02 November 2007

Penerima Kambing: Terimakasihku pada Blogger

ditulis oleh fanabis, diambil dari sini


Sore itu di tengah ngobrol dan ngopi bareng teman-teman sepabrik ipul menelepon. Menyampaikan kabar, seseorang akan menemuiku. Siapakah dia? Ternyata malaikat yang akan menyambungkan niat seseorang yang akan menyumbang sepuluh kambing langsung ke bangsari.

perempuan beranting panjang itu meminta tolong aku, untuk mengantarkannya menemui pak mahmudin. Pak mahmudin ini adalah ayah dari rubangi, salah satu anak penerima kambing pada project bloggers for bangsari ini.

Karena beliau mbaknya tak mau jadi seleb, ia tak mau disebut namanya. Bahkan untuk diketahui ia bekerja dimana pun, ia menolak. Nomor telepon kantor pun di setting private. Tak ingin menyalahgunakan fasilitas yang diberikan negara, katanya.

Dan kami pun, berhasil menemui pak mahmudin di jalan warung buncit raya. Di pintu masuk yang terbuat dari pagar seng. Pak mahmudin bertukang pada pembuatan gedung berlantai lima itu.


Dari roman mukanya dia cukup canggung menemui kami. Sore sehabis hujan itu ia memakai jaket kotak-kotak warna hijau yang memudar dan celana panjang coklat. Tampak pakaian itu kebesaran membungkus tubuhnya yang mungil. Ia baru saja mandi, tampak ujung rambut depannya yang masih basah.

Aku dan pak mahmudin lalu digiring mbaknya ke sebuah warung. Sambil menunggu ipul yang terjebak di busway. Di sodori buku menu, pak mahmudin, satu satunya pekerja di gedung yang berasal dari bangsari ini menolak. Entah karena canggug, malu-malu atau seperti alasannya, dia baru saja makan malam.

Sehari ia makan dua kali. Dengan kompor ia memasak menunya sendiri. Seminggu menghabiskan beras maksimal 5 liter. Beserta belanja lauk ia harus mengeluarkan lima puluh ribu rupiah.

Baru seminggu ia di jakarta, meninggalkan isteri dan kelima anaknya di bangsari. Dan rubangi, penerima bantuan bantuan kambing adalah anaknya nomor dua. Ragilnya sekarang baru kelas satu sekolah dasar.

Sebagai pekerja bangunan tak hanya kali ini. Ia pernah merantau ke makssar membangun pabrik semen selama sembilan bulan. "ya kemana saja mas, terserah nasib membawa", katanya.

Tanganya membuka-buka buku menu lalu memesan susu coklat panas. Ke jakarta terpaksa ia lakukan karena di kampung ia tak punya sawah sendiri. Ia hanya maro (bagi hasil) dari sawah salah satu pak haji.

Sawah tadah hujan itu hanya bisa di tanami dua kali. Rendengan dan sadon. Musim tanam sadon, periode kedua ini kemungkinan panen hanya sekitar 50 persen karena tak adanya hujan. Sehingga kadang pak mahmudin memilih menanaminya dengan palawija dan sayur-sayuran.

"Pak bagaimana rasanya mendapatkan bantuan kambing? Tanya ipul

"Tentu saja senang, jawabnya sambil tersenyum. Sebelumnya ia juga memelihara kambing, namun terpaksa di jualnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dia juga mengucapkan terimaksih banyak kepada ipul ( maksudnya juga kepada para donatur) karena ia telah merasa di tuntun, sehingga anaknya tetap bisa melanjutkan sekolah.

Tak terjebak seperti anak-anak lain yang malas sekolah. Kebanyakan mereka beranggapan, sekolah itu lama menghasilkan duitnya. Lebih baik langsung bekerja membantu orang tua. Apalagi anak perempuan, otomatis diplot sebagai tenaga kerja wanita di negeri kurma.

Sebulan lagi ia akan pulang. Menjenguk keluarga yang menunggunya. Dengan uang yang berhasil di kumpulkan pak mahmudin yang asli kebumen itu memilih naik kereta ekonomi dari stasiun senen yang harga tiketnya sekali jalan 27.500 rupiah.

Selama sebulan lebih itu ia sukses mengumpulkan uang sekitar 600-700 ribu. Sebenarnya ia adalah tukang, namun hanya dibayar sebagai "kenek". Ia tak protes, meskipun tenaganya dihargai sehari 30 ribu rupiah.

