29 Agustus 2006

Sekali lagi mengenai Lumpur Panas Sidoarjo

Setelah sekian banyak paparan media mengenai musibah Lumpur Panas Sidoarjo yang dibikin Lapindo Brantas, perlukah saya menambahi lagi? Jawabannya tidak! Paparan di media entah dalam bentuk reportase televisi dan media cetak jauh lebih berbobot dari pada tulisan ini.

Lalu untuk apa saya menambahi lagi? Untuk apa ya? Hm... rasanya juga tak ada alasan yang cukup. Karena gelisah lah saya menulis ini.

Berita Kompas edisi cetak (26/08/06), Taksiran BI Surabaya bahwa bencana Lumpur Panas Sidoarjo menyebabkan 1.800-an orang kehilangan pekerjaan dan berpotensi menyebabkan kredit macet hingga belasan milyar rupiah. Total taksiran kerugian saya tak baca.

Abu Rizal Bakrie, yang oleh media disebut sebagai pemilik Lapindo Brantas tak saya lihat itikat baiknya. Sampai sekarang saya tidak melihat tanggung-jawabnya, bahkan sekedar simpatinya terhadap para korban.

Bagir Manan sebagai Ketua MA terlihat Esprit de Corps-nya melindungi Abu Rizal. Komentarnya :”tidak usah mencari kambing hitam Lumpur Panas Lapindo Brantas” jelas mengindikasikan ke arah sana.

SBY dan JK? Saya tak tahu. Ada yang pernah dengar tanggapannya?

Akhirnya bencana Lumpur itu dianggap Wajar. Seperti yang sudah-sudah, dalam taradisi Indonesia, sesuatu yang berlangsung relatif lama akan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Sebuah kewajaran berarti tak ditindak lanjuti, dilupakan. Tidak ada yang perlu disesali atau disalahkan. Paling banter dianggap kersaning Allah.

Maaf, bukannya saya merambah politik praktis. Saya hanya gelisah melihat ini semua. Semoga ini adalah pertanda perubahan besar sedang berlangsung, seperti kata Ndoro Seten Van Magelang...

23 Agustus 2006

Awas pesan YM dan Yahoo palsu!

Belakangan ini saya agak sering mendapatkan pesan YM Offline seperti ini. Isi pesannya sama yaitu “J) --->> www.geocities.com/lol_funniest_online_humor.com_29/ =)) ).

Jika diklik akan muncul halaman seperti ini

Sepintas halaman ini sangat mirip dengan Yahoo yang asli, silahkan bandingkan

Beberapa kali karena belum sadar tertipu, saya coba klik dan login ke Yahoo Geocities alias Yahoo palsu ini dengan ID login dan password yang sama dengan Yahoo asli.

Dari kawan yang paham internet dan berkecimpung disana, saya diberitahu bahwa itu adalah semacam virus yang akan menduplikat semua informasi yang ada dalam Yahoo kita.

Untuk apa? Entahlah. Dia tak tahu, apalagi saya. Sarannya, segera ganti password untuk mencegah hal-hal yang negatif.

Saya sendiri belum mendapatkan kerugian berarti, selain semakin banyaknya spam email yang masuk. Tapi itu baru analisis saya pribadi. Selain itu rasa-rasanya tidak ada. Tapi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, saya segera mengikuti saran kawan saya untuk berganti password.

Benarkah? Mungkin Anda lebih tahu...

22 Agustus 2006

Kereta ekonomi, angkutan terbaik versi saya

Tanggal 16 Agustus selepas dari jam kantor, saya mruput ke Stasiun Senen hendak mudik. Maksudnya biar kebagian tiket bertempat duduk. Seperti yang sudah-sudah, telat ke Senen beberapa saat saja, saya harus menanggung derita berdiri semalaman di kereta yang suk-sukan, uyel-uyelan tak karuan. Bisa-bisa sampai di rumah badan pegal-pegal, masuk angin, dan kaki bengkak-bengkak. Biar begitu, kereta ekonomi adalah kendaraan paling favorit buat saya saat mudik. Selain murah dan tidak membuat saya mabuk darat, yang terpenting ya karena rumah saya dekat stasiun kecil di Gandrungmangu sana. Dari stasiun tinggal naik ojek, atau kalau sedang bokek ya jalan kaki sekitar sejam.

Apa ngga ada kereta yang lebih elit? Ada. Tapi, selain lebih mahal, saya tidak suka lokasi pemberhentiannya yang jauh, di Cilacap atau di Kroya (kami menyebutnya Korea). Terpaksa harus ditambah ngebis, sesuatu yang sebisa mungkin saya hindari.

Entah karena ketidak-beresan organ tubuh atau entah karena faktor apa yang saya tak paham, saya selalu mabuk saat naik mobil/bis. Mulai dari sekedar pusing-pusing hingga muntah-muntah berat. Tidak hanya mobil, naik kereta pun saya masih sering mabuk. Sampai sekarang. Bahkan sewaktu kecil diayun-ayun pun sudah cukup membuat saya muntah-muntah.

