30 November 2007

Tutup

Sesuai pengumuman semula, hari ini tanggal 30 november 2007 pengumpulan dana kambing untuk anak-anak sekolah di bangsari ditutup. Dana brutto yang terkumpul sejauh ini sebesar Rp 21.450.000,- plus 15 ekor kambing yang dikirim secara langsung oleh seseorang ke bangsari. Setelah dikurangi dana kampanye berupa kaos dan sticker, netnya sebesar Rp 19.050.00,-.


Info sekilas dari bapak yang saya dengar via telepon, uang tersebut sudah dibelanjakan untuk membeli 28 ekor kambing dengan berbagai ukuran. Ditambah dengan 15 kambing sumbangan lain, total terdapat 43 kambing untuk mereka.

Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas segala apresiasi dan sumbangannya baik langsung maupun tidak.

Nah, selanjutnya kami mengajak saudara-saudara yang punya waktu dan kesempatan untuk meninjau para siswa tersebut saat akhir tahun ini. Anggap saja ini Tour de Bangsari. Siapa berminat, silahkan daftar. Gratis...

Pengumuman lain ada di balibul.

28 November 2007

mau cepat, menyogoklah

dalam sebuah dialog di televisi beberapa tahun yang lalu, salah satu narasumber mengatakan: bahwa semua korupsi itu harus diberantas, mayoritas sepakat. semua? iya, tapi sesuai kultur orang endonesa, tentu saja harus disertai dengan catatan atau pengecualian. yaitu selama tidak menyangkut: saya, keluarga saya, atau teman saya. dus, jadilah endonesa seperti yang kita semua sudah pahami bersama.

sekarang beralih ke pembuatan paspor. menurut aturan yang dipampang dekat pintu imigrasi jakarta barat, pembuatan paspor memerlukan waktu 5 hari kerja.


hari pertama

hari pertama adalah memasukkan berkas. prosesnya: membeli formulir, mengisinya, dan menyerahkan kembali formulir beserta dokumen pendukung. meski loket sudah dibuka jam dari jam 08:00, petugas penjaga mengatakan layanan baru dimulai pukul 10:00. tentang orang-orang yang hilir mudik membawa berkas dan berbincang akrab dengan petugas, saya menduga mereka adalah para pengguna jalur tol. beberapa diantaranya sepertinya orang dalam yang mencari sambilan. saya sendiri mengikuti jalur normal.

formulir sebagai sarat awal harus dibeli di loket khusus yang katanya dikoordinir oleh koperasi. okelah harganya "cuma" enam ribu, meski isinya hanya map dengan selembar kertas berisi isian data dan selembar pernyataan belum pernah memiliki paspor sebelumnya. pernyataan ini harus tandatangani dengan dibubuhi materai. materainya juga harus dibeli di tempat yang sama. harganya tujuh ribu rupiah.

dalam catatan saya, banyak kantor pemerintah yang melayani publik, menerapkan metode yang sama. menjual formulir beserta kelengkapannya dilengkapi layanan fotokopi yang harganya di atas harga umum. dengan nasabah yang jumlah mungkin mencapai ribuan dalam sebulan, silahkan perkirakan sendiri berapa keuntungannya. embel-embelnya (selalu begitu), untuk kepentingan koperasi. gagah sekali kedengarannya. siapa yang diuntungkan koperasi abal-abal tersebut? (hahaha... bodoh sekali pertanyaan ini.)

masih pada hari yang sama, proses selanjutnya hanya "tinggal" menunggu tanda terima permohonan pembuatan paspor. dari awal hingga tanda terima, diperlukan waktu kira-kira 2 jam. yah, kira kira pas jam makan siang proses hari pertama selelsai. selanjutnya, datanglah 2 hari kemudian.

hari ketiga

berbekal pengalaman hari pertama, saya mencoba datang lebih pagi. pukul 08:30 saya sudah di depan loket. meski mendesak untuk segera dilayani, jawaban petugas tetap sama: layanan baru dilakukan pukul 10:00. busyet. ya sudahlah, saya bisa sarapan dulu di koperasi depan sambil menyelesaikan kitab suci pinjaman resi burung.

