30 Oktober 2006

Gadis itu bernama Dian Novianti

Tak banyak informasi yang saya ketahui tentang dia. Namanya Dian. Dian Novianti. Dia menjadi anggota keluarga kami tepat seminggu sebelum lebaran kemarin (1427 H).

Hari itu, seorang ibu bersama seorang gadis kecil mendatangi Bu Lik saya, Adminah. Mereka datang dari Lebeng, kira-kira 40 km jauhnya dari Bangsari. Si ibu telah kami kenal sebelumnya, tapi gadis itu tidak. Gadis itu sendiri berumur sekitar 8 tahun. Kelas dua Sekolah Dasar. Sangat kurus. Berkulit sawo matang, berambut tipis dan lurus.

Setelah mengobrol sedikit, si ibu itu menyatakan keinginannya menitipkan si gadis kecil itu pada Bu Lik. Tanpa berpikir dua kali, Bu Lik pun langsung bersedia. Sebelumnya, Bu Lik yang tidak memiliki anak kandung juga sudah menerima titipan seorang anak laki-laki bernama Ishak. Tapi Ishak masih memiliki hubungan darah yang kuat dengan kami, berbeda dengan Dian.

Si Ibu bercerita bahwa suaminya tidak mau lagi menanggung biaya hidup si kecil Dian. Lebih tepatnya keberatan. Maklum saja, hidup mereka pas-pasan tanpa penghasilan pasti. Suami-istri tersebut kemudian berembuk bagaimana mengatasinya. Keluarlah ide itu, menyerahkan Dian pada Bu Lik saya. Status si kecil dalam keluarga itu juga titipan. Titipan dari Mbahnya Dian.

Mbahnya Dian, si mbah putri, bukanlah mbah kandung. Mbah kwalon, mbah tiri. Layaknya mbah kwalon, perhatian pada si kecil tak sama dengan mbah kandung. Selain itu, keluarga kakek nenek ini juga tidaklah mapan. Dan yang terutama, mereka sedang memiliki seorang bayi kecil. Tentu saja mbah-mbah ini tak mampu mengurusi Dian dan ketiga saudaranya. Ya. Dian adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya seorang laki-laki, sedang kedua adiknya saya tak mendapat informasi yang jelas.

Bapaknya Dian dulunya seorang yang cukup mapan untuk ukuran kampung, di Gombong sana. Kira-kira 80 km jauhnya dari Bangsari. Kegemarannya mabuk dan berjudi menghabiskan hampir semua hartanya. Sang istri, ibunya Dian bersaudara, menderita tekanan batin dan akhirnya jatuh sakit memikirkan kelakuan suaminya. Sampai akhirnya sang ibu meninggal dunia. Tinggallah Dian bersaudara bersama bapaknya yang bangkrut.

Sepeninggal istrinya, si Bapak ingin menikah lagi. Si calon istri baru bersedia dinikahi dengan satu sarat; tanpa kehadiran Dian bersaudara dalam keluarga mereka nantinya. Demi memenuhi kemauan si calon istri baru, Dian bersaudara harus disingkirkan. Pada suatu malam kemarau panjang yang dingin, mereka berempat dibuang di emperan sebuah toko di suatu kawasan perdagangan di Gombong. Ya, di buang! Ditaruh dan ditinggalkan begitu saja dengan harapan ada orang yang mau mengambil mereka.

Menurut ceritanya si ibu yang membawa Dian, semalaman si bapak tak bisa tidur memikirkan keempat anaknya. Tega larane ora tega patine. Pagi buta sebelum subuh, dia mendatangi anak-anaknya kembali. Mereka masih di tempat yang sama tak bergeming. Mereka kedinginan. Saling berpelukan dan menangis kecil sesenggukan.

Sang Bapak membawa mereka berempat pulang kembali ke rumah. Tapi itu hanya sesaat. Si Bapak kemudian membawa Dian bersaudara ke kakek-neneknya di sekitar Lebeng. Seperti sudah diceritakan diatas, kakek-neneknya keberatan menampung mereka. Oleh kakek-neneknya satu persatu mereka dititipkan ke saudara, tetangga atau kenalan yang mau menampung mereka. Ketiga saudara Dian ditampung kerabat, sedangkan Dian akhirnya sampai di Bangsari. Tanpa proses adopsi tentunya, karena kami tak mengenal kata adopsi.

