Mereka seperti hantu, datang dari ketidak-nyataan. Aku lihat mereka di jalanan. Terserak bagai sampah sehabis banjir. Mereka lusuh, dekil dan kotor. Mereka ada dimana-mana. Di emperan, di trotoar, di jembatan penyeberangan, di pasar, di depan supermarket, di depan rumah sakit, di depan masjid selepas jumatan dan semua tempat berlalu lalangnya banyak orang.
Ada nenek-nenek dan kakek-kakek bertubuh ringkih berambut putih. Ibu-ibu muda dengan bayi merah dalam gendongan dan segerombolan anak-anaknya, mungkin juga anak orang lain. Bapak-bapak setengah baya bertatap mata kosong, bertopi dan merokok. Anak-anak kecil usia sekolah laki-laki perempuan yang ceria sambil berlagu.
Mereka menadahkan tangan. Meminta receh, kalo mungkin lembaran kertas yang lebih berharga.
Mereka disana. Ribuan, bahkan mungkin jutaan. Dari pagi, siang, malam hinga pagi lagi. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Hingga orang yang lewat menganggap mereka sebagai aksesoris pelengkap kehidupan. Sudah sewajarnya. Lumrah dan biasa.
Mereka tidur, bangun, makan, minum, mandi, buang hajat hingga tidur lagi disana. Mereka menderita, tertawa, sakit, beranak juga disana. Sebagian mati, dan sebagian besar antara hidup dan mati.
Mereka disana. Di Indonesia. Negeri dengan sejuta keajaiban.
Buminya mengandung segala yang berguna bagi kehidupan. Ada bergunung-gunung emas, tembaga, perak, timah, besi, titanium dan semua logam yang ada dalam tabel periodik Mendeleyev. Ada minyak bumi, gas alam, batu-bara tua dan muda dan sebagainya. Hutan Indonesia begitu luasnya hingga menjadi paru-paru dunia. Lautnya seperdelapan luas bumi dengan ikan yang tak pernah habis. Tanahnya teramat subur hingga tongkat yang ditancapkan pun menjadi tanaman. Setiap jengkal tanah, air dan udaranya mengandung kebaikan.
Tidak ada negeri yang melebihi ataupun hanya setara Indonesia. Keindahannya melebihi Jonggring Saloka. Bahkan dalam cerita pewayangan, para dewa pun memimpikannya.
Penguasa Indonesia dari zaman ke zaman begitu mulia, begitu dermawan dan murah hati. Materi, dunia, kesenangan dan keindahan bukan hanya tidak penting, bahkan dianggap meracuni dan karenanya harus ditinggalkan rakyat. Penguasa memberikannya untuk bangsa lain. Semua. Semua diberikan untuk bangsa lain.
Bagaimana dengan sebagian besar penghuninya?
Rakyat Indonesia adalah rakyat terbaik bagi penguasa yang pernah Tuhan ciptakan. Patuh dan setia dalam keadaan apapun, kapanpun. Tidak pernah bertanya, berteriak, apalagi menuntut. Rakyat di negara lain mungkin sudah angkat senjata, tapi mereka tidak. Mereka puas menyaksikan mimpi yang disuguhkan si kotak ajaib.
Mereka percaya masa yang lebih baik akan datang segera. Masa 61 tahun merdeka tidaklah seberapa. Mereka percaya masa penuh kebahagian akan datang segera. Masa yang gilang gemilang. Dimana tidak ada lagi penderitaan dan kesengsaraan. Yang ada hanyalah kebaikan, keindahan dan kesempurnaa.
Ya, segera. Masa itu sudah semakin dekat. Tak bisa dipungkiri lagi. Masa itu sudah didepan mata. Begitu mereka meyakini.
Sambil menunggu, mereka turun ke jalan. Menadahkan tangan. Mereka lusuh, dekil dan kotor. Mereka ada dimana-mana. Di emperan, di trotoar, di jembatan penyeberangan, di pasar, di depan supermarket, di depan rumah sakit, di depan masjid selepas jumatan dan semua tempat berlalu lalangnya banyak orang.
Dirgahayu Indonesia...