16 Mei 2007

Tenaga Kerja Wanita: Jamilah, si pelopor dari Bangsari


"Orang menjadi miskin karena bodoh. Dia menjadi bodoh karena miskin. Kebodohan dan kemiskinan adalah sahabat sejati. Keduanya bersemayam dalam diri petani"
Petani, pembangunan irigasi yang korup dan perubahan nasib

Sampai dengan tahun pertengahan 80-an, pertanian menjadi satu-satunya penopang perekonomian Bangsari. Sawah yang tadah hujan membuat mereka suka tak suka bergantung pada pemberian alam. Banjir di awal penghujan dan kering kerontang di musim kemarau menjadi masalah yang sulit terpecahkan.

Banjir menghancurkan tanaman palawija yang telat dipanen, memutus jalur distribusi ke pasar terdekat Sitinggil dan Gandrung Mangu, serta melambungkan harga kebutuhan pokok yang tidak bisa diproduksi sendiri. Tapi, banjir juga mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk anak-anak. Ikan, belut dan burung-burung air melimpah ruah. Menjadi ajang bermain sekaligus membantu asupan bahan dapur.

Saat air telah surut, musim tanam padi siap dimulai. Namun, air surut juga berarti musim hujan sedang menuju akhir. Padahal jenis padi yang ditanam kala itu memerlukan waktu yang lama dari padi jaman sekarang, menurut cerita para orang tua, sekitar 5-6 bulan. Bandingkan dengan padi sekarang yang hanya memerlukan waktu sekitar 100 hari. Seringkali terjadi musim kemarau sudah datang, sementara padi belum melengkung, alamat gagal panen membayang di depan mata. Belum lagi tikus yang membiak setelah air menyusut. Tidak jarang hasil panen adalah sisa tikus dan kemarau dini.

Saluran irigasi dibangun bertahun kemudian (sekitar tahun '90-92an), menelan sekian banyak korban proyek korup itu, termasuk 1,5 hektare tanah keluarga kami. Sebagian besar korban adalah petani kecil bertanah sempit.

Saya masih ingat bagaimana barisan bapak-bapak bermuka muram mengantri di balai desa menunggu jatah ganti rugi dari pemrentah. Menurut cerita para orang tua, tiap 1 ubin hanya dihargai 4-5 ribu rupiah tergantung posisi sawahnya. Sedang harga pasar waktu itu berkisar pada angka 20 ribu rupiah. Dalam satuan meter, 1 ubin berukuran sedikit lebih dari 14 meter persegi. Pembangunan irigasi ini juga mengusir ikan-ikan dan burung-burung kami.

Sisi positifnya, kami tidak kebanjiran lagi. Sepanjang Irigasi jalanan diaspal, meski hanya melewati ujung desa kami. Itu juga menjasi saat pertama dimana saya menyaksikan apa yang disebut sebagai mobil tepeng (mobil pengangkut pasir dan batu berwarna kuning, mungkin milik DPU) dan bego (alat pengeruk tanah, di kemudian hari saya membacanya di koran, backhoe). Irigasi selesai terbangun, aspal mengelupas. Tapi saya bersukur sudah pernah merasakan jalan kami diaspal. Jalan yang tiap hari saya lewati menuju sekolah bersepeda.

Tak pelak, pembangunan irigasi ini semakin menambahkan kesulitan bagi sebagian penduduk Bangsari. Tanpa sawah, mereka tak berkutik. Bekerja sekeras apapun, rasanya sulit untuk mengubah nasib. Mereka membutuhkan keajaiban.

Jamilah si Pelopor

Akhirnya, keajaiban itu datang juga. Tawaran menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri menawarkan kesegaran baru, harapan baru. Di kemudian hari, orang-orang Bangsari terbiasa menyebutnya sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita). Mengapa wanita dan bukan pria? Entahlah. Kelihatannya, "menjual" wanita lebih gampang daripada pria. Bahkan sampai sekarang, kalangan pria Bangsari yang bekerja di luar negeri masih dapat dihitung dengan jari, sementara yang wanita tak lagin terhitung. Pakde satu ini yang sudah keliling dunia dan kelihatannya pernah menjadi TKW, eh TKI maksud saya, mungkin punya jawaban yang lebih dapat diterima dan ngilmiah tentunya. Ngapuntene Pakde...

