29 September 2006

Dalam keadaan darurat, cara pipis menunjukkan siapa anda

Apa yang anda lakukan jika sedang bermobil di jalanan yang macet total dan hasrat menyiram bumi tak bisa ditahan lagi? Untuk anda yang laki-laki, mungkin tak terlalu rumit. Soal cara bisa bermacam-macam. Tapi soal cara pipis perempuan, saya sulit membayangkannya. Nah, ini dia teman saya punya cerita.

Dari suatu acara buka puasa bersama, cerita ini terungkap. Lazimnya buka puasa, obrolan tidak dibatasi pada suatu masalah. Apapun boleh, asal sopan. Sedikit urakan pun tidak masalah. Ngobrol jorok pun, tak ada yang protes. Namanya juga acara tak resmi.

Dia seorang perempuan, tentu saja modis dan cantik. Cara berpakaiannya sangat perempuan, selalu mengenakan rok. Dalam suatu perjalan menggunakan mobil pribadi menuju bandara dengan diantar sang pacar, jalanan sungguh macet luar biasa. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dia kebelet pipis!

Lho, bukannya tinggal minggir dan pipis? Selesai!

Tapi tak semudah itu saudara-saudara. Ini jakarta! Kemacetan membuat banyak hal menjadi lebih rumit. Pada banyak kasus banyak orang menerima nasibnya dengan pasrah.

Masalahnya, hasrat pipis sang kawan sudah diluar kontrol. Kalo tak dituruti, bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Akhirnya, keluarlah ide brilian itu.

Si perempuan kawan saya itu meminta pada si jurumudi agar dentuman musik diperkeras, dia tak mau suara pipisnya terdengar sang buah hati. Segera dia pindah ke tempat duduk belakang. Di sana lah dia menuntaskan hasratnya. Lega.

Lho, memang pipis di lantai mobil? Tidak saudara! Rupanya dia memanfaatkan botol minuman Mizone yang bermulut lebar itu dan tentu saja kertas tissu.

"Makanya sampai sekarang, gue sayang banget ama tuh merek. Lubangnya itu lho, pas banget buat kita-kita".

Tawa kami pun meledak tak terkendali.

Anda punya pengalaman lain?

27 September 2006

Puasa Parno

Gara-gara DPR mengadakan public hearing tentang kinerja pabrik tempat saya bekerja, suasana kantor menjadi lebih parno dari biasanya. Klien-klien kami rupanya mengadu ke dewa-dewa negeri ini. Entah apa hasil kesimpulannya. Yang jelas semua yang dikantor kalang kabut.

Telpon berdering tanpa henti dari pagi hingga sore, bahkan saat jam istirahat dan lewat jam kantor sekalipun. Orang-orang yang saya tidak pernah dengar (instansi maupun nama) sebelumnya, juga ikut-ikutan menelepon kami. Apa saya yang ditanyakan, saya tak tahu persis. Lha, wong akeh banget je...

Saya yang biasanya jadi penonton, terpaksa diikutkan menjawab telepon-telepon yang sudah tentu sebenarnya bukan bagian saya. Apa boleh buat!

Efek lain dan yang paling serius adalah, bos semakin sering marah tak beraturan tidak peduli bulan puasa. Jika bos marah, semua yang dimarahinya dianggap bukan manusia. Otomatis para manajer dan staf menjadi panik. Kerja menjadi sekedar bagaimana bos tidak marah.

Saya yang pegawai rendahan, tak luput ikut menjadi korban. Semua orang yang biasanya cuek dengan kehadiran saya, tiba-tiba menjadi sangat aktif memarahi saya. Ini seperti transfer energi. Jika bos memarahi para manajer, kemudian para manajer memarahi staf dan para staf memarahi saya, lantas saya harus memarahi siapa?

Jawaban saya adalah: NGEBLOG! He..he..

Mbok, ternyata kerja di Jakarta itu cuman pada padu penggaweyane...

SMS dodol itu!

Sebuah pesan dari Indosat masuk ke HP saya. Bunyi pesannya saya ketikkan ulang sesuai yang saya terima sbb: "Aktifkan layanan GPRS MENTARI anda (Rp.5/kb), Gratis : Download Games, Wallpaper, Ringtone, dll dengan akses ke wap.klub-mentari.com pengirim: INDOSAT, Dikirim: 11:00:08, 27-09-2006 ".

Terus terang saya mulai kesal dengan sms-sms sejenis ini. Dari pagi ini saja saya sudah 2 kali mendapatkan sms dari INDOSAT. Isinya bermacam-macam, mulai dari promosi undian, game baru, pertunjukan band dll. Belakangan hampir tiap hari saya mendapatkan sms dari INDOSAT, makanya saya mulai gerah.

