sebagian besar dengan perjalanan darat. Bus, kereta api, kapal dan berjalan kaki. Bahkan, perjalanan dari Malaysia hingga Thailand dia lalui dengan bersepeda. Obsesinya semula adalah mengelilingi dunia, namun perjalanan panjangnya di Asia membuat kesehatannya menurun drastis dan dengan terpaksa ia harus mengubur mimpinya. Itu semua dia lakukan hanya dengan satu tangan.

Darimana dia mendapatkan inspirasi itu?


"Ide gila keliling dunia telah lama aku tanamkan dari kecil. Cenderung menjadi obsesi. Saat SMA (1981) aku menyusuri bumi jawa. Si perguruna tinggi (1986-88), aku mengelilingi Nusantara selama dua tahun... Ketika bekerja menjadi wartawan di Gramedia Group (1990-1992), aku mengelingi Asia, dari Serawan hingga Pakistan....Aku merencanakannya dengan matang. Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari (Jules Verne) dan Petualangan Tom Sawyer (Mark Twain) adalah cikal bakal ketika kau ingin melakukan keinginan itu", demikian ungkapnya.


Buku! Ya, buku!

Untuk itulah, kami dari gerombolan BHI berupaya mengadakan Gerakan 1000 Buku. Mencoba menyebarkan mimpi-mimpi melalui buku kepada mereka yang berkekurangan. Mulai dari pelosok Bangsari sampai dengan pucuk Gunung Kidul.

Silahkan bergabung bersama kami...

Info lebih lengkap bisa dibaca di postingan pak ketua...

16 Juli 2008

Nyubi Linux Ubuntu

Dari Suprie, saya mendapatkan CD Linux Ubuntu 8.04 ini tiga hari yang lalu. Semula saya pikir hanya untuk sekadar iseng. Ya siapa tau, nanti tumbuh keisengan untuk mencoba. Tak bisa dipungkiri, “takut tidak bisa” adalah faktor yang paling sering menggoyahkan keinginan saya mencoba operating sistem selain Windows.

Lha kok ndilalahnya semalam tadi itu operating sistem saya (you know lah, bajakan pastinya) mengalami error ndak jelas. Meski sudah dicoba melakukan ini itu, tetap tidak bisa juga. Analisis bodoh saya, pasti kena virus nih! Ya mau gimana lagi? Akhirnya dengan nawaitu mencoba Linux untuk pertama kalinya, saya (dengan instruksi Yudi) menginstall Ubuntu.

Lha kok jebulnya ndak susah-susah amat tuh! Agak mirip dengan instalasi Windows, tinggal pencet tombol next-next saja. Malahan boleh dibilang langkahnya jauh lebih simpel daripada nginstall windows. Asyiknya lagi, sekali instal Ubuntu beberapa program yang pada windows harus diinstal lagi, di Linux sudah tak perlu lagi. Misalnya, sudah otomatis tersedia layanan semacam office (disebut OpenOffoce.org untuk presentation = powerpoint, spreadsheet = excel, wordprocessor = word ), juga sudah tersedia layanan grafis semacam Photoshop (disebut GIMP).

Kelebihan lain? Ya silahkan coba sendiri. Lha wong saya baru nyoba dari semalam je.

Selamat mencoba. Dan jangan lupa untuk berbagi tips ya...

01 Juli 2008

Mengapa?

Itu blok natuna bisa menghasilkan duit hingga US $ 20 miliar per tahun. Padahal itu baru satu tempat bos, belum yang lain?

Lha kok negara kita banyak utang dan tetep miskin?

27 Juni 2008

Musholla hotel


Ini adalah musholla hotel terbaik sepanjang yang saya tahu. Meski negeri kita dihuni mayoritas muslim, namun hotel berbintang (di Jakarta) dengan fasilitas musholla yang bagus tidak gampang ditemukan. Apalagi dengan tempat wudlu yang didesain apik dan nyaman. Mushollanya? Lha jelas dong. Toiletnya saja bagus masa mushollanya kumuh?

Umumnya, musholla hotel dibuat "seadanya" dengan memanfaatkan ruang kosong di salah satu sudut. Di hotel sebelah Sarinah-Thamrin, musholla berada di lantai empat yang ruangannya terhubung langsung dengan lobi hotel. Sehingga pada waktu maghrib dan isya, sangat sering terjadi sholat diiringi dengan hingar-bingar pertunjukan musik pop, jaz, hingga yang agak ndangdut. Apa ndak blaen tuh? Bahkan salah satu hotel berbintang yang pernah dibom beberapa waktu yang lalu, hanya membuka salah satu kamar di lantai 6 untuk dijadikan mushola dengan digelari karpet yang sama dengan karpet lantai yang lain. Tempat wudlunya, cukup di toilet!

Sepertinya perencana pembangunan hotel ini menghargai betul kebutuhan itu.



Lokasi: Musholla dalam hotel, lantai 2 Hotel Bidakara - Pancoran

Awas sepatu anda ilang


Sebuah guyonan basi masih sering dibunyikan untuk menggambarkan perkara ini: "ambillah yang baik-baik, buanglah yang buruk." Bahkan di tempat peribadatan pun kemungkinan kehilangan barang masih terjadi. Apalagi cuma alas kaki, seperti yang saya alami dua jumat lalu. Beribadah itu satu perkara, butuh uang itu perkara lain.

Lokasi: Musholla parkir Hotel Bidakara - Pancoran

Awas kesetrum


Apaan tuh? Entah. Saya tak paham. Sepertinya sih sebuah bagian dari instalasi listrik. Lha kok bolong tanpa pelindung begitu? Nanti kalo ada orang celaka karenanya, kesetrum misalnya, bagaimana? Lha ya mbuh. Soal itu tanyakan saja pada pemda DKI, si pemilik properti.

Di negeri yang masih berkembang ini, semua orang harus bisa melindungi diri sendiri. Intinya, jangan usil, jangan nggrathil. Celaka, tanggung sendiri!

Lokasi: lampu lalu lintas perempatan Sarinah-Thamrin.

20 Juni 2008

Percakapan pagi di dapur pabrik

Obrolan fashion antara 3 wanita dan 2 pria sambil sarapan, saya pendengar pasif.