Untunglah malam itu saya kebagian tempat duduk. Saya sedikit lega.

Tak disangka, di Senen sudah ada 6 orang Bangsari yang sedang mengantri tiket kereta yang sama. Sejenak kemudian datang seorang lagi. Saya merasa seperti hendak berpiknik rame-rame, piknik ke desa saya sendiri. Sedikit aneh, tapi saya menikmatinya.

Waktu menunjukkan pukul 17:55. Masih sempat untuk bergantian sembahyang.

Selesai magriban, stasiun berubah hiruk-pikuk. Di setiap sudut stasiun dipenuhi manusia. Saya langsung cemas menyaksikan begitu banyaknya manusia yang hendak mudik. Ini seperti lebaran. Pasti perjalanan kali ini akan berat.

Dugaan saya benar. Di Senen kereta sudah uyel-uyelan ra karuan. Tempat duduk kami yang seharusnya untuk dua orang harus diisi 3 orang. Seorang gadis cantik memohon dengan sangat diperkenankan duduk ditengah. Ibu muda disamping saya dekat jendela langsung sewot begitu tahu hendak ada yang menumpang. Tapi dia dia akhirnya mengalah, tetap dengan raut muka tak senang. Saya tak tega, lagipula siapa tahu ini jodohku. Cantik euy... He..he..

Di Jatinegara kereta bertambah penuh. Kolong kaki diantara tempat duduk kami diisi dua manusia, satu gadis satu bujang. Saya tak tega, tapi tak ingin mabuk. Semakin lama kereta semakin bertambah penumpang. Posisi duduk saya semakin tak karuan. Kedua kaki ditekuk, badan miring karena desakan dari depan dan kedua sisi samping.

Sebelum Bandung, kereta tak kuat menanjak. Lokomotif itu mati. Sekeliling kami gelap gulita. Lewat sepuluh menit kami mulai kegerahan. Sebagian kecil penumpang yang naik di dekat pintu, turun ke luar. Saya hendak keluar juga, tapi melihat melihat begitu berjejalnya manusia, nyali saya langsung ciut. Gerbong mulai berasap, padahal tak satu pun dari kami merokok. Semua mandi keringat. Kaca jendela mulai berembun dan berminyak.

Lewat setengah jam hidung dan dada seperti terbakar. Loko mulai mengerang lemah, kami mulai berharap. Erangan demi erangan tidak juga membuat kereta bergerak. Didalam orang mulai berteriak-teriak tak sabar.

Pedagang es lilin muncul bagaikan malaikat membawa kesejukan. Saya beli 4, satu untuk diminum (apa dimakan ya?) satu untuk kompres. Dan sisanya untuk yang berminat. Sungguh nikmat... Beberapa orang mengikuti langkah saya, memborong es lilin untuk kompres dan dimakan.

Es berlalu, panas menyerbu lagi. Say mulai ikut-ikutan mengutuk. Loko mulai menderu, tapi belum bergerak juga. Nampaknya dia masih terlalu lelah. Rantai penghubung kereta dan loko mulai dilepas. Kemudian sang loko maju beberapa puluh meter dan mundur, begitu berkali-kali. Entah apa maksudnya.

Sejam lebih berlalu, lokomotif mulai menunjukkan kegarangannya. Rantai kembali disematkan, kereta pun melaju perlahan.

Saya sempat melihat ke jendela yang sebelumnya berembun. Meski kemudian kereta melaju kencang, lapisan minyak itu tak juga hilang. Bahkan sampai tujuan. Aneh juga ya?

Selepas Bandung pedagang asongan mulai naik menambah penderitaan kami. Sambil mengeluh sulitnya berjalan diantara penuhnya manusia, mereka menawarkan dagangan. Layaknya pedagang kereta, semua orang ditawari. Bahkan yang sedang tidur sekalipun. Para pedagang itu seperti barisan semut pekerja yang tak pernah lelah bergerak terus menerus. Meski disumpahi dan dimaki.

Kereta sampai di gandrung jam 7 pagi, telat dua jam dari seharusnya. Yang saya perkirakan terjadi. Kaki bengkak dan kesemutan, badan pegal-pegal dan masuk angin. Tapi saya tak peduli.

Sesampai rumah saya segera sungkem bapak dan ibu yang sedang di dapur. Adik perempuan saya bergabung, dan seperti biasa dia tak suka dan mengeluhkan bau perjalananku.

Sesudah sarapan, saya segera tidur. Upacara Kemerdekaan saya lakukan dalam mimpi. Maaf indonesia, saya capek dan ngantuk.

Kereta ekonomi... Saya selalu sebal dengan sumuk, bau, suk-sukan, uyel-uyelan, pedagang cerewet yang lalu-lalang setiap saat dan segala kesemrawutan itu. Tapi hanya kereta ekonomi yang tidak membuatku mabuk sampai Bangsari...

