28 November 2007

mau cepat, menyogoklah

dalam sebuah dialog di televisi beberapa tahun yang lalu, salah satu narasumber mengatakan: bahwa semua korupsi itu harus diberantas, mayoritas sepakat. semua? iya, tapi sesuai kultur orang endonesa, tentu saja harus disertai dengan catatan atau pengecualian. yaitu selama tidak menyangkut: saya, keluarga saya, atau teman saya. dus, jadilah endonesa seperti yang kita semua sudah pahami bersama.

sekarang beralih ke pembuatan paspor. menurut aturan yang dipampang dekat pintu imigrasi jakarta barat, pembuatan paspor memerlukan waktu 5 hari kerja.


hari pertama

hari pertama adalah memasukkan berkas. prosesnya: membeli formulir, mengisinya, dan menyerahkan kembali formulir beserta dokumen pendukung. meski loket sudah dibuka jam dari jam 08:00, petugas penjaga mengatakan layanan baru dimulai pukul 10:00. tentang orang-orang yang hilir mudik membawa berkas dan berbincang akrab dengan petugas, saya menduga mereka adalah para pengguna jalur tol. beberapa diantaranya sepertinya orang dalam yang mencari sambilan. saya sendiri mengikuti jalur normal.

formulir sebagai sarat awal harus dibeli di loket khusus yang katanya dikoordinir oleh koperasi. okelah harganya "cuma" enam ribu, meski isinya hanya map dengan selembar kertas berisi isian data dan selembar pernyataan belum pernah memiliki paspor sebelumnya. pernyataan ini harus tandatangani dengan dibubuhi materai. materainya juga harus dibeli di tempat yang sama. harganya tujuh ribu rupiah.

dalam catatan saya, banyak kantor pemerintah yang melayani publik, menerapkan metode yang sama. menjual formulir beserta kelengkapannya dilengkapi layanan fotokopi yang harganya di atas harga umum. dengan nasabah yang jumlah mungkin mencapai ribuan dalam sebulan, silahkan perkirakan sendiri berapa keuntungannya. embel-embelnya (selalu begitu), untuk kepentingan koperasi. gagah sekali kedengarannya. siapa yang diuntungkan koperasi abal-abal tersebut? (hahaha... bodoh sekali pertanyaan ini.)

masih pada hari yang sama, proses selanjutnya hanya "tinggal" menunggu tanda terima permohonan pembuatan paspor. dari awal hingga tanda terima, diperlukan waktu kira-kira 2 jam. yah, kira kira pas jam makan siang proses hari pertama selelsai. selanjutnya, datanglah 2 hari kemudian.

hari ketiga

berbekal pengalaman hari pertama, saya mencoba datang lebih pagi. pukul 08:30 saya sudah di depan loket. meski mendesak untuk segera dilayani, jawaban petugas tetap sama: layanan baru dilakukan pukul 10:00. busyet. ya sudahlah, saya bisa sarapan dulu di koperasi depan sambil menyelesaikan kitab suci pinjaman resi burung.

pukul 10:00 tepat saya dipanggil dan segera menuju loket kasir. 270 ribu rupiah tercatat angka yang harus saya bayar dalam kwitansi beserta nomor antrian untuk wawancara. kemudian menunggu lagi. saat giliran wawancara tiba, waktu menunjukkan 10:25.

tadinya saya pikir wawancara itu semacam litsus. jebul ternyata cuman menanyakan nama, tanggal lahir, nomor hp dan tempat tinggal. yang terakhir kelihatannya cuma keisengan mbak petugas. habis itu, antri lagi untuk proses selanjutnya. pengambilan foto dilakukan pukul 11:15 beserta pengambilan sidik 10 jari secara elektronik. cap jempol secara manual menggunakan tinta hitam juga dilakukan untuk menandari berkas.

selesai? belum. menurut petugas terkahir, paspor baru bisa diambil seminggu lagi. damn!!! rasanya pengin tak untal wong kuwi. bos tak mau tau bagaimana caranya, minggu ini harus selesai. akhirnya petugas yang berinisial H membisiki saya untuk meminta sejumlah harga paspor itu dengan janji 2 hari lagi selesai. ternyata menjadi warga negara yang baik itu tidak mudah...

kesan yang saya tangkap, para pelayan publik itu sangat membutuhkan uang tambahan. seolah negara ini tak menggaji mereka dengan layak. gaji dari pajak yang dipungut paksa dari kerja kita...

