12 September 2006

Pekerja kapal jauh dari aturan norma-norma? Nanti dulu...

Ini cerita masih mengenai Mas Marno. Berbincang dengannya, saya agak surprise dengan cara pandangnya tentang hidup.

Sebelum bertemu dengannya saya beranggapan orang-orang kapal, entah kapal nelayan atau pun kapal pesiar, adalah jenis manusia yang paling jauh dari Tuhan. Hidup yang keras dan jauh dari sanak saudara membuat hal itu terjadi. Hidup hanya dan untuk kesenangan.

Bertemu si mas ini, saya berubah pikiaran. Pandangannya tentang dunia mirip dengan ilmu ma’rifat guru-guru saya di pesantren dulu.

"Urip kuwi mung mampir ngombe. Sangat pendek dan sementara dalam sebuah perjalan agung yang sangat panjang. Karenanya ambillah dunia secukupnya. Semakin banyak kau ambil, semakin berat beban yang kau pikul."

"Saya sudah mengelilingi bumi ini dalam sepuluh tahun terakhir. Saya bertemu bermacam-macam bangsa, bahasa dan budaya. Apa yang saya dapat kemudian? Kefanaan! Persepsi kita tentang dunia lah yang membuat fikiran kita menjadi ruwet."

"Dunia hanya tipuan dan permainan belaka. Semakin dikejar, semakin tak terbatas. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Begitulah dunia. Bahkan dengan menelannya, kau tak kan berpuas hati."

"Sekarang yang diperlukan hanyalah sebuah kesadaran. Bahwa kekayaan terbesar adalah saat dimana dunia ini tidak lagi kau perlukan. Merasa lah cukup, karena itu puncak dari kekayaan. Tinggalkan dunia sebelum kau meninggal dunia"

"Jalani hidup sebagai pengabdian kepada yang Khalik, apa pun dan dimana pun kamu bekerja."

(Hidup di Jakarta dan tetap waras kok rasanya berat ya?)

6 komentar:

wah ... mengatakan...

kados Raden Mas Ghozali ... :)

bagonk mengatakan...

waduh... filosofi... ra tekan utekku, hueheuhue... :)

Luthfi mengatakan...

waduh ...... ternyata, jawuh apa yg kita bayangkan dgn dia ceritakan

Moes Jum mengatakan...

TOBBBBHHH ... ternyata Mas Marno beda dengan pekerja kapal pesiar yang kutemui. Salam yo nggo Mas Marno

budiw mengatakan...

wah.. betul juga ya..

harus banyak perenungan nih...

--budiw

ulin mengatakan...

Emang sih...semuanya tergantung pribadi masing2, sekalipun seseorang bekerja di mesjid tapi perenungannya kurang mah..tetap aja jauh dari aturan...:)