26 Desember 2006

Mendadak Homo

Selepas maghrib, acara kumpul-kumpul di Semanggi pun diakhiri. Bebek pamit pulang dengan Irwan, Mita hendak shopping dengan Yuniar (belum punya blog) dan saya pulang dengan Kang Bahtiar.

Mumpung masih dia area Semanggi, saya ajak Kang Bahtiar ke supermarket di lantai bawah. Maksud saya sekedar melihat-lihat, barangkali ada yang menarik. Paling tidak cuci mata murah meriah.

Saya membeli sekilo jeruk santang yang ukurannya seupil-upil itu. Kang Bahtiar membeli satu liter susu segar coklat, sepaket yakult, seikat bengkoang dan beberapa perlengkapan mandi. Setelah itu, kami pulang melewati area cafewalk tempat kami berkumpul sebelumnya.

Ternyata, kami jumpai lagi Mita dan Yuniar sedang mengantri di depan sebuah mesin penarikan uang. Rupanya mereka juga sehabis jalan-jalan di dalam plasa.

Segera kami terlibat dalam perbincangan lagi. Seperti pada perbincangan sebelumnya, perbincangan kali ini pun ndladrah kemana-mana tanpa fokus. Sampai akhirnya tentang topik ini.

"Eh, kamu tinggal dimana sih?", tanya Yuniar.
"Di kebon kacang. Seberang Sarinah Thamrin, belakang PBB", jawab saya.
"Serumah?", tanya Yuniar lagi.
"Ngga cuman serumah, sekamar malah", timpal Kang Bahtiar.
"Wah, jangan-jangan..."
"Oh, tentu... Cinta kan universal, tidak mengenal jenis kelamin!", Canda Kang Bahtiar.
"Beneran nih? Temen gue lagi minta di cariin pacar. Namanya Paulus, tapi panggilannya Paula. Gimana, mau ngga?", Yuniar meminta klarifikasi saya.
"Hus! Aku ini normal. Ngga ada minat begituan",
"Dia itu tuh TeOPe BeGeTe deh. Orangnya stylis, wangi, baik hati dan yang terpenting, dia tajir. Sempurna kan?", dia masih saja bersemangat berpromosi.
"Enak aja! I am 100% normal", saya meyakinkan.
"Yun, coba aja biar tahu dia normal apa ngga. Gimana?", Kang Bahtiar berseloroh.
"Soalnya, gue lihat kamu tuh punya bakat. Meski lelaki, kamu tuh cantik. Gerakanmu lembut. Coba Mit, Mas Bah, caranya berdiri saja cukup meyakinkan. Iya to?", kali ini dia meminta pendapat Mita dan Kang Bahtiar. Yang dimintai pendapat hanya tertawa saja. (Mita yang sedang sakit tenggorokan malah jarang bicara.)
"Ngawur!", elakku.
"Kalo memang engga, kenapa belum punya pacar juga?"

Saya pun kehabisan kata-kata. Aduh biyung, aduh Gusti... Paringono bojo ayu...

25 Desember 2006

Suami Idaman

Sepulang dari jalan-jalan saya dapati Mas Budi, penghuni kamar sebelah di Kos Kebon Kacang sedang melakukan ritual akhir pekan. Bersih-bersih.
Saya meledeknya: "Benar-benar calon suami idaman! Nanti, Istri Abang pasti bangga punya suami yang rajin bersih-bersih".
Mas Budi tertawa kecil menanggapi ledekan saya.

Sepulang dari jalan-jalan itu pula, saya baru sadar kalau celana jeans yang saya kenakan, jahitan di bagian lutut kanan terlepas agak lebar. Akibatnya, bagian ini sedikit menganga. Untuk menjaga supaya tidak ndladrah lebih parah, segera saya jahit dengan peralatan jahit tangan seadanya.

Gantian Mas Budi yang meledek saya:
"Benar-benar calon suami idaman! Nanti, Istri Mas pasti bangga punya suami yang pintar menjahit".