Cewek 1: Eh, tau ngga? Ntar malem ada Midnight Sale di Senayan City lho.
Cewek 2: Oh iya? Ntar lu kesono kan? Mau dong gue ikutan. Dah beberapa kali gue ketinggalan nih.
Cowok 1: Kemarin juga ada tuh di Pacific Place. Gucci dan Guess aja sale abis up to 50 % (dilafalkan dengan sangat fasih dalam bahasa indonesia dan inggris sekaligus). Makanya gue beli jam tangan yang tadinya dua koma sekian, trus didiskon jadi cuma 1,4 jeti bo. Seru banget deh pokoknya.
Cewek 3: Eh, omong-omong kok merek branded (artinya apa ya?), kok bisa mereka kasih diskon gede-gedean gitu ya?

yang membuat saya terkaget-kaget, pertanyaan itu ternyata justru dijawab temen cowok (secara, cowok itu biasanya ga fashionable gitu loh...).

Cowok 2: itu kan karena mereka lagi ngabisin stok. Misalnya nih, gue kan kemarin liat tas yang didiskon Prada, ternyata yang berwarna silver atau kuning emas. Warna-warna itu kan dah out of date. Begitu juga Gucci dan Guess, semua yang didiskon itu model-model yang sebentar lagi diganti. Kasarnya, cuci gudang gitu lah.

Duh Gusti, paringono kiyat...

13 Juni 2008

Ritual pagi para wanita

Ritual pagi hari pegawai wanita di pabrik kami:

Blow rambut
Bisa dilakukan sendiri-sendiri. Sering juga secara bergiliran, terkadang saling memblow

Cabut alis
Bisa dilakukan sendiri-sendiri. Terkadang saling membantu

Make up
Dilakukan sendiri, dengan cermin kecil yang selalu tersedia di tiap meja para pegawai wanita

Maaf, memerah susu (bagi yang sedang menyusui).
Dilakukan dalam ruang tertutup, ramai-ramai sambil bergosip dan berhaha-hihi. Setelah ritual selesai, gliran opisboi yang mengantar hasilnya ke rumah yang bersangkutan.

Ke toilet
Dilakukan berkelompok, masih sambil bergosip dan berhaha-hihi

Bagaimana dengan tempat saudara?

11 Juni 2008

Google Analytics dan Google Blog Search

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa blogger tidak menyediakan layanan statistik seperti halnya wordpress. Nah, mas momon yang pernah jadi pengguna setia blogspot memberikan sedikit tips bagaimana mengakalinya.

Untuk mengetahui statisik blogspot, Anda bisa menggunakan Google Analytics. Untuk itu, Anda diharuskan mendaftarkan diri terlebih dulu. Jika sudah memiliki akun gmail, anda tinggal mengaktifkan layanan ini dengan cara memasukkan alamat blog anda.

Sedangkan untuk mengetahui tautan atas sebuah blog oleh blog lain, gunakanlah Google Blog Search. Tak perlu daftar untuk menggunakan layanan ini. Ketikkan saja alamat blog yang dikehendaki, berbagai tautan yang berhubungan dengan blog tersebut akan muncul dalam sekejap. Bahkan tautan terbaru yang masih anget kebul-kebul (dalam hitungan menit) sudah terpampang disini. Dengan cara ini, bahkan Anda bisa memantau blog lain jika mau. Sangat cepat dan mudah.

Basi? Biarin...

03 Juni 2008

Tentang Habib dan Budaya Premanisme

Habib? Saya selalu menghela napas setiap kali mendengan nama itu disebut. Sebagai kaum nahdliyyin, kampung kami sangat menghormati para guru, ulama, juga para keturunan darah biru yang disebut habib itu.

Suatu pagi sehabis subuh, kira-kira 3 tahun yang lalu, karib bapak saya yang juga tetangga kami bertandang ke rumah. Dia menunggu bapak di teras, sepertinya tak ingin masuk. Kemudian bapak menemuinya. Keduanya berbincang sambil berbisik sebentar sebelum bapak masuk ke kamar. Dengan tergesa, keluar lagi menenteng sebuah amplop dan menyerahkannya. Tak biasanya sepagi itu sudah ada yang bertamu, pikir saya. Mencium hal yang kurang lazim, saya menghampiri bapak.

"Ada apa pak?"
"Biasa. Ada Habib minta sedekah", jawabnya
"Berapa?"
"Dua Setengah juta. Harus ada pagi ini", kata bapak
"Ha? Dua setengah juta untuk apa? Itu kan uang yang banyak sekali?"
"Biasa lah. Namanya Habib kalau sudah minta ndak mau kompromi."

Begitulah cerita tentang habib di Bangsari. Tak sekali dua kali mereka meminta. Dalam sebulan bisa terjadi beberapa kali. Habib yang berbeda tentu saja. Mereka telah menjadi momok yang menakutkan. Sekali meminta, maunya sejek senyet, seketika. Sejumlah yang ada dalam pikirannya.

Paling sering, mereka minta dalam bentuk uang. Tetapi barang pun diterima. Ibu saya punya pengalaman tak mengenakkan tentang ini. Dulu, sewaktu ibu masih belasan tahun (sekarang sudah hampir enam puluh), ada seorang habib yang masuk ke ruang tamu simbah saya tanpa permisi. Setelah berkeliling, secara tiba-tiba dia mengambil tip (tape) simbah di meja. Ya. Mengambil begitu saja, seolah barang itu tak bertuan. Padahal, untuk ukuran waktu itu, tip jelas merupakan barang yang sangat mewah. Terang saja ibu saya berang luar biasa. Ibarat jambret yang ketahuan, sang habib itu tak mau kalah, ia menyumpahi ibu saya dengan mendoakan yang jelek-jelek. Begitu tak mengenakkanya sumpah serapah si habib, ibu sampai-sampai berteriak, menempeleng dan mengusirnya pergi. Dus, sejak itulah ibu memusuhi para habib.

Hingga sekarang, praktek seperti itu masih banyak terjadi di kampung saya. Modusnya, mereka datang menjual minyak wangi yang katanya bisa membawa berkah ini dan itu. Minyak wangi serupa yang di pasar paling seharga Rp 1.000. Tapi di sini, mereka menjualnya puluhan hingga ratusan ribu. Jika tuan rumah takut, mereka akan meminta uang dalam jumlah yang lebih banyak. Beberapa kali malah saya dengar mereka meminta kambing. Entah untuk apa.

Dulu, setiap kali datang, biasanya mereka menginap di ruang khusus pesantren kami. Suatu kali, teman-teman saya pernah mengintip apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam. Ternyata tak lebih dari tidur, makan (disedikan keluarga kyai), main gaple dan mengobrol. Saat keluar, mereka akan mengincar rumah-rumah yang dianggap kaya. Dari satu rumah itu, dia akan meminta alamat rumah lain yang berpotensi menghasilkan uang.