Dialah TKW pertama dari Bangsari. Pendidikan terakhirnya hanya lulusan Sekolah Dasar Islam (SDI). Umurnya sekitar 15 tahun saat dia memutuskan pergi ke Arab (tujuan utama pengiriman TKW waktu itu). Umur tepatnya sulit diketahui karena akte kelahiran masih barang yang langka di Bangsari. Sebuah alasan klasik namum sulit dihindari memaksanya pergi. Beban ekonomi, hutang. Saya masih kelas 2 Sekolah Dasar ketika dia berangkat (kira-kira sekitar '85-86an).

Ibunya janda beranak 5. Dia sendiri anak keempat dalam keluarga itu. Anak tertua yang juga wanita sudah menikah dengan sesama petani kecil juga. Anak keduanya hilang di telan isu petrus sewaktu Jamilah masih kecil, meski ternyata kemudian terbukti dia masih hidup di Sumatera. Anak ketiga, laki-laki, hanya pekerja sawah yang lebih banyak menganggur. Anak terkecil dalam keluarga, Sahid, itu sedang menempuh Tsanawiyah (setingkat sekolah menengah pertama). Sahid, seperti banyak anak lain waktu itu, tak membayar SPP hingga lulus sekolah. Cerita menunggak SPP adalah hal yang lumrah waktu itu.

Sebenarnya Jamilah pergi tanpa restu ibunya. Namun, dengan dukungan banyak orang dia menetapkan hati berangkat juga. Kalo tidak salah, surat ijin orang tua ditanda-tangani oleh suami kakak tertuanya. Dia berangkat diantar keponakannya yang juga anak dari kakak pertamanya serta kakak saya. Kedua pengantar kecil itu masih SD, bahkan mengantarnya dengan masih berbaju seragam sampai ke stasiun terdekat, Gandrung Mangu. Sekitar satu jam lebih perjalanan kaki. Disana dia telah ditunggu seorang petugas. Bersama beberapa calon lain, mereka menuju Jakarta menggunakan kereta api ekonomi senja.

Menurut ceritanya, proyek pengiriman TKW ke luar negeri waktu itu ditangani langsung oleh Depnaker. Para calon ini dididik selama 3 bulan. Mereka diajari keterampilan standar: masak, jahit menjahit, bahasa arab dan keterampilan pendukung lain. Passpor dan visa diurus oleh petugas. Gratis. Bahkan uang saku diberikan selama pelatihan. Pokoke bener-bener bondo awak.

Sepeninggal Jamilah, sang Ibu yang sedikit terganggu mentalnya uring-uringan setiap hari kepada siapa saja. Jamilah dikiranya menghilang sebagaimana anak lelaki tertuanya menghilang dulu. Pengalaman traumatik yang membuatnya stres berat. Semua orang dianggapnya bertanggung jawab atas kepergian si Jamilah. Dimarahinya semua orang yang ada di dekatnya.

Namun, kiriman uang pertama dari Jamilah membuatnya tertawa girang. Membuatnya bermimpi menjadi orang kaya, petani bersawah luas. Sejak itu, sesekali saja dia teringat si Jamilah. Tiwul dan jagung tidak lagi dikonsumsi. Hutang padi semakin jarang dilakukannya. Bisa dikatakan, hidupnya berubah.

Berita kemakmuran selalu mendatangkan iri bagi yang lain. Lazimnya cerita bagus, tambahannya dari mulut ke mulut lebih manis dibandingkan kenyataannya. Orang cenderung membesar-besarkan. Akibatnya bisa ditebak, berbondong-bondong orang mendaftar jadi TKW. TKW kedua adalah anaknya kang Tohari. Ketiga dan seterusnya tidak memerlukan waktu lama.

Dus, jadilah Bangsari pusat penyuplai TKW hingga sekarang.

Gambar diambil dari sini.

29 komentar:

pitik warga BH mengatakan...

petromax..eh..pertamax!!
bangsari sekarang juga penyuplai TKBHI (Tenaga Kerja Bunderan HI), bahkan sudah mencapai posisi yang hampir puncak yaitu menteri keuangan..jan elok tenan!..

kawoela alit mengatakan...

kowe rak mangkat dadi TKI sisan mas..? dol wedang jahe neng arab.. lumayan akeh wong ngelak ng kono..

yen ngangkatke, itungane sak wong piro entuk mu? 250 ewu? :D

Bangsari mengatakan...

#pitik berbh: lho, kawit biyen ki pancen penyuplai tkw. sampeyan minat? ke semua negara bisa. arab, malaysia, singapur, brunei, hongkong, taiwan, jepang, bahkan ada yang bisa ke perancis lho.

tapi sarate, kudu gelem difoto. wong sampeyan ra iso difoto yo ra masuk hitungan. he..he..he..