pukul 10:00 tepat saya dipanggil dan segera menuju loket kasir. 270 ribu rupiah tercatat angka yang harus saya bayar dalam kwitansi beserta nomor antrian untuk wawancara. kemudian menunggu lagi. saat giliran wawancara tiba, waktu menunjukkan 10:25.

tadinya saya pikir wawancara itu semacam litsus. jebul ternyata cuman menanyakan nama, tanggal lahir, nomor hp dan tempat tinggal. yang terakhir kelihatannya cuma keisengan mbak petugas. habis itu, antri lagi untuk proses selanjutnya. pengambilan foto dilakukan pukul 11:15 beserta pengambilan sidik 10 jari secara elektronik. cap jempol secara manual menggunakan tinta hitam juga dilakukan untuk menandari berkas.

selesai? belum. menurut petugas terkahir, paspor baru bisa diambil seminggu lagi. damn!!! rasanya pengin tak untal wong kuwi. bos tak mau tau bagaimana caranya, minggu ini harus selesai. akhirnya petugas yang berinisial H membisiki saya untuk meminta sejumlah harga paspor itu dengan janji 2 hari lagi selesai. ternyata menjadi warga negara yang baik itu tidak mudah...

kesan yang saya tangkap, para pelayan publik itu sangat membutuhkan uang tambahan. seolah negara ini tak menggaji mereka dengan layak. gaji dari pajak yang dipungut paksa dari kerja kita...

26 November 2007

Hak warga atas negara

Bukankah paspor itu adalah bukti sekaligus hak warga atas negara? Jika demikian, mengapa diperlukan biaya sebesar sekali UMR dan waktu selama seminggu?

Negara ini memang aneh...

21 November 2007

Tumasik

Tumasik (atau Temasek) adalah nama kuno dari negeri kecil tetangga kita di sebelah barat. Konon, negeri mini ini sangat bersih, tertib, indah dan menyenangkan. Katanya pula, harga barang bermereknya di sana juga lebih murah. Makanya tak mengherankan jika kemudian orang-orang kaya jakarta yang kebingungan bagaimana caranya mbuang duit, mainnya kesana. Weekend Party at Temasek! Begitu bunyi iklan yang sering saya jumpai di koran-koran akhir minggu. Tumasik menjadi begitu gampang dijangkau, seolah tempat itu cuman berada di sebelah bunderan HI yang bisa disambangi tiap akhir pekan.

Belakangan, Temasek yang kepunyaan negeri mini itu sedang ramai dibicarakan media kita. Huh, basi! Mana pernah kita menang melawan mereka? Mulai dari persoalan tkw, perjanjian arbitrase, hingga masalah asap. Kita selalu saja jadi cecunguk dihadapan mereka.

Duor! Tiba-tiba, kok saya ingin kesana. Mau ngapain? Ah, itu nanti saja saya pikirkan...

20 November 2007

Pete

Awan-awan madang karo tege, pete, sambele pedes. Jan nylekamin banget luh....

Tak pernah saya jumpai bos-bos atau noni-noni berpenampilan nan aduhai plus harum mewangi tapi nafasnya berbau pete. Untungnya saya cuma tukang wedang. Siapa peduli?

Foto diambil dari sini tanpa ijin

16 November 2007

Kutukan untuk Amerika dan Israel





Sederet kalimat bertuliskan "Fuck USA & EZRAEL! [Can Dajjal Come Out An Play?!]" muncul di title bar (semoga bener tulisannya) yahoo pagi ini. Ternyata tulisan yang sama muncul juga di MSN, Blogger dan entah dimana lagi...
Mungkin saya yang telat tahu...

14 November 2007

Pesepeda Onthel Tewas Ditabrak Pengendara Mobil

Sangat Endonesa, kata Paman yang katanya sedang jadi raja minyak itu.

