29 Juli 2007
26 Juli 2007
Mengapa wanita suka pipis rombongan?
Mengapa wanita kantoran suka pipis rombongan? Anda tahu jawabnya?
20 Juli 2007
Khotbah Jumat
Pesan khotbah jumat Pak Kyai dunia maya ini:"Hai manusia yang invisible (YM-nya, red), njedullah..."
19 Juli 2007
Plesetan gaya Dagadu!
Wedang Asem
Saya suka sekali wedang asem. Terutama wedang asem berpemanis gula merah, lebih sedap lagi gula aren. Asem, manis dan sedikit gurih. Belum lagi jika ditemani dengan singkong plus pisang goreng di beranda rumah pada sore hari yang cerah (mengkayal thok isine). Mmmm. Benar benar yummy... Jauh lebih nikmat daripada produknya Starbuck. Tapi, itu menurut saya lho... Top markotop deh!Sayangnya, sekarang kenikmatan itu semakin sulit didapat. Saya hampir tak pernah menikmati wedang asem dalam beberapa tahun terakhir. Di kota besar asem sulit didapat. Lebih tepatnya, di daerah Kebon Kacang susah mencari asem. Bisa jadi karena orang kota jarang mengkonsumsinya, sehingga peredarannya juga terbatas. Tapi mungkin juga, karena saya yang tidak pernah benar-benar mencarinya saja. Lha wong saya tak pernah masak-masak je. Pokoke gitu lah...
Pada dasarnya, asem adalah salah satu dari sekian banyak jenis bumbu dapur yang berguna untuk menghilangkan bau anyir atau memang untuk menciptakan rasa sedikit kecut seperti pada cuka pempek palembang, misalnya. Masalahnya, asem biasanya memerlukan perlakuan relatif lebih lama untuk sampai bisa digunakan guna keperluan dimaksud. Hal ini dikarenakan asem harus dicairkan lebih dulu dengan air yang benar-benar panas sampai menghasilkan air asem yang bagus. Bayangkan, betapa tidak praktisnya untuk orang kota yang selalu terburu-buru waktu. Pertama harus merebus air dulu sampai mendidih, kemudian asem disiram cepat-cepat dan kemudian ditunggu sampai dingin. Betapa ribetnya bagi orang kota. Sebenarnya sih bisa saja asem tidak dicairkan lebih dulu. Masalahnya kemudian, asem tidak terdistribusi dengan sempurna, masih menggumpal. Sehingga bisa terjadi pas enak-enaknya makan tiba-tiba saja gigi si pelahap menemukan sesuatu yang keras dan kecut. Mak klothak! Rak nganyeli to... Sehinggga bisa dimengerti jika kemudian mereka lebih menyukai jeruk nipis atau cuka instan sebagai gantinya.
Sebagai wedang, asem memiliki kegunaan lain selain sebagai minuman ansich. Kata Simbok saya, wedang asem juga berguna untuk mengurangi demam ataupun batuk-batuk. Untuk orang yang ingin langsing, wedang asem juga bagus untuk melarutkan lemak. Kombinasi dengan bahan lain seperti kunyit atau beras-kencur dan lain-lain menciptakan obat untuk yang lain lagi. Dan obat kepingin tentunya. Ha..ha..ha.. Benar tidaknya saya tak tahu. Yang jelas, dari kebiasaan simbok membuatkan wedang asem, saya jadi penyuka wedang ini hingga sekarang.
Nah, ceritanya kemarin pagi saya menemukan (lebih tepatnya menemukan penjual) asem ini secara tidak sengaja. Sekitar jam 10-an karena dorongan kelaparan, saya mengunjungi depot makanan kecil di kantin pabrik. Maksudnya sih hendak mencari sesuatu guna melupakan rasa lapar sejenak akibat dari pagi perut belum terisi makanan. Apa lacur, sesampainya disana makanan murah meriah yang sering saya jadikan pengganjal perut sementara itu tidak tersedia. Karenanya, saya mencari alternatif lain.
Di sudut deretan pajangan makan itulah saya menemukan manisan asem. Bagi saya terdengar aneh. Asem kok dimanisin, ya tetap saja asem. Tapi, mungkin inilah yang disebut inovasi jualan. Bukannya orang jualan itu selalu butuh yang unik dan terkadang sensasional serta kadang nggilani? Selain asem, di sudut yang lain juga tersedia asinan/manisan pala, salak, mangga, kacang-kacangan, bahkan upil-upilan. Yang saya sebut terkahir saya tak paham, apakah terbuat dari upil beneran atau sekedar namanya saja. Tapi ya itu, harganya na'ujubilah. Satu ons asem harganya 5 ribu. Asem! Padahal di kampung paling cuman 500 rupiah.