Yang membuat saya kesal adalah karena seringkali momen datangnya sms itu berbarengan dengan hal yang menurut saya lebih penting. Sungguh tak menyenangkan misalnya, saat dag dig dug menanti sms penting dari keluarga, doi atau keputusan rapat penting, tiba-tiba masuk sms dari INDOSAT.

Bagaimana dengan penyedia layanan mobile phone Anda?

25 September 2006

Hari pertama ngantor dalam keadaan puasa

Di hari pertama ini saya ngantuk, kurang bersemangat dan disemprot habis oleh bos. Disemprot? Emang bos ngga puasa? Mbuh, ra urus!

Bagaimana dengan anda?

20 September 2006

Menu READ MORE, kesawaban Pake Dhany

Ini semua akibat kesawaban barokah-nya Pake Dhany, si orang pinter dari pabrik kertas Leces itu. Gara-gara ada menu "READ MORE" atau dalam bahasa Pake "Lanjutannya...!" dalam blog beliau, saya jadi penasaran habis.

Bagaimana tidak? Saya juga memakai blogspot, persis seperti yang dipakai si Pake, tapi kok saya tak bisa memotong tulisan seperti beliau ya? Akibatnya, halaman muka blog saya menjadi sangat panjang ke bawah. Saya pengin yang ditampilkan pendek-pendek saja.

Usut punya usut, ternyata saya harus sedikit memodifikasi template blogspot saya. Lewat saling komen dalam blog, beliau menyarankan saya membuka tutorial ini.

Saudara-saudara! Ternyata benar apa kata Pake Dhany ini. Sangat gampang dan cepat lho... Kalo ngga percaya, silahkan coba saja sendiri. Gratis, tis, tis...

Tapi ada yang masih mengganjal buat saya, sampai saat ini saya belum bisa mengedit tulisan yang sudah diposting sebelumnya. Ditambah lagi saya buta HTML. Akibatnya, pas saya coba-coba edit, semua jadi kacau balau. Waduh, ternyata belum hilang juga kegaptekan itu. He..he..

Akhirnya saya menyerah, saya kembalikan ke bentuk semula. Menu READ MORE tak jadi hinggap di blog saya. Ada yang tahu cara lebih mudah? Tolong ajari saya...

BTW, terima-kasih banyak atas ngelmu-nya, Pake Dhany... Nuwun...


18 September 2006

Gusti, hidup kok rumit begini to?

Jodoh dan bobot, bibit, bebet

Duh Gusti... Kemana lagi saya harus berkeluh-kesah kalau bukan kepada-Mu. Gusti kan yang menciptakanku, ya sudah jadi seyogyanya kalo aku juga berkeluh-kesah kepada-Mu. Ngga papa to Gusti?

Sebenarnya saya malu pada-Mu. Lha, Gusti saja tak kawin dan tak berkeluarga, kok saya yang cuma hamba malah minta itu. Memang saya akui Gusti itu top markotop. Tapi saya tak setabah Gusti, saya butuh teman untuk bisa tetap waras di Jakarta ini.

Gusti, dalam dua tahun terakhir, kedua orang tua sering mengajak saya berbicara tentang keluarga dan perkawinan.

Bapak-Ibu selalu berkata: "Karena perkawinan itu untuk memadukan dua manusia berbeda untuk selamanya, maka carilah wanita yang baik, saleh, taat-mengabdi, berketurunan baik dll. Kalo tidak begitu, maka kamu hanya akan mendapati kesengsaraan selama hidupmu, bahkan diakhirat kelak. Kamu akan menyesal".

"Oleh karena itu, dia harus lah wanita yang memiliki bobot, bibit dan bebet yang sesuai denganmu". Bobot berarti kualitas, kadang diyakini bermakna kekayaan. Bibit berarti kualitas fisik, induk semang, lebih ke fisik. Bebet berarti asal-usul, silsilah, trah. Bebet juga sering disalah-pahami menjadi kasta, tingkatan sosial keluarga.

"Perkawinan itu menyatukan dua keluarga besar, bukan hanya kalian berdua."

Intinya, saya harus mendapatkan calon yang pas untuk saya, "terlebih untuk keluarga saya".

Gusti, Berbicara tentang "terlebih untuk keluarga", terus-terang saya belum pernah mendapatkan nilai bagus di mata ortu terutama Ibu. Dari semua teman wanita yang pernah akrab dengan saya, yang entah bagaimana caranya Ibu selalu tahu, Ibu belum selalu mentertawakan pilihan saya.