Kami tertawa bersama, kedudukan sekarang imbang 1-1.

Ah, tapi sayangnya jodoh tak semudah bersih-bersih di akhir minggu atau menjahit celana jeans. Seandainya semudah itu...

Liburan kok nang Jakarta?

Asem ki! Kabeh podo liburan, aku malah nang Jakarta. Kapan iso libur yo...?

Bahkan toilet pun punya aturannya sendiri

Toilet cowok

Toilet cewek

Cewek po cowok yo?

Buanglah "ampas" pada tempatnya

Sopo sing biasane ngene? Hayo, ngakuo...

14 Desember 2006

Kartu kredit; kemudahan atau kebutuhan?

"Kartu kreditnya pak...", kata seorang petugas dari Bank *** pada saya di bagian depan sebuah toko swalayan.
"Oh, tidak. Terimakasih", jawab saya sambil lalu.

Lima meter sesudahnya, seorang petugas lain, kali ini perempuan, menawari hal yang sama.
"Kartu kreditnya pak..."
"Tidak, terimakasih..."

Kemudian saya masuk membeli jeruk. Untuk mengobati sariawan. Keluar dari situ, petugas yang lain menghampiri saya. Kali ini perjuangannya lebih serius.

"Kartu kreditnya pak. Kami dari Bank *** sedang mengadakan promo khusus lho. Silahkan brosurnya..."
"Oh, maaf. Saya tidak tertarik. Sudah punya", saya mencoba membohonginya. Maksud saya biar dia saya tidak bertanya lebih lanjut. Eh, ternyata dugaan saya salah.
"Kartu kredit bapak dari bank apa?"
"Bank ANU. Memangnya kenapa Mba?", saya tak enak juga mengacuhkannya.
"Yang Silver apa Gold?"
"Silver"
"Apa tidak diupgrade sekalian?"
"Lho, banknya kan lain. Memang bisa?"
"Oh, bisa pak. Mari saya jelaskan lebih lanjut. Mari, duduk dulu. Mari."
"Waduh, maaf sekali. Saya rasa kartu kredit saya sudah cukup"
"Maaf ya pak, tapi tawaran kami lebih bagus. Bla..bla..bla..bla.. Coba bandingkan dengan kartu kredit yang bapak miliki saat ini"
"Maaf sekali, Mba. Saya tak membutuhkannya. Maaf ya... Permisi..."
Dia masih mengikuti langkah saya, terlihat sekali dia sedang bersemangat. Dengan senyum yang agak dipaksakan saya permisi segera. Dia menyerah dan berbalik.

*****

Saya tak habis pikir dengan si petugas. Apa tampang saya cukup pantas untuk pemegang kartu kredit? Rasanya kok tidak. Saya menduga dia sedang dikejar setoran dari kumpeninya. Kemungkinan lain, dia terpesona dengan saya. Cewek gitu lho. He..he..he.. (narsis dikit boleh dong).

Kartu kredit. Saya belum paham benar apa fungsinya, selain sebagai semacam peminjaman uang yang pengembaliannya bisa dicicil. Lebih dari itu, saya tak paham. Saya sendiri tidak punya dan merasa tidak memerlukannya. Paling tidak, belum untuk saat ini.

Terus terang saya takjub dengan para penjual kartu kredit ini (penjual apa bukan ya?). Lha wong jualan kartu kredit kok mirip jualan kacang goreng, semua orang ditawari.

Dalam benak saya, kartu kredit ini kan hanya semacam alat bantu untuk mempermudah pembayaran. Lha, kalo ATM saja sudah cukup mudah, ngapain pakai kartu kredit segala? Mungkin ada yang menjawab: tapi kan kartu ATM lebih terbatas, beda dengan kartu kredit yang fleksibel. Pertanyaannya, ini untuk kebutuhan apa untuk kemudahan? Bukannya butuh dan mudah itu berbeda? Lagipula, semakin mudah mengeluarkan uang (dan atau utang), keuangan cenderung semakin kacau. Kalo semua orang punya kartu kredit, pada akhirnya apa malah tidak menyengsarakan orang yang berkeuangan pas-pasan macam saya? Saya masih meyakini, kartu kredit sepantasnya dimiliki oleh orang-orang yang kelebihan duit yang tak mau ribet.

