21 Juni 2007

Rasisme Bahasa Jawa

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa yang mengagungkan tingkatan (sepetahuan saya, bahasa Sunda juga demikian, tapi tidak serumit bahasa Jawa). Secara garis besar, bahasa Jawa dibagi dalam tiga tingkatan besar:
  1. Ngoko (tingkatan terendah)
  2. Madya (tingkat menengah); dan
  3. Kromo (tingkat tertinggi).
Itu pun masih bisa dibali lagi dalam dalam sub tingkatan:
  1. Andhap (rendah/kasar); dan
  2. Inggil (tinggi/halus).
Tingkatan dan sub tingkatan tersebut menghasilkan kombinasi yang tidak sederhana, njelimet dan sulit dipahami. Bahkan oleh orang jawa sekali pun.

Ngoko (kasar dan halus) biasanya dianggap sebagai bahasanya masyarakat umum, rendahan, kuli, petani, atau paling banter antar teman karib (itu pun dianggap tidak pantas digunakan oleh kaum ningrat). Kromo digunakan oleh kalangan yang dianggap memiliki kasta tinggi, terdidik, pintar dan waskito. Macam keturunan ningrat, pamong de es be. Madya? Ya, di antara keduanya. Penggunaan sub kategori kasar dan halus pada masing-masing tingkatan memerlukan keahlian yang tidak sederhana.

Bahasa macam mana yang kita gunakan dalam menghadapi seseorang, menunjukkan siapa diri kita. Golongan rendah, atau anak-anak muda harus menggunakan tingkatan bahasa yang lebih tinggi kepada mereka yang lebih tua atau lebih tinggi derajatnya. Semakin tinggi orang yang kita hadapi, semakin tinggi pula bahasa yang kita gunakan. Menghadapi golongan tertinggi, si pengucap harus menggunakan bahasa level tertinggi pula, kromo inggil. Saya tak tahu, apakah ada yang lebih tinggi dari itu. Sebaliknya, semakin tinggi derajat pengucap, dia boleh menggunakan bahasa dengan tingkatan yang lebih rendah kepada lawan bicara yang lebih rendah. Seorang yang berkedudukan tinggi, raja misalnya, boleh-boleh saja menggunakan level bahasa mana saja yang dia mau. Terus terang, pada tingkat aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak menguasai. Saya termasuk golongan pengguna boso Ngoko.

Orang jawa yang lihai berbahasa Jawa, terutama dalam tingkatan Kromo, dianggap sebagai manusia berbudaya dan berbudi luhur. Manusia yang tahu roso (halus perasaannya, hal yang sangat penting dalam budaya Jawa), dan bertata-krama. Mereka disebut "Wong Jawa sing njawani", orang Jawa yang hidup secara jawa. Dan itu sebuah kebanggaan tersendiri.

Lantas, apa hubungannya dengan rasisme? Ya itu tadi. Penggunaan dan penguasaan bahasa Jawa menentukan tingkat seseorang. Semakin rendah bahasa yang dikuasai, semakin rendah derajat seseorang. Itulah mengapa, orang-orang tua sering menganggap orang luar Jawa sebagai "kurang tata kramanya". Lebih celaka lagi, orang yang terlahir sebagai Jawa tetapi kurang mengerti bahasa Jawa. "Wong Jawa sing ilang jawane", orang Jawa yang tidak memegang tradisi, begitu mereka disebut. Biasanya, orang Jogja-Solo menganggap dirinya sebagai penutur Jawa kelas satu. Di luar itu, dianggap sebagai penutur kelas dua, tapi masih dengan senyum memaklumi.

Nah, sekarang kita menginjak kelas ketiga. Kelas yang sepertinya selalu jadi bahan olok-olokan. Dialek Banyumasan (dan juga Tegal)!

Bahasa Banyumasan (digunakan masyarakat Banyumas, Cilacap, sebagian Kebumen, Purbalingga, Pekalongan dan sekitarnya) sering dianggap sebagai kelas pinggiran karena pengucapan yang berbeda jauh dari kaidah baku bahasa Jawa. Pelafalannya yang jelas, tegas dan hampir tidak mengenal huruf "O" sebagaimana umumnya pelafalan Jawa, membuat orang Banyumas sangat mudah dikenali, bahkan oleh orang yang tidak paham bahasa jawa. Banyumasan tidak mengenal kelas. Semua penuturnya adalah setara. Tapi justru disitulah cacatnya. "Tidak paham Jawa!", begitu kata sebagian orang. Meski Prof. Damardjati Supadjar pernah berujar: "Bahasa Banyumasan adalah bahasa yang paling jujur dan egaliter dalam khasanah bahasa Jawa", toh beliau tidak mewakili golongan mayoritas.

