Apa yang bisa kita dapatkan dengan uang 50 atau 100 ribu rupiah? Sepotong baju, sebuah celana, barangkali? Makan siap saji berdua di Mall atau mungkin pulsa telpon seminggu. Anda bisa menambah sendiri daftarnya. Tapi saya rasa tak banyak yang bisa dilakukan dengan uang sejumlah itu.Namun di
Al Urwatul Wutsqo berasal dari bahasa arab yang secara harfiah berarti tali yang kuat. Mengapa dinamakan begitu, saya tak begitu paham. Setahu saya pondok ini diasuh oleh kyai dan nyai muda yang progresif. Maklum saja, meski hidup mereka berbasis tradisi, tapi keduanya memiliki pendidikan yang tinggi, master. Tapi terus terang saya tak begitu paham dengan profil kedua pengasuh tersebut. Saya lebih akrab dengan pak Misbach Halimi, salah satu pengasuh pondok yang juga berpendidikan magister.
Mengapa soal master-masteran ini saya kemukakan? Karena dalam kehidupan pesantren, tradisi keilmuan kampus ralatif kurang mendapat tempat. Bahkan pada pesantren-pesantren yang masih sangat berbasis tradisi, sekolah lebih dianggap sebagai kemubadziran daripada kemanfaatan. Muspro, orang jawa bilang.
Saya pernah iseng-iseng tanya: "untuk apa sih kyai pakai master-master segala?”. Pak Misbach menjawab: "Bukan kami yang butuh gelar itu. Tanpa gelar itu Depag (Departemen Agama) dan Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional) akan meremehkan institusi kami. Kami ingin meyediakan pendidikan bagi anak-anak miskin, tapi pendidikan yang diakui resmi oleh Depag dan Diknas. Sehingga kedepannya mereka memiliki harapan hidup yang lebih baik. Tak dapat dipungkiri, ijasah masih menjadi panglima dalam mencari pekerjaan di
Pondok pesantren ini memiliki sekolah: Madrasah Ibtidaiah (SD), Madrasah Tsanawiyah (SMP), Madrasah Aliyah dan SMA. Sedangkan di tingkat yang lebih tinggi ada Pendidikan Guru SD (PGSD) dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang sifatnya filial (kelas jauh). Semua statusnya kini disamakan. Tiga hari yang lalu pak Misbach mengabari sudah ada satu lagi tambahan cabang pendidikan tinggi lain, tapi saya lupa namanya.
Dari leaflet sederhana yang saya perolah dari bapak saya, pendidikan disini Gratis: SPP, Uang Gedung, Ujian Pendaftaran, buku, seragam. Siswa hanya dituntut rajin dan disiplin. Uang makan bagi yang mondok Rp 100.000,-/bulan. Yang tidak mampu JUGA DIBEBASKAN. Kursus Komputer, seni musik, pramuka, PMR, Olahraga, Ngaji, Menghapal Al Qur'an dll. Juga tersedia program akselerasi: sekolah dua tahun bagi yang pandai.
Bagaimana alokasi dana yang hanya 100 ribu tersebut? Perinciannya sebagai berikut: 60 ribu untuk uang makan, 10 ribu untuk kas pondok, 10 ribu untuk sekolah dan 20 ribu uang cadangan siswa itu sendiri. Bagi yang kemampuannya hanya 50 ribu, tetap diterima. Yang kemampuannya 30 ribu juga tetap diterima. Bahkan yang tidak mampu sama-sekali, seperti Udin tetangga saya, juga tak masalah. Hebatnya lagi, tidak ada hutang yang harus dibayar dikemudian hari. Pendeknya, semiskin apapun calon muridnya, mereka akan tetap diterima dan dididik.
Jika biaya pendidikan disana sedemikian murahnya, berarti muridnya banyak dong? Ehm, sebenarnya tidak. Hanya sekitar 50-an santri. Pada kenyataannya mencari orang miskin yang mau menempuh pendidikan dalam keprihatinan tidaklah gampang. Meski yayasan ini sudah ada dari sebelum tahun 2000-an, pada kenyataannya jumlah santrinya tidak mengalami peningkatan berarti. Untuk itulah, mereka meminta pihak lain untuk menyebarkan informasi ini, salah satunya kepada bapak saya yang diserahi tugas menajdi penyampai informasi untuk daerah Bangsari dan sekitarnya.