Pada akhirnya hal ini memang soal pilihan. Dituntut kesadaran pribadi dalam hal ini. Tapi, dengan rayuan yang memborbardir dan didengungkan setiap saat melalui berbagai cara, apa ya bisa berpikir jernih? Saya memilih untuk tidak memilikinya. Maksud saya, belum.

Bagaimana dengan Anda?

13 Desember 2006

Jakarta

Di sini, di Jakarta
Banyak hal yang membingungkan dan menggelisahkan

Manusia dikejar bayang-bayangannya sendiri

Mengejar ketidaksejatian

Ditipu oleh pikirannya sendiri

11 Desember 2006

Kabar seorang kawan

Seorang kawan lama di Jogja menelepon, mengabarkan kampus mengijinkannya untuk menyelesaikan skripsinya.

Sebut saja dia MK, seorang aceh yang ikut merasakan dampak tsunami secara tidak langsung. Saat peristiwa tsunami terjadi, dia baru seminggu datang dari Aceh. Kabar keluarganya tak pernah jelas hingga kini.

Sejak itu dia menghilang dari dunia kampus, seingat saya lebih dari satu semester. Saat mentalnya siap, pihak kampus menolak ijinnya untuk aktif kembali dan menyelesaikan skripsinya. Alasannya, masa kuliahnya telah melewati batas. Nasibnya kini menggantung.

Lobi dekan dan wakil rektor sempat dia lakoni. Tapi lagi-lagi terbentur masalah administratif. Pihak universitas beralasan hal ini menjadi wewenang fakultas dan fakultas mengatakan ini wewenang jurusan. Sementara jurusan merasa tidak berwenang memberi ijin. Berputar-putar tanpa penyelesaian.

Entah ada angin apa yang berhembus, tiba-tiba saja minggu lalu pihak jurusan memanggil kembali mahasiswa-mahasiswa abadi termasuk MK. Ada ijin dari rektor, begitu yang saya dengar.

Masalahnya kemudian, biaya yang harus ditanggung teman saya ini tidak sedikit. Uang SPP yang tertunggak beberapa semester, uang kompensasi melewati masa studi dll. Kalo tak salah, totalnya sekitar enam jutaan rupiah lebih.

Teman saya bingung hendak kemana mencari uang sebanyak itu. Saya yang ditelepon juga tak kalah bingung.

Saya jadi membayangkan, seandainya kita memiliki lembaga sosial yang memadai. Seandainya...

06 Desember 2006

Kaos kaki dua kencingan

"Kaos kaki, kaos kaki! Kaos kaki bang!", seorang pedagang Bundaran HI menawari kami. Si penjual kaos kaki ini berdasi dan bersepatu layaknya orang kantoran. Dagangannya ditenteng dalam tas. Sekilas penampilannya tidak menampakkan dia seorang pedagang.

"Ngga ah. Udah punya. Lagian saya kan cuman make sandal jepit. Barang kali mas yang make sepatu ini butuh", tunjuk saya pada kang Zumuk.

Yang ditunjuk malah mesam-mesem seperti prawan ditari rabi, membuat pedagang itu keki. Tak mau kalah, si abang itu mengulangi lagi tawarannya, kali ini dengan bumbu sedikit humor.

"Ayo bang. Murah kok. Cuman 2 ribu. Dua kali kencing doang... Masa kurang murah?"

Si Endik terkekeh hingga terbatuk-batuk.

Ayo, sapa mau kaos kaki seharga dua kali kencing?