27 Februari 2007

Lagi lagi NII

Tepat dua tahun yang lalu, seorang karib mengajak saya menemui seseorang yang dia sebut Abi Rahman. Abi merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Mulai dari masalah modal usaha, pembukuan, utang piutang dan yang paling menonjol adalah kehidupan spiritualnya. Boleh dikata, semua kegiatannya dibawah pengawasan si Abi. Tak terkecuali dalam menentukan siapa jodohnya kelak. Dia pernah bilang begitu suatu saat.

Atas dasar inilah, dia mengajak saya menemui si Abi. Katanya, ini adalah sarat mutlak bagi saya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dia tidak mau menjelaskan mengapa saya harus menemuinya, mengapa hal ini menjadi penting. "Jalani saja, kau akan tahu dengan sendirinya. Ini adalah pembekalan yang tidak hanya penting untukmu, juga diriku. Percayalah, kau akan menjadi orang yang baru setelahnya." Begitu, dia selalu beralasan.

Baiklah. Saya tak punya pilihan lain. Bertempat di sebuah rumah persis di samping komplek perumahan militer di bilangan Jakarta Timur, saya menjalani pembekalan selama dua hari penuh. Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa pembekalan hari itu merupakan sebuah proses yang disebut tilawah.

Tilawah berasal dari bahasa arab, yang kira-kira berarti kajian. Istilah ini juga digunakan untuk merujuk sebuah pembekalan awal, sebuah introduksi mengenai suatu gerakan yang bernama Negara Islam Indonesia khususnya Komandemen Wilayah IX (NII KW IX). Bagi anda yang sudah pernah bersinggungan dengan Multi Level Marketing, tentu akrab dengan istilah prospek. Meski tidak sama, kira-kira seperti itulah proses tilawah. Sebuah presentasi tentang pentingnya suatu hal.

Rumah itu besar. Bergaya kebanyakan, bercat putih, berpagar tembok setinggi pinggang orang dewasa. Di dalamnya terdapat tiga buah kamar berukuran cukup besar dan sebuah dapur di belakang. Ruang tamunya juga cukup besar, berisi satu set kursi tamu dan sebuah televisi menghadap ke dalam. Di halamannya terparkir tiga buah sepeda motor. Beberapa orang yang kelihatannya penguni rumah itu langsung menyambut kedatangan karib saya dan saya dengan hangat. Sepertinya mereka sudah lama saling mengenal. Segera mereka terlibat pembicaraan dan canda tawa di dapur.

Sesaat kemudian Abi Rahman muncul. Semua menyalami si Abi dengan takdzim dan menawarkan minuman. Dia memilih kopi, saya teh panas.

Setelah minuman habis, saya dan karib saya diajak Abi masuk ke dalam sebuah ruangan.

Ruangan itu kira-kira berukuran 4X5 meter. Bercat putih pula. Didalamnya, sebuah meja dan beberapa kursi plastik tersusun rapi. Di dinding dekat pintu, tertempel sebuah white board besar yang kelihatannya sering digunakan, lengkap dengan peralatannya. Di pojok, terlihat setumpuk Al-Quran dan terjemahannya versi Departemen Agama.

Pintu ditutup dan tilawah pun dimulai.

Tilawah diawali dengan sitiran sebuah ayat: "Dan tidaklah diciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah (kepadaku)".
Bahwa hidup manusia harus didedikasikan untuk ibadah, tidak gratis begitu saja. Ibadah harus dibuktikan dengan jihad. Jihad harus di buktikan dengan harta dan jiwa. Jihad dengan jiwa diwujudkan dengan iman yang tak bisa ditawar terhadap kebenaran agama. Jihad dengan harta diwujudkan dalam bentuk infak untuk membantu terwujudnya peradaban yang berbasis agama. Umumnya sebuah perintah, tentu mengenal kaidah Hadiah dan Hukuman. Untuk itulah Allah membentuk Surga dan Neraka. Surga sebagai hadiah bagi yang berprestasi, dan neraka untuk yang sebaliknya. Kata kunci hari itu adalah ibadah, jihad, infak, surga dan neraka.