Cobalah perhatikan. Saat seorang penutur Banyumasan berkenalan dengan penutur Jawa kelas satu, kata pertama yang biasanya hampir pasti terlontar dengan ekspresi menahan tawa adalah: "Oh, ngapak-ngapak?" atau "kowek-kowek ya?". Sebuah introduksi yang jelas menunjukkan ketidak-setaraan. Sekali dua kali, bisa kita anggap biasa saja. Tapi jika hal yang sama anda alami beratus kali, susah untuk tidak merasa rasis dan sakit hati. Setidaknya, begitulah yang selalu saya alami selama bertahun-tahun. Dari ujung Jawa Timur hingga Jakarta sekalipun. Oke, mungkin tidak semuanya. Tapi seringnya perkenalan yang demikian, membuat saya berfikir: "Jangan-jangan mereka menganggap orang Banyumas sebagai masyarakat tidak berbudaya dan primitif? Golongan para badut?".

Saya jadi ingat, teman saya, sebut saja Sudar, yang asli Jogja pernah berkata dengan sinis tentang cewek ayu, cantik dan semlohay yang ditaksirnya tapi kemudian baru dia ketahui sebagai orang asli Banyumas: "Wong ayu kok ngomonge blekuthuk-blekuthuk. Ra sudi aku!".

Nah, lo!

Diinspirasi dari tulisan Gita tentang Omith pada kumpul-kumpul di HI jumat kemarin.
Gambar diambil dari [sini].

18 Juni 2007

Sapa mau?

Sebuah sms masuk ke hp jadul saya:
Gue kepingin ngisep. Nama edi, kelamin laki2, umur 50 thn. Apa ada yg mau?
Pengirim: +6281319630121
Dikirim:
13:19:40
18-06-2007
Ayo, siapa berminat?

06 Juni 2007

Tukang wedang numpak pesawat

Akhirnya, kejadian juga saya numpak pesawat. Mohon dipersori kalo laporan ini terlambat. Soale badan saya masih kaku-kaku sehabis keenakan ngga ada kerja di sana. He..he.. Wis, pokoke berikut ini laporannya.

Malamnya, rapat berakhir pukul 01:00.

Pesawat take off pukul 09:40. Bos besar dan bos kecil memerintahkan saya untuk siap di depan penginapan (di jalan Thamrin) pukul 07:30 dengan peralatan bikin wedang selengkapnya. Dengan asumsi perjalanan ke bandara memakan waktu 1 jam penuh, maka masih ada waktu sekitar 10-15 menit untuk bersantai. Tapi, itu baru rencana saudara-saudara.

Setelah menyiapkan peralatan bikin wedang untuk dibawa ke Bali, saya mapan tidur pukul 01:30.

06:00. Saya bangun, mandi dan siap-siap.

06:45. Makan pagi di kantin penginapan bareng sopir yang akan mengantar kami ke bandara.

07:15. Saya sudah siap di halaman penginapan.

Sampai dengan pukul 07:45 bos besar maupun kecil belum juga nongol. "Ah, biarlah. Mereka lebih berpengalaman dengan pesawat dari saya. Biar saya menunggu sampai mereka turun. Toh, sopir sudah siap juga", saya membatin. Sambil menunggu, saya masuk ke mobil. Duduk di samping sopir, lengkap dengan kacamata hitam yang belum lama saya beli di emperan. Biar nggaya sedikit. Mau plesir jauh je...

08:00. Dua bos belum juga muncul. Saya mulai gelisah. Pukul 08:10 belum juga ada tanda-tanda. Akhirnya saya telpon keduanya. Lha kok, jebule mereka baru bangun. Itu pun karena suara dering telpon. Aduh biyung...

08:20. Mereka datang dengan napas ngos-ngosan. "Gas pol ngga pake rem!", perintah bos besar. Sopir pun memacu kendaraan semampunya. Jadilah, perjalanan ke bandara menjadi ajang balapan tanpa hadiah.

Selama perjalanan, bos besar bolak-balik menelepon pihak Emprit Airline (maskapai yang hendak kami naiki) dan juga pihak bandara. Kelihatannya dia sedang melobi pihak maskapai agar pesawat bisa menunggu sedikit lebih lama. Entahlah. Saya tak terlalu mendengar karena suara mesin mobil yang menderu. Hanya sempat saya dengar dia menyebut Emprit Airline dan bandara.

09:10. Kami tiba di depan pintu pemberangkatan Emprit Airline. Bos berlari untuk menukarkan tiket online dengan tiket resmi, airport tax dan entah apalagi. Saya mengurusi pemeriksaan barang, pengikatannya dan bagasi. Semuanya dengan gerak serba cepat. Setelah itu, ada pemeriksaan barang lagi. Masih dengan berlari, kami menuju pintu F-3. Ternyata, di dalam masih ada pemeriksaan barang lagi. Aduh! Benar-benar tidak efisien pemeriksaan barang disini, gerutu saya adalam hati.

09:25. Dengan badan berkeringat dan napas terengah-engah, kami menjadi penumpang terakhir yang memasuki pesawat. Begitu masuk, pintu ditutup. Pfiuh, akhirnya... (Jam tangan bapak disamping kiri saya menunjukkan pukul 09:25.)