Mereka umumnya mengaku dari tegal dan sekitarnya. Tak lupa pula mereka bercerita tentang ketinggian nasab mereka, yang konon, keturunan nabi Muhammad. Karena dekat dengan nabi, doa mereka tentu saja sangat mujarab. Proses selanjutnya gampang ditebak, mereka akan meminta tuan rumah mengamini doanya. Doa keselamatan untuk yang memberi, dan doa keburukan bagi yang menolak.

Umumnya orang kampung yang bodoh, mereka memeperlakukan para habib bagaikan wakil tuhan di bumi. Apa mau mereka adalah maunya tuhan. Siapa yang tak takut dilaknat tuhan atau mahluk kesayangan tuhan?

Karib teman bapak di atas pernah bercerita, melayani para habaib adalah kenikmatan yang luar biasa. Mereka mendatangkan berkah, menolak bala, juga mendatangkan rejeki. Singkatnya, melayani habib itu adalah anugrah, katanya. Makanya, sudah sewajarnya dunia melayani mereka. Para keturunan nabi. Golongan yang sangat dekat dengan surga. Siapa tak mau masuk surga?

Ketika saya ke Jombang, yang notabene kultur pesantren dan nahdliyyinnya jauh lebih kuat dari Bangsari, ternyata tak ada praktek semacam ini. Tentu saja saya kecewa berat. Bahwa selama ini ternyata mereka hanyalah sekumpulan penipu yang memanfaatkan kebodohan kami.

Di sini, di Jakarta, ternyata cerita kampung saya ini berulang. Belakangan, nama-nama yang didahului habib sering muncul di media. Dan seringkali, nama yang berhabib-habib ini terlibat dalam budaya kekerasan berdalih agama. Contoh kongkritnya ya peristiwa monas kemarin. Seperti apakah mahluk yang disebut habib itu?

Habib (jamaknya habaib, perempuan habibah), menurut sebagian kalangan, adalah golongan mereka-mereka yang menurut garis nasab adalah keturunan nabi Muhammad. Seperti diketahui, tidak ada anak laki-laki nabi yang menurunkan cucu, semuanya meninggal sebelum sempat dewasa. Sehingga jika memang benar mereka keturunan nabi, garis keturunan para habib bersambung melalui keturunan perempuan. Hal yang sebenarnya tidak lazim dalam tradisi arab. Mana ada orang arab menggunakan nasab garis ibu? Tapi siapa berani melawan mereka?

29 Mei 2008

Ke Bali yang kemarin

Bali. Sejak lama sekali saya ingin mengunjungi pulau ini. Tayangan pariwisata di televisi saat saya masih kecil, mengibaratkan Bali sebagai serpihan surga yang terserak di bumi. Pulaunya para dewata. Wow, seperti apa ya?

Mendengar begitu hebat pujiannya, mestinya Bali ya itu luar biasa. Dalam angan saya waktu itu, sudah sewajarnya Bali menjadi salah satu tempat yang harus disinggahi. Ya, suatu saat saya ingin ke sana, entah bagaimana caranya. Biar Gusti Pangeran saja yang mengurusnya. Bukankah begitu bunyi salah satu doa yang sering kami orang kampung panjatkan? "Duh Gusti, mudahkanlah segala urusanku. Apa-apa yang baik, berikanlah. Sedang apa-apa yang buruk, jauhkanlah." Plus dengan sedikit tambahan: "Bali itu baik kan Gusti? Kau tentu tau maksudku, berikan ya..." :D

Bertahun kemudian di akhir mei tahun lalu, pabrik saya mengadakan acara di Sanur Bali. Dan saya termasuk yang ditugaskan bersama 2 orang rekan sepabrik. Seperti kata pepatah, ibarat ketiban bulan, saya luar biasa senang. Terima kasih atas hadiahmu ya Gusti.. Inilah pertama kalinya saya mengalami dua hal: naik pesawat dan ke Bali.


Selama tiga hari (30 Mei - 1 Mei 2007), acara dimulai dari pagi hingga malam hari. Sehingga praktis saya hampir tak bisa meninggalkan penginapan. Cuma sekali saya (dan juga ketiga teman saya) sempat diajak seseorang menikmati makan malam di tepi pantai Jimbaran yang berpasir putih berangin lembut beraroma sugih. Seorang baik hati yang baru ketahuan maunya setelah beberapa bulan berlalu. Biarin lah, itu urusan lain. Beraneka hidangan laut segar terasa luar biasa nikmat. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah menemukan hidangan laut yang lebih nikmat dari itu.

Selain itu, waktu cuma diisi dengan kerja, makan dan tidur di penginapan. Namun begitu, ada hal menarik yang masih ingin saya ulangi suatu saat nanti. Menikmati bulan purnama muncul dari batas cakrawala sembari tiduran di kamar penginapan di tepi pantai pasir putih. Tanpa lampu penerangan yang mencolok, air laut menjadi keperakan. Hening. Menarik bukan?

Tapi itu dulu. Nah, pada kesempatan kedua kemarin, kebetulan waktu saya lebih longgar dari yang pertama.

Penerbangan Eksekutif dan Executive Lounge

Sebenarnya tugas kerja saya bikin wedang di sana hanya dua hari tanggal 15 dan 16 Juni. Namun bos pabrik berbaik hati mengijinkan saya berangkat tanggal 14 (rabu) dan baru kembali tanggal 18-nya (minggu). Dan yang mengejutkan adalah, saya terbang dengan menggunakan kelas eksekutif maskapai terbaik negeri ini. Dalam hal ini, saya ditugaskan berdua dengan teman sepabrik.

Lalu, apa kelebihan kelas eksekutif di banding kelas ekonomi? Dari yang sempat saya amati:

Pertama, si penumpang berhak menggunakan Executive Lounge sambil menunggu penerbangan. Di sini tersedia beberapa macam minuman, makanan berat, makanan ringan, koran dan majalah, juga layanan pijat.

Kedua, ruangan kelas eksekutif lebih kecil dari kelas ekonomi namun jumlah penumpangnya jauh lebih sedikit. Misal, jika pada kelas ekonominya kursi disusun 4-4, maka pada kelas ini cuma 2-2. Sehingga koridor antar deretan kursi menjadi lebih lapang

Ketiga, kursinya. Kursinya lebih lega, jarak antar kursi dengan kursi di depannya lebih longgar. Sehingga kaki bisa diselonjorkan dengan bebas. Juga tersedia sandaran kaki yang bisa dilipat dengan menekan tombol di sandaran tangan sebelah kiri.

Keempat, tersedia monitor besar di depan, serta monitor kecil pada masing masing kursi yang menayangkan video yang sedang diputar. Terletak di bawah sandaran tangan sebelah kanan.