Hari kedua diisi dengan konsep negara dan hukum.

Lazimnya, sebuah negara dapat berdiri jika paling tidak memenuhi tiga unsur:
  1. adanya wilayah
  2. adanya penduduk yang mendiami wilayah tersebut; dan
  3. hukum yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan negara.
Mengacu pada ayat pembukaan pada hari pertama, negara juga harus memiliki tujuan ibadah. Singkatnya, negara juga harus bisa membawa manusianya ke surga. Kesimpulannya, hidup yang benar (yang akan membawa ke surga) akan dapat dipenuhi jika:
  1. tinggal di wilayah islam
  2. tinggal bersama penduduk yang juga muslim; dan
  3. wilayah tersebut secara resmi menggunakan hukum islam.
"Maka, barangsiapa yang tidak bertahkim (menggunakan hukum) kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an), maka mereka itu temasuk golongan orang kafir." Dalam ayat selanjutnya di sebut sebagai orang yang munafik, dzalim, fasiq.

Abi menekankan, kewajiban bertahkim adalah kewajiban kolektif, bukan individual. Bagaimana mungkin menerapkan hukum secara individual? Hal ini diperkuat dengan sebuah ayat:
"Masuklah kalian ke dalam agama islam secara menyeluruh, dan jangan kalian berpecah belah."
Menurutnya, perintah "udkhuluu" dan "wa laa tafarraquu" itu menggunakan kata perintah jamak. Jadi, jelaslah bahwa kewajiban mendirikan negara islam adalah jelas dan tegas dalam Al Qur'an. Dia menyayangkan terjemahan versi Departemen Agama yang cenderung mereduksinya. Pendeknya, negara harus berdasarkan pada Al-Quran.

Dikarenakan negara RI belum bisa memenuhi kriteria ketiga, maka negara kita dikategorikan sebagai negara kafir. Negara yang akan membawa kepada kesesatan, dan itu berarti neraka. Untuk itulah kita wajib melakukan hijrah menuju negara impian. Abi menyebutnya sebagai Negara Karunia Allah, Negara Islam Indonesia. Ketika saya desak, Abi tidak bersedia merinci tentang negara ini. Alasannya, saya orang luar yang belum boleh banyak tahu.

Di akhir tilawah, saya diberi dua pilihan: memilih tetap menjadi warga negara RI dengan resiko masuk neraka atau memilih surga yang itu berarti masuk NII. Untuk itu, saya harus menjalani Bai'at (sumpah setia).

Dengan sedikit geli, saya menolak!

Jawaban saya membuat calon simboknya anak-anak menangis berderai.

Duh, maafkan saya Cah Ayu...

21 Februari 2007

Donor darah

Umumnya donor darah, niatnya ya untuk amal. Tapi, kalo ada oleh-olehnya, kenapa tidak?

Di RS Sardjito (dulu) biasanya di pendonor diberi segelas susu atau teh botol dan terkadang sekotak snack. Pernah juga terjadi pihak keluarga yang membutuhkan trasnfusi darah menawari saya uang. Saya ngga mau. Lha wong donor itu sendiri sudah merupakan cek kesehatan yang gratis je. Masa saya juga menerima bayaran? Rasanya kok ndak enak gitu. Belum lagi, selama dono darah kan saya bisa nyawang para petugas yang manis-manis. he..he..

Kalo di Kampus Ledok sebelahnya Sardjito, kegiatan donor biasanya sedikit mewah. Selain segelas susu, biasanya si penyumbang juga menerima makan siang. Oleh karena itu, para mahasisa yang mayoritas penghuni kos biasanya suka menyerbunya. Makan gratis euy, kapan lagi?