Saya bersyukur ternyata masih ada tempat duduk untuk kami bertiga meski terpencar-pencar. Coba kalo berdiri? Kayanya ngga asyik banget tuh. Masa naik pesawat untuk pertama kali harus berdiri? Wah, bisa diece-ece sama Endik dan kabinet HI lainnya.

Saya kebagian tempat duduk di tengah, diapit 2 bapak gemuk yang kelihatannya hendak liburan, di atas mesin, dekat sayap. Posisi ini membuat saya sedikit terhalang melihat pemandangan di luar.

09:35. Pesawat bergerak beberapa meter sebelum berhenti. Ndak ada kegiatan, saya baca Kompas pinjem dari bapak sebelah. Pramugari-pramugari (yang ternyata sudah tuwek-tuwek) mendemonstrasikan prosedur keselamatan. Mulai dari cara memakai sabuk pengaman, cara pemakaian oksigen bila terjadi penurunan tekanan udara secara tiba-tiba, hingga cara penggunaan jaket pelampung jika terjadi pendaratan darurat di air. Saya memperhatikan dengan seksama. Bapak di samping kiri saya tetap saja membaca koran, sementara bapak disamping kanan saya malah ngorok. Wis ben!

09:40. Pesawat bergerak dan berhenti lagi. Saya lihat ada pesawat Emprit lain di sebelah kiri yang sedang take off.

09:45. Pesawat bergerak lagi, tapi kali ini tidak berhenti lagi. Semakin cepat dan laju sampai akhirnya saya menyadari pesawat sudah meninggalkan landasan pacu.

Lho, kok cuman begini saja? Katanya, saat tinggal landas perut serasa disedot-sedot. Ada yang bilang seperti ditarik nyawanya. Lha, kok saya ndak merasa apa-apa? Malahan lebih dahsyat naik kereta ekonomi jurusan Bangsari. Apa karena pilotnya bagus? Pesawatnya baru? Atau karena sayanya yang terlalu senang sehingga ndak mengalami itu semua? Atau mungkin ini yang disebut kenyamanan terbang?, guman saya dalam hati. Wis mbuh lah, pokoknya saya sudah terbang. Segera terbayang wajah Mbah Marta yang selalu mengudang waktu saya kecil: "suk mben, tumpakanmu pesawat thole…". Ternyata kedaden Mbah!

10:15. Pramugari membagikan makanan terbungkung alumunium foil. Dengan antusias, segera saya segera membukanya. Lha kok jebule cuman mie? Mungkin maksudnya spagheti, tapi kok mienya agak keriting? Mau dibilang indomie kok ada cacahan dagingnya mirip mie ayam? Tapi mosok dalam pesawat ada mie ayam? Biar ndak ngisin-ngisini dan ketok nggaya, saya sebut spagheti saja. Tepatnya spagheti kreasi indonesia, kata Pakde Mbilung yang njanjeni saya dengan spagheti asli jika ke Bogor lagi. Di samping itu, ada juga buah dan minuman. Saya milih coca-cola pake es. Setelah makan selesai, pramugari menawari minum lagi. Kali ini saya milih minuman kotak bertuliskan sunkist. Ketoke mahal, enak dan top! Tapi apa lacur? Ra enak babar pisan kisanak! Andai di kereta ekonomi, pasti itu minuman sudah saya buang lewat jendela. Tapi di pesawat kan ngga boleh buka jendela ya? Kadung malu, minuman itu terpaksa saya habiskan.

10:50. Pesawat mulai terasa sedikit turun. Terdengar pengumuman dari kokpit: "Selamat siang para penumpang yang terhormat. Kita sekarang berada di ketinggian 3000 kaki. Sebentar lagi kita anak mendarat di bandara Ngurah Rai Bali. Cuaca bali saat ini...... waktu bali saat ini menunjukkan pukul 11.50, atau satu jam lebih cepat dari waktu Jakarta. Terimakasih Anda sudah memilih terbang bersama kami. Terimakasih."

11:05. Terdengar lagi pengumuman dari kokpit: "Selamat siang para penumpang yang terhormat. Saya adalah XXX asisten pilot. Sebentar lagi kita anak mendarat di bandara Ngurah Rai Bali. Cuaca Bali saat ini...... waktu bali saat ini menunjukkan pukul 11.50, atau satu jam lebih cepat dari waktu Jakarta. Kenakan kembali sabuk pengaman Anda. Terimakasih."

11:10. Pesawat terasa makin turun, daratan mulai terlihat dekat.

11:15. Pendaratan berjalan mulus di Ngurah Rai. Pemandangan sesaat sebelum mendarat benar-benar menakjubkan. Mendarat persis ditepi pantai. Sulit dilukiskan. Sekali lagi terdengar ucapan terimakasih dari pengeras suara pesawat.

Bali, Aku datang... *sapa elu?*


Catatan: waktu mengacu pada jam hp butut saya, serta jam tangan yangh penumpang samping kiri saya kenakan. Cerita selanjutnya silahkan ditunggu. he..he..he...