18 September 2006

Gusti, hidup kok rumit begini to?

Jodoh dan bobot, bibit, bebet

Duh Gusti... Kemana lagi saya harus berkeluh-kesah kalau bukan kepada-Mu. Gusti kan yang menciptakanku, ya sudah jadi seyogyanya kalo aku juga berkeluh-kesah kepada-Mu. Ngga papa to Gusti?

Sebenarnya saya malu pada-Mu. Lha, Gusti saja tak kawin dan tak berkeluarga, kok saya yang cuma hamba malah minta itu. Memang saya akui Gusti itu top markotop. Tapi saya tak setabah Gusti, saya butuh teman untuk bisa tetap waras di Jakarta ini.

Gusti, dalam dua tahun terakhir, kedua orang tua sering mengajak saya berbicara tentang keluarga dan perkawinan.

Bapak-Ibu selalu berkata: "Karena perkawinan itu untuk memadukan dua manusia berbeda untuk selamanya, maka carilah wanita yang baik, saleh, taat-mengabdi, berketurunan baik dll. Kalo tidak begitu, maka kamu hanya akan mendapati kesengsaraan selama hidupmu, bahkan diakhirat kelak. Kamu akan menyesal".

"Oleh karena itu, dia harus lah wanita yang memiliki bobot, bibit dan bebet yang sesuai denganmu". Bobot berarti kualitas, kadang diyakini bermakna kekayaan. Bibit berarti kualitas fisik, induk semang, lebih ke fisik. Bebet berarti asal-usul, silsilah, trah. Bebet juga sering disalah-pahami menjadi kasta, tingkatan sosial keluarga.

"Perkawinan itu menyatukan dua keluarga besar, bukan hanya kalian berdua."

Intinya, saya harus mendapatkan calon yang pas untuk saya, "terlebih untuk keluarga saya".

Gusti, Berbicara tentang "terlebih untuk keluarga", terus-terang saya belum pernah mendapatkan nilai bagus di mata ortu terutama Ibu. Dari semua teman wanita yang pernah akrab dengan saya, yang entah bagaimana caranya Ibu selalu tahu, Ibu belum selalu mentertawakan pilihan saya.

Gusti, saya sudah bolak-balik buka kitab suci-Mu. Sampai saat ini saya belum pernah menemui yang mirip-mirip dengan bobot, bibit dan bebet itu.

Latar belakangnya begini, Gusti

Gusti, maaf saya hendak bercerita sedikit. Bukannya meremehkan ilmu-Mu, bukan. Sungguh! Supaya saya lebih lega saja. Cerita awalnya begini.

Saya dilahirkan dalam lingkungan pesantren yang sangat kental bernuansa NU tradisionalis. Di depan rumah berdiri sebuah pesantren kecil, sebagian besar santrinya laki-laki. Berjarak sekitar satu kilometer ke utara, terdapat pesantren lain yang mayoritas santrinya perempuan. Belum lagi dua di timur, dua di barat dan satu lagi di selatan. Meski semuanya hanya pesantren-pesantren kecil.

Menurut cerita para orang tua, saya memiliki garis keturunan yang baik. Dari jalur bapak, katanya para leluhur saya adalah orang-orang pemerintahan. Sedangkan dari jalur ibu, katanya lagi, saya memiliki darah kyai dan pedagang.

Gusti, pada perkembangannya karena kami hidup dalam lingkungan spiritual yang kuat, orang tua saya cenderung melihat bobot, bibit, bebet yang bersifat kesantri-santrian.

Celakanya, dalam ukuran Bangsari, saya dianggap cukup cerdas dibanding teman-teman sebaya. Karena itu saya di sekolahkan dan dididik cenderung nasionalis-umum, dibanding santri-tradisionalis, meski basic kesantrian saya masih melekat. Inilah yang kemudian menjadi masalah bagi saya.

Sekolah umum menjadikan saya cenderung beraliran plural, tak terkecuali dalam masalah calon mbokne anak-anak itu.

Gusti, aku minta bantuan-Mu

Gusti, mereka maunya saya dapat calon simbok yang kuat kesantriannya. Yang tahu ilmu fikih, bisa baca arab gundul dan tentu saja keluarganya berdarah putih. Itu kan susah banget carinya di Jakarta ini Gusti... Selepas SMP saja, saya sudah harus merantau. Mana semoat cari yang begitu?

Saya maunya sederhana saja kok. Yang kalo saya lihat seperti sabda-Mu "tashurrun an naadhirin", enak dilihat dan "saa ighootun li asy syaribiin" alias enak diminum. Apanya? Alaah, kaya gitu kok pake nanya. Gusti pasti tahu kan? :D Dan syarat terakhir, dia harus dekat dari kampung halaman, bahkan kalo bisa tetangga sendiri. Biar gampang, murah dan efisien saat mudik.

Duh Gusti, rasanya kok lebih sulit hidup dengan filosofi daripada firman-Mu. Katanya semua manusia sama dan sederajat. Tapi mengapa harus ada bobot, bibit dan bebet yang menyusahkan saya itu?

Tolongin saya Gusti, please... Ntar keburu berkarat dimakan zaman, saya bisa sengsara seumur hidup. Duh!

27 komentar:

ulin mengatakan...

Posting kali ini sepertinya curhat terpanjang yaa..:) rumit juga ya...ngomong2 mbok ne udah dibawa ke Bangsari belum??? coba saja perkenalkan dulu mana tau aja ortu mu langsung jatuh cinta ama calon mantunya...:) amiiin

Sahrudin mengatakan...

kepengen kawen to, mas? hehehe...

sami kaleh kulo mas mengatakan...

namung kulo modal nekad, lha kulo yo wong lanang, mosok manut wong tuwo sak kabeh-kabehe ... :)

Bangsari mengatakan...