Nah, ceritanya tiga hari ini pabrik tempat saya bekerja sedang mengadakan kegiatan rutin donor darah. Dengan semangat masih mencari susu gratis, cek kesehatan gratis dan nyawang si mbak-mbak petugas paramedis plus penyanyi dangdutnya, saya ikut mendaftar. Lagipula kapan lagi bisa meninggalkan pekerjaan tanpa diseneni para ndoro?

Setelah darah saya disedot 250 ml, saya bergegas mengambil jatah makanan dan susu. Petugas memberi sebuah nasi kotak dan sebuah tas berlogo pabrik. Lho, mana susunya? Mau tanya kok ndak enak. Ya sudah lah. Toh, saya dapat gantinya.

Karena penasaran, saya segera membuka tas pemberian itu. Lha, kok jebul isine susu? Bukan segelas, tapi sekilo susu bubuk! Byuh!

20 Februari 2007

Kaos poligami dan pornografi

Sehabis nonton pula, saya mendapat kado kaos Poligami dan Pornografi dari pakde Blontak. Makasih pakde, kaosnya enak banget. Langsung saya pakai, biar besok langsung dicuci.

Terima-kasih Gusti, atas semua kenikmatan yang kau berikan seharian ini...

Kenalan artis

Sehabis nonton, teman saya ketemu temannya.
"Hai, nonton juga?", sapa temanku.
"Iya nih. Kenalin, ini pacarku", balasnya.
"Oh, iya. Kenalin juga, ini teman-temanku semua".

Kami pun mengulurkan tangan dan menyebut nama.

"Nonton sinetronku kan?", tanyanya pada kami.
"Oh, tentu dong...", jawab kami serempak.
"Ya udah, saya pergi dulu ya... Da..."

"Siapa tuh?", saya bertanya pada teman saya.
"Dia itu teman satu rumah model sama gue. Tapi itu dulu", jawabnya.

"Mau mau sinetron kek, pendekar kek, atau presiden kek. Emang gue pikirin? Ngga penting banget!", saya nggerundel dalam hati.

Ghost Rider

Mengapa kalo cewek nonton selalu ribut? Ngobrol dan bercanda jika adegannya sedang datar, histeris jika pemeran yang cowok ganteng keluar dan teriak-teriak jika adegannya sedang seru?

Kado Imlek; Bom Pecas Ndahe

Hari senin (19/02/07) pukul 2 siang lewat sedikit, sebuah pengumuman di dengungkan melalui pengeras suara pabrik:
"Diberitahukan kepada seluruh karyawan pabrik yang berada di gedung sayap selatan, diharapkan untuk segera meninggalkan ruangan menuju halaman lapangan upacara. Ada ancaman bom dari pihak yang belum diketahui. Tim Gegana dari kepolisian sedang mengadakan penyisiran lebih lanjut. Segera jauhi gedung. Ini adalah perintah dari penguasa tertinggi pabrik ini. Bawalah barang terpenting yang anda bisa bawa."

Berulang-ulang pengumuman ini didengungkan.

"Ini serius ngga sih?", seorang teman meminta pendapat.
"Paling juga lagi latihan pemadam kebakaran", sahut teman yang lain.
"Ngomongin apa sih kalian? Kayanya seru deh!", seorang teman cewek nimbrung.
"Dasar oon. Makanya dengerin! Ada ancaman bom di gedung kita tuh", sahut teman pertama.
"Ha? Bom? Ayo cepetan keluar", cewek-cewek langsung histeris.
"Hei, hei, sabar. Bawa barang terpenting yang bisa dibawa!", pesan teman teman kedua.
"Terpenting? Apaan tuh?", tanya yang lain meminta masukan.
"Apa saja. Boleh laptop, tas bawaan, apa saja", kata bos berwibawa, "Hei, kamu. Ayo segera bergegas". Katanya menunjuk ke saya.
"Tapi saya lagi menyiapkan wedang buat ndoro besar. Gimana dong ndoro?".
"Sudah, lupakan saja. Biar dia bikin wedang sendiri. Apa kalo bomnya meledak, kamu mau ikut ndoro besar juga?", tanyanya.
"Oke. Kalo gitu, ayo kita cabut", ajak saya bersemangat.
"Lho, barang terpentingmu mana?", tanyanya.
"Barang terpenting itu selalu saya bawa sedari kecil. Tidak pernah lepas!", balas saya cengengesan.