Begitulah cerita Dian, si gadis kecil anggota baru keluarga Bangsari. Bagaimana ceritanya ketiga saudaranya? Entahlah. Tak banyak informasi yang saya dapatkan.

Bu Lik meyakini, setiap anak yatim membawa malaikat penjaganya sendiri yang melindungi dan mendatangkan rezeki buat si kecil. Bu Lik menyambutnya dengan sukacita...

19 Oktober 2006

Selamat mudik! Selamat berlebaran, Mohon maaf lahir dan bathin

Kepada Saudara-saudara yang tak mungkin disebut satu-persatu, di dunia maya dan dunia nyata. Dengan ini saya setulus hati meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah saya buat. Baik yang saya sengaja, terlebih lagi yang tak disengaja.

Begitu juga saya, insyaallah akan melakukan hal yang sama.

Selamat mudik. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan bathin. Tabik!

17 Oktober 2006

I need help, please...

Belakangan salah satu komputer yang saya gunakan terkena popcorn.net. Saya sendiri tak paham mahluk apakah itu? Yang saya tahu, tiba-tiba saja tuh penggangu muncul di layar monitor saya.

Pertama-tama muncul gambar berikut:

beberapa saat kemudian berubah menjadi sbb:


kemudian
setelah dilik menjadi
terakhir menjadi
Pesan ini selalu muncul tiap beberapa menit dan saya belum tahu harus saya apakan. Saya sudah coba me-remove program ini dari Control Panel tapi tak mempan.

Barangkali saudara-saudara tahu cara yang sederhana untuk menghilangkannya? Terima-kasih banyak sebelumnya lho...

15 Oktober 2006

Obrolan Kopdar terakhir sebelum lebaran

"Anak-anak jalanan itu kok ya sehat-sehat saja ya mas?", saya coba memancing percakapan kopdar di bibir kolam bundaran Hotel Indonesia jumat kemarin.

"Tahu darimana mereka sehat-sehat saja?", mas Elsan membalas.

"Lha, buktinya tak pernah saya dengar ada yang sakit kronis kemudian dirawat di rumah sakit. Tak pernah pula saya dengar ada yang mati di jalanan tuh", saya menjawab sekenanya.

"Ya jelas saja. Mereka kan golongan manusia yang sudah tidak diperhitungkan oleh negara, di luar stasitiknya BPPS. Kasarnya, mereka sudah tak dianggap manusia lagi. Jadi, kalau mereka mati ya sudah. Paling langsung dikubur. Hilang begitu saja."

"Bagaimana anda bisa ngomong begitu mas?", saya menimpali.

"Saya pernah merasakan kehidupan jalanan mas, bertahun-tahun. Sebagai pelaku."

"Kok negara bisa begitu tega ya? Bukannya mereka warga negara juga?"

"O alah mas, mas. Di negara ini mana ada sih yang namanya perlindungan negara? Warga yang membayar pajak rutin saja tak mendapatkan apa-apa dari membayar pajak, apalagi mereka yang liar. Coba lihat polisi di depan kita itu! Senjak kita duduk setengah jam lalu, dia sudah dua kali dapat obyekan. Polisi yang seharusnya jadi pelindung rakyat malah jadi preman bagi rakyat. Piye jal kuwi?"

Perbincangan semakin gayeng. Apalgi kopdar kali ini juga dihadiri Kang Bahtiar langsung dari Tangerang dan mas Endik dari Kalibata. Obrolan pun nggrambyang kemana-mana tak tentu arah.

Lumbu Kobis; Sayuran favorit saya saat mudik

Sebentar lagi mudik massal tiba.

Setiap mudik, selalu yang saya bayangkan adalah makanan berlimpah dan tentu saja lezat luar biasa. Ibu saya sangat pandai memanjakan kami semua dengan masakan-masakan istimewanya. Setiap anggota keluarga yang baru hadir akan disuguhi menu favoritnya masing-masing. Sehingga saat kumpul lebaran tiba dimana kami berkumpul dengan anggota keluarga terlengkap meski tak bisa semua, ibu akan memasak 5-7 jenis sayur sekali hidang.

Menu favorit saya yang belum pernah saya dapatkan ditempat lain adalah sayur lumbu kobis dan pecak lele.