# ulin: rencananya sih gitu, nunggu sinyalnya jadi hijau...

#sahrudin: hooh...

#sami-sami: sami to kang? jebule yo ono kancane.

al mengatakan...

bismillah saja mas, jarene seng aku krungu laki-laki yang baik pasti akan ketemu dengan wanita yang baik. mudah-mudahan panjenengan menjadi jodoh dunia akhirat.
ndang cepet mas, aku siap jadi saksi wes ;p

Dhany Family mengatakan...

no. 1 lihat agamanya....

cika mengatakan...

hemm... segitunya dipikirin tho mas... :)

bukan Gusti mengatakan...

jgn kebanyakan hitung bisik Gusti di telingaku...
apalagi yang kamu tunggu...???
bergegaslah...pinanglah gadis itu :))

Calandrea mengatakan...

Jangan sedih Pul.

Kalo jodoh, ga bakal lari kemana.
Aku dulu ya sempet begitu, tapi ga gitu-gitu amat sih.

Banyakin minta (berusaha + berdoa) sama yang ngasih jodoh. Insya Allah dimudahkan jalannya.

Btw, met ultah...
wish you all the best.
sori, telat kasih ucapan.

Ely mengatakan...

Seandainya saya ada di posisi mas ipoul sekarang , saya juga bingung, mau menuruti kehendak ortu ato kata hati sendiri ato menggabungkan kedua2 nya. Yang pasti jangan sampai semuanya mengganggu pikiran sampeyan, yang pasti, yang bisa dimintai jalan keluar yang tepat ya memang Gusti Allah mas!

Saya ikut mendoakan sampeyan .

Anonim mengatakan...

hidup koq dibuat repot...
emang yang mo kawin siapa? situ apa orangtuanya? :)

bagonk mengatakan...

sori salah. yang atas itu komen saya mas, kekekekek... :))

Hedi mengatakan...

mau nikah aja repot, entar pas nikah ya repot, trus menjalani pernikahan ya repot juga...nasib...nasib

mutiara nauli pohan mengatakan...

aku doakan semoga semuanya lancar dan dimudahkan Allah jalannya,amin..

Bangsari mengatakan...

# Bang Al: amin mas. makasih doanya...

# Pak Dhany: makasih dah mengingatkan pak. saya juga penginnya gitu...

# Cika: cika ini sapa ya? kok ngga ngelink?

# Bukan Gusti: waks! cepet amat? gadis mana yang harus kupingan nih?

# Calandrea: pengalaman pribadi nih? sudah berisi belum?

# Mba Ely: terimakasih doa dan restunya mba...

# Mas Bagonk: kata orang tua, yang kawin tuh dua keluarga besar. makanya repot

# Hedi: makanya cepet nikah, biar ngrasain repotnya. lho, ngga nyambung ya?

# mutiara nauli pohan: makasih, makasih doanya...

Muhamad Zarkasih mengatakan...

Jangan takut dengan pa pun, klo jodoh tak kan kemana? Yang penting berjuang dan tawakal.

linda mengatakan...

loh dah ada calonnya toh? kenapa gak dikenalin aja sama calon mertua. siapa tau langsung sreg gitu loh
btw, salam kenal juga. makasih ya udah mampir ;)

hadik mengatakan...

bibit..bobot..bebet..bukan bebex!!ingat itu le..Duh Gusti paringono radar..eh sabar..

eko priyo utomo mengatakan...

oo..alah Ful..Ful..
santai aja, gak usah di bikin rumit.
berusaha + berdoa + sisanya tawakkal serahkan pada ALlah.
nuke 96

kw mengatakan...

mas pul, saya doakan cepat mendapatkan perempuan cantik berhati mulia itu, yang tentu saja mas pul dan ibu mas pul akan bahagia.

namun, benarkah perkawinan itu akan mengantarkan kebahagiaan (dunia dan akhirat)?
tentu saja belum tentu.

saya kok meyakini, kebagiaan itu tidak datang dari sesuatu di luar diri, namun dari dalam. :)

saya bukan berarti menolak perkawinan loh.

wedhouz mengatakan...

kalo berkarat dimakan zaman, diamplas saja pakai gulir waktu...
siapa gerangan wanita idaman, bangsari ingin segera meminangmu...

Sahrudin mengatakan...

sampeyan tak sms kok ora mbales?

Bangsari mengatakan...

# Zar: oke, pak Zar. saya coba...

# Linda: calonnya mah banyak, cuman bingung mana yang mau dikenalin nih..

# hadik: ngomong opo to kuwi?

# eko: makassih pak eko. gimana kabar penulisan bukunya?

# kw: saya kok yakin perkawinan itu membawa kebahagiaan. saya suka kumpul keluarga.

# wedhouz: diamplas? apa malah ngga tambah rusak?

# sahruddin: salahe sms kok jam 2 malam. ya ngga tak bales. edan po? btw gimana rasanya bangkit lagi dari kematian? he..he..

Dhany Family mengatakan...

untuk bikin "read more", bisa klik pada banner BLOG TUTORIAL di sisi kanan blog saya.
Disana banyak ilmu yang belum kita tahu.
Mudah-mudahan bermanfaat

Dinda mengatakan...

hwahhahwawa... doanya asik! pasti didengerin deh sama Gusti-mu pak!

bank al mengatakan...

Orang bilang,"Jodoh itu di tangan Tuhan".

Temen saya nambahin,"Kalau tidak diambil-ambil, ya tetep aja di tangan Tuhan."

Artinya, do'a saja tidak cukup. Tambahin denga usaha dong. :)

Jauhari mengatakan...

Trus udah dapat belum?