Di luar, keadaan menjadi gaduh. Petugas keamanan mengarahkan para penghuni gedung ke arah tangga darurat. Lift sepertinya dimatikan, tidak ada yang antri di sana. Di lobi, orang-orang bergerombol tidak mau keluar. Sekali lagi pengumuman dari pengeras suara memerintahkan untuk menjauh dari gedung menuju lapangan. Akhirnya semua keluar. Lapangan dipenuhi manusia pekerja pabrik.

Setengah jam berlalu tanpa kepastian. Orang-orang mulai bergerak meninggalkan lapangan. Bukan kembali ke gedung, tapi menuju ke jalan. Sepertinya mereka pulang ke rumah. Sebagian yang lain masih asyik ngobrol.

"Asyik juga ya. Kalo ngga ada teror, kita ngga bisa keluar lebih cepat kan?", ujar seseorang.
"Iya, tapi saya penginnya kaya gini tiap senin, rabu dan jumat", sahut yang lain.

Busyet!

Tapi omon-omong, kemana teman rombongan saya yang lain?

Rupanya saya terpisah dari teman-teman dan para ndoro. Saya terbengong dan bimbang. Kalo saya pulang, laptop ndoro yang saya bawa mau ditaruh dimana? Ya sudahlah, saya akan menunggu sambil menikmati kegaduhan ini. Selang beberapa menit, hp butut saya berdering.

"Kamu dimana?", suara bos menyapa dari seberang.
"Saya di sisi selatan lapangan ndoro. Ndoro dimana?"
"Kita semua sudah di foodcourt PI. Segera antar laptopnya kesini."
"Oke ndoro, saya segera kesana naik ojek."

Dus, akhirnya kami semua berkumpul di sana. Saya sudah dipesankan secangkir coklat panas yang yahud. Selebihnya, saya tak berani pesan makanan sendiri.

Sekitar jam 4-an, bos menerima telpon dari bos besar. Kami semua harus kembali ke pabrik.

Pabrik kosong. Yang terlihat hanya petugas keamanan dan para jongos plus tukang wedang kawan-kawan saya. Kami segera absen dan keluar lagi. Ke Djakarta Theater, nonton Ghost Rider lagi...

13 Februari 2007

Ultah Presiden Bundaran HI

Saya sebagai salah satu warga Bundaran HI, dengan ini ikut mengundang saudara-saudara untuk menghadiri ulang tahun Bapak Presiden Bundaran HI yang bertepatan dengan tanggal 17 Februari.

Untuk itu, dimohon kehadirannya pada
tgl : 16 Februari 2007
Jam : 21:00 WBHI hingga bosen
Tempat : Sisi barat Bundaran HI, depan air mancur Plaza Indonesia
Panitia wajib datang tepat waktu
Acara ini juga akan diisi dobosan-dobosan dengan tema:
- Strategi Gerilya Kota Mendapat Jablay Murah oleh Endik
- Teknik Mengasapi Menteri oleh Zumux
- Membuat PSSI Menangan oleh Hedi
- Cara Jitu Mencari Pekerjaan Berbasis Blog oleh Bebek
- Kerja di Luar Negeri dengan Standar Gaji Dalam Negeri oleh Nino
- Merapi Pindah nJakarta oleh Ndoro Seten Van Magelang
- Ajeb-ajeb Yes, Skripsi Yes, Pekerjaan Yes oleh Elzan
- Bikin Wedang yang Dolable (gampang didol) oleh Bangsari

Akomodasi: Gratis! Mohon konfirmasi jenis minuman yang akan dipesan, supaya saya tidak salah membuat wedang saudara-saudara sekalian.

NB: Peserta boleh datang telat, boleh bawa gitar, kamera digital dll. Tidak boleh membawa senjata tajam.