28 komentar:

balibul mengatakan...

ehm :) coba besok saya buatkan sistem iformasi membuat paspor on line khusus bangsari

pitik mengatakan...

akhir-e nyogok mbak2 petugas-e?enak to yo...hayo 3gp ne di sharing..

aprikot mengatakan...

kok kethoke kowe gawe paspor ribet banget yo mas, aku biyen ga nganggo nyogok cuma sehari jadi dan ngga mahal pula, gek2 kowe ki salah mlebu departemen mas :D

mikow mengatakan...

Oh endonesiaku...

Pinkina mengatakan...

sing penting comment dhisik
mocone sesuk
/*ate nang kampus :D

jakober mengatakan...

suap, sogok, korupsi kan wis dadi budhaya, dadi ya engel ilange ya kang?

S a k t i mengatakan...

kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah... gitu kali yah?

omith mengatakan...

komen ne sakti bener2 mantebh..

"pegawai negri abies"

didut mengatakan...

idup di negri ini memang membutuhkan kesabaran :D *elus-elus dada*

kw mengatakan...

sudah budaya kali. sabar aja, kita memang lahir terlalu cepat mas. perlu satu generasi lagi untuk semuanya full sesuai harapan warga negara yang baik :)

nothing mengatakan...

ayo menjadi warga yang baik, dengan sama-sama membangun negeri ini agar lebih baik. Masalah pelayanan publik yang buruk, ayo kita laporkan ke Komisi Ombudsman Nasional.
Karena sesuai Keputusan Presiden No 44/2000 tanggal 10 Maret 2000, Komisi Ombudsman Nasional (KON) menjalankan perannya menerima pengaduan dari masyarakat.
Lebih jelasnya ke sini aja http://www.ombudsman.go.id/index.php
atau e-mail : ombudsman@ombudsman.go.id

Cahaya mengatakan...

Jangan lupa catet nama pegawenya mas, biar gak dibilang mengada-ada.

Hedi mengatakan...

lha tak tawari kartu nama orang nomer 3 imigrasi ga mau sih... :P

irwan mengatakan...

ada fulus urusan jadi mulussss...
yo messti..

Ndoro Seten mengatakan...

Anda salah karena anda benar.....dan tentu saja anda benar karena anda salah",begitu Ndoro kira-kira hukum di negara ini!

Maruria mengatakan...

Jenenge yo wong nggolek duwit mas..mas...sabar ae yo..orang sabar diasayang maruria. Haiyah...ga nyambung

Pinkina mengatakan...

ayok mas golek gedhang.
tak ewangi nguntal pegawene sing njaluk sogokan mau X-(

mei mengatakan...

swastanisasi???piye??

Anang mengatakan...

ngakak baca komennya pitik

Evan mengatakan...

Sampean mambu wedhus sih mas. mangkane dipingpong..hehehe.

neng mengatakan...

coba ngurusnya dari setahun yang lalu, kan jadi gak perlu nyogok toh ...:D
*kabur ah....*

Pacul Cicipilah mengatakan...

sing penting tetep semangat kang,
anane kaya kuwe primen maning lah.

iman brotoseno mengatakan...

betapa tidak menariknya negeri ini...

fahmi! mengatakan...

ah bagian ini menarik...

selesai? belum. menurut petugas terkahir, paspor baru bisa diambil seminggu lagi. damn!!! rasanya pengin tak untal wong kuwi. bos tak mau tau bagaimana caranya, minggu ini harus selesai. akhirnya petugas yang berinisial H membisiki saya untuk meminta sejumlah harga paspor itu dengan janji 2 hari lagi selesai.

belajar dari sepotong pengalaman, delay macem gini bia dipotong dg dialog pendek. iseng2 aja tanya nama petugas tadi, tanya posisi/jabatan dia disana. tanya kenapa harus nunggu seminggu, dsb. nanti kalo si 'petugas' itu udah mulai ngerasa berhadapan dg 'wartawan' baru biasanya dia respon dg mempercepat proses.

kalo trik pertama nggak sukses, baru deh beli tips dari petugas H itu.

otakiphan mengatakan...

mbaknya itu juga nggak punya paspor. jadi mau dibikinin sekalian...

em mengatakan...

jangan ikut2 an orang nyogok mas, karena orang yang nyogok itu sama2 nggak tahu malu seperti orang yang disogok, orang yg waras akalnya nggak akan ikut2 an menyuburkan budaya nyogok di negeri ini, kalau nggak kita sendiri yg mulai, lalu sapa lagi?

koeaing! mengatakan...

watricht ! Iang mahoe pigih ka Toemasek poen ! Ingat boeng, di itoe Toemasek tijada iang tjantiek sama soekalih....
koeaing!

nino mengatakan...

3gp opo toh? mau dong ;)