Kelima, penumpang berhak mendapatkan bantal tambahan dan selimut. Saya sempat menanyakan ke petugas, ternyata boleh diambil lho...

Keenam, pilihan makanan dan minumannya lebih banyak. Bahkan bisa dipesan menu tertentu dengan sarat pesanan dilakukan sebelum 24 jam sebelum penerbangan. Sesudah makan, disediakan handuk basah yang wangi untuk membasuh muka. Membasuh yang lain juga tidak dilarang ding. :P

Ketujuh, sesampai di tujuan penumpang di jemput dengan bis khusus terpisah dari kelas ekonomi. Bagasi juga sudah diturunkan petugas saat penumpang sampai di tempat pengambilan bagasi.

Kedelapan, penumpang kelas ini boleh mengganti jadwal semaunya. Bahkan jika sudah terlambat sekalipun. (kalo yang ini info dari Sir Mbilung)

Penginapan Leyeh-leyeh

Sesampai di Ngurah Rai waktu menunjukkan pukul 12:10 WIT. Kami langsung menuju penginapan di ujung Tanjung Benoa. Namanya Conrad. Penginapan dengan konsep resort ini tiap kamarnya dikelilingi kolam renang. Setelah kolam, langsung berhadapan dengan laut. Penginapan yang luar biasa ini, rate-nya pun bikin saya geleng-geleng kepala. Per malamnya hampir setara gaji saya sebulan. Duh! Coba kalo biayanya boleh diminta mentahnya saja, bisa cepat kaya saya. hehehehe.

Hari pertama diisi dengan leyeh-leyeh. Lha, teman saya itu ndak mau diajak jalan-jalan je. Barang cuma ke pantai pun tak mau. Sudah begitu, ditinggal pergi juga tak sudi. Padahal dia cuma tidur di kamarnya yang bersebelahan dengan saya lho. Panas, katanya. Uh, dasar perempuan.

Ya sudah, akhirnya saya jalan-jalan sendiri menyusuri pantai. Menonton para bule-bule bermain paraglideng, jetski, voli pantai, juga berjemur. Maap, daripada kena sensor, mending ndak ada skrinsut.

Malam beranjak, perut minta diisi. Di tepi kolam. Listrik diredupkan, obor-obor besar menjulang dinyalakan, suguhan tarian bali kontemporer di mulai. Makanannya, musiknya, penarinya, atmosfernya, udara laut, sulit dilukiskan. Makan malam yang tak bisa dilewatkan bukan?

Makan selesai, giliran tanda-tangan tagihan yang membuat mata langsung mendelik. Busyet! Ini makan termahal kedua yang pernah saya alami. Untungnya saya tak bayar sendiri. :P

Setelah makan malam, rekan kembali ke kamar, saya menuju pantai. Di tepi pantai bersebelahan ujung kolam, pada dipan yang biasa dipakai untuk berjemur, saya berbaring. Menikmati semilir angin laut dan bulan yang mendekati purnama hingga tengah malam menjelang. Dua malam berikutnya, hal yang sama menjadi ritual bagi saya.

Tiba-tiba saya kepikiran, anak-anak lagi pada ngapain di HI ya?

Bertemu Sir Mbilung and the gang

Jumat sore sehabis acara, jatah menginap semalam lagi saya tinggalkan. Kali ini saya langsung menuju kantor Sir Mbilung di Sanur yang lokasinya ternyata tak jauh dari tempat saya dulu menginap pada kesempatan pertama dulu.

Jarak Benoa ke Sanur ditempuh lebih dari sejam, menghabiskan lebih dari 130 ribu menggunakan taksi berwarna biru. *penting ga sih?* Taksi Bali memang mahal.

Sesampainya tujuan, pakde sudah menunggu. Di ujung mulut sebuah jalan kecil bernama Pangembak no 2, dia berkantor. Petugas keamanan menyambut saya seperti tamunya wong agung. Waduh, ternyata saya bertemu pembesar.

Setelah pipis (hayah), pakde mengajak saya menuju tempat favoritnya. Di sebuah gubuk berlayanan internet beratap ilalang di tepi kolam renang bersebelahan dengan dapur. Pembikin wedang pun segera dipanggil. Segelas kopi jahe manis menemani perbincangan kami hingga beranjak malam.

Sesudah itu, pakde mengajak saya dan dua orang teman kantornya makan bebek bali masih di seputaran Sanur. Dewi dan Novi menyusul kemudian. Mungkin karena sudah agak lelah, kali ini makanan tak terasa istimewa. Sampai dengan kafe itu tutup, kami baru bubaran. Selanjutnya, saya nebeng tidur di tempat pakde sampai hari minggu.

Jengjeng Bali

Hari pertama. Pagi-pagi, Dewi, Nana dan Novi berkumpul di kos pakde. Rencananya, hari ini kami akan ke Ubud, pusat seni dan kerajaan Bali. Tujuan pertama: Warung Nuri's yang memproklamirkan diri sebagai Naughty Nuri's Warung and Grill. Silahkan tanya mbah gugel untuk mengetahui lebih lanjut.

Menurut info, makanan terbaik disini adalah babi panggang. Proses pemangganggan dilakukan langsung di depan gerai, sehingga aromanya menggugah selera yang lain. Namun bagi yang menghindarinya, makanan yang lain juga tak kalah istimewa. Capcay, ayam, nasi campur (berisi sayuran dan ayam) sangat layak santap. Soalnya harga, jangan kuatir. Cukup 15 ribu sampai dengan 60 ribu, lidah dijamin termanjakan.

Maka tak heran, meski warung ini sepintas sederhana layaknya warung tradisional lainnya, yang datang kesini kebanyakan berombongan. Bule-bule terlihat lebih mendominasi saat rombongan kami mampir. Pada jam-jam padat pembeli, calon penikmat harus rela mengantri menunggu kursi kosong.

Dari Nuri's, kami menuju pusat Ubud. Sementara Pakde, Nana dan Bayi' mengunjungi toko buku, Dewi dan Novi memandu saya menyusuri pasar Ubud sampai dengan Puri Ubud.

Tentang pasar, ada hal menarik di sini. Rupanya setiap pasar di bali dilengkapi dengan tempat persembahyangan. Kalau tidak salah, untuk menyembahyangi dewa-dewa jahat. Dalam kepercayaan masyarakat bali, dewa yang baik maupun yang jahat tetap dipuja. Dewa yang baik dipuja untuk mendapatkan berkah kebaikan, sedang yang jahat untuk menghindari kejahatannya. Persembahan keduanya di bedakan dari letak sesajinya. Dewa baik sesajinya di atas, sedang dewa yang jahat sesaji ada dibawahnya. Koreksi jika saya salah.