06 Februari 2007

Banjir yang melanda Jakarta adalah bukti, bahwa kedzaliman merugikan semuanya. Tidak hanya si pelaku, orang lain yang tidak ikut-ikutan dan bahkan mereka yang berbuat kebaikan pun menerima musibah yang sama.

Sistem kita secara lambat laun telah mendzalimi alam. Daerah resapan air yang seharusnya dilindungi, digusur habis untuk kawasan hunian orang-orang berduit. Tanah-tanah ditutupi aspal dan beton. Sampah diman-mana. Pohon-pohon dipangkas. Air tanah disedot habis.

Akibatnya, banjir dimana-mana.

Ya, kedzaliman harus ditindak!
"Berhati-hatilah kalian, akan suatu akibat yang tidak hanya menimpa orang-orang yang melakukan kedzaliman diantara kamu"

02 Februari 2007

Banjir Jakarta

Jakarta Banjir. Berita itu muncul di berbagai media, menjadi pembicaraan dimana-mana. Di koran-koran, tv, radio, internet dan mungkin media lain.

Saya jadi berandai-andai. Seandainya yang kebanjiran adalah desa-desa terpencil, Bangsari misalnya. Bisa ditebak, kecil kemungkinan adanya pemberitaan. Kalau pun ada juga hanya sekilas saja. Selama puluhan tahun sudah membuktikan hal itu. Meski Bangsari jarang banjir, tapi desa sebelah selalu kebanjiran setiap tahun. Namun seperti biasa, tidak ada pemberitaan. Bahkan kejadian yang menurut saya luar biasa, tidak ada juga. Misalnya ketika beberapa tahun lalu terjadi kecelakaan putusnya jembatan Kali Cimeneng yang membawa korban 9 orang termasuk sebuah keluarga yang terdiri dari bapak-ibu dan dua anaknya tidak muncul juga.

Adalah hal yang lazim, jika muncul di media berarti lebih banyak yang peduli. Makanya kemudian banyak orang ingin muncul di media.

Anda bisa saja membantah. Lho, pusatnya media kan ada di Jakarta. Ya pantas, logis dan wajar-wajar saja kalo pemberitaan seputar jakarta lebih mudah dan lebih besar porsinya.

Ya, bisa saja demikian. Tapi, ini bukan masalah logis dan tidak logis. Bukan pula masalah wajar dan tidak wajar, pantas dan tidak pantas. Lebih dari itu, masalah utamanya adalah kurangnya rasa adil.

Saya kok melihat orang-orang jakarta ini menjadi sedikit egois. Di satu sisi, orang-orang kampung disuruh mengikuti lifestyle nJakarta kalau tidak ingin dianggap ketinggalan jaman, kampungan dan tidak masuk hitungan. Pokoknya ngga banyak gunanya deh. Tapi giliran orang jakarta terkena bencana sedikit, kebanjiran misalnya, mereka menginginkan simpati dari seluruh negeri. Apa ya semua mau dipek dewe? Mbok yaa bagi-bagi.

Orang-orang desa sih sudah terbiasa tidak diperhatikan media dan pemerintah. Pemerintah hanya dianggap sebagai pihak yang harus dipatuhi supaya hidup mereka aman, tenteram dan tidak bermasalah dengan hukum. Soal makmur, ya dipikir dan diusahakan sendiri.

Orang-orang di kampung saya beranggapan, Jakarta ya pemerintah itu sendiri. Paling tidak dekat dengan kekuasaan. Paling ora melu mambu pemrentah. Hal ini jelas sekali terlihat dari cara orang-orang daerah menyebut "Orang Jakarta" untuk merujuk pemerintah (pusat).

Lho, apa maksudnya tulisan ini? Lha mbuh ki.

Saya hanya merasa sedikit bersyukur. Apa pasal? Supaya orang Jakarta juga ikut secara riil merasakan kesusahan yang dirasakan daerah-daerah. Kalo perlu ditambah sedikit gempa dan sedikit tsunami.