16 Agustus 2006

Seberapa kuat patriotisme ada dalam diri anda?

Dulu, seingat saya selalu ada perbincangan mengenai patriotisme menjelang even 17 Agustusan. Di tv, radio dan koran. Tapi tahun ini (dan mungkin juga beberapa tahun belakangan) saya tidak menjumpainya lagi di media. Entah karena sudah tidak dianggap penting atau sangat boleh jadi karena saya yang jarang mencermati.

Dulu di TVRI, biasanya para pembicara yang berasal dari kalangan veteran, akademisi, politikus dll selalu menyuarakan hal yang sama. Minimnya patriotisme golongan muda. Dan seingat saya, biasanya mereka selalu menyalahkan tidak terlibat-langsungnya golongan muda dalam perjuangan dan kurangnya pemahaman akan sejarah negara ini sebagai penyebab utama kurangnya patriotisme tersebut.

Saya, terus terang sampai sekarang belum bisa memahami arti patriotisme yang dimaui para pembicara tersebut. Lha arti patriotisme itu sendiri saya juga kurang paham je... Tahunya saya, patriotisme itu berkaitan dengan rasa cinta tanah air, lebih dari itu saya tak paham. Trus, apa bedanya dengan nasionalisme? Mbuh!

Kembali ke soal patriotisme (dan sekarang ketambahan nasionalisme). Dari dulu saya selalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa para tetua negara ini dan orang-orang pinter menganggapnya penting? Pertanyaan ini tidak pernah saya dapatkan jawabannya, lha wong saya tidak pernah menganggapnya serius. Jadi ya tak pernah saya coba mencari jawabnya.

Lagi pula kalo patriotisme golongan muda kita tinggi apa yang akan terjadi? Rasa-rasanya kok tak akan terjadi apa-apa tuh. Lha wong semua masalah yang sedang kita hadapi sekarang sumbernya adalah pemerintahan dan budaya kita sendiri yang tak jelas.

Saya juga tidak yakin patriotisme di negara-negara maju menjadi hal penting. Saya menduga patriotisme di Amerika hanya ada dalam filem-filem Hollywood. Di piala dunia yang baru berlalu, banyak pemain dari negara-negara kuat eropa yang tidak ikut menyanyikan lagu kebangsaannya.

Jadi buat apa patriotisme itu? Gombal mukiyo! Maafkan saya para leluhur, mohon ampun...

10 Agustus 2006

Katak dalam tempurung

Saya menyadari telah ketinggalan begitu banyak berita dalam setahun belakangan.

Israel dan Libanon berperang. Sekilas saya baca judulnya di koran langganan kantor. Penyebabnya saya tak tahu, pokoknya perang! Bagi saya Israel itu sudah seperti setan, abadi dalam keangkara-murkaan. Sejarah menunjukkan mereka pembuat onar, dan itu sudah cukup bagi saya untuk tidak mengetahui lebih lanjut mengenai perang tersebut.

Hal kedua, lumpur panas Lapindo Brantas ternyata menjadi bola liar penegakan hukum di Indonesia. Bagir Manan sedang disangsikan kredibilitasnya karena komentar-komentarnya dan proses hukum yang tak jelas pada kasus lumpur ini. Sekali lagi saya tak mencermati detil perkataan, akibatnya, proses hukum dll yang berkaitan dengan itu. Yang saya tahu, tadi pagi masih lewat halam pertama koran kantor, ada sebuah SMP yang terendam sampai ke atap gara-gara lumpur itu. Siapa yang bersalah? Saya tak membacanya lebih lanjut.

Ketiga, Infotainment ternyata mulai diharamkan. Apa, siapa dan bagaimana kasus ini, saya juga tak paham. Saya sendiri tak punya tv dan tak peduli dengan si kotak ajaib itu. Pelarangan ini membuat saya bahagia, bahkan kalo perlu juga sinetron-sinteron sejenis Rahasia Ilahi sekalian.

Dan masih banyak lagi.

Saya benar-benar miskin informasi, persis katak dalam tempurung. Tapi benarkah informasi-informasi seperti itu penting buat kita?

Sejauh ini bagi saya tidak penting. Bagi Anda?

04 Agustus 2006

61 tahun kemerdekaan; Mereka di jalanan

Mereka seperti hantu, datang dari ketidak-nyataan. Aku lihat mereka di jalanan. Terserak bagai sampah sehabis banjir. Mereka lusuh, dekil dan kotor. Mereka ada dimana-mana. Di emperan, di trotoar, di jembatan penyeberangan, di pasar, di depan supermarket, di depan rumah sakit, di depan masjid selepas jumatan dan semua tempat berlalu lalangnya banyak orang.

Ada nenek-nenek dan kakek-kakek bertubuh ringkih berambut putih. Ibu-ibu muda dengan bayi merah