Pagi-pagi kawan penggemar sepeda tua yang salah satu miliknya saya pinjam, mengabari tentang sebuah kecelakaan yang menimpa seorang pengendara sepeda onthel di sini. Mengenaskan!

Setahu saya, sejak bertahun yang lalu, teman-teman penggemar sepeda yang tergabung dalam berbagai komunitas di berbagai kota selalu memimpikan tersedianya satu jalur khusus untuk pesepeda. Mantan walikota dari Kolombia yang sudah berhasil merevolusi sistem transportasi kotanya hingga menjadi surga bagi pesepeda, pernah diundang ke Jakarta. Mungkin maksudnya biar bisa dimintai saran dan konsultasinya. Saranya cukup radikal, berikan 75 persen dari jalan yang ada untuk pejalan kaki dan pesepeda dan sisanya yang 25 persen baru untuk jalur mobil pribadi. Dan seperti yang sudah-sudah pula, ide dan keinginan itu hilang seperti angin.

Negeri dimana semua anggota kabinetnya adalah pedagang, sepeda bukanlah produk yang cukup adollable (adol=jual, bahasa jawa, gampang dijual dan mendatangkan banyak keuntungan). Bandingkan dengan mobil. Satu buah mobil bisa bernilai sekian banyak sepeda. Keuntungan yang diraih pun jauh lebih besar dan lebih gampang merayu calon pembelinya. Mana bisa dibilang gengsi kalo kendaraannya cuma sepeda. Maka tak heran jika kemudian mobil pribadi lah yang memenuhi jalanan ibu kota.

Negeri ini memang ajaib!

13 November 2007

Kiriman 15 kambing

Senin, 12 November 2007 pukul 18:15, datang kiriman kambing ke bangsari dari seseorang yang tetap misterius hingga kini. Info via telepon menyebutkan, kiriman itu terdiri dari 15 ekor kambing jenis etawa: 1 Indukan dewasa, 12 cempe besar dan 2 jantan dewasa.

Segera setelah sampai, kambing-kambing itu langsung dibagikan kepada para siswa yang telah terdata sebelumnya.

08 November 2007

Rusaknya mesin pembikin wedang

Menjelang puasa kemarin mesin pembikin wedang yang biasa saya gunakan rusak. Sebagai operator, tentu saja gondok setengah mati. Lha gimana tidak, itu artinya kerja tambahan tanpa perikemanusiaan. Dengan ancaman tak dapat berlebaran di kampung tidak pula THR, saya dan para tukang wedang yang lain harus bekerja keras memperbaiki mesin. Tak ada pilihan.

Contoh kerusakannya gini. Saat saya tekan tombol mesin untuk pesanan es teh manis dengan gula merah sedikit plus jeruk nipis untuk 100 orang, meski yang tertampil sudah benar, namun yang muncul mungkin cuma 10 gelas yang sesuai pesanan. Sisanya, mungkin es jeruk, kopi pahit, teh tubruk atau bahkan cuma gelas kosongan. Bisa dibayangkan jika pemesannya mencapai 4000 orang atau lebih dengan berbagai macam wedang. Terjadi juga data pemesan, nomor meja dan pesanannya tiba-tiba hilang tanpa bekas. Sungguh ngeselin!

Sekarang, tugas saya adalah ikut menentukan desain mesin yang sedang dipesan, sementara pekerjaa rutin harus tetap berjalan. Mempersiapkan pesanan wedang dalam jumlah tak kalah banyak untuk perhelatan bulan depan, saya (dan yang lain tentu saja) juga masih harus membuat wedang-wedang yang harusnya sudah diminum para tamu pada perhelatan kali ini. Tamu sudah berderet didepan pintu dengan berbagai ekspresi, sementara airnya belum matang dan kopinya baru akan dibeli. Sebagian memaklumi, sebagian besar memaki.