Gusti, saya sudah bolak-balik buka kitab suci-Mu. Sampai saat ini saya belum pernah menemui yang mirip-mirip dengan bobot, bibit dan bebet itu.

Latar belakangnya begini, Gusti

Gusti, maaf saya hendak bercerita sedikit. Bukannya meremehkan ilmu-Mu, bukan. Sungguh! Supaya saya lebih lega saja. Cerita awalnya begini.

Saya dilahirkan dalam lingkungan pesantren yang sangat kental bernuansa NU tradisionalis. Di depan rumah berdiri sebuah pesantren kecil, sebagian besar santrinya laki-laki. Berjarak sekitar satu kilometer ke utara, terdapat pesantren lain yang mayoritas santrinya perempuan. Belum lagi dua di timur, dua di barat dan satu lagi di selatan. Meski semuanya hanya pesantren-pesantren kecil.

Menurut cerita para orang tua, saya memiliki garis keturunan yang baik. Dari jalur bapak, katanya para leluhur saya adalah orang-orang pemerintahan. Sedangkan dari jalur ibu, katanya lagi, saya memiliki darah kyai dan pedagang.

Gusti, pada perkembangannya karena kami hidup dalam lingkungan spiritual yang kuat, orang tua saya cenderung melihat bobot, bibit, bebet yang bersifat kesantri-santrian.

Celakanya, dalam ukuran Bangsari, saya dianggap cukup cerdas dibanding teman-teman sebaya. Karena itu saya di sekolahkan dan dididik cenderung nasionalis-umum, dibanding santri-tradisionalis, meski basic kesantrian saya masih melekat. Inilah yang kemudian menjadi masalah bagi saya.

Sekolah umum menjadikan saya cenderung beraliran plural, tak terkecuali dalam masalah calon mbokne anak-anak itu.

Gusti, aku minta bantuan-Mu

Gusti, mereka maunya saya dapat calon simbok yang kuat kesantriannya. Yang tahu ilmu fikih, bisa baca arab gundul dan tentu saja keluarganya berdarah putih. Itu kan susah banget carinya di Jakarta ini Gusti... Selepas SMP saja, saya sudah harus merantau. Mana semoat cari yang begitu?

Saya maunya sederhana saja kok. Yang kalo saya lihat seperti sabda-Mu "tashurrun an naadhirin", enak dilihat dan "saa ighootun li asy syaribiin" alias enak diminum. Apanya? Alaah, kaya gitu kok pake nanya. Gusti pasti tahu kan? :D Dan syarat terakhir, dia harus dekat dari kampung halaman, bahkan kalo bisa tetangga sendiri. Biar gampang, murah dan efisien saat mudik.

Duh Gusti, rasanya kok lebih sulit hidup dengan filosofi daripada firman-Mu. Katanya semua manusia sama dan sederajat. Tapi mengapa harus ada bobot, bibit dan bebet yang menyusahkan saya itu?

Tolongin saya Gusti, please... Ntar keburu berkarat dimakan zaman, saya bisa sengsara seumur hidup. Duh!

12 September 2006

PLTN jadi dibangun? Yang benar nih?

Membaca tulisan Jalan Sutera tentang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), saya kaget. Saya baru tahu kalo pemerintah akhirnya berani mengiklankan secara terbuka isu sensitif ini ke publik melalui iklan di tv. Maklum saja, saya tidak punya tv dan jarang menontonnya.

Saya jadi ingat masa-masa kuliah di Teknik Nuklir dulu. Pada tahun pertama dan kedua, sebagian besar dari kami, para mahasiswa, bercita-cita setelah lulus bekerja di PLTN. Kelihatannya keren dan wah! Menurut informasi yang beredar waktu itu, PLTN akan dibangun sekitar tahun 1998.

Namun, guratan nasib menentukan lain. Sampai saya dan teman-teman lulus, PLTN belum juga dibangun. Tuntutan hidup memaksa saya dan juga teman-teman yang lain, mau tak mau, mencari pekerjaan di luar kenukliran. Dan terdampar lah saya di tempat lain yang sama sekali tak berhubungan dengan nuklir. Sebagian yang lain terserak dimana-mana. Sebagian sukses, dan sebagian sisanya entah.

Membahas jadi dan tidaknya PLTN dibangun, sebenarnya saya tak terlalu yakin. Seminar tahun 2005 lalu yang diselengggarakan MIPA ITB di Bandung dengan mengundang petinggi-petinggi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), pakar-pakar dari Tokyo Institut of Technology Jepang dan peneliti-peneliti nuklir UGM tidak menemukan titik terang.