Selanjutnya ke Puri Ubud. Menurut para pemandu, Puri Ubud merupakan keratonnya kerajaan Ubud. Meski saat ini raja tidak memiliki kekuasaan administratif, namun keluarga kerajaan masih sangat dihormari masyarakat ubud. Buktinya, acara-acara kerajaan selalu dibanjiri ribuan orang.

Kebetulan waktu itu salah satu keluarga kerajaan ada yang baru meninggal, sehingga berbagai persiapan dilakukan untuk upacara ngaben (pembakaran mayat) agung. Sesuai kepercayaan bali, proses ngaben dilakukan pada saat baik bulan baik. Kira-kira mirip dengan cara perhitungan primbon jawa. Sepertinya Menurut info, upacara kali akan diadakah tanggal 24 Juli bulan depan. Silahkan hadir jika sempat.

Salah satu persiapan yang dilakukan adalah mengecat ulang gamelan keraton. Kegiatan ini disebut prada (dilafazkan menjadi "prade"). Cat perangkat didominasi warna merah darah dan kuning emas. Konon, tinta emas yang dipakai untu memprada perangkat itu adalah tinta emas betulan. Setidaknya begitu penuturan pemandu saya.

Di hari kedua, peserta jengjengnya cuma tinggal saya, Pakde dan Dewi. Sekalian mengantar saya ke bandara, mereka mengajak saya berkeliling Denpasar. Mencari brem dan arak pesanan kawan. Brem di dapat dengan mudah di supermarket yang khusus menyediakan oleh-oleh khas bali. Tapi, ternyata arak tidak dijual bebas dan hanya dapat ditemukan di tempat-tempat tertentu. Kami pun berburu sampai ke kampung-kampung.

Setelah mendapat keduanya, atas rekomendasi Dewi, kami makan siang di warung bergaya surabayaan yang saya lupa namanya. Cah kangkung, dan sambal terongnya mantap dan pedas luar biasa. Saya sampai pesan lagi setelah itu. Hasilnya, saya cuma bisa thenger-thenger di lounge bandara maupun di pesawat.

Benar benar liburan yang menyenangkan....

Terima kasih Pakde, Dewi, Nana, Bayi' dan Novi...

22 Mei 2008

Wong jakarta kelelegen dondong

Ya iya lah... Masa iya dong? Abdul saja abdullah, masa abdul dong?
atau
Ya iya lah... Masa iya dong? Mulan saja jameela, masa jamil dong?

Tak ada hujan tak ada angin, beberapa hari belakangan, kalimat ini tiba-tiba populer di pabrik wedang. Menggantikan kalimat lain yang sebelumnya juga sempat sangat populer
"Udah ujyan, becek, ngga ojhek...".

Terus terang saya heran. Kok orang jakarta senang dengan kelatahan ya? Mbok yaa kreatif sedikit gitu loh. Masa setiap kali ada kata atau kalimat yang populer, yang lain langsung ikut-ikutan. Emangnya kalo ngga ikut trus jadi ngga gaul gitu ya? Hehehe

Jangan-jangan, barusan pada klelegen (jawa, menelan secara tak sengaja) biji dondong ya? Ada yang tau darimana virus ini berasal kisanak?

13 Mei 2008

Uang kondangan: berapakah nominal yang pantas?

Sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita untuk memberikan sumbangan saat seseorang yang kita kenal (atau tak jarang dianggap kenal) lagi punya gawe. Mulai dari pernikahan, khitanan, kelahiran, bermacam syukuran hingga kematian. Harga sosial yang harus dibayar sebagai tanda guyub rukun. Meski pada kenyataannya terdapat oknum si empunya gawe yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan. Ya, benar. Mencari untung. Modusnya, semua biaya hajatan didapat dari berhutang pada sebuah toko kelontong. Setelah hitung-hitungan hasil "panen", barulah semua hutang dibayarkan. Perkara setelah itu ternyata hasilnya tekor, ya terima nasib. Paling tidak sudah berusaha. :P

Di kampung, tepatnya kampung saya, sumbangan biasanya disampaikan secara langsung saat menyalami sohibul hajat. Umumnya berupa beras plus tempe, bihun, mie keriting, sayuran, panganan (pacitan) hingga hasil bumi. Namun kini, tradisi sumbangan berupa barang itu sudah mulai berkurang. Mulai mengikuti model orang kota yang cukup memasukkannya ke dalam kotak sumbangan bertuliskan "masukkan uang sumbangan disini" plus daftar absen di pintu masuk. Karena lubang kotaknya kecil, tentu saja sumbangannya tak mungkin berupa untelan telo. Lha, terus sumbangan berupa barang dibawa kemana? Ya langsung ke dapur seperti biasanya.

Menurut saya, penyampaian sumbangan melalui kotak ini terasa lebih bermartabat. Tuan rumah tidak terkesan mencari untung, si pemberi sumbangan juga tak perlu minder jika sumbangannya cuma sedikit.

Masalahnya, jika karena suatu dan lain hal, kita tak bisa menghadiri acara tersebut dan harus menyampaikannya secara langsung kepada calon si punya hajat. Yang tentunya lebih mudah dalam betuk uang bukan? Hendak dititipkan ke teman kok belum tentu bisa hadir. Mau tak mau akhirnya ya harus disampaikan sendiri.

Lantas bagaimana jika sesudah itu amplop langsung dibuka oleh si penerima? Bagaimana kalau kemudian sumbangannya dianggap kurang pantas? Lalu yang disebut pantas itu berapa?

Maka, bisik-bisik sesama calon penyumbang menjadi hal yang jamak. Supaya tidak disebut sok kaya. Atau sebaliknya, supaya tak terlalu sedikit. Lebih tepatnya, supaya terasa wajar dan tak dibilang pelit.

Maka, pertanyaan ini masih terasa relevan. Berapakah nominal uang kondangan yang pantas?

05 Mei 2008

NII: Negara yang dijanjikan itu?

"kenapa sih kerja kalian semua ngata-ngatain aja, lihat dulu tuh negara kalian, kalian mestinya baca lebih banyak buku biar paham soal Islam yang sebenarnya, soal infaq, dari zaman rasul juga udah diterapin, kalian nya aja yang ngga tau dan ngga mau tau, saya yakin kalian ini orang-orang yang ngaku tuhannya Allah, tetapi ketika di ajak berqur'an langsung memperlihatkan kuduk kalian, sombong....udah banyak yang saya saksikan, orang-orng yang saya ajak pada hancur hidupnya karena kesombongannya. tapi lihatlah nanti, orang yang tak pernah belajar, lihatlah, nanti! suatu saat kamu akan menjilat ludah sendiri, makanya banyak-banyak baca dan bandingkan buku-buku tafsir yang ada, jangan asal ngemeng.dosa!"

