30 Mei 2007

Numpak montor mabur ke Bali

Untuk pertama kalinya dalam hidup, insya allah, besok saya akan mengalami dua hal: numpak montor mabur dan ke Bali. Seneng? Hebat? Nggaya? Narsis? Pamer?

Mbuh! Saya ndak bisa bilang. Lha, wong belum pernah je.

Lantas apa hubungannya dengan sampeyan semua?

Nah itu dia. Berhubung saya belum pernah dan saya yakin sampeyan banyak yang sudah pernah, maka tugas saudara-saudara sekalian adalah ngasih panduan untuk saya tentang tata cara naik pesawat serta tetek bengeknya plus tentang Bali. Wes pokoke saya jadi pendengar yang baik dan manutan lah.

Nuwun...

21 Mei 2007

BAYI LAHIR BULAN MEI 1998

Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.

1998

(Untuk memperingati MEI 1998, Taufiq Ismail)

16 Mei 2007

Tenaga Kerja Wanita: Jamilah, si pelopor dari Bangsari


"Orang menjadi miskin karena bodoh. Dia menjadi bodoh karena miskin. Kebodohan dan kemiskinan adalah sahabat sejati. Keduanya bersemayam dalam diri petani"
Petani, pembangunan irigasi yang korup dan perubahan nasib

Sampai dengan tahun pertengahan 80-an, pertanian menjadi satu-satunya penopang perekonomian Bangsari. Sawah yang tadah hujan membuat mereka suka tak suka bergantung pada pemberian alam. Banjir di awal penghujan dan kering kerontang di musim kemarau menjadi masalah yang sulit terpecahkan.

Banjir menghancurkan tanaman palawija yang telat dipanen, memutus jalur distribusi ke pasar terdekat Sitinggil dan Gandrung Mangu, serta melambungkan harga kebutuhan pokok yang tidak bisa diproduksi sendiri. Tapi, banjir juga mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk anak-anak. Ikan, belut dan burung-burung air melimpah ruah. Menjadi ajang bermain sekaligus membantu asupan bahan dapur.

Saat air telah surut, musim tanam padi siap dimulai. Namun, air surut juga berarti musim hujan sedang menuju akhir. Padahal jenis padi yang ditanam kala itu memerlukan waktu yang lama dari padi jaman sekarang, menurut cerita para orang tua, sekitar 5-6 bulan. Bandingkan dengan padi sekarang yang hanya memerlukan waktu sekitar 100 hari. Seringkali terjadi musim kemarau sudah datang, sementara padi belum melengkung, alamat gagal panen membayang di depan mata. Belum lagi tikus yang membiak setelah air menyusut. Tidak jarang hasil panen adalah sisa tikus dan kemarau dini.

Saluran irigasi dibangun bertahun kemudian (sekitar tahun '90-92an), menelan sekian banyak korban proyek korup itu, termasuk 1,5 hektare tanah keluarga kami. Sebagian besar korban adalah petani kecil bertanah sempit.

Saya masih ingat bagaimana barisan bapak-bapak bermuka muram mengantri di balai desa menunggu jatah ganti rugi dari pemrentah. Menurut cerita para orang tua, tiap 1 ubin hanya dihargai 4-5 ribu rupiah tergantung posisi sawahnya. Sedang harga pasar waktu itu berkisar pada angka 20 ribu rupiah. Dalam satuan meter, 1 ubin berukuran sedikit lebih dari 14 meter persegi. Pembangunan irigasi ini juga mengusir ikan-ikan dan burung-burung kami.

Sisi positifnya, kami tidak kebanjiran lagi. Sepanjang Irigasi jalanan diaspal, meski hanya melewati ujung desa kami. Itu juga menjasi saat pertama dimana saya menyaksikan apa yang disebut sebagai mobil tepeng (mobil pengangkut pasir dan batu berwarna kuning, mungkin milik DPU) dan bego (alat pengeruk tanah, di kemudian hari saya membacanya di koran, backhoe). Irigasi selesai terbangun, aspal mengelupas. Tapi saya bersukur sudah pernah merasakan jalan kami diaspal. Jalan yang tiap hari saya lewati menuju sekolah bersepeda.

Tak pelak, pembangunan irigasi ini semakin menambahkan kesulitan bagi sebagian penduduk Bangsari. Tanpa sawah, mereka tak berkutik. Bekerja sekeras apapun, rasanya sulit untuk mengubah nasib. Mereka membutuhkan keajaiban.

