Apa yang bisa kita dapatkan dengan uang 50 atau 100 ribu rupiah? Sepotong baju, sebuah celana, barangkali? Makan siap saji berdua di Mall atau mungkin pulsa telpon seminggu. Anda bisa menambah sendiri daftarnya. Tapi saya rasa tak banyak yang bisa dilakukan dengan uang sejumlah itu.
Namun di sana, uang sejumlah itu berarti banyak. Tepatnya di pondok pesantren dan lembaga pendidikan Al Urwatul Wutsqo desa Bulurejo, kecamatan Diwek kabupaten Jombang Jawa Timur. Sekitar 10 kilometer ke arah timur dari Tebuireng. (Tebuireng, anda tentu familiar, adalah pondok pesantren yang melahirkan beberapa tokoh besar antara lain: Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, A. Wahid Hasyim dan putranya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan juga tokoh politik Yusuf Hasyim alias Pak Ud.) Tapi dalam hal ini saya tak membahas tentang Tebuireng.
Al Urwatul Wutsqo berasal dari bahasa arab yang secara harfiah berarti tali yang kuat. Mengapa dinamakan begitu, saya tak begitu paham. Setahu saya pondok ini diasuh oleh kyai dan nyai muda yang progresif. Maklum saja, meski hidup mereka berbasis tradisi, tapi keduanya memiliki pendidikan yang tinggi, master. Tapi terus terang saya tak begitu paham dengan profil kedua pengasuh tersebut. Saya lebih akrab dengan pak Misbach Halimi, salah satu pengasuh pondok yang juga berpendidikan magister.
Mengapa soal master-masteran ini saya kemukakan? Karena dalam kehidupan pesantren, tradisi keilmuan kampus ralatif kurang mendapat tempat. Bahkan pada pesantren-pesantren yang masih sangat berbasis tradisi, sekolah lebih dianggap sebagai kemubadziran daripada kemanfaatan. Muspro, orang jawa bilang.
Saya pernah iseng-iseng tanya: "untuk apa sih kyai pakai master-master segala?”. Pak Misbach menjawab: "Bukan kami yang butuh gelar itu. Tanpa gelar itu Depag (Departemen Agama) dan Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional) akan meremehkan institusi kami. Kami ingin meyediakan pendidikan bagi anak-anak miskin, tapi pendidikan yang diakui resmi oleh Depag dan Diknas. Sehingga kedepannya mereka memiliki harapan hidup yang lebih baik. Tak dapat dipungkiri, ijasah masih menjadi panglima dalam mencari pekerjaan di Indonesia. Kami membekali mereka dengan ijasah. Tidak muluk-muluk."
Pondok pesantren ini memiliki sekolah: Madrasah Ibtidaiah (SD), Madrasah Tsanawiyah (SMP), Madrasah Aliyah dan SMA. Sedangkan di tingkat yang lebih tinggi ada Pendidikan Guru SD (PGSD) dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang sifatnya filial (kelas jauh). Semua statusnya kini disamakan. Tiga hari yang lalu pak Misbach mengabari sudah ada satu lagi tambahan cabang pendidikan tinggi lain, tapi saya lupa namanya.
Dari leaflet sederhana yang saya perolah dari bapak saya, pendidikan disini Gratis: SPP, Uang Gedung, Ujian Pendaftaran, buku, seragam. Siswa hanya dituntut rajin dan disiplin. Uang makan bagi yang mondok Rp 100.000,-/bulan. Yang tidak mampu JUGA DIBEBASKAN. Kursus Komputer, seni musik, pramuka, PMR, Olahraga, Ngaji, Menghapal Al Qur'an dll. Juga tersedia program akselerasi: sekolah dua tahun bagi yang pandai.
Bagaimana alokasi dana yang hanya 100 ribu tersebut? Perinciannya sebagai berikut: 60 ribu untuk uang makan, 10 ribu untuk kas pondok, 10 ribu untuk sekolah dan 20 ribu uang cadangan siswa itu sendiri. Bagi yang kemampuannya hanya 50 ribu, tetap diterima. Yang kemampuannya 30 ribu juga tetap diterima. Bahkan yang tidak mampu sama-sekali, seperti Udin tetangga saya, juga tak masalah. Hebatnya lagi, tidak ada hutang yang harus dibayar dikemudian hari. Pendeknya, semiskin apapun calon muridnya, mereka akan tetap diterima dan dididik.
Jika biaya pendidikan disana sedemikian murahnya, berarti muridnya banyak dong? Ehm, sebenarnya tidak. Hanya sekitar 50-an santri. Pada kenyataannya mencari orang miskin yang mau menempuh pendidikan dalam keprihatinan tidaklah gampang. Meski yayasan ini sudah ada dari sebelum tahun 2000-an, pada kenyataannya jumlah santrinya tidak mengalami peningkatan berarti. Untuk itulah, mereka meminta pihak lain untuk menyebarkan informasi ini, salah satunya kepada bapak saya yang diserahi tugas menajdi penyampai informasi untuk daerah Bangsari dan sekitarnya.
*****
Udin tetangga, seorang anak yatim. Tidak ada lagi yang mengasuhnya semenjak dia lulus SMP dan bapaknya menggantung diri karena kemsikinan yang sangat. Bapak saya membujuknya untuk masuk ke sana berbarengan dengan enam anak laki-laki lain dari desa kami dua tahun lalu. Bertujuh mereka menjadi santri disana sejak sejak itu. Pak Misbach meminta Bapak untuk menjadi penyalur anak-anak miskin yang ingin bersekolah. Semiskin apa pun mereka. Tahun ini Bapak mengantarkan tiga anak perempuan kesana. Tentu saja tak semua memiliki biaya. Terakhir kabar yang menurut saya cukup membanggakan adalah, salah satu dari mereka sudah mulai kuliah tahun ini. Sambil bekerja sedapatnya, serabutan.
Lalu darimana biaya bagi yang kurang atau tidak mampu bahkan tidak berbiaya sama sekali? Pak Misbach Halimi, yang memiliki jabatan resmi kepala sekolah SMA dan MA Al Urwatul Wutsqo, mengatakan bahwa biaya mereka yang tak mampu ditanggung yayasan pondok. Para santri juga diwajibkan bekerja, bekerja apa saja. Mulai dari turun ke sawah hingga sekedar mengepel lantai masjid. Prinsipnya, santri tidak boleh membuang waktu secara tidak berguna.
Lantas darimana pihak pondok membiayai mereka? Jawabanya: subsidi silang dari siswa yang sanggup membayar atau dari donatur yang mendatangi mereka jika ada. Bagaimana jika biaya dari siswa yang membayar dan dari donatur tidak mencukupi? Pak Misbach meyakini, tidak mungkin Tuhan meninggalkan mereka. Sebagaimana ulat yang tinggal di dalam batu sekalipun diberi makan oleh-Nya. Belum pernah terjadi para santrinya tak makan.
Ah, rupanya Jakarta mulai mempengaruhi pikiran saya.
Uang seratus ribu memang bisa berarti banyak.
Tabik!
Update: tambahan informasi atas pertanyaan mas Zamroni.
Jika Anda tertarik dengan program ini, atau Anda hendak menyalurkan anak didik, atau mungkin Anda hendak menyalurkan sumbangan dll, silahkan hubungi Bapak Misbach Halimi, kepala Sekolah Al Urwatul Wutsqo, di nomor 081803231870 atau ke alamat Jl Purnawirawan no 1 Jombang.