Udin tetangga, seorang anak yatim. Tidak ada lagi yang mengasuhnya semenjak dia lulus SMP dan bapaknya menggantung diri karena kemsikinan yang sangat. Bapak saya membujuknya untuk masuk ke
Lalu darimana biaya bagi yang kurang atau tidak mampu bahkan tidak berbiaya sama sekali? Pak Misbach Halimi, yang memiliki jabatan resmi kepala sekolah SMA dan MA Al Urwatul Wutsqo, mengatakan bahwa biaya mereka yang tak mampu ditanggung yayasan pondok.
Lantas darimana pihak pondok membiayai mereka? Jawabanya: subsidi silang dari siswa yang sanggup membayar atau dari donatur yang mendatangi mereka jika ada. Bagaimana jika biaya dari siswa yang membayar dan dari donatur tidak mencukupi? Pak Misbach meyakini, tidak mungkin Tuhan meninggalkan mereka. Sebagaimana ulat yang tinggal di dalam batu sekalipun diberi makan oleh-Nya. Belum pernah terjadi para santrinya tak makan.
Ah, rupanya
Uang seratus ribu memang bisa berarti banyak.
Tabik!
Update: tambahan informasi atas pertanyaan mas Zamroni.



20 Sing Melu Umuk:
hebat sekali mereka. memang dengan niat yang kuat, seberat apapun tantangan pasti terlewati.
:)
wis to..
bali ndeso, bukak kontak jodoh n panti pijet murah murahan, 100 ewu ditompo, 50 ewu ditompo, 30 ewu ugo ojo ditolak.. ditanggung rame, mlebu tipi..
aku salut sama pmikiran n keyakinan pengasuh pondok pesantren itu. Mdh2 an banyk anak 'minus' yang terangkat dengan niatan baiknya. Juga moga2 byk donatur yang menyokong pendidikkan tsb.
orang2 seperti mereka musti disemangati dan didukung tentunya dengan moral dan material.
semoga Allah senantiasa memberikan mereka kemudahan dan meringankan langkahnya.
benar-benar usaha mulia. coba kalau tidak hanya ada di Jombang, tapi di seluruh Indonesia, pasti Indonesia akan lebih maju.
hemmmm ini yg ditunggu2...
pendidikan murah...!!!
bukan pendidikan yg mahal... dah gitu tiap tahun ganti kurikulum... ganti buku...
tae'laaah... pemerintah goblok... uang buat makan aja udah berat... suruh beli buku baru tiap taoooon!
wooiiii mentriii pendidikan yg gak berotaaaaak!
OOOPS... maap... jadi emosi :D
100 ribu itu banyak loch bwt 'mereka'
edaaan... top tenan... :)
salut...
gt: tapi kanggone kowe sitik to git..?? dasar cewek... hehe..
....mingsih ada iang waras ternjatah di kitaorang poenja tanah en aer poen....ik do'ain samoga itoe iang poenja sakola lantjar diaorang poenja redjeki en sihat selaloe poen...Amieeen...
@anti kemapanan: pststst kuwi jatah pulsa 3 hari mas :P
bagi saya 100 ribu itu tetap banyak, soale ra mudeng karo rego2 saiki ning indo.
Hebat sekali mereka ya, yang begini ini perlu diacungi jempol dan didukung!
moga2 +maju & +sukses usaha mulianya mas
Subhanallah, bener2 luar biasa.
Hanya dgn 100rb bisa memperoleh pendidikan.... salut buat mereka.
Kalo aja biaya pendidikan di Indonesia murah... *mimpi*
meguru ndek pondok situ diajari silat nggak ya? hehe
Itulah perimbangan kekuatan lokal yang mampu eksis melewan laju globalisasi yang smuanye dinilai sebatas materi.....
wah, dasar orang jakarte,,, 100ewu dianggep sitik :P
salut buat semua pamong ponpes itu :)
ini info bagus. kalo ada yg tertarik ndaftar ke sana, mesti menghubungi ke mana? (btw, aku rung sido ngekost 'pul. sdg sendu krn kehilangan bapak mertua dan bapak kandung sekaligus bbrp hari lalu).
orang-orang hebat..
eh mas makasih maen ke blog saya.thx komennya.
btw, gak bo'ong, djenar memang bagus. tapi aku tetep lbh suka ayu utami :)
semoga Al Urwatul Wutsqo tetap bertahan dan semoga semua orang yg terlibat disana diberi kesanggupan untuk menjaga kelangsungannya, orang-orang yg terlibat disana diberi kekuatan' membimbing mereka (seluruh penghuni)agar mencapai apa yg menjadi tujuan akhir, dan semoga Allah SWT menerima amal org2 yg sdh gigih membentuk pesantern ini, diberi pahala yg melimpah amien....
Poskan Komentar