20 Februari 2007

Kado Imlek; Bom Pecas Ndahe

Hari senin (19/02/07) pukul 2 siang lewat sedikit, sebuah pengumuman di dengungkan melalui pengeras suara pabrik:
"Diberitahukan kepada seluruh karyawan pabrik yang berada di gedung sayap selatan, diharapkan untuk segera meninggalkan ruangan menuju halaman lapangan upacara. Ada ancaman bom dari pihak yang belum diketahui. Tim Gegana dari kepolisian sedang mengadakan penyisiran lebih lanjut. Segera jauhi gedung. Ini adalah perintah dari penguasa tertinggi pabrik ini. Bawalah barang terpenting yang anda bisa bawa."

Berulang-ulang pengumuman ini didengungkan.

"Ini serius ngga sih?", seorang teman meminta pendapat.
"Paling juga lagi latihan pemadam kebakaran", sahut teman yang lain.
"Ngomongin apa sih kalian? Kayanya seru deh!", seorang teman cewek nimbrung.
"Dasar oon. Makanya dengerin! Ada ancaman bom di gedung kita tuh", sahut teman pertama.
"Ha? Bom? Ayo cepetan keluar", cewek-cewek langsung histeris.
"Hei, hei, sabar. Bawa barang terpenting yang bisa dibawa!", pesan teman teman kedua.
"Terpenting? Apaan tuh?", tanya yang lain meminta masukan.
"Apa saja. Boleh laptop, tas bawaan, apa saja", kata bos berwibawa, "Hei, kamu. Ayo segera bergegas". Katanya menunjuk ke saya.
"Tapi saya lagi menyiapkan wedang buat ndoro besar. Gimana dong ndoro?".
"Sudah, lupakan saja. Biar dia bikin wedang sendiri. Apa kalo bomnya meledak, kamu mau ikut ndoro besar juga?", tanyanya.
"Oke. Kalo gitu, ayo kita cabut", ajak saya bersemangat.
"Lho, barang terpentingmu mana?", tanyanya.
"Barang terpenting itu selalu saya bawa sedari kecil. Tidak pernah lepas!", balas saya cengengesan.

Di luar, keadaan menjadi gaduh. Petugas keamanan mengarahkan para penghuni gedung ke arah tangga darurat. Lift sepertinya dimatikan, tidak ada yang antri di sana. Di lobi, orang-orang bergerombol tidak mau keluar. Sekali lagi pengumuman dari pengeras suara memerintahkan untuk menjauh dari gedung menuju lapangan. Akhirnya semua keluar. Lapangan dipenuhi manusia pekerja pabrik.

Setengah jam berlalu tanpa kepastian. Orang-orang mulai bergerak meninggalkan lapangan. Bukan kembali ke gedung, tapi menuju ke jalan. Sepertinya mereka pulang ke rumah. Sebagian yang lain masih asyik ngobrol.

"Asyik juga ya. Kalo ngga ada teror, kita ngga bisa keluar lebih cepat kan?", ujar seseorang.
"Iya, tapi saya penginnya kaya gini tiap senin, rabu dan jumat", sahut yang lain.

Busyet!

Tapi omon-omong, kemana teman rombongan saya yang lain?

Rupanya saya terpisah dari teman-teman dan para ndoro. Saya terbengong dan bimbang. Kalo saya pulang, laptop ndoro yang saya bawa mau ditaruh dimana? Ya sudahlah, saya akan menunggu sambil menikmati kegaduhan ini. Selang beberapa menit, hp butut saya berdering.

"Kamu dimana?", suara bos menyapa dari seberang.
"Saya di sisi selatan lapangan ndoro. Ndoro dimana?"
"Kita semua sudah di foodcourt PI. Segera antar laptopnya kesini."
"Oke ndoro, saya segera kesana naik ojek."

Dus, akhirnya kami semua berkumpul di sana. Saya sudah dipesankan secangkir coklat panas yang yahud. Selebihnya, saya tak berani pesan makanan sendiri.

Sekitar jam 4-an, bos menerima telpon dari bos besar. Kami semua harus kembali ke pabrik.

Pabrik kosong. Yang terlihat hanya petugas keamanan dan para jongos plus tukang wedang kawan-kawan saya. Kami segera absen dan keluar lagi. Ke Djakarta Theater, nonton Ghost Rider lagi...

7 komentar:

evi mengatakan...

lah enak bisa nongkrong di plasa indonesia, lah aku...arep metu pintu gerbange ditutup kabeh, akhirnya ya berjemur dkt genset untung cuaca mendukung ga panas. giliran semua boleh masuk, gd tmptku blm boleh masuk maklum Ndorone para ndoro ada dilantai paling atas gd ini.

kw mengatakan...

cerita dong pul, filmnya kayak gimana

venus mengatakan...

barang terpenting itu apa maksudnya sih? sing jaremu selalu nempel iku lho, pul. opoooo???? wakakaka...

Bangsari mengatakan...

#evi: ya maaf, wong saya ke PI bukan karena kehendak pribadi je. ternyata, nongkrong leyeh-leyeh selagi jam kerja rasanya uenak pol lho. he..he..

#kw: weks, cerita filem? saya kurang faham je. pokoknya seru, ada hantu-hantunya, ada kebut-kebutan naik harli dapitsong, banyak setan. begitulah.

Bangsari mengatakan...

#venus: sampeyan iki lho, soal ngenean kok cepet banget nyambunge. he..he..

evi mengatakan...

enak lg klo isu bom-nya jam 11 siang, pasti langsung pada ngacir.....(ke sarinah, sogo, plangi, atrium, TA ato mangga 2)atau pulang ke rumah dech. hehehe......

adianto mengatakan...

Mau lihat perayaan imlek seperti apa di Tangerang? coba lihat deh di link perumahan citra raya http://citraraya.com/kemeriahan-perayaan-imlek-di-citraraya-tangerang-dengan-atraksi-barongsai/.