Di depan rumah kami terdapat masjid pesantren Bangsari, tempat diadaknnya Jumatan rutin. Sebenarnya lebih tepat kalo dikatakan nama Bangsari diambil sebagai nama awal pesantren kami. Kira kira mirip seperti pesantren Tebuireng, Tambak Beras, Ploso dll yang diambil dari nama daerah tersebut meski sebenarnya ada nama yang resmi untuk pesantren-pesantren itu. Biasanya nama resminya kurang dikenal.Dalam tradisi Bangsari, setiap jumat menjelang tengah hari, merupakan ajang lomba untuk lebih dulu mencapai masjid terlebih lagi para orang tua yang sudah merasakan cukup atas kehidupan dunia. Menurut pengajian di masjid pesantren bercorak NU depan rumah, barang siapa yang sampai paling dulu ke masjid di hari Jumat, tentu saja dalam rangka Jumatan, akan mendapatkan pahala selayaknya berkorban seekor onta. Sehingga mereka berlomba seawal mungkin mencapai masjid.
Biasanya para kakek-nenek berangkat sekitar jam sepuluh pagi bahkan terkadang lebih awal. Mbah San Ngumar, Mbah Barudin, Mbah Nardi, Kaki Yono, Kyai Jalal, Pak Hanapi, Kaji Somad, Kaji Kidul, Mbah Abdul Majid alias Kaji Lor kakek saya, dan tentu saja Mbah Kyai Syarbini sendiri sebagai pemegang tampuk kekyaian di pesantren termasuk pelopor kelompok ini. Kalangan bapak-bapak diwakili Pak Darso bapak saya sendiri, Kang Miswan, Kang Wasbir, Pak Ngabas, Kang Pangat, Kang Hudi adalah kelompok yang datang sesaat kemudian. Di bawahnya adalah kelompok pemuda yang rajin mengatur keperluan masjid dan tentu saja menjadi pengawal kelompok terakhir. Kami, kelompok yang paling muda alias remaja ke bawah adalah kelompok penggembira dalam perlombaan itu.
Saya termasuk kelompok terakhir. Kelompok yang paling suka bicara sendiri ketika khotbah berlangung. Kelompok yang pemalas, dalam arti biasanya baru berangkat setelah adzan pertama dikumandangkan. Kami selalu duduk di barisan paling belakang dekat pintu keluar.
Orang-orang yang lebih tua sering menganjurkan kami berangkat lebih awal supaya mendapat pahala onta. Namun dasar anak-anak nakal, kami memberi alasan: " Memang para orang tua mendapat onta. Tapi ingat, mereka yang didepan pada ngantuk bahkan tidur, sudah pasti kamilah yang mendapatkannya. Karena kami tidak pernah ngantuk sedikitpun sampai khotbah selesai." Saya tersenyum mengingatnya. Kata-kata itu mengelikan saya sampai hari ini.
Sekarang, disini. Di seputaran thamrin, saya tetap setia menjadi kelompok yang berangkat terakhir. Tapi dengan sedikit kemajuan, saya mengantuk pada hampir semua khotbah yang berjalan. Ah, saya sudah mulai memasuki kelompok yang lebih tinggi, kelompok yang lebih tua...
Bagaimana dengan anda? Maaf, maksud saya bagaimana dengan onta anda?








