21 November 2006

Iklan pembangunan PLTN itu

"Menurut UU ketenaganukliran kita, PLTN harus dibangun oleh korporasi. Apapun itu bentuknya, asal bukan pemerintah. Itu kalo jadi lho..." Kang Apaaja memulai obrolan kami sore itu.

"Lah, njur piye karepmu kang?" jawab saya sekenanya.

"Yang aneh, sampai sekarang belum ada konsorsium apapun yang terlihat berminat mendirikan PLTN.Tapi iklan PLTN yang dibintangi Gogon dan Dewi Yul itu kok sudah mulai gencar ditayangkan di tv ya? Njur kuwi duite sopo?" seolah-olah pertanyaan ini ditujukan ke saya, tapi saya tahu itu hanya unggah ungguh supaya saya tidak merasa direndahkan. Lha, bagaimana tidak? Kang Apaaja ini latar belakangnya media, tepatnya orang tv. Sudah gitu, posisinya bagus lagi. Saya jelas tak sebanding, apalagi kalo ngomongin bab iklan.

"Coba bayangkan mas. Kalo itung-itungan saya tak meleset, paling tidak biaya iklan untuk itu menghabiskan dana Rp 2,43 M perbulan. Lha kalo PLTN ngga serius mau dibangun, opo ora edan kuwi?", tanyanya.

Saya diam sesaat, tak tahu bagaimana menanggapi.

"Njur, kuwi duite sopo?", geragapan saya berusaha merespon.

"Lha yo kuwi yang jadi pertanyaan."

"Kira-kira siapa Kang?"

"Aku juga ngga tahu."

"Kalo menurut saya sih, paling-paling juga miliknya para menteri yang pebisnis itu. Bagaimana mereka bergerak kalo tidak ada jaminan dari penguasa? Biasanya juga gitu kan?", ujar saya ngawur.

"Kalo gitu, kenapa konsorsium itu belum juga muncul?"

"Kalo soal konsorsium mah gampang. Apa sih yang ngga bisa diatur di negara ini?"

"Maksudnya?"

"Mungkin mereka belum mau muncul untuk menghindari resistansi masyarakat. Dengan belum muculnya konsorsium, resistansi itu menjadi tidak ada. Seperti yang sudah sudah, isu nuklir akan menjadi sasaran empuk banyak kalangan. Masyarakat boleh saja tidak setuju, tapi tanpa bentuk, masyarakat memprotes siapa? Sederhanya, siapa yang akan didemo? Ini kan seperti manajemen konfliknya komunis itu Kang. Nanti pada saatnya diperlukan, konsorsium itu mak bedunduk dibuat dan dimunculkan. Jadi, resistansi itu bisa dihindari, minimal dikurangi.", saya mencoba berteori.

Kang Apaaja pun manggut-manggut. Mungkin karena sepakat, atau lebih mungkin lagi karena bingung. Sebelum sempat berpikir lebih jauh dan membantah teori saya, segera saya lemparkan pertanyaan lain.

"Memang maumu gimana Kang?"

"Maunya saya, kalo memang PLTN hendak dibangun, saya pengin melamar mas"

"Halah, yen kuwi ra sah diomongke, aku yo pengin Kang..."

23 komentar:

tabah mengatakan...

Sebenarnya saya iri kalo proyek ini jadi jalan dan jadi proyek "bancakan", proyek "dimakan bareng" dan aku ndak ikutan disana :)

dirac mengatakan...

kayaknya itu iklan untuk membentuk image di masyarakat dulu. Setelah diterima luas, barulah konsorsium diresmikan. Kayaknya lho...

Ely mengatakan...

aku seh ra mudeng soal PLTN Mas Ipoul, orang awam sih!

-tukang kebon- mengatakan...

aduh mas, kalo PLTN ga jad dibangun, saya ga punya kerjaa dumz, bakalan nganggur deh, secara hidup tergantung dari proyek ke proyek :(

chocoluv mengatakan...

hwehehehe,,, walo ga mudeng, tapi endingnya bikin ketawa :D

bagonk mengatakan...

weks...
hahaha...
ternyata begitu toh... :P

Donna mengatakan...

aku dah lupa pelajaran waktu kuliah di TN dulu jeee... :P

aku ga PD kalo nawarin diri buwat kerja di PLTN, bidang yang notabene lurus dengan latar belakang pendidikanku. :D

*sarjana teknik nuklir yang ga PD dengan kadar kenuklirannya*

koeaingdinoeklierkeunsiah! mengatakan...

itoe namanjah 'persijapan landasan poen' matjem proforma kaoewangan ataoe itoe mentjoeba dalemnjah laoet terlebi dahoeloe itoe.....

nggegirisi mengatakan...

pertama bikin PLTN, lalu rudal.. wah asyik betoel enggane..

kw mengatakan...

beda ya kalau ahli-ahli nuiklir lagi ngobrol. yang "sama" cuman endingnya :)

pitik dibom nuklir mengatakan...

sik apal po karo ilmune nuklir kok arep nglamar kang?:p

Rara Vebles mengatakan...

wis, gek ndang diwujudkan to proyek2 dan impian2 pernukliran di negeri kitah... Kalo udah dijajal nggo pembangkit listrik, trus bikin 'persenjataan'.. Ben rodo pede gitu kalo nanti ada yg nantang perang.. Mosok nganggo bambu runcing terus.. :P

mimimama mengatakan...

PLTN itu aman? lha kalo aman kenapa mau dibangun jauh di daerah pelosok? kalo aman dibikin di jakarta aja di sebelah istana, aman toh? kalo di daerah kan nambah ongkos lagi, kalo bisa dibikin di jakarta kan lebih murah, iya?

tabah mengatakan...

PLTN aman? Pertanyaan yang sama kami ajukan di blog kami hihihi

ali mengatakan...

gimana kalo merangkul korut aja, sebagai teman konsorsiumnya local corporate *komen_ngacodotcom*

wedhouz mengatakan...

wah... yen ra lulus alias do entuk nglamar ora yo? :-P

bebek mengatakan...

PLTN memang PLN... huehehe... ga nyambung asal njeplak...
kang.. malem minggu sek tetep ngopi neng ngarep bunderan HI?

Anonim mengatakan...

Pembangkit Listrik Tenaga Nduit?

Moes Jum mengatakan...

Halaahhh kalo semua laki2 jebolan teknik nuklir nglamar di PLTN pasti dalam waktu 5 taun ke depannya buanyak menghasilkan janda -- kuntunggu jandamu hehehe

Hedi mengatakan...

Wah bakalan ada proyek lagi nih, asyik ada lahan buat korupsi :D

luthfi mengatakan...

he he he ..... di korea bbrp waktu yg lalu aku baca, bikin plt pake sampah :-)
tapi lupa dimana bacanya

irwan mengatakan...

nek nglamar aku yo melu kang... hihihi :D

gonuklir mengatakan...

pltn itu syarat akan manfaat