Demikian salah satu komentar dalam tulisan terdahulu. Pengirimnya menggunakan identitas deepestheart. Blog itu tak bisa dibuka dan menyisakan sebuah pesan: "Blog ini melanggar Syarat Layanan Blogger dan hanya terbuka bagi pengarangnya saja".

Keadaan negara Indonesia yang carut marut ini sering kali dijadikan promosi gratis bagi gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Menggunakan logika: karena menjadi warga negara Indonesia hanya kacau yang didapat, pastilah dengan menjadi warga negara Islam semuanya akan lebih baik. Selanjutnya disertai dalil-dalil: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.2:208)"

"Tuh, kan. Apa saya bilang? Cuma negara islam yang bisa mengatasi keadaan ini. Coba kalo dari dulu, pasti hal beginian tak akan sampai terjadi. Masuklah ke dalam tanah yang dijanjikan Allah", kata Abi saat mentilawahi saya dulu. Juga disertai tekanan: "jika tak hijrah ke negara islam (masuk NII), berarti kamu kafir. Dan pada masanya negara itu berdiri, darahmu menjadi halal bagi kami". Cara pendekatan seperti ini seringkali terbukti ampuh dalam merekrut anggota baru.

Berbeda dengan aliran islam lain yang hidup di Indonesia, gerakan ini sulit terdeteksi. Oleh karenanya, meski terus eksis dan berkembang, resistensi terhadap kelompok ini jarang benar-benar kuat. Sebagian kalangan malah menganggap NII adalah proyeknya aparat kita sendiri guna melemahkan gerakan kelompok islam radikal. Pada sebagian kasus, tempat tilawah yang dekat dengan aparat sering dijadikan argumen yang menguatkan dugaan itu. Tempat saya mendapat tilawah dulu juga cuma berjarak tak lebih dari 50 meter dari sebuah markas korps berseragam. Seperti sebuah pepatah lama, “Jika ingin membunuh kuda, gunakanlah kuda!"

Tak bisa dipungkiri, gerakan ini masih hidup dan terus mencari pengikutnya di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan sampai ke negara tetangga. Seorang mantan penggiat pernah memperkirakan, tak kurang dari 200 ribu pengikut yang tersebar di berbagai kota di Indonesia masih aktif hingga saat ini. Kang Bahtiar punya pengalaman yang jauh lebih banyak mengenai hal ini.

02 Mei 2008

Akhirnya, negara kita sudah bebas korupsi

"Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hendak dibubarkan". Begitu beritanya di sini dan di sini.

Logikanya, karena KPK tak diperlukan lagi, itu berarti sudah tak ada lagi korupsi di negara kita. Bukan begitu ki sanak?

Akhirnya, sebagai orang awam saya bisa ikut berbahagia. Sambil berdoa, semoga semuanya bertambah baik. Supaya tidak perlu terus kecemplung di jakarta dan bisa balik kampung. Semoga...

18 April 2008

SMS Mimpi

Jumat, 18 April 2008 pukul 09:17:56, sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya.
"Bpk. MUCH. SYAEFULLOH Yth, Siap memiliki Lexus? Saksikan undian Gebyar Hadiah Tahapan di acara TV Gebyar BCA Indosiar Sabtu pukul 21 WIB. TAHAPAN BCA "
Pengirim:
BCA
Pusat pesan:
+62816124
Sempat saya balas: "pekken wae le..." (bahasa jawa, yang artinya kurang lebih "ambil saja nak...")
Lha jebule gagal.

09 April 2008

Murah kok mau bagus

Dua hari ini telepon selular saya mengalami gangguan. Maksud saya, memang dari providernya sana yang bermasalah. Sinyal penuh tapi tak bisa digunakan untuk menelepon maupun ditelpon. Begitulah resiko layanan hemat, harap diterima kalau cuma seadanya. Murah gitu loh...

Mengeluh? Nehi lah yaw.

Sebelum datangnya era komunikasi bergerak, toh hidup saya baik-baik saja. Telpon tidak, pager tidak, kebutuhan online (email, chatting dan blog) pun tidak. Mau ketemu orang ya harus menyambangi ke tempatnya. Perkara setelah sampai di tempar ngga ketemu orang yang kita tuju, itu soal lain. Mau berkomunikasi dengan keluarga (karena saya merantau sejak lulus sekolah menengah) ya harus dengan surat. Pesannya pun cukup singkat saja: "Putro waras, arto telas" (Ananda sehat, uang habis).

Itulah kelebihan dunia yang tak mengglobal. Adanya ketidak-pastian. Bukankah ini juga sekaligus berguna untuk melatih orang bersikap lebih taktis dan strategis plus sabar? *halah*. Intinya, tanpa ponsel hidup ini tak masalah.

Begitu juga saat mati lampu (mungkin lebih tepat mati listrik). Sampai dengan tahun 2000 saat dimana kampung kami belum juga berpenerangan listrik, orang-orang justru lebih banyak saling ngendong (bertamu) dan ngumpul. Setelah masuknya listrik, orang-orang kemudian dilanda tren baru. Sepertinya semua orang tersihir oleh kotak ajaib bernama televisi. Maka muncullah ritual baru, menthelengi (nonton) tivi. Setiap waktu, setiap saat. Apa lacur, kebutuhan untuk srawung (bersosialisasi) pun menjadi jauh berkurang. Otak orang Indonesia pun mengalami cekokan baru, iming-iming menjadi artis, kaya, tampil bergaya dan terkenal.

Ya, saya merindukan saat itu. Tanpa HP dan listrik. Benar-benar membebaskan.

Eh, maap... HP saya dah bunyi lagi nih...
Type rest of the post here

04 April 2008

Manajemen Ketakutan.


Salah satu kunci keberhasilan dalam manajemen modern adalah adanya target yang jelas. Untuk mencapainya, semua sumber daya (karyawan maksudnya) dikerahkan sebaik-baiknya.

Dengan asumsi etos kerja bangsa kita yang kurang jos ditambah sikap bossy para punggawa, maka cara yang paling gampang untuk mencapai target adalah dengan memberikan cambukan. Semakin banyak ancaman, plus teriakan jika perlu, karyawan akan berusaha lebih giat lagi.