#kawoela alit: pisan-pisan nongkronge pindah nang piramida mesir yuk. ben ganti suasana ngono lho.

standare, sekali memberangkatkan wong ki entuke paling sithik 500 ewu. yeng wonge bodo iso nganti 2 juta. penak to?

kw mengatakan...

kehidupan petani/nelayan memang menyedihkan. tak ada perhatian dari pemrentah sama sekali.

sayang keajaiban itu belum mampir ke kampungku.

eniwe tulisanmu keren pul, sekelas ahmad tohari pada trilogi ronggeng dukuh paruk.

salut

anakperi mengatakan...

isih beja nek trus tekan nggone ya, kang...? nek ora, njur piye?

Bangsari mengatakan...

#kw: jenenge wae pemrentah, yang memerintah. jelas dia cuma memikirkan dirinya sendiri. he..he..

aku rung tau moco buku kuwi, mung tau moco cerpene nang kompas.

Mbilung mengatakan...

Mas, aku kok miris yo moco iki ...

gita mengatakan...

isih musim toh dadi TKW?

mei mengatakan...

btw mas, bangsari ki ndi toh???

Hedi mengatakan...

Tapi ono juga bangsari sing iso kerjo nang BI, mbuh wedok e ono opo ga.

pembaca setia mengatakan...

yang kemaren nanyain nasi uduk - itu juga dari bangsari kan ...

Bangsari mengatakan...

#anak peri: ra tekan uang kembali mas. he..he.. ndilalahe kok podo slamet kabeh ki.

#mbilung: negara iki kok ketoke ra tambah maju pakde.

#gita: lho, jarene kowe arep dadi TKW tekan amerika git. Ra sido?

Bangsari mengatakan...

#mei: bangsari ki mlebu kabupaten cilacap jawa tengah mba

#hedi: sopo kuwi mas? aku lanang lho...

#pembaca setia: nasi uduk ki dari beras mas.

gita mengatakan...

nang amerika ki aku dudu dadi TKW mas, golek bojo :P

langit mengatakan...

atiku keloro-loro mas moco postinge njenengan..

#gita : melok mba :D

mpokb mengatakan...

harga pupuk dan bibit mahal, setelah panen dihargai murah. malah rugi jadi petani. lama2 sebutan negri agraris cuma jadi mitos, berganti jadi negri tki.. :(

juraganbatik mengatakan...

kowe sebenere juga meh mangkat dadi TKI yo, Jadi tukang umbah2 Unto....tp sayange ra dw KTP dadi ra sido diangkatke trus terdampar neng Jakarta...

Gita: Halah awakmu juga mantan TKW ...Alias (Tukang Klayapan neng Warnet )..he..he

balibul mengatakan...

sugeng dalu kang mas, nderak teng HI pareng

annelies mengatakan...

aku ndaptar mas... nang Hongkong

sahrudin mengatakan...

itu fotonya kok kayak suasana perkampungan di flores? maksudnya saya, warna kulit pengendara sepeda dan pejalan kakinya itu lho.. [ini enggak rasis lho] apa nenek moyang orang bangsari itu berasal dari flores?

Luthfi mengatakan...

hihihihi :-)

tak sabar menanti senin

wieda mengatakan...

wah...rasane atiku miris ndengerin celotehmu..banyak amat penderitaan di negeri ini...perbedaan antara orang kaya dan miskin begitu besarrr......
semoga semua berubah yah...

venus mengatakan...

serius banget, pul? tumben :D

nice post, though.

Moes Jum mengatakan...

akhire pemuda ndesone iso melu bangga juga... hehehe

elly.s mengatakan...

malaysia adalah saksi hidup kesuksesan, kegagalan dan kepahitan yg diterima tkw.
Kadang yg memperdaya mereka adalah orang kita juga mas...kasihan banget!

mit@ mengatakan...

wah bisnis orang ..
tkw mesak ke..
aku jadi inget TKW yg dibuju i
kerjo luar .. hmm
ojo bati akeh 2 le.. :p

a l i mengatakan...

hem... *geleng-geleng*

escoret mengatakan...

Hmm.....rodo miris juga seh...!!!

btw..btw...klo kamu NYALON jd presiden....aku mau jd simpatisanmu..hehheheh

Calo TKW mengatakan...

lha sampeyan koq ga bilang2 dul?... mbok aku dijak ke bangsari sisan :D