Jamilah si Pelopor

Akhirnya, keajaiban itu datang juga. Tawaran menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri menawarkan kesegaran baru, harapan baru. Di kemudian hari, orang-orang Bangsari terbiasa menyebutnya sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita). Mengapa wanita dan bukan pria? Entahlah. Kelihatannya, "menjual" wanita lebih gampang daripada pria. Bahkan sampai sekarang, kalangan pria Bangsari yang bekerja di luar negeri masih dapat dihitung dengan jari, sementara yang wanita tak lagin terhitung. Pakde satu ini yang sudah keliling dunia dan kelihatannya pernah menjadi TKW, eh TKI maksud saya, mungkin punya jawaban yang lebih dapat diterima dan ngilmiah tentunya. Ngapuntene Pakde...

Dialah TKW pertama dari Bangsari. Pendidikan terakhirnya hanya lulusan Sekolah Dasar Islam (SDI). Umurnya sekitar 15 tahun saat dia memutuskan pergi ke Arab (tujuan utama pengiriman TKW waktu itu). Umur tepatnya sulit diketahui karena akte kelahiran masih barang yang langka di Bangsari. Sebuah alasan klasik namum sulit dihindari memaksanya pergi. Beban ekonomi, hutang. Saya masih kelas 2 Sekolah Dasar ketika dia berangkat (kira-kira sekitar '85-86an).

Ibunya janda beranak 5. Dia sendiri anak keempat dalam keluarga itu. Anak tertua yang juga wanita sudah menikah dengan sesama petani kecil juga. Anak keduanya hilang di telan isu petrus sewaktu Jamilah masih kecil, meski ternyata kemudian terbukti dia masih hidup di Sumatera. Anak ketiga, laki-laki, hanya pekerja sawah yang lebih banyak menganggur. Anak terkecil dalam keluarga, Sahid, itu sedang menempuh Tsanawiyah (setingkat sekolah menengah pertama). Sahid, seperti banyak anak lain waktu itu, tak membayar SPP hingga lulus sekolah. Cerita menunggak SPP adalah hal yang lumrah waktu itu.

Sebenarnya Jamilah pergi tanpa restu ibunya. Namun, dengan dukungan banyak orang dia menetapkan hati berangkat juga. Kalo tidak salah, surat ijin orang tua ditanda-tangani oleh suami kakak tertuanya. Dia berangkat diantar keponakannya yang juga anak dari kakak pertamanya serta kakak saya. Kedua pengantar kecil itu masih SD, bahkan mengantarnya dengan masih berbaju seragam sampai ke stasiun terdekat, Gandrung Mangu. Sekitar satu jam lebih perjalanan kaki. Disana dia telah ditunggu seorang petugas. Bersama beberapa calon lain, mereka menuju Jakarta menggunakan kereta api ekonomi senja.

Menurut ceritanya, proyek pengiriman TKW ke luar negeri waktu itu ditangani langsung oleh Depnaker. Para calon ini dididik selama 3 bulan. Mereka diajari keterampilan standar: masak, jahit menjahit, bahasa arab dan keterampilan pendukung lain. Passpor dan visa diurus oleh petugas. Gratis. Bahkan uang saku diberikan selama pelatihan. Pokoke bener-bener bondo awak.

Sepeninggal Jamilah, sang Ibu yang sedikit terganggu mentalnya uring-uringan setiap hari kepada siapa saja. Jamilah dikiranya menghilang sebagaimana anak lelaki tertuanya menghilang dulu. Pengalaman traumatik yang membuatnya stres berat. Semua orang dianggapnya bertanggung jawab atas kepergian si Jamilah. Dimarahinya semua orang yang ada di dekatnya.

Namun, kiriman uang pertama dari Jamilah membuatnya tertawa girang. Membuatnya bermimpi menjadi orang kaya, petani bersawah luas. Sejak itu, sesekali saja dia teringat si Jamilah. Tiwul dan jagung tidak lagi dikonsumsi. Hutang padi semakin jarang dilakukannya. Bisa dikatakan, hidupnya berubah.

Berita kemakmuran selalu mendatangkan iri bagi yang lain. Lazimnya cerita bagus, tambahannya dari mulut ke mulut lebih manis dibandingkan kenyataannya. Orang cenderung membesar-besarkan. Akibatnya bisa ditebak, berbondong-bondong orang mendaftar jadi TKW. TKW kedua adalah anaknya kang Tohari. Ketiga dan seterusnya tidak memerlukan waktu lama.

Dus, jadilah Bangsari pusat penyuplai TKW hingga sekarang.

Gambar diambil dari sini.