Ia paham, sebenarnya upah harian yang ia terima jauh lebih besar. Namun telah di potong untuk mandor dan pegawai atasan lainnya.

Dari penghasilannya itu, andai bersisa ia simpan. Bukan ke bank namun ke rumah pak kyai yang mengelola pesantren. Sengaja ia tak menyimpan ke bank, karena ia ingin uang itu bisa dipakai untuk menabah modal dagang para santri.

Sekarang bangunan yang ia kerjakan sudah berdiri. Sudah sampai tahap plester dan finishing. Menurutnya masih sekitar lima sampai enam bulan untuk menyelesaikan gedung yang kata dia milik orang arab.

Ia bisa tidur di dalamnya. Di lantai dua, pak mahmudin membuat ranjang berukuran "single" yang berasal dari kayu bekas. Tampak pada keempat kaki ranjang itu menjulang setinggi badan pemain basket profesional.

Rupanya ranjang itu didesain multi fungsi. Diantara tiang-tiangnya, dipasang tali yang difungsikan sebagai jemuran dan tempat menaruh baju dan sarung. Di sebelahnya terdapat meja-mejaan tempat menaruh piring.

Pak mahmudin rupanya cukup kreatif, memanfaatkan botol aqua berukuran tanggung yang di potong sebagian sisi atasnya untuk menyimpan sendok. Lalu benda itu digantungkan pada paku di salah satu kaki ranjang.

Andai dipasang kelambu, ranjang itu akan mirip ranjang raja-raja jawa jaman dulu. :)

18 komentar:

de mengatakan...

salam buat penyumbangnya

de mengatakan...

sek tah lah mas, 'aku' ki dudu pak mahmudin tapi yo dudu ipul? aku kok bingung (mocone skip-skip hehe)

Tukang Nongkrong mengatakan...

semoga mbak invisible diberi kemudahan2 ....

Bangsari mengatakan...

#de: kuwi tulisane kw. kan dari awal wis di kasih tulisan, ditulis oleh fanabis. kok bingung dewe?

Totok Sugianto mengatakan...

semoga bermanfaat... jadi pingin ikutan nongkrong di BHI nih.. :D

mikow mengatakan...

Loh udah sampe pizza hut buncit kok ga mampir apalagi ikut ngajak makan :D

Bangsari mengatakan...

#totok sugianto: lha, monggo tinggal dateng to mas...

#mikow: lho, omahmu kono to? maap, ra kelingan kang. soale mendadak acarane.

koeaing! mengatakan...

ik soeka tengok itoe senjoem poenja Bapa Mahmoedien...

keritiKentang™ mengatakan...

wah, salut itu buat yg nyumbang 10 kambing sekaligus! ;)
tangan kanan memberi, tangan kiri ga perlu tau!
ga kayak seleb2 kita yah, nyumbang aja pake ngundang2 infotaiment segala! :D

salut jg utk ceritanya Pak Mahmudin! ;)
but, he's so strong! I know he's trong!
...and lucky him karena telah ditolong oleh "malaikat2" itu! :)
beliau memang pantas menerimanya!

kenny mengatakan...

smoga ada byk lagi mbak2 spt si mbak invisible.

otakiphan mengatakan...

alhamdulillah....

semoga makin banyak lagi yang nerimo kambing

venus mengatakan...

titip salam buat anak2 itu ya, pul. mudah2an mereka bisa sekolah setinggi2nya. amin..

weh, serius banget komenku :D

danudoank mengatakan...

sayah boleh kan ikutan masang bannernya yah pakde. insya allah semuanya lancar-lancar aja ya pakde.

Anang mengatakan...

semoga bermanfaat.. dan dijadikan amal jariyah bagi pendermanya.. amin

elly.s mengatakan...

semoga semua amal ibadah org yg baik hati diterima disisi Allah....

leksa mengatakan...

Salam Kenal Bang,..

Wah rame yah perlehatan disana .
seneng bisa melihat org lain sukses dengan misi mulia nya..

Semoga ada hari lebih baik buat adik2 kita, dibanding kita...

*haik,. koment ku serius gini :p

Dony Alfan mengatakan...

Alhamdulillah. Semoga Pak Mahmudin diberi kelancaran rizki

-tikabanget- ™ mengatakan...

^^
waow..