Dus, lahirlah apa yang disebut Manajemen Ketakutan.

gambar diambil dari sini.

Bekerja itu untuk Bekerja atau untuk Menyelesaikan Pekerjaan?

Orang kampung (terutama kampung saya bangsari) menganggap yang namanya bekerja itu ya bekerja. Bekerja itu ya melakukan pekerjaan dengan tangan sendiri. Jika hanya ongkang-ongkang, meski sudah selesai atau sambil mengawasi pekerjaan anak buah, itu disebut tidak bekerja. Kami menganggapnya pemalas.

Orang kota yang modern menganggap kerja itu ya harus jelas. Lebih spresifiknya, harus sesuai dengan deskripsi kerja (istilah kerennya job description). Pada level yang lebih tinggi, yang namanya bekerja itu ya menyuruh orang lain.

Permasalahannya, dalam budaya kita seringkali bos tidak bisa membedakan keduanya. Sehingga, meski sudah menyelesaikan pekerjaan, kita akan selalu diberi pekerjaan baru. Begitu pekerjaan baru selesai, akan diberi pekerjaan yang lain lagi. Akibatnya, pekerja yang efisien mendapat pekerjaan bertumpuk lebih banyak dari pekerja yang lamban. Iming-imingnya: "Perusahaan akan melihat apa yang kamu kerjakan". Perhatikan: akan!!!

Perihal job desc? Tai kucing!

gambar diambil dari sini.

27 Maret 2008

Buku Saku Warga Negara Republik Indonesia

Penerbit Balai Pustaka
Cetakan Ketiga - Januari 1979
196 halaman (belum termasuk halaman yang hilang)
Setiap bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat mutlak memerlukan, bahwa setiap warga negaranya minimal mengetahui, memahami dan menghayati hal-hal pokok yang sangat mendasar tentang kenegaraan tanah airnya, untuk dapat membangun suatu bangsa dan negara yang dicita-citakannya dengan dukungan ketahanan nasional yang kokoh.
Buku ini disusun oleh para ahli kita yang berwewenang dengan menggunakan sumber-sumber resmi yang ada. Sangat praktis dan berguna bagi para guru dan siswa Sekolah Lanjutan, sehubungan dengan Pendidikan Moral Pancasila dan pelajaran-pelajaran di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.

Ingin melihat Indonesia dengan kacamata positif? Bacalah buku ini. Isinya sungguh menggugah, menenteramkan. Simak saja pendahuluannya:
TANAH AIRKU INDONESIA

Sungguhlah berbahagia kita bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang besar memiliki Tanah Air yang luas, lagi pula kaya dan indah permai keadaan alamnya. Sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Esa pula Tanah Air kita sangat baik letaknya, yakni antara dua Benua dan dua Samudera yang luas merupakan pusat pertemuan antarbangsa sedunia. Keadaan alam yang sukar dicari bandingannya merupakan daya tarik bagi bangsa asing dan adalah modal yang besar bagi pariwisata.

Tidaklah mengherankan jika kepulauan Nusantara ini oleh Multatuli digambarkan sebagai "pending zamrud yang membujur sepanjang katulistiwa". Tak kurang dari 13.500 pulau besar kecil bertebaran antara benua Asia dan Australia dan antara Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia. Itulah wilayah Republik Indonesia, Tanah Air dan Tanah Tumpah Darah kita! Kepulauan Indonesia yang luasnya 2.000.000 km persegi dan panjangnya — antara Sabang dan Merauke — adalah 5.000 km, hampir menyamai benua Eropa besarnya.

Kepulauan Insulinda yang kini (tahun 1979) berpenghuni 137.000.000 jiwa yang beraneka ragam suku-bangsa dan bahasa daerahnya ini menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan Bangsa serasi dengan kepentingan pribadi atau golongan. Pembinaan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dikem­bangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam Negara Indonesia yang berdasarkan Panca-sila ini, manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya, sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajiban-kewajiban azasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama dan keper-cayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya. Dan karena itu dalam negara ini dikembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, sikap tenggang rasa dan "tepa salira", sikap tidak sewenang-wenang terhadap orang lain, serta sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.
Sebuah buku yang sangat layak baca. Menggetarkan! Percayalah, negara ini baik-baik saja. Sangat baik.

Semoga...

17 Maret 2008

Melepas Kang Presiden

Entah sejak kapan kegiatan nongkrong HI itu dimulai. Menurut catatan, sebelum bulan juni 2006.

Pada awalnya, kegiatan ini diadakan di monas. Anggotanya cuma keluarga kebon kacang. Terkadang ada peserta lain, tak jauh-jauh dari alumni nuklir universitas ndeso. Lesehan di rerumputan, terkadang membawa makanan kecil dan tikar dari kosan. Setelah beberapa kali merasakan dirubung semut merah yang gatelnya minta ampun, tempat nongkrong pun berpindah ke tempat lain. Beberapa tempat sempat dicoba sampai ditemukan tempat yang tepat, Bunderan Hotel Indonesia (BHI). Pertimbangannya: akses gampang, meeting pointnya gampang dicari, tempat lesehan mewah bermarmer italia.

Kebetulan waktu itu sedang dimulai proyek pembangunan hotel indonesia yang katanya dibikin hendak nyundul langit. Tanpa usaha, kami mendapat banyak teman ngobrol dari berbagai daerah di jawa. Mulai dari orang-orang banyuwangi, sampai purbalingga. Orang-orang proyek. Dari situ saya baru tahu bahwa sistem penggajian mereka ternyata lebih manusiawi dari pada saya. Kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore mendapat bayaran sehari. Lembur sampai jam 8 malam, bayarannya 2 hari. Sampai jam 12 malam, 3 hari. Besoknya boleh datang telat pula. Akumulasi gaji sebulannya ternyata jauh melampaui gaji saya. Dan untuk itu, mereka tak memerlukan ijasah apa pun. Asyik bukan?

Kemudian iseng-iseng kami (lebih tepatnya kang presiden) menulis di blog sekaligus mengundang wong-wong ndeso lainnya untuk bergabung. Beberapa diantaranya bahkan sudah jadi juragan. Cah bagus Kangmas Endik (yang kemudian hari jadi manajer pembangunan menara HI sebelah utara) kemudian bergabung mengendarai sepeda tuanya, Hartog. Lalu Sam Hedi, Kang Joem, Nino, Alex, Bebek (almarhum), Inul, Mbok Rondo, KW, lalu yang lain-lain (yang tak bisa saya sebut satu persatu). Mana yang lebih dulu, saya tak ingat. Saya heran, jebule wong ndeso di nJakarta ini banyak sekali.

