30 Januari 2007

Fongers dan Hartog: Menembus malam Jakarta

Cangkruk jumat kemarin, Kang Nino membawa sepeda Raleigh tua hasil perburuan dari Pangandaran ke Bunderan HI. Sepeda itu baru saja diambil dari markas besar perkumpulan Komunitas Onthel Batavia (KOBA) di seputaran pasar Tanah Abang. Mba Yani yang ngonthel, Kang Nino mengikutinya menaiki vespa dari belakang.

Tentu saja saya, Kang Bah dan Endik (yang waktu itu juga ngonthel sepeda tua bermerek Hartog) protes. Lha piye to? Masa, si mba yang disuruh ngontel sementara si akang enak-enakan naik vespa. Belum lagi rute yang akan ditempuh cukup jauh. Tanah Abang - Cempaka Putih. Belum lagi sepeda tua itu tidak dilengkapi dengan rem. Apa ora mesakke kuwi? Tapi, begitulah cinta, deritanya tiada akhir. he..he..

Wis mbuh lah! Itu urusannya rumah tangga mereka. Yang penting kalian tetep rukun. Ya nggak?

Hikmah dari peristiwa ini. Saya jadi kepingin bersepeda.

Omong punya omong, sepakat lah Endik, saya dan Kang Bah dan Endik untuk mengambil sepeda Fongers-nya Mas Yon di Jatiwaringin Pondok Gede besok malamnya.

Malam minggu selepas maghrib, saya dan Kang Bah meluncur dari Kebon Kacang menggunakan kendaraan umum. Endik langsung menuju TKP dari Kalibata menaiki Hartog-nya.

Pukul 20:00 kami tiba di tujuan. Endik yang tiba lebih dulu menjemput kami di mulut gang, sementara tuan rumah menanti kami di teras depan rumah. Satu pithcer es teh manis dan sepiring jeruk telah disiapkan lesehan di beranda rumah. Sebentar kemudian, singkong rebus dikeluarkan. Belum juga habis, tempe goreng yang masih kebul-kebul disusulkan sang nyonya rumah. Wis jan, elok tenan. Pokoke top markotop!

Jam 23.30, hidangan ludes. Kami undur diri.

Sepeda pun dikeluarkan. Ban dipompa dan segala yang dianggap perlu dicek kembali. Sepeda siap, perut penuh. Setelah shalat isya, kami siap meluncur.

Saya kebagian mengayuh Fongers terlebih dulu. Kang Bah dan Endik berboncengan.

"Piye ki, lewat endi? Aku ra ngerti dalan", ujarku.
"Pokoke lurus. Mengko rak tekan", Endik menerangkan.

Yoh, manut. Pokoke melu. Pejah gesang ndherek sampeyan.

Di atas Fly over Stasiun Klender, Endik tiba-tiba berteriak.

"Sik, sik, sik. Salah dalan ki!"
"Salah piye?", sahut Kang Bah.
"Lewat kene sepi, ora ono pemandangann. Ora ono uget-ugete", sambungnya.
"Anjrit", pisuhku.

Kami memutar balik, menuju Stasiun Jatinegara. Benar saja, di seputaran stasiun mahluk-mahluk malam berkeliaran. Para wanita dan juga setengah wanita. Bisa jadi salah satunya kuntilanak. Siapa yang tahu?

Di Halte setelah stasiun Jatinegara, kami berhenti. Haus benar rasanya tenggorokan ini. Saya dan Kang Bah memesan teh panas, Endik memesan Kopi susu panas. Jam menunjukkan pukul 01.10.

Sambil medang, kami mengamati keadaan sekitar. Ternyata kami berada di tengah-tengah para pekerja malam, terutama para mahluk setengah-setengah. Seorang supir bajaj yang sedang tidur dijowal-jawil anunya. Saya terkekeh melihatnya. Dua waria lainnya mondar-mandir mencoba menarik minat pemakai jasa. Di kejauhan yang gelap, segerombolan lainnya sedang ngerumpi. Di sisi lain, para pria bermain kartu ditemani wanita betulan. Dunia yang ajaib!

Waktu menunjukkan pukul 01.30. Teh dan kopi habis, kami pun membayar. Perjalanan siap dilanjutkan.

Begitu hendak mengambil sepeda, seorang waria njawil saya.
"Mau balapan ya Oom?"
"Balapan gundulmu", umpat saya dalam hati.

Kali ini saya kebagian tandem bergantian dengan Endik, sementara Fongers dikayuh Kang Bah.

Melewati Kampung Melayu, kami menuju seputaran Menteng dan sekitarnya. Tugu proklamasi kami lewati, Taman Suropati kami tuju. Perbincangan mengenai sejarah republik ini sempat kami singgung. Seperti biasa, tanpa metode tanpa fokus.

Di Taman Suropati anak-anak muda berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Cewek dan cowok berbaur.

