22 Agustus 2006

Kereta ekonomi, angkutan terbaik versi saya

Tanggal 16 Agustus selepas dari jam kantor, saya mruput ke Stasiun Senen hendak mudik. Maksudnya biar kebagian tiket bertempat duduk. Seperti yang sudah-sudah, telat ke Senen beberapa saat saja, saya harus menanggung derita berdiri semalaman di kereta yang suk-sukan, uyel-uyelan tak karuan. Bisa-bisa sampai di rumah badan pegal-pegal, masuk angin, dan kaki bengkak-bengkak. Biar begitu, kereta ekonomi adalah kendaraan paling favorit buat saya saat mudik. Selain murah dan tidak membuat saya mabuk darat, yang terpenting ya karena rumah saya dekat stasiun kecil di Gandrungmangu sana. Dari stasiun tinggal naik ojek, atau kalau sedang bokek ya jalan kaki sekitar sejam.

Apa ngga ada kereta yang lebih elit? Ada. Tapi, selain lebih mahal, saya tidak suka lokasi pemberhentiannya yang jauh, di Cilacap atau di Kroya (kami menyebutnya Korea). Terpaksa harus ditambah ngebis, sesuatu yang sebisa mungkin saya hindari.

Entah karena ketidak-beresan organ tubuh atau entah karena faktor apa yang saya tak paham, saya selalu mabuk saat naik mobil/bis. Mulai dari sekedar pusing-pusing hingga muntah-muntah berat. Tidak hanya mobil, naik kereta pun saya masih sering mabuk. Sampai sekarang. Bahkan sewaktu kecil diayun-ayun pun sudah cukup membuat saya muntah-muntah.

Untunglah malam itu saya kebagian tempat duduk. Saya sedikit lega.

Tak disangka, di Senen sudah ada 6 orang Bangsari yang sedang mengantri tiket kereta yang sama. Sejenak kemudian datang seorang lagi. Saya merasa seperti hendak berpiknik rame-rame, piknik ke desa saya sendiri. Sedikit aneh, tapi saya menikmatinya.

Waktu menunjukkan pukul 17:55. Masih sempat untuk bergantian sembahyang.

Selesai magriban, stasiun berubah hiruk-pikuk. Di setiap sudut stasiun dipenuhi manusia. Saya langsung cemas menyaksikan begitu banyaknya manusia yang hendak mudik. Ini seperti lebaran. Pasti perjalanan kali ini akan berat.

Dugaan saya benar. Di Senen kereta sudah uyel-uyelan ra karuan. Tempat duduk kami yang seharusnya untuk dua orang harus diisi 3 orang. Seorang gadis cantik memohon dengan sangat diperkenankan duduk ditengah. Ibu muda disamping saya dekat jendela langsung sewot begitu tahu hendak ada yang menumpang. Tapi dia dia akhirnya mengalah, tetap dengan raut muka tak senang. Saya tak tega, lagipula siapa tahu ini jodohku. Cantik euy... He..he..

Di Jatinegara kereta bertambah penuh. Kolong kaki diantara tempat duduk kami diisi dua manusia, satu gadis satu bujang. Saya tak tega, tapi tak ingin mabuk. Semakin lama kereta semakin bertambah penumpang. Posisi duduk saya semakin tak karuan. Kedua kaki ditekuk, badan miring karena desakan dari depan dan kedua sisi samping.

Sebelum Bandung, kereta tak kuat menanjak. Lokomotif itu mati. Sekeliling kami gelap gulita. Lewat sepuluh menit kami mulai kegerahan. Sebagian kecil penumpang yang naik di dekat pintu, turun ke luar. Saya hendak keluar juga, tapi melihat melihat begitu berjejalnya manusia, nyali saya langsung ciut. Gerbong mulai berasap, padahal tak satu pun dari kami merokok. Semua mandi keringat. Kaca jendela mulai berembun dan berminyak.

Lewat setengah jam hidung dan dada seperti terbakar. Loko mulai mengerang lemah, kami mulai berharap. Erangan demi erangan tidak juga membuat kereta bergerak. Didalam orang mulai berteriak-teriak tak sabar.

