11 September 2006

Nasi dan warna kulit menentukan gaji

Beberapa hari setelah membaca tulisannya Mas Moes Jum tentang kerja di kapal pesiar, lha kok njur saya yang dapat giliran.

Akhir minggu yang baru saja lewat, saya diajak calon mbokne anak-anak safari keliling mengunjungi saudara-saudaranya seseputaran Jabotabek. Maklum, si perempuan cantik yang ketiban sial bertemu saya ini, juga perantau, tapi bukan pekerja kapal siar. Sehingga kesempatan berkunjung dengan saudara-saudaranya juga sangat terbatas.

Salah satu saudaranya yang kita kunjungi pada akhir minggu itu bekerja di kapal pesiar, sebut saja Mas Marno, sedang pulang kampung. Dia mendapat cuti sebulan tiap 6 bulan bekerja.

Mas Marno bekerja sebagai penanggung jawab bagian purchasing. Untuk itu si Mas ini harus keliling dunia hampir setiap waktu, dari satu negara ke negara yang lain. Dan sudah barang tentu dia memiliki banyak anak buah, diantaranya bule.

Mengenai warna kulit ini, dia punya cerita.

Menurutnya, adalah sebuah keganjilan bahwa penanggung jawab bagian purchasing tidak berkulit putih. Pada awal perekrutan, si Mas ini dites bersama dengan tiga calon lain yang semuanya bule. Tidak bisa dipungkiri, aroma warna kulit masih sangat kental dalam bisnis ini dan karenanya dia dipulangkan paling awal.

Berselang satu setengah bulan kemudian, dia dipanggil kembali. Rupanya ketiga bule tersebut hanya tahan bekerja semingguan. Dalam sebulan ketiganya dicoba semua dan tidak satu pun yang sanggup. Akhirnya, mau tak mau pilihan terakhir jatuh ke tangan Mas Marno ini.

Setelah tawar menawar gaji, jadilah dia penanggung jawab bagian purchasing. Si Mas tentu saja senang berkat gajinya yang naik berlipat.

Sekian bulan waktu berjalann dan pekerjaan berhasil baik, si Mas ini baru tahu kalo anak-anak buahnya yang bekulit putih bergaji lebih tinggi dari dia. Sudah barang tentu dia melancarkan protes minta kenaikan gaji ke atasan.

"Saya mentraining mereka dari awal, mengawasi mereka bekerja. Tanggung jawab saya lebih banyak dari mereka. Dan terbukti, saya satu-satunya dari empat orang yang bertahan dan berhasil mengurusi divisi ini. Tapi mengapa gaji saya lebih rendah dari bawahan-bawahan saya? Untuk itu saya protes! Saya minta kenaikan gaji!"

Dengan santai si bule atasannya menjawa: "Coba sekarang kamu pikir. Para kulit putih itu memakan keju, sedangkan kamu hanya nasi. Sekilo keju berharga 500 ribu rupiah, lha kalo beras cuman 4 ribuan. Mereka tinggal di Eropa yang mahal, sedang kamu masih juga tinggal di Indonesia yang murah meriah. Sewa apartemen mereka dalam setahun saja bisa digunakan untuk membuat rumah di Indonesia. Jadi, dengan sangat menyesal saya tidak bisa menaikkan gajimu."

12 komentar:

ulin mengatakan...

Wah diskriminasi banget...:(

pancen mengatakan...

idup di endonesaH bedaH dengan eropaH ... , hiks :(

Moes Jum mengatakan...

Walaahhh iki persis karo critone wong sing daktemoni ning Hongkong. Pancen Indonesahh masih layak jajah!! Karna gak iso nuntut kenaikan gaji akhirnya yo para pekerja Indonesahh itu cuma bisa mendem, judi karo "sekali2" nge-XXX saking judegnya.

Pak, aku wis bali kii ...

Bangsari mengatakan...

@ Mba Ulin: ya begitulah, mau gimana lagi?

@ Mas Bah: Hiks juga..

@ Mas Moes Jum: jadi penjelasannya gitu ya mas? masuk akal juga tuh. BTW kok aku dipanggil Pak? jadi merasa tua nih. hua....hua....

Tetangga mengatakan...

Teganya... tp drpd ga kerja...?
btw, kpn nih rame2nya? hbs lebaran ya...? jgn lupa tetangga gedung diundang OK? ditunggu.....

hadik mengatakan...

wah...ayo di bom wae!!!eh..ojo ding...mesakno anak bojone..Bule ki pancen kurang ajar..kerjanane nek ora dadi penjajah...yo pemain Bokep..(iki jare koncoku lho..)

mpokb mengatakan...

bisa aja tuh si bos. bilang aja, saya juga doyan keju kok bos.. :P

Hedi mengatakan...

makanya ekspatriat di sini juga jgn boleh dapet gaji gede, lebih gede dari orang kita hehehe
*bales dendam*

bagonk mengatakan...

padahal waktu blom tau gaji anak buahnya lebih gede dari gaji dia, mas marno enjoy-enjoy aja kan, bahkan seneng karena gajinya naik berlipat...

begitulah... manusia memang gak pernah puas... :)

budiw mengatakan...

tau segalanya gak selalu enak ya pak...

--budiw
ps: sekarang saya lagi dijkt pak..

Anonim mengatakan...

ya pasti lamaan anda pak. ditempat saya paling lama itu 8 tahun.

--budiw

Anonim mengatakan...

Kurang ajar banget tuh atasan, meningan keluar aja, dari pada makan ginjal eh hati.