Kabar bocoran dari si pembuat mesin, mesin tercanggih sebagai ganti mesin yang sekarang baru akan siap pertengahan tahun depan. Mesin yang sekarang? Ya dibiarin mangkrak begitu saja. Dipajang supaya orang tahu, kami punya mesin yang hebat meski tak bisa jalan. Padahal isunya, harganya ngujubilah setan. Andai semua gaji saya dikumpulin, sampai mati pun tak akan cukup untuk membelinya. Byuh....

Jadi pingin belajar sama mantan direktur penitipan sepeda yang kini jadi direktur air asin disamping pabrik

05 November 2007

Pengumpulan dana Bloggers for Bangsari akan ditutup

Seperti yang sudah ditulis Sam Hedi, donasi kambing untuk anak-anak bangsari akan dihentikan. Demikian keputusan kumpul-kumpul malam minggu, tanggal 03 Nopember 2007 kemarin, di rumah Sir Mbilung Mc Ndobos. Rencananya akhir bulan ini, tgl 30 November 2007. Dana yang terkumpul sejauh ini 7, 5 juta dari seri pertama (sebelum lebaran) dan 13 juta pada seri kedua yang dimulai saat muktamar plus pesta blogger hingga sekarang. Belum termasuk (insyaallah), minimal 10 kambing yang akan disumbang malaikat misterius dari antah berantah yang baik hati. Terima-kasih semuanya....

Rapat itu sendiri dihadiri: Kang Presiden HI dan istri, Sam Hedi, Hadik, Iqbal, Mikow, Mita, Yudhi (yang sampai HPnya digondhol wewe) dan saya. Dari tuan rumah: Sir Mbilung himself, Ghilman, Adry dan Bude Jeni, plus makaroni bakar dan spagheti. Nyam, nyam. Benar-benar yummy...

Setelah dihentikan apakah sudah selesai?

Belum saudara. Setelah ini tugas kita adalah memantau perkembangan mereka ke depan. Perkembangan mereka insyaallah akan terus di-update ke para donatur dan khalayak. Yang pasti, kabar berkala akan ada di sini dan jika memungkinkan juga melalui email atau telpon atau surat. Dan itu bukan pekerjaan yang sedikit.

Kenapa akhir bulan dan ndak sekalian per hari ini?

Mmmm... Untuk memberi waktu kepada mereka yang kemarin sudah berjanji ikut menyumbang tapi mengunggu gajian. Alasan ndak mutu lainnya, biar kami bisa gojeg kere lagi. :D


Lha kok dihentikan, bukannya program ini baik?

Seperti kata Ndoro Seten, "...begitu memang semestinya…segala hal harus ada batasnya yang jelas, sehingga masih dapat tertangani dengan baik.". Ya, betul sekali Ndoro. Karena ternyata ngurusi duit dan orang banyak itu tidak mudah, apalagi kalo cuma berbekal semangat dan okol (otot). Setelah mendapat respon yang terus terang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, kami baru menyadari hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Tentang bagaimana cashflow-nya nanti, siapa saja yang berhak mendapat pinjaman, bagaimana penentuannya, bagaimana menyiapkan laporan yang transparan, bagaimana planning ke depan, para penyumbang yang tak mau disebut namanya, dan sebagainya.

Intinya, kami harus memperbaiki kedalam dulu, mencoba menyalurkan dana yang sudah terkumpul sebaik mungkin. Perkara apakah suatu saat akan ada penggalangan dana lagi, biarlah waktu yang menentukan (hayyah...). Akan lebih membahagiakan jika apa yang telah kami lakukan bisa menginspirasi blogger lain (non blogger juga tidak masalah) untuk membuat program serupa. Untuk itu, kami para gerombolan HI dengan senang hati akan berbagi. Sebelum Bloggers For Bangsari diluncurkan, Bude Venus pernah punya ide memberi dukungan untuk pendidikan anak-anak nelayan di pantai utara jawa. Ayo Bune, kami sudah siap membantumu...

Lalu bagaimana itu tentang cashflow dll yang sudah disinggung di depan?

