30 Maret 2007

Akar bilangan via telepon

Kamis malam (29/03/07), aseorang teman sebut saja A menelepon saya (S).

A: Hoi... Lagi ngapain? Bantuin aku ngerjain soal matematika dong.
S: Ya ampun. Sudah kubilang dari dulu, jangan minta ajarin matematika lewat telpon begini. Aku lagi tepar meriang seharian nih. Lagipula aku lagi baca Sang Alkemis. Nggangguin aja!
A: Waduh, maaf. Tapi tolong dong, please... cuman gampang kok, lagi kepepet nih.
S: Emang soal apaan?
A: Soal akar bilangan. Akar tiga dari delapan berapa?
S: Heh? Kok ruwet gitu? Kamu pasti salah baca deh. Tulisannya bagaimana?
A: Tulisannya gitu kok. Ada lambang akar, diatas lambang akar ada angka tiga dan dalam akar itu ada angkat delapan.
S: Kamu memang ngawur! Cara baca yang gampang gini, akar pangkat tiga dari delapan sama dengan berapa?
A: Tau ah! Pokonya hasilnya berapa?
S: Dua.
A: Kok bisa begitu? Tahu dari mana? Logikanya gimana tuh?
S: Sederhananya begini. Angka berapa yang jika dikalikan dengan angka itu sendiri sebanyak tiga kali hasilnya delapan? Dua kan?
A: Oh, dua ya? Bener ding. Tapi, ada lagi nih. Dua tujuh pangkat sepertiga sama dengan berapa?
S: Tiga.
A: Kok bisa?
S: Prinsipnya sama dengan yang pertama. Pangkat sepertiga itu bentuk penyederhanaann tulisan dari akar pangkat tiga. Jadi, bilangan berapa yang dikalikan tiga kali dengan bilangan itu sendiri yang menghasilkan angka dua tujuh?
A: Tiga.
S: Lha itu dah ngerti.
A: Masih ada lagi nih. Tiga puluh dua pangkat dua per lima sama dengan berapa?
S: Ya masih sama caranya dengan tadi. Angka berapa yang dikalikan sebanyak lima kali dengan angka itu sendiri menghasilkan angka dua?
A: Dua.
S: Sip! Sekarang, angka dua itu di kuadratkan. Jadi berapa?
A: Empat dong...
S: Betul!
A: Tapi disini jawaban yang pertama kok dua belas, yang kedua delapan dan ketiga baru sama dengan jawabanmu?
S: Itu jawaban siapa?
A: Ya ngga tahu. Coret-coretan disini hasilnya gitu.
S: Enak aja tanya sama aku. Tanya saja sama yang nulis jawaban!
A: Jangan gitu dong. Aku kan cuma tanya...

S: Eh, ngapain kamu ngerjain beginian? Mbok sana nyusui anakmu saja.
A: Mmm... Aku lagi S-2 nih, disekolahin kantor...

Belajar matematika lewat telpon, opo tumon?

(Jadi inget lagu Pianonya Bang Haji Rhoma Irama dan Nur Halimah. he..he..he..)

23 Maret 2007

Supir teladan

Supir pabrik kami orangnya kreatif, cekatan dan tanggap. Begitu tanggapnya, terkadang malah menimbulkan masalah tersendiri. Seperti beberapa hari lalu ketika pabrik kami mengadakan acara di sebuah hotel di bilangan Kuningan Jakarta Selatan, bos saya (B) minta di jemput supir (S).

B: "Pak, kamu dimana?"
S: "Di parkiran pak"
B: "Bisa jemput saya di lobby?"
S: "Siap, pak. Saya segara meluncur"

Seperempat jam kemudian;

B: "Pak, kamu dimana?"
S: "Saya ada parkir di dekat lobby"
B: "Ya sudah, kesini cepetan."
S: "Baik."

Lima menit kemudian;

Kali ini sambil sewot.