Semua panelis waktu itu sepakat, bahwa Indonesia akan mengalami krisis energi yang serius pasca 2015. Untuk itu, mereka merekomendasikan PLTN harus mulai dibangun tahun 2008 atau maksimal 2010. Pembangunan PLTN itu sendiri memakan waktu 5-8 tahun hingga operasi ekonomisnya, tergantung jenis dan dayanya. Menurut perkembangan terbaru, bisa lebih cepat lagi. (Ndoro Seten, tolong koreksi kalau salah.)

Sedikit melihat ke belakang, sejak jamannya Sukarno, rencana pembangunan PLTN sudah digagas. Siwabessy adalah ahli nuklir pertama yang dilahirkan dari ambisi ini. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah reaktor penelitian di BATAN Serpong.

Tahun 70-an, kita sudah memiliki cukup banyak ahli nuklir yang kemudian bersama-sama membuat buku yang kemudian menjadi salah satu kitab suci pengajaran di Teknik Nuklir, "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir", di sponsori oleh BATAN. Untuk lebih mendukung ide itu, pada tahun 1977 didirikanlah Teknik Nuklir, dengan pengajar sebagian dari BATAN. Penelitian tentang struktur tanah pada tahun 70-an menyimpulkan: lokasi pembangunan PLTN terbaik berada di Tanjung Muria, Jepara.

Suharto mencanangkan, akhir tahun 90-an merupakan awal dibangunnya PLTN. Namun, krisis moneter yang maha dahsyat melengserkannya lebih dulu. Ide tentang PLTN pun ikut menguap.

Meski demikian, ide pembangunan PLTN tidak pernah benar-benar mati. Bahkan persaingan penyedia PLTN dalam merayu Indonesia masih terasa hingga sekarang. Jepang, Korea, negara-negara Eropa dan Kanada. Bahkan rasan-rasan dengan beberapa orang yang saya rasa cukup kompeten mengatakan, sebenarnya kita sudah pasti akan menggunakan reaktor dari Kanada (CANada Deuterium Uranium, CANDU).

Masalahnya dari dulu selalu sama, BATAN (dan juga BAPETEN yang lebih baru) bukanlah lembaga pengambil keputusan. Selama ini isu PLTN lebih berbau politis, sehingga keputusan itu pun bersifat politis. Keputusan presiden tergantung DPR, DPR tergantung uang, tekanan media, LSM, masyarakat dll. Belum lagi tekanan internasional.

Yang meragukan bagi saya adalah: "Kalo memang benar akan dibangun, kapan dan siapa yang berani memulainya?".

Presiden-presiden terdahulu tidak ada yang berani mengambil keputusan itu. Akan kah SBY berani? Mari kita lihat bersama...

Pekerja kapal jauh dari aturan norma-norma? Nanti dulu...

Ini cerita masih mengenai Mas Marno. Berbincang dengannya, saya agak surprise dengan cara pandangnya tentang hidup.

Sebelum bertemu dengannya saya beranggapan orang-orang kapal, entah kapal nelayan atau pun kapal pesiar, adalah jenis manusia yang paling jauh dari Tuhan. Hidup yang keras dan jauh dari sanak saudara membuat hal itu terjadi. Hidup hanya dan untuk kesenangan.

Bertemu si mas ini, saya berubah pikiaran. Pandangannya tentang dunia mirip dengan ilmu ma’rifat guru-guru saya di pesantren dulu.

"Urip kuwi mung mampir ngombe. Sangat pendek dan sementara dalam sebuah perjalan agung yang sangat panjang. Karenanya ambillah dunia secukupnya. Semakin banyak kau ambil, semakin berat beban yang kau pikul."

"Saya sudah mengelilingi bumi ini dalam sepuluh tahun terakhir. Saya bertemu bermacam-macam bangsa, bahasa dan budaya. Apa yang saya dapat kemudian? Kefanaan! Persepsi kita tentang dunia lah yang membuat fikiran kita menjadi ruwet."

"Dunia hanya tipuan dan permainan belaka. Semakin dikejar, semakin tak terbatas. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Begitulah dunia. Bahkan dengan menelannya, kau tak kan berpuas hati."

"Sekarang yang diperlukan hanyalah sebuah kesadaran. Bahwa kekayaan terbesar adalah saat dimana dunia ini tidak lagi kau perlukan. Merasa lah cukup, karena itu puncak dari kekayaan. Tinggalkan dunia sebelum kau meninggal dunia"

"Jalani hidup sebagai pengabdian kepada yang Khalik, apa pun dan dimana pun kamu bekerja."

(Hidup di Jakarta dan tetap waras kok rasanya berat ya?)

11 September 2006

Nasi dan warna kulit menentukan gaji

Beberapa hari setelah membaca tulisannya Mas Moes Jum tentang kerja di kapal pesiar, lha kok njur saya yang dapat giliran.

Akhir minggu yang baru saja lewat, saya diajak calon mbokne anak-anak safari keliling mengunjungi saudara-saudaranya seseputaran Jabotabek. Maklum, si perempuan cantik yang ketiban sial bertemu saya ini, juga perantau, tapi bukan pekerja kapal siar. Sehingga kesempatan berkunjung dengan saudara-saudaranya juga sangat terbatas.

Salah satu saudaranya yang kita kunjungi pada akhir minggu itu bekerja di kapal pesiar, sebut saja Mas Marno, sedang pulang kampung. Dia mendapat cuti sebulan tiap 6 bulan bekerja.

Mas Marno bekerja sebagai penanggung jawab bagian purchasing. Untuk itu si Mas ini harus keliling dunia hampir setiap waktu, dari satu negara ke negara yang lain. Dan sudah barang tentu dia memiliki banyak anak buah, diantaranya bule.

Mengenai warna kulit ini, dia punya cerita.

Menurutnya, adalah sebuah keganjilan bahwa penanggung jawab bagian purchasing tidak berkulit putih. Pada awal perekrutan, si Mas ini dites bersama dengan tiga calon lain yang semuanya bule. Tidak bisa dipungkiri, aroma warna kulit masih sangat kental dalam bisnis ini dan karenanya dia dipulangkan paling awal.

Berselang satu setengah bulan kemudian, dia dipanggil kembali. Rupanya ketiga bule tersebut hanya tahan bekerja semingguan. Dalam sebulan ketiganya dicoba semua dan tidak satu pun yang sanggup. Akhirnya, mau tak mau pilihan terakhir jatuh ke tangan Mas Marno ini.

Setelah tawar menawar gaji, jadilah dia penanggung jawab bagian purchasing. Si Mas tentu saja senang berkat gajinya yang naik berlipat.

Sekian bulan waktu berjalann dan pekerjaan berhasil baik, si Mas ini baru tahu kalo anak-anak buahnya yang bekulit putih bergaji lebih tinggi dari dia. Sudah barang tentu dia melancarkan protes minta kenaikan gaji ke atasan.

"Saya mentraining mereka dari awal, mengawasi mereka bekerja. Tanggung jawab saya lebih banyak dari mereka. Dan terbukti, saya satu-satunya dari empat orang yang bertahan dan berhasil mengurusi divisi ini. Tapi mengapa gaji saya lebih rendah dari bawahan-bawahan saya? Untuk itu saya protes! Saya minta kenaikan gaji!"

Dengan santai si bule atasannya menjawa: "Coba sekarang kamu pikir. Para kulit putih itu memakan keju, sedangkan kamu hanya nasi. Sekilo keju berharga 500 ribu rupiah, lha kalo beras cuman 4 ribuan. Mereka tinggal di Eropa yang mahal, sedang kamu masih juga tinggal di Indonesia yang murah meriah. Sewa apartemen mereka dalam setahun saja bisa digunakan untuk membuat rumah di Indonesia. Jadi, dengan sangat menyesal saya tidak bisa menaikkan gajimu."

07 September 2006

Blog, Sarana Untuk Menjaga Kesehatan Jiwa

Membaca header-nya Pakde Gombal mengenai cara mudah membuat emblem, saya jadi tertarik. Hasilnya seperti yang anda lihat.

Tidak ada ruginya kalo anda mencoba. Sangat mudah dan cepat.

Kalau anda tertarik silahkan buka di sini.

05 September 2006

Penantian itu akhirnya berujung

Bertahun yang lalu Engkau pergi tiba-tiba. Tanpa informasi cukup yang bisa kutelusuri. Engkau seperti 'moksa', hilang ditelan ketiadaan.

Sekian waktu aku menunggu.

Kini, malam ini, engkau kembali.

Apakah dirimu tetap seperti dulu? Ataukah panasnya gurun telah mengubahmu?

Lihatlah kemari! Aku sudah tak sekerdil dulu lagi, meski mungkin masih belum cukup membuatmu melirik.

Dengan segala macam campur-aduk, aku ingin menyongsongmu.

(Halah, kok sentimentil gini? Maksude opo ngono lho. Ketularan Kang Bahtiar ki...)