Sementara, biar itu menjadi pekerjaan bagi Komite Sekolah beserta dewan guru disana. Karena mereka yang berhadapan langsung dengan para murid itu. Informasi sementara, sudah ada 25 murid yang sudah siap memelihara kambing. Dana yang terkumpul belum cukup memang.

Selanjutnya?

Mungkin kita perlu menjenguk mereka suatu saat. Semacam inspeksi mendadak begitu lah. Melihat langsung bagaimana kehidupan mereka. Merasakan naik kereta api ekonomi semalaman yang akan membuat kakimu bengkak karena tidak kebagian tempat duduk, menghirup hawa panas Bangsari, mencicipi mendoan seharga 500 rupiah namun seukuran setengah kertas kwarto, makan kelapa muda hingga kembung, atau ikut mencarikan rumput buat si kambing sehingga kulitmu menghitam dalam sekejap. Sama sekali ndak indah, sampeyan boleh mencobanya.

Usul yang muncul di forum kemarin, akhir tahun kelihatannya saat yang tepat. Namanya? Hm... Tour de Bangsari terdengar lumayan...

Siapa mau ikut?

Catatan Mas Hedi: Sekali lagi, Bloggers for Bangsari adalah pembabat alas. Pembuka jalan. Kami siap membantu dan menjelaskan mekanisme program ini untuk dilakukan blogger manapun di tempat lain.

———————————————-

http://bloggersforbangsari.blogspot.com/

Bahtiar: 081328484289 (bahtiar@gmail.com)
Ipul: 081578820013, 02199183863 (much.syaefulloh@gmail.com)
Pitik: 08157123875 (hadik1@gmail.com)
Sir Mbilung: 08121823242
Mitha: 0818794474 (mita_ald@yahoo.com)
Iqbal: 02199562833, 081574852877 (i.prakasa@gmail.com)
Pito: 0818691666, 08882799894 (pitopoenya@yahoo.com)
Hedi: 081311401084 (hedinov@gmail.com)

02 November 2007

Penerima Kambing: Terimakasihku pada Blogger

ditulis oleh fanabis, diambil dari sini


Sore itu di tengah ngobrol dan ngopi bareng teman-teman sepabrik ipul menelepon. Menyampaikan kabar, seseorang akan menemuiku. Siapakah dia? Ternyata malaikat yang akan menyambungkan niat seseorang yang akan menyumbang sepuluh kambing langsung ke bangsari.

perempuan beranting panjang itu meminta tolong aku, untuk mengantarkannya menemui pak mahmudin. Pak mahmudin ini adalah ayah dari rubangi, salah satu anak penerima kambing pada project bloggers for bangsari ini.

Karena beliau mbaknya tak mau jadi seleb, ia tak mau disebut namanya. Bahkan untuk diketahui ia bekerja dimana pun, ia menolak. Nomor telepon kantor pun di setting private. Tak ingin menyalahgunakan fasilitas yang diberikan negara, katanya.

Dan kami pun, berhasil menemui pak mahmudin di jalan warung buncit raya. Di pintu masuk yang terbuat dari pagar seng. Pak mahmudin bertukang pada pembuatan gedung berlantai lima itu.


Dari roman mukanya dia cukup canggung menemui kami. Sore sehabis hujan itu ia memakai jaket kotak-kotak warna hijau yang memudar dan celana panjang coklat. Tampak pakaian itu kebesaran membungkus tubuhnya yang mungil. Ia baru saja mandi, tampak ujung rambut depannya yang masih basah.

Aku dan pak mahmudin lalu digiring mbaknya ke sebuah warung. Sambil menunggu ipul yang terjebak di busway. Di sodori buku menu, pak mahmudin, satu satunya pekerja di gedung yang berasal dari bangsari ini menolak. Entah karena canggug, malu-malu atau seperti alasannya, dia baru saja makan malam.

Sehari ia makan dua kali. Dengan kompor ia memasak menunya sendiri. Seminggu menghabiskan beras maksimal 5 liter. Beserta belanja lauk ia harus mengeluarkan lima puluh ribu rupiah.

