Tak banyak informasi yang saya ketahui tentang dia. Namanya Dian. Dian Novianti. Dia menjadi anggota keluarga kami tepat seminggu sebelum lebaran kemarin (1427 H).
Hari itu, seorang ibu bersama seorang gadis kecil mendatangi Bu Lik saya, Adminah. Mereka datang dari Lebeng, kira-kira 40 km jauhnya dari Bangsari. Si ibu telah kami kenal sebelumnya, tapi gadis itu tidak. Gadis itu sendiri berumur sekitar 8 tahun. Kelas dua Sekolah Dasar. Sangat kurus. Berkulit sawo matang, berambut tipis dan lurus.
Setelah mengobrol sedikit, si ibu itu menyatakan keinginannya menitipkan si gadis kecil itu pada Bu Lik. Tanpa berpikir dua kali, Bu Lik pun langsung bersedia. Sebelumnya, Bu Lik yang tidak memiliki anak kandung juga sudah menerima titipan seorang anak laki-laki bernama Ishak. Tapi Ishak masih memiliki hubungan darah yang kuat dengan kami, berbeda dengan Dian.
Si Ibu bercerita bahwa suaminya tidak mau lagi menanggung biaya hidup si kecil Dian. Lebih tepatnya keberatan. Maklum saja, hidup mereka pas-pasan tanpa penghasilan pasti. Suami-istri tersebut kemudian berembuk bagaimana mengatasinya. Keluarlah ide itu, menyerahkan Dian pada Bu Lik saya. Status si kecil dalam keluarga itu juga titipan. Titipan dari Mbahnya Dian.
Mbahnya Dian, si mbah putri, bukanlah mbah kandung. Mbah kwalon, mbah tiri. Layaknya mbah kwalon, perhatian pada si kecil tak sama dengan mbah kandung. Selain itu, keluarga kakek nenek ini juga tidaklah mapan. Dan yang terutama, mereka sedang memiliki seorang bayi kecil. Tentu saja mbah-mbah ini tak mampu mengurusi Dian dan ketiga saudaranya. Ya. Dian adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya seorang laki-laki, sedang kedua adiknya saya tak mendapat informasi yang jelas.
Bapaknya Dian dulunya seorang yang cukup mapan untuk ukuran kampung, di Gombong
Sepeninggal istrinya, si Bapak ingin menikah lagi. Si calon istri baru bersedia dinikahi dengan satu sarat; tanpa kehadiran Dian bersaudara dalam keluarga mereka nantinya. Demi memenuhi kemauan si calon istri baru, Dian bersaudara harus disingkirkan. Pada suatu malam kemarau panjang yang dingin, mereka berempat dibuang di emperan sebuah toko di suatu kawasan perdagangan di Gombong. Ya, di buang! Ditaruh dan ditinggalkan begitu saja dengan harapan ada orang yang mau mengambil mereka.
Menurut ceritanya si ibu yang membawa Dian, semalaman si bapak tak bisa tidur memikirkan keempat anaknya. Tega larane ora tega patine. Pagi buta sebelum subuh, dia mendatangi anak-anaknya kembali. Mereka masih di tempat yang sama tak bergeming. Mereka kedinginan. Saling berpelukan dan menangis kecil sesenggukan.
Sang Bapak membawa mereka berempat pulang kembali ke rumah. Tapi itu hanya sesaat. Si Bapak kemudian membawa Dian bersaudara ke kakek-neneknya di sekitar Lebeng. Seperti sudah diceritakan diatas, kakek-neneknya keberatan menampung mereka. Oleh kakek-neneknya satu persatu mereka dititipkan ke saudara, tetangga atau kenalan yang mau menampung mereka. Ketiga saudara Dian ditampung kerabat, sedangkan Dian akhirnya sampai di Bangsari. Tanpa proses adopsi tentunya, karena kami tak mengenal kata adopsi.
Begitulah cerita Dian, si gadis kecil anggota baru keluarga Bangsari. Bagaimana ceritanya ketiga saudaranya? Entahlah. Tak banyak informasi yang saya dapatkan.
Bu Lik meyakini, setiap anak yatim membawa malaikat penjaganya sendiri yang melindungi dan mendatangkan rezeki buat si kecil. Bu Lik menyambutnya dengan sukacita...










