01 Agustus 2007

Gosip tukang wedang dan sopir pabrik

Supir pabrik, setelah mengantarkan saya ke pabrik cabang, saya tanya sarapan apa tadi pagi. Lha jebulnya, dia belum makan apa-apa. Klop. Saya juga belum. Saya tawarkan makan rawon gratis di belakang pabrik cabang. Bukan karena saya lebih bergaji dibanding dia. Bukan. Lebih tepatnya karena saya pengin mengupdate gosip-gosip terbaru seputaran pabrik. Jika ada tentunya. Jika tidak, ya itung itung balas budi sudah mengantarkan saya. Lagi pula kebetulan saya baru saja gajian. Sekali-kali bikin senang teman senasib tak ada ruginya. Dia senang, saya kenyang.

Rawon di situ memang sedap. Empalnya lembut. Kuahnya kental. Telur asinnya masir (bahasa indonesia apa ya?). Nambah kuah dan nasi pun boleh. Tak heran warung itu selalu rame meski jam pabrik sedang berlangsung. Apalagi ditambahi gosip. Makin sip.

Buat tukang wedang dan supir, gosip jelas penting. Membuat kami terhibur. Jika yang digosipkan para atasan, kami jadi menyadari atasan-atasan kami toh manusia biasa juga. Tak jauh beda dengan kami. Mereka juga punya kelemahan yang manusiawi seperti kami memilikinya. Bedanya, mereka bisa memarahi atau bahkan ekstrimnya memecat kami sewaktu-waktu, kami tidak. Paling tidak, kami bisa membalas mereka dalam perbincangan. Mengolok-olok, memaki mereka. Jika kesabaran kami sudah habis dan kami begitu kesal, kami membunuhnya. Tapi ya itu. Omong doang.

Namanya juga gosip, asyik digunjingkan tapi tak bisa dipercaya. Celakanya, teman saya yang supir ini terkadang gampang sekali percaya. Terutama tayangan yang dikemas sebagai infotainment. Mengenai artis A yang sedang selingkuh, artis B yang katanya penipu, artis C yang katanya anu anu dan anu. Begitulah. Orang kurang kerjaan seperti kami memang perlu bergosip. Untuk menjadikan kami lebih berharga. Ketika mendapati banyak orang lain yang kelihatannya hebat, glamor, terkenal dll ternyata punya kejelekan, membuat kami merasa lebih nyaman dengan keadaan kami. Oh, ternyata kami lebih baik dari mereka. Perkara rejeki kami tetap cekak, itu urusan belakangan. Pos Kota Syndrome!

Pos Kota Syndrome saya dengar pertama kali dari Eep Saefullah, orang pintar dari UI itu. Teori ini menjelaskan mengapa tiras Pos Kota sangat tinggi. Konon setara dengan Kompas (entah setelah munculnya koran-koran serupa). Nalarnya begini. Karena harian ini menyajikan hal-hal yang sangat khas kelas bawah, penderitaan. Pembacanya adalah mereka yang sehari-harinya menderita, tertekan dan stres menghadapi beban hidup di ibu kota. Mereka yang secara ekonomi terpinggirkan. Dengan membaca Pos Kota, mereka "merasa lebih baik". Bahwa mereka bukan satu-satunya yang menderita. Merasa lebih baik jelas sangat penting buat siapa pun. Supaya hidup ini menjadi lebih bermakna. Konon.

Sampeyan gimana?

22 komentar:

Hedi mengatakan...

Ah aku ga moco pos kota yo wis duwe rasa bersyukur bahwa masih ada yang kurang beruntung dari kita.

Eh Pul, warung rawone ndek endhi iku?

evi mengatakan...

dulu aku tiap hari baca pos kota, waktu koran yg berjejer2 itu letaknya didepan saya, lah sekarang jauh je...

idem mas hedi, itu warung rawon dimana...? dekat sini ga...?

pitik mengatakan...

lha kowe kencan karo sopirmu?weladalah...tobat kang..tobat..

iway mengatakan...

ya ya ya, dimana warung itu?? kok sajaknya (halah) menjanjikan, yang di adup bukan??

kw mengatakan...

dulu sih sering baca. sekarang sudah ngga lagi. baik dari koran, tipi, online.

malas mas.....

sudah saatnya aku sekarang yang bikin berita. ha ha ha

pissss

kw mengatakan...

eh ralat:
sudah saatnya aku sekarang aku yang diberitakan. :)

http://bahtiar.web.id mengatakan...

jakartaaa ... jakarta ... :(

langit mengatakan...

@mas Bahtiar : pindah semarang aja mas :D

Pinkina mengatakan...

cek sempat2e nggosip :p
kerjo mas kerjooooo

mei mengatakan...

lha jebule seng d gosipke opo??khok ora d posting pisan??

bebek mengatakan...

endi gosip'e kang? ndak jelas kiy... ck ck... kakeyan turu pabrik kiy yo ngene iki efek'e :p

tito mengatakan...

request posting resep rawon :D

omith mengatakan...

[kw]:
sudah saatnya aku sekarang aku yang diberitakan. :)

"wah.. kw pengen di bikinin GOSIP
hhahahahh.."

nukman mengatakan...

Yang saya denger, Poskota bisa laku 800 ribu sehari sementara Kompas paling banter 600-700 ribu sehari.

venus mengatakan...

opo ngumpul neng kono wae, pul? jarene pengen ketemuan maneh? kowe EO-ne piye?

unai mengatakan...

rawon ohhh aku suka...slurp yummy

za mengatakan...

aku mao rawooon di jakarta ini....opo seenak rawon kampung?

de mengatakan...

mrene ae mas, mangan rawon setan:

kenny mengatakan...

lho..inti berita gosipe endi???!! ngrasani wong kog nanggung ngunu :D
waduh..rawone bikin ngiler

Bekas serdadu Heiho mengatakan...

poskota? cuma baca nah ini dia :D

blanthik_ayu mengatakan...

kapan aku dijak mangan rawon pul? hehehehe

imyyuut mengatakan...

rawon setan..?? duh.. mbayare nganggo menyan..?? :-?