Baru seminggu ia di jakarta, meninggalkan isteri dan kelima anaknya di bangsari. Dan rubangi, penerima bantuan bantuan kambing adalah anaknya nomor dua. Ragilnya sekarang baru kelas satu sekolah dasar.

Sebagai pekerja bangunan tak hanya kali ini. Ia pernah merantau ke makssar membangun pabrik semen selama sembilan bulan. "ya kemana saja mas, terserah nasib membawa", katanya.

Tanganya membuka-buka buku menu lalu memesan susu coklat panas. Ke jakarta terpaksa ia lakukan karena di kampung ia tak punya sawah sendiri. Ia hanya maro (bagi hasil) dari sawah salah satu pak haji.

Sawah tadah hujan itu hanya bisa di tanami dua kali. Rendengan dan sadon. Musim tanam sadon, periode kedua ini kemungkinan panen hanya sekitar 50 persen karena tak adanya hujan. Sehingga kadang pak mahmudin memilih menanaminya dengan palawija dan sayur-sayuran.

"Pak bagaimana rasanya mendapatkan bantuan kambing? Tanya ipul

"Tentu saja senang, jawabnya sambil tersenyum. Sebelumnya ia juga memelihara kambing, namun terpaksa di jualnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dia juga mengucapkan terimaksih banyak kepada ipul ( maksudnya juga kepada para donatur) karena ia telah merasa di tuntun, sehingga anaknya tetap bisa melanjutkan sekolah.

Tak terjebak seperti anak-anak lain yang malas sekolah. Kebanyakan mereka beranggapan, sekolah itu lama menghasilkan duitnya. Lebih baik langsung bekerja membantu orang tua. Apalagi anak perempuan, otomatis diplot sebagai tenaga kerja wanita di negeri kurma.

Sebulan lagi ia akan pulang. Menjenguk keluarga yang menunggunya. Dengan uang yang berhasil di kumpulkan pak mahmudin yang asli kebumen itu memilih naik kereta ekonomi dari stasiun senen yang harga tiketnya sekali jalan 27.500 rupiah.

Selama sebulan lebih itu ia sukses mengumpulkan uang sekitar 600-700 ribu. Sebenarnya ia adalah tukang, namun hanya dibayar sebagai "kenek". Ia tak protes, meskipun tenaganya dihargai sehari 30 ribu rupiah.

Ia paham, sebenarnya upah harian yang ia terima jauh lebih besar. Namun telah di potong untuk mandor dan pegawai atasan lainnya.

Dari penghasilannya itu, andai bersisa ia simpan. Bukan ke bank namun ke rumah pak kyai yang mengelola pesantren. Sengaja ia tak menyimpan ke bank, karena ia ingin uang itu bisa dipakai untuk menabah modal dagang para santri.

Sekarang bangunan yang ia kerjakan sudah berdiri. Sudah sampai tahap plester dan finishing. Menurutnya masih sekitar lima sampai enam bulan untuk menyelesaikan gedung yang kata dia milik orang arab.

Ia bisa tidur di dalamnya. Di lantai dua, pak mahmudin membuat ranjang berukuran "single" yang berasal dari kayu bekas. Tampak pada keempat kaki ranjang itu menjulang setinggi badan pemain basket profesional.

Rupanya ranjang itu didesain multi fungsi. Diantara tiang-tiangnya, dipasang tali yang difungsikan sebagai jemuran dan tempat menaruh baju dan sarung. Di sebelahnya terdapat meja-mejaan tempat menaruh piring.

Pak mahmudin rupanya cukup kreatif, memanfaatkan botol aqua berukuran tanggung yang di potong sebagian sisi atasnya untuk menyimpan sendok. Lalu benda itu digantungkan pada paku di salah satu kaki ranjang.

Andai dipasang kelambu, ranjang itu akan mirip ranjang raja-raja jawa jaman dulu. :)