Berbekal kenangan masa lalu, saya membeli satu ons asem. Dan sesampainya di bilik wedang, saya segera menyeduhnya. Tak bisa dipungkiri, asem yang dijual ini kualitasnya lebih bagus dari asem di kampung. Terbukti dari hasil seduhan yang lebih bersih, tapi rasa asamnya kuat sekali. Mmm... Enak juga. Kekurangannya cuma satu, pemanisnya bukan gula merah. Tapi itu tak terlalu masalah. Not bad lah...
Sebagai tukang wedang, adanya asem ini jelas berpotensi meningkatkan omzet saya. Paling tidak satu menu tambahan sudah tersedia. Spesial wedang asem!
Ayo, sapa mau?
16 Juli 2007
Al Qur'an maya di Yahoo Messenger
Klik ikon untuk menambah kontak YM anda {add a contact}. Kemudian pada kolom yang disediakan ketik "quran.noble" . Selanjutnya anda tinggal ikuti petunjuk lainnya seperti biasa. - Kirim pesan dengan format:
Contoh : Untuk mengetahui terjemahan Al Fathihah ayat 1 sampai ayat 3 tinggal ketik di kolom pesan sbb: quran id 1:1-3
Untuk Bahasa inggris, ketik en pada pilihan bahasanya.
Lha, kalo semua diserahkan pada gadget, nanti yang masuk surga gadgetnya dong... Benar lah kata simbok di kampung, kiamat semakin dekat.
Emang kenapa kalau kiamat?
Gojegan Kere
Apa warnanya angin? Merah. Lho, kok bisa? Buktinya, lihat sendiri. Habis dikeroki, punggung si penderita masuk angin akan meninggalkan jejak berwarna merah. Garing ya? Yo ben...Kata pak dokter yang pernah saya tanyai, masuk angin itu adalah gejala flu ringan, common cold. Hal ini terjadi karena aliran darah yang tidak lancar. Terutama daerah sekitar leher dan punggung yang terasa lebih dingin dan terkadang kaku-kaku. Kerokan menstimulasi saraf-saraf supaya menormalkan aliran darah kembali. Meski sudah terbukti ampuh dan mentradisi entah berapa lama (mungkin anda lebih tahu), setahu saya tidak semua paramedis setuju dengan cara ini. Golongan yang tidak setuju mengkhawatirkan semakin tidak responsifnya saraf yang dikerokin, bahkan rusak. Golongan yang setuju, bahkan pengguna, beralasan: wong enak kok. Nah!
Begitulah, kerokan menjadi terapi ampuh pengusir masuk angin. Sudah mentradisi entah berapa lama, mungkin anda lebih tahu. Murah, mudah dan sangat Indonesia. Tapi, benarkah hanya orang indonesia? Saya pernah melihat seorang bule sedang dikeroki seorang simbok tua di suatu sore yang mendung persis di bibir pantai Parangtritis sambil duduk menghadap laut selatan. "It's really good", serunya pada teman di sampingnya. Oalah mister, mister... Kalau ketahuan CNN apa ndak blaen tuh? Bisa-bisa dijadikan bukti yang semakin menguatkan, betapa primitifnya kebudayaan kita. Salah-salah malah bisa dianggap kekerasan wanita jawa! Byuh...
Topik Umukan
Guyon,
Sehari-hari
12 Juli 2007
Aneh!

"Taufik Savalas meninggal!", sapa rekanita sepabrik tadi pagi.
"Oh", jawabku.
"Astaga... Kamu itu lho. ", sambungnya.
"Lho, memang kenapa kalo dia meninggal?", tanyaku.
"Dia meninggal karena kecelakaan. Kejadiannya begini. Kepalanya tergilas roda truk. bla bla bla.... Padahal dia lagi jaya-jayanya. bla bla bla... Istrinya sampai sok. bla bla bla... Dia itu orang yang baik sekali lho. bla bla bla... Liat, semua artis berkumpul semua di rumahnya. Coba aja setel tipinya kalo ngga percaya. bla bla bla... Masih muda tapi meninggal. Belum lagi meninggalnya dengan cara seperti itu. Kasihan sekali dia."
"Hmm..."
"Dasar aneh!", gerutunya.
Ya, saya memang aneh. Tapi, mereka saya rasa lebih aneh.
Langganan:
Entri (Atom)