"Weh, ceweke ayu-ayu", Endik menyeletuk.
"Cewek ayu ngendi sing gelem karo wong ngepit?", sahutku.
"Nyawang thok kan ra mbayar", balasnya cengengesan.

Dua kali kami memutari Taman Suropati sebelum menuju Bunderan HI.

"Mampir HI piye?", Endik menawarkan.
"Aku wis mecedhel. Mulih wae", kata Kang Bah.

Ya, kita pulang. Sesampai Kebon Kacang, waktu menunjukkan pukul 02.30. Setelah bersih-bersih
sejenak, kami tidur umpel-umpelan.

Pagi-pagi jam 07.00 Kang Bah dan Endik berangkat ke HI, kumpul dengan KOBA. Saya tidur...

Foto selengkapnya ada di sini.

25 komentar:

sepedaH jelajaH malem mengatakan...

wah ... tulisane dowo - thirix-thirix ... ndakix ... :)

Bangsari mengatakan...

nyepedane yo adoh banget je, makane tulisane yo dowo kang.

pitik bertanya mengatakan...

wah...uget2e entuk piro kang?

Bangsari mengatakan...

#pitik: entuk akeh dab. pengin ora?

kenny mengatakan...

kog reti yen mahkluk alus..mesti jowal-jawil ki :D

kw mengatakan...

wah pul, menarik sekali pengalamanmu. aku menduga, ada beberapa alsan kemungkinan kau melakukan ini.

1. begitu bahagianya masa kecilmu, sampai belum pernah merasakan beratnya ngayuh sepeda jarak jauh.

2. begitu santrinya kau menikmati lingkungan yang steril, sehingga kau ingin tahu dunia yang remang-remang.

3. atau memang kau sangat merindukan kenangan masa lalu itu, bersepeda ditengah hamparan kehijauan sawah dan kau ingin mengulangi selalu.

4. kau ingin jadi cover majalah djakarta? majalah itu suka sekali menampilkan keunikan2 seputar budaya kaum urban jakarta?

heheh... pisss :)

Nananging Jagad mengatakan...

SEPEDA.....asepe tidak ada

mei mengatakan...

halah...po yo ra remuk kuwi kakimu di pake buat ngonthel adohe kayak gt kang??

Bangsari mengatakan...

#kenny: aku yo halus kok bude...
#kw: hebat analisis sampeyan. lha wong saya saja ngga tahu je...
#nananging jagad: hooh. mjur pripun ndoro?
#mei: jangan meremehkan. saya kuat lho....

venus mengatakan...

wah, kluyuran kok gak ngajak2 aku, pul? :P

Bangsari mengatakan...

#venus: gelem? lha, cindhilmu arep ditinggal nang endi?

escoret mengatakan...

wah ternyata jkt ada juga hal yg unik,when2 klo njajah jkt...ada yg bisa jd guide neh..!!!

Bangsari mengatakan...

#escoret: beres bos. mau numpak angkot atau ngonthel tidak masalah. kapan bos?

bebek mengatakan...

wahhh pas seru2ne aku malah pas ra iso.... doooh...
ehh kang... kuwi kontak-ku diisi nomor hp-ku sing im3 wae.. duwe to? nek sampeyan ra duwe si bahtiar mesti duwe... :)

Bangsari mengatakan...

#bebek: beres kang. ora tak tulis mergane kuatir ndak sampeyan pengen private. yo wis tak edite.

nino mengatakan...

Itu bukan ide gue lho...dia sendiri yang mau :p
lagian knp ga mampir? klender dekat rumah gue kan???
niat ya cari uget-uget hahahaha

pyuriko mengatakan...

Apa gak pegel bersedepa jauh2 sprt itu???

joni mengatakan...

asyik tuh bersepeda malem keliling jakarta... sepeda boleh masuk jalan besar ya di jakarta (flyover)???

kenapa gak diajak keliling2 makhluk buas-nya??? :p

DE mengatakan...

uget-uget kui opo tho? Kenek dipangan ra?

Iman Brotoseno mengatakan...

wah malam malam naik sepeda keliling ?...nggak takut parbas ? ( paru paru basah ..he he)

za mengatakan...

gak punya speda bisa ikut ga???

raravebles mengatakan...

wahh.. kalo aku ikut, mechedel tenan..

Bangsari mengatakan...

#nino: oh, gitu to. ya udah, tetep rukun ya...
#pyuriko: pegel ya pasti, tapi seneng juga lho.
#joni: ngga kuat bayarnya mas..
#de: mau uget-uget?
#iman brotoseno: wong cuman sesekali ya ngga papa to mas?
#za: mau ikut? boleh. besok malam ditunggu di HI ya...
#raravebles: ya mbonceng saja. kan penak to?

jt mengatakan...

hehe dua ekor pitik yang sedang cari ayam. akrab banget. boncengan bareng. jangan rebutan ayam ya...

bagonk mengatakan...

hehehe... seru banget...
btw, wes tekan nggone koq ora sisan to...? :P