Baiklah, saya ingin bercerita sedikit mengenai sayur lumbu kobis ini. Lumbu kobis, demikian kami orang Bangsari menyebutnya, adalah jenis talas yang tidak menghasilkan umbi. Kami memanfaatkannya hanya sebagai sayuran. Batangnya dan daunnya biasa dimasak. Keunikan talas jenis kobis yaitu tidak remuk saat dimasak, berbeda dengan kebanyakan talas lainnya.

Seperti kebanyakan talas, daun dan batang talas ini juga bisa menimbulkan gatal-gatal di sekitar lidah dan jika sedang sial bisa terasa di seluruh badan. Tapi itu hanya terjadi jika tak dimasak dengan tepat. Apalagi jika batangnyanya jarang dipetik. Semakin jarang dipetik semakin hebat gatal yang diakibatkannya. Oleh karena itu, produksi pertama-kedua biasanya hanya dibuang.

Untuk menghindari rasa gatal, biasanya Ibu saya merebus dulu sebelum dimasak lebih lanjut. Pertama-tama didihkan air, sesudah air mendidih masukkan potongan-potongan batang talas ini. Masak hingga agak lembut, biasanya sekitar 15 menit. Sesudah itu masukkan potongan daunnya. kira-kira 5 menit kemudian angkat dan tiriskan.

Hasil tirisan ini kemudian dicuci lagi untuk memastikan mengurangi kemungkinan gatal. Setelah diperas airnya, lumbu ini siap dimasak. Saya suka sekali lumbu kobis santan. Rasanya keret-keret saat dikunyah, mirip mengunyah sayur setengah matang. Selebihnya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Kalo boleh tau, makanan favorit anda di kampung apa? Selamat mudik dan menjumpai makanan favorit anda masing-masing...

14 Oktober 2006

Dikerjai Pakde Gombal

Pakde Gombal memang suka iseng. Saya sudah pernah jadi korbannya dan gambar di atas menjadi buktinya. Gambar tersebut diambil selepas acara Pengajian Dotcomers di Virtual beberapa waktu lalu, tanpa saya sadari. Gambar diambil dari sini.

Tak lupa disertai narasi gambar sbb:

iPOUL PENERUS iPOD

PLAYER terbaru dari Apple nanti bakal lebih kaya fitur. "Bisa merangkap setrika, rice cooker, magic jar, blender, ponsel, timbangan, dan GPS," kata Moch.Syaefulloh, kepala riset Gombaltronics.

Wuih! Susah benget buat dibayangin! "Lha iyalah. Saya saja juga susah ngebayanginnya. Penginnya sih itu alat bisa berfungsi jadi sepeda!" katanya.

Ipoul, bukan iPoul, yakin bahwa impian adalah penggerak utama kemajuan zaman.

Hati-hati, anda juga bisa menjadi salah satu korbannya suatu saat. Tapi terus terang saya merasa tersanjung...

13 Oktober 2006

Snapple! Minuman jus membikin pintar

Dalam sebuah acara buka bersama di Movenpick Marche Restaurant dekat perempatan kuningan sana, saya berkenalan dengan minuman ini. Snapple! Di labelnya tertulis Juice Drink.

Apa yang menarik? Pertama, saya belum pernah minum minuman ini (ndeso ya?). Kedua, warnanya yang atraktif-provokatif (piye jal kuwi?) menarik. Ketiga, karena harganya mahal (paling tidak menurut saya) tapi saya tak perlu bayar alias gratis. Keempat dan yang ini bagian paling menarik, di balik setiap tutup botolnya terdapat informasi mengenai hal-hal unik. Snapple menyebutnya Real Fact!

Apa saja isi tulisannya? Tutup botol pertama yang saya minum bertuliskan "Real Fact # 110; Frogs never drink". Tutup botol kedua bertuliskan "Real Fact # 110; The only continent without reptiles or snakes is Antarctica". Tutup ketiga entah apa tulisannya, saya sudah kekenyangan. Tepatnya kembung.

Iseng-iseng saya ambil tutup botol teman-teman yang lain, informasi yang tertulis sangat beragam. Lagi-lagi karena masih dalam suasana kebanyakan minum, saya tak ingat lebih lanjut.

Dari browsing, saya baru tahu kalo ternyata tak semua informasi yang tertulis itu adalah benar. Untuk itulah Snapple mengajak anda mendapatkan Real Fact dengan mengunjungi http://www.snapple.com/ atau dapatkan informasi tambahan di sini.

Bagaimana pengalaman Anda dengan Snapple?