Setelah 2 tahun, kini kang presiden hendak pergi. Sebuah cita-cita lama yang selalu diidamkan. Meninggalkan Jakarta. Mulai besok hari (18 Maret 2008). Semoga sukses kang...

Londo gemblung nan asik

Pengelana dari Jerman yang sudah keluyuran ke berbagai belahan dunia termasuk pelosok-pelosok Indonesia. Dari siaran pagi sebuah radio swasta di jakarta, informasi ini saya sapat. Aneh, lucu sekaligus mengherankan. Silahkan kunjungi mereka di sini atau di sini.

Berontong tidak berontong


Ada seorang petani mempunyai seekor kuda cantik
Semua teman datang dan bilang:
"Betapa beruntung mempunyai kuda cantik"
Tetapi petani bilang:
"Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.."

Suatu hari kuda liar
Dan teman datang dan bilang: "Sungguh malang"
Orang petani Bilang: "Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.."


Kuda kembali lagi membawa seekor kuda kecil
Sekarang petani bilang: "Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.." 2X

Kuda kecil tumbuh menjadi besar
Dan petani mempunyai seorang putra
Dia (sang putra, peny) harus menjinakkan
Dan dia menonggang
Putra terjatuh
Dan dua kudanya patah
Dan putra pergi ke rumah sakit
"Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.." 2X
Semua pemuda berperang tetapi perang tidak kembali lagi
Semua mati
Putra sehat kembali dari rumah sakit
"Berontong tidak berontong. Berontong tidak berontong, berontong. Siapa yang tahu.." 3X

13 Maret 2008

Mbok Temo

Namanya Mbok Temo. Rasanya belum terlalu lama dia menumpang di pekarangan keluarga kami. Sekitar 10 tahun, sangat mungkin lebih. Saya tak ingat betul. Ya, kurang lebihnya segitu lah. Menumpang rumah bukan sesuatu yang luar biasa di kampung kami. Disebut menumpang rumah karena mereka mendirikan rumah di atas tanah orang lain. Seijin pemilik tanah tentunya. Hingga mereka punya tanah sendiri, atau sampai mereka merasa ada tumpangan yang lebih baik. Beberapa diantaranya bahkan sampai mati.

Selain Mbok Temo, masih ada orang lain yang nebeng di pekarangan kami. Kang Likin beserta 4 anaknya. Mbok Mud (janda dengan anak yang tak jelas entah dimana) juga pernah menumpang. Sebelumnya, keluarga Kang Timin dan 3 anaknya, hingga sang anak perempuannya kembali dari arab dan mampu membeli sebidang tanah. Namun sayang, istrinya meninggal sebelum pindahan tiba akibat TBC. Pada masa yang lebih lampau, keluarga Ro'ul beserta entah berapa anaknya. Sampai kemudian ditransmigrasikan pemerintah. Hanya lamat-lamat yang saya ingat saat mereka memboyong seluruh harta mereka yang cuma sebuntalan sarung. Masih ada beberapa penumpang lainnya, tapi tak semua saya ingat nama-nama mereka.

Namun di antara kesemuanya, Mbok Temo lah yang paling miskin. Begitu miskinnya sampai-sampai rumah yang kini dihuninya merupakan karya bersama penduduk kampung. Iuran bahan rumah, tenaga, sampai konsumsi. Ia tinggal sendiri pada awalnya. Kemudian dengan Parno, seorang anak kecil yang diakuinya sebagai cucu.

Sebuah rumah mungil. Berukuran sekitar 3x5 meter, ukuran yang tak normal untuk ukuran kampung. Berlantai tanah, berdinding anyaman bambu yang dikapur putih, bertiang kayu dan bambu, beratap campuran: genteng, anyaman rumbia, daun kelapa dan plastik transparan yang hanya dijual di Gandrung Mangu. Pintu depan dibikin dari anyaman bambu dan berengsel bambu ukuran kecil yang dilubangi sedemikian rupa sehingga berbentuk mirip gasing anak-anak kota seharga seribuan rupiah. Ada 3 ruangan di dalamnya. Ruang pertama adalah ruang tamu yang sekaligus tempat tidur, tempat makan, tempat parkir sepedanya Parno, dan juga jemuran baju saat musim hujan tiba. Ruang kedua adalah dapur. Yang ada disini hanya tungku dan sedikit tumpukan kayu bakar. Begitu sempitnya ruangan ini, hingga jika ada orang ketiga, ruangan ini tak akan cukup. Ruangan ketiga adalah tempat tidur yang berukuran sedikit lebih besar dari ambin. Entah ada apa di dalamnya, saya tak tahu.

Kesehariannya, dia berdagang pecel. Agar para pembeli tidak meminta bumbu terlalu banyak sehingga mengecilkan margin keuntungannya, dia membuat bumbu pecelnya sangat pedas. Begitu pedasnya, hingga saya selalu diare beberapa jam setelah memakannya. Dasar penduduk kampung kami memang hobi pedas, pecelnya tetap laku. Dan untuk itu, dia harus berkeliling kampung hingga ke perkampungan di bukit sebelah desa. Omzetnya 10-15 ribu sehari, katanya beberapa bulan yang lalu. Sudah termasuk ongkos untuk membeli bahan mentahnya, terigu, minyak goreng dan upah seharian jalan. Jika kerjaan sawah sedang banyak dimana banyak orang tiba-tiba memiliki uang, ia cukup ngetem di depan pesantren sampai dagangannya habis. Tak ada yang mengajaknya turun ke sawah. Terlalu kurus, kecil dan tak bertenaga. Singkatnya, tak bisa kerja.

Suatu sore menjelang magrib saat idul kurban tiba bertahun-tahun yang lalu, saya melihatnya membawa seekor ayam jago ke rumah Mbah Sarbini (almarhum), Kyai pendiri pesantren kami. Saya terbahak-bahak mendengar berita bahwa jago itu dipersembahkannya sebagai hewan kurban. Dengan beberapa teman, saya berdebat sengit tentang hewan kurban yang berupa ayam. Dilihat dari segi ilmu fikih manapun, tidak ada yang namanya kurban berupa ayam. Kesimpulannya, kurbannya itu tidak syah.

Bertahun-tahun setelahnya, saya baru menyadari kekeliruan masa kecil itu. Selalu ada cara untuk berkurban, membuktikan ketulusan hati. Bahwa kurban tak harus dilihat dari wujudnya. Ah, saya jadi malu. Soal itu sampeyan pasti lebih tahu...

Gambar diambil dari sini.