B: "Kamu dimana sih?"
S: "Saya di lobby pak. Bapak dimana?"
B: "Ya di lobby, dimana lagi?"
S: "Saya juga di lobby dari tadi pak..."
B: "Ngga mungkin. Saya dari tadi berdiri disini dan tak lihat siapa-siapa"
S: "Bener, pak. Saya ngga bohong"
B: "Kamu di lobby mana sih?"
S: "Saya di lobby (hotel) Marriott pak"
B: "Ampun deh! Saya di lobby pabrik pak, bukan di Marriot..."
S: "Trus saya ngapain disini pak?"
B: "Menegetehe. Sudah! Balik ke pabrik segera!"
S: "Siap!"
B: "Bentar, bentar. Siapa suruh kamu ke Marriott?"
S: "Lho, kemarin katanya saya disuruh standby di Marriott hari ini? Bapak sendiri kan yang bilang"
B: "Iya, tapi berangkatnya bareng saya. Ngga ngacir sendiri gitu. Cepet ya! Awas kalo pake lama"

Arrrggghhhh!!!

Nasi uduk dan baju tak mecing

Pagi ini, perbincangan masih dengan wanita yang sama dengan kemarin;

W: "Beli nasi uduk ngga?"
S: "Ngga"
W: "Kok ngga sih?"
S: "Ampun dah. Apa ngga ada makanan lain? Mulu-mulu nasi, mulu-mulu nasi uduk. Bosan aku!"
W: "Ya udin, ngga usah marah dong..."
S: "@#$%^&*%$#@"

kemudian;

W: "Eh, lu tu ngga mecing banget ya?"
S: "Kenapa?"
W: "Baju hitam dan celana coklat tuh mecing tau!"
S: "Terserah saya, ngga usah cerewet!"
W: "Dibilangin ngga percaya, terserah..."
S: "Arrgghhh!!!"

21 Maret 2007

Nasi uduk

Perbincangan pagi antara saya (S) dan rekan wanita sepabrik (W):

W: "Nasi udukku mana?"
S: "Lho, pesennya kapan?"
W: "Kan udah gue bilang, tiap hari gue mau nasi uduk. Jadi lu ngga usah dibilangin segala. Ngerti?"
S: "Enak aja main suruh. Memangnya saya opisboi?"
W: "Kaya gitu aja kaga ngerti. Gue sebel sama lu!"
S: "??????"

16 Maret 2007

Sedang bosan dengan uang

Mengapa Republik BH Indonesia (setidaknya bagi saya) menjadi sangat penting? Karena disini, tidak ada yang berbicara tentang uang.

Uang tidak bisa membeli waktu dan kemerdekaan.

Saya (sedang) bosan dengan uang!

Bagaimana dengan Anda?

Terima kasih pada Paman Tyo yang sudah mendesain bendera ini...

09 Maret 2007

Gelar Presiden BH Indonesia

Hanya sang begawan nan wicaksana lah yang berhak untuk melantik seorang cantrik yang paripurna menjadi seorang kesatria. Untuk itu, tak usah heran dan tak usah sirik, jika sang begawan menganugerahi gelar untuk sang Presiden BHI dengan julukan
"Panjenenganipun Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Presiden Mbunderan Hotel Indonesia Sayidin Panatablogger Bahtiar Satria Pitpancal".

07 Maret 2007

Mentok!

Mentok!

Sepertinya, sudah masanya untuk ganti kepala.

06 Maret 2007

Kenduri Cinta

Mengikuti anjuran Ndoro Seten plus perintah sang Presiden supaya para cangkrukers HI lebih "berisi" dan tidak sekedar grudak gruduk ra karuan, maka insyaallah jadwal cangkruk malam sabtu besok di pindahkan ke Taman Ismail Marzuki (TIM) - Cikini, untuk sama-sama ngangsu kaweruh pada Cak Nun dan Kyai Kanjengnya.

Demikian, terima-kasih.