09 Mei 2007

Kopdar dan sukuran kelahiran

Dong... Dong.. Dong.. (bende ditabuh)
Dengan ini diumumkan kepada sodara sebangsa setanah air.
Bahwasanya, Tukang Ndobos yang suka burung alias Pakde Mbilung mengundang sampeyan semua untuk berkumpul dan rame-rame menikmati nangka dan burungnya beliau.
Tempat: Kantor CICO, Jalan Tumenggung Wiradireja 216, Cimahpar, Bogor
Tanggal: 12 Mei 2007
Waktu: 10:00 WIB - sak kemengnya (isunya, Ndorokakung juga menyediakan penginapan semalam di Wisma Temponya)
Guna mempermudah tuan rumah memperkirakan seberapa banyak makan dan minum yang harus disediakan, Pakde ndawuhi saya untuk mendata siapa-siapa saja yang bakalan ikut. Untuk itu, dimohon sampeyan semua segera menyatakan diri hendak ikut atau tidak dalam perhelatan ini. Wis, pokoknya ndaftar lah segera!

Berikut saya kutipkan peta lokasi. Jika kurang jelas, silahkan lihat keterangan lengkapnya. Mohon maklum, saya belum pernah dolan sampai Kota Bogor je. He..he..

Catatan: Umumnya, orang mengadakan sukuran atas kelahiran putrinya. Sampeyan kok malah ngadain sukuran kelahiran anak orang lain? Iki karepe piye Pakde?

03 Mei 2007

Tukang wedang Medical Check Up

Ceritanya, kemarin (02/05/06) saya habis Medical Check Up. Emang gue pikirin? Sapa elu? Mungkin begitu yang ada dalam benak sampeyan. Percayalah sodara, saya sedang pengin cerita. Lebih tepatnya, pamer! Sampeyan harus terima itu. he..he..

Untuk lebih gampangnya biar saya tidak keseleo lidah, saya sebut saja sebagai "tes kesehatan". Sebenarnya saya agak bingung, yang bener itu tes kesehatan apa malah tes ketidak-sehatan?

Wong n
deso kaya saya kok pake tes kesehatan segala, buat apa? Nggaya banget ya?

Biarin! Kapan lagi bisa nggaya? he..he.. Tenang dulu, sodaraku sebangsa setanah air. Jang
an berprasangka buruk. Ini saya ceritakan supaya sampeyan punya pegangan dan tidak kaget kalo misalnya sampeyan harus menjalani tes sejenis. halah.

Ceritanya, pabrik tempat saya biasa bikin wedang itu mengeluarkan peraturan inter
n baru. Pekerja pabrik yang sudah setahun bekerja, harus menjalani tes kesehatan untuk menentukan layak tidaknya dipekerjakan kembali oleh pabrik. Nah, karena peraturan ini baru diberlakukan, maka saya lah yang ketiban sampur. Saya menjadi yang pertama dan satu-satunya tukang wedang yang harus menjalani tes ini. Yang lain? Emangnya ada tukang wedang lain? Ya ndak ada, ya cuma saya ini...

Seharusnya saya menjalani tes ini sebulan yang lalu, tapi karena hal-hal yang saya tidak paham, tes ini baru bisa dilakukan kemarin. Dengan diantar sopir pabrik dan seorang staf HRD serta dibekali surat pengantar dari bos, saya diantar ke rumah sakit MMC di Kuningan. Entah apa kepanjangannya, saya tak tahu. Yang jelas tidak mungkin Multi Media Card. Sampeyan tahu?

Meski beberapa kali lewat jalanan depan situ, saya baru tahu kalo yang namanya MMC itu cuma bersebelahan dengan Pasar Festival. Aduh Gusti, kemana saja saya selama ini? Kaya gini saja kok ndak tahu? Mbuh lah.

Setelah bertanya ke petugas informasi, saya menuju lantai 5. Disana, saya segera menghadap petugas pendaftaran. Si petugas (P) dengan sigap dan ramah segera menyapa saya (S).

P: "Ada yang bisa saya bantu?"
S: "Saya disuruh bos kesini untuk tes kesehatan. Ini suratnya."
P: "Sudah puasa dari semalam?"
S: "Sudah"
P: "Sudah bawa oleh-oleh?"
S: "Oleh-oleh? Saya cuman dititipin bos surat aja, tidak ada oleh-oleh apa pun."
P: "Bukan oleh-oleh beneran mas. Maksudnya, oleh-oleh kotoran."
S: "Oleh-oleh kotoran?"
P: "Aduh mas, mas. Tinja, feses. Bawa ngga?"
S: "Waduh, ngga. Ngga dikasih tahu je. Lagian gimana bawanya?"
P: "Ya udah kalo gitu, sekarang langsung tes urine dan pengambilan sampel darah."
S: "Baik."

Begitulah. Pertama, saya dikasih sebuah tabung kecil yang harus diisi dengan air seni saya. Sehabis itu, saya diambil contoh darah melalui vena tangan kiri. Selanjutnya, saya dibawa ke bagian Radiologi untuk diambil foto Rontgen bagian dada. Petugas menyuruh saya membuka baju bagian atas untuk difoto. Ademe pol ternyata ruangan itu, badan saya sampai menggigil.

Selesai rontgen, saya diharuskan makan dan minum. Saya juga dipeseni supaya kembali lagi ke ruang tes medis selesai makan.

Karena hari sudah siang dan saya belum makan minum dari malam sebelumnya, nasi goreng yang disediakan tandas dalam sekejap. Setelah itu, saya kembali ke ruang tes kesehatan.

Kembali menjalani tes yang lain. Kali ini tes jantung. Sekali lagi saya disuruh buka baju, dan lagi-lagi saya kademen. Alat itu aneh. Banyak selang dengan masing-masing bagian ujungnya bisa ditempelkan ke badan. Persis seperti dalam filem-filem. Dua ditempel di kaki kanan-kiri, dan sisanya di sekitar perut dan dada.

S: "Hasilnya gimana sus?"
P: "Nanti dokternya yang akan menjelaskan."
S: "Baiklah."

Selesai merapikan baju, saya diantar ke dokter yang bersangkutan. Lagi-lagi saya disuruh buka baju. Asem! Dan untuk ketiga kalinya, saya menggigil lagi. Untung dokternya wanita, masih muda dan cakep. Jadi saya sedikit terhibur. he..he..he.. Sambil menempelkan stetoskop di sekitar dada dan perut, dia memberi perintah. "Ambil nafas, lepaskan, ambil nafas, lepaskan, ambil nafas, lepaskan....."

Asem! Jeda antara ambil nafas dan melepaskannya terlalu cepat, saya jadi kelabakan. Sudah menggigil kademen, disuruh nafas cepat pula. Huh. Untungnya tes ini cuma sebentar.

"Kamu normal", kata si dokter pendek.

"Enak aja! Dari dulu saya juga normal. Emangnya gerilyawan kurang gawean itu yang suka sama bencong? Saya normal tahu!", gerutu saya dalam hati.

Setelah merapikan baju, saya menuju ke petugas awal lagi.

S: "Ngapain lagi mba?"
P: "Habis ini pengambilan urin dan darah lagi"
S: " Oke, saya siap. Mumpung saya juga kebelet pipis nih"
P: " Hush, ngga boleh. Dua jam lagi untuk hasil yang terbaik. Jadi silahkan tunggu. Kalo mau minum atau bikin teh, silahkan bikin sendiri"
S: "Baiklah"

Sambil menunggu, saya baca koran. Habis koran yang satu, saya ambil yang lain. Habis yang kedua, saya ambil yang ketiga. Habis yang ketiga, habis sudah semuanya. Eits, masih ada majalah di kolong meja. Dan saya menemukan bakpao ini.

Ndik, iki oleh-oleh buatmu. Tak embatke satu. Biar kamu ngga keluyuran kemana-mana. he..he..he..

Terakhir, saya diambil contoh urine dan darah saya lagi. Tapi kali ini dari vena tangan yang kanan.

Selesai? Di MMC sih iya, tapi tes di Pasar Festival baru akan dimulai. ha..ha..ha..

NB: Berhubung saya lagi bersyukur, insyaallah jumat malem besok akan ada syukuran di HI. Untuk konfirmasi, hubungi Pak Presiden dan Panglima Perang...

02 Mei 2007

Seindah Aslinya: Payudara Handmade Maria Niino

Penari Jepang Maria Niino, 62, menunjukkan beberapa macam bentuk payudara imitasi dari silikon -yang dapat berubah menjadi seperti layaknya corak kulit manusia yang asli setelah dipasangkan - di kantornya di Tokyo. Niino, yang telah kehilangan sebuah payudaranya karena kanker 11 tahun yang lalu, membuka tokonya 10 September 2006 untuk menjual payudara imitasi yang seluruhnya dibuat dengan tangan dan dijual seharga sekitar 1.65 juta yen (12,700 US$).

Piye kuwi jal? Opo ra blaen?

Sumber: Majalah Medical Update, Edisi Januari 2007