Pedagang es lilin muncul bagaikan malaikat membawa kesejukan. Saya beli 4, satu untuk diminum (apa dimakan ya?) satu untuk kompres. Dan sisanya untuk yang berminat. Sungguh nikmat... Beberapa orang mengikuti langkah saya, memborong es lilin untuk kompres dan dimakan.

Es berlalu, panas menyerbu lagi. Say mulai ikut-ikutan mengutuk. Loko mulai menderu, tapi belum bergerak juga. Nampaknya dia masih terlalu lelah. Rantai penghubung kereta dan loko mulai dilepas. Kemudian sang loko maju beberapa puluh meter dan mundur, begitu berkali-kali. Entah apa maksudnya.

Sejam lebih berlalu, lokomotif mulai menunjukkan kegarangannya. Rantai kembali disematkan, kereta pun melaju perlahan.

Saya sempat melihat ke jendela yang sebelumnya berembun. Meski kemudian kereta melaju kencang, lapisan minyak itu tak juga hilang. Bahkan sampai tujuan. Aneh juga ya?

Selepas Bandung pedagang asongan mulai naik menambah penderitaan kami. Sambil mengeluh sulitnya berjalan diantara penuhnya manusia, mereka menawarkan dagangan. Layaknya pedagang kereta, semua orang ditawari. Bahkan yang sedang tidur sekalipun. Para pedagang itu seperti barisan semut pekerja yang tak pernah lelah bergerak terus menerus. Meski disumpahi dan dimaki.

Kereta sampai di gandrung jam 7 pagi, telat dua jam dari seharusnya. Yang saya perkirakan terjadi. Kaki bengkak dan kesemutan, badan pegal-pegal dan masuk angin. Tapi saya tak peduli.

Sesampai rumah saya segera sungkem bapak dan ibu yang sedang di dapur. Adik perempuan saya bergabung, dan seperti biasa dia tak suka dan mengeluhkan bau perjalananku.

Sesudah sarapan, saya segera tidur. Upacara Kemerdekaan saya lakukan dalam mimpi. Maaf indonesia, saya capek dan ngantuk.

Kereta ekonomi... Saya selalu sebal dengan sumuk, bau, suk-sukan, uyel-uyelan, pedagang cerewet yang lalu-lalang setiap saat dan segala kesemrawutan itu. Tapi hanya kereta ekonomi yang tidak membuatku mabuk sampai Bangsari...

7 komentar:

tifoso mengatakan...

mangkanya mas, sampeyan usul sama pemerintah supaya di bangsari dibangun er-pot... nanti kalau mau mudik tinggal naik montor mabur tooo... :D

Hedi mengatakan...

mas, minta nomor HP penumpang yg ditengah dong :p...selamat datang kembali di kebon kacang hehehe

Ely mengatakan...

saya justru kangen numpak kreta yang buanyak penjualnya itu Bang, soalnya khan praktis nggak usah kemana2 kalo laper he..he..

pemoedik mengatakan...

moedik penoeh perdjoeangan !!!!

dihantuiTUHAN mengatakan...

Saya tunggu2 cerita soal mbak yang cantik kok nggak dibahas lagi sih? tiwas tak woco kabehhh...

Ini contoh nyata "kesempatan dalam kesempitan" yang mestinya sampeyan pergunakan untuk kepentingan masa depan. Saya blom kebayang tuh, klo ente aja sampe nekuk-nekuk pating kruwel lha mbak yang cantik tadi bagaimana?

Bangsari mengatakan...

@mas tifofo: er-pot? bisa-bisa terminal TKI Cengkareng pindah kesana mas.

@mas Hedi: waduh, rahasia dong. he..he..

@mba ely: kalo ngga penuh amat sih oke. tapi kalo uyel-uyelan gitu tobat...

@pemoedik: kalo ekonomi mah selalu gitu mas...

@dihantuituhan: weh iyo yo? malah lali. he..he.. justru karena saya berusaha melindungi supaya mba-nya agak nyaman, saya yg pating kruel. (mumpung 17-an jadi sok pahlawan).

pembaca setia mengatakan...

sumpek neng romantis :)