08 November 2007

Rusaknya mesin pembikin wedang

Menjelang puasa kemarin mesin pembikin wedang yang biasa saya gunakan rusak. Sebagai operator, tentu saja gondok setengah mati. Lha gimana tidak, itu artinya kerja tambahan tanpa perikemanusiaan. Dengan ancaman tak dapat berlebaran di kampung tidak pula THR, saya dan para tukang wedang yang lain harus bekerja keras memperbaiki mesin. Tak ada pilihan.

Contoh kerusakannya gini. Saat saya tekan tombol mesin untuk pesanan es teh manis dengan gula merah sedikit plus jeruk nipis untuk 100 orang, meski yang tertampil sudah benar, namun yang muncul mungkin cuma 10 gelas yang sesuai pesanan. Sisanya, mungkin es jeruk, kopi pahit, teh tubruk atau bahkan cuma gelas kosongan. Bisa dibayangkan jika pemesannya mencapai 4000 orang atau lebih dengan berbagai macam wedang. Terjadi juga data pemesan, nomor meja dan pesanannya tiba-tiba hilang tanpa bekas. Sungguh ngeselin!

Sekarang, tugas saya adalah ikut menentukan desain mesin yang sedang dipesan, sementara pekerjaa rutin harus tetap berjalan. Mempersiapkan pesanan wedang dalam jumlah tak kalah banyak untuk perhelatan bulan depan, saya (dan yang lain tentu saja) juga masih harus membuat wedang-wedang yang harusnya sudah diminum para tamu pada perhelatan kali ini. Tamu sudah berderet didepan pintu dengan berbagai ekspresi, sementara airnya belum matang dan kopinya baru akan dibeli. Sebagian memaklumi, sebagian besar memaki.

Kabar bocoran dari si pembuat mesin, mesin tercanggih sebagai ganti mesin yang sekarang baru akan siap pertengahan tahun depan. Mesin yang sekarang? Ya dibiarin mangkrak begitu saja. Dipajang supaya orang tahu, kami punya mesin yang hebat meski tak bisa jalan. Padahal isunya, harganya ngujubilah setan. Andai semua gaji saya dikumpulin, sampai mati pun tak akan cukup untuk membelinya. Byuh....

Jadi pingin belajar sama mantan direktur penitipan sepeda yang kini jadi direktur air asin disamping pabrik

15 komentar:

kw mengatakan...

lho pul, serahkan saja pada ahlinya. beres kan? apalagi bumn, bajet tak terbatas.... :)

pantesan ym off terus.

mikow mengatakan...

Si mbok tukang wedang di bhi dibawa ke kantor aja pul :)

Tukang Nongkrong mengatakan...

harga kok "ngajubilah setan" ...

artine opo dab :)

Hedi mengatakan...

kene...kene, kekno aku ae, tak dandani :D

gus pitik mengatakan...

metafor jos gandhos tenan..hehehe

balibul mengatakan...

iki juragan wdhus sambaaaaaaaat mesin pencetak wedhuse macet.

lhaaaaa nek juragan we sambat lhaaaa aku iki piye sing batur iki

Evi mengatakan...

mesinnya canggih banget ? sini aja yg paling canggih cuma mesin fotokopi tuh...

eh, pakdhe ndobos skrg di samping pabrik...? wah, ajak aja Mas makan siang di AU seberang mesjid.

Ndoro Seten mengatakan...

Yowis dikolokne wae sobloke.....opo perlu divisi "patehan" direformasi?

kenny mengatakan...

seiki wes tokcer jos gandos ning gak usah campur brengos yo

Pinkina mengatakan...

yhowes nggawe wedang manual ae siji2 :D

DenaDena mengatakan...

wah kantore cedak pak de to saiki? weh lumayan iso nunut mangan siang :D

aprikot mengatakan...

wuih tak tomboki po mas ben iso tuku mesin wedang :D

MaNongAn mengatakan...

itu namanya bagi² rezeki, barang rusak yg senang ada 2 : tukang service atawa bakul mesin baru/bekas.

.::he509x™::.

langit mengatakan...

seng sareh mas..:)

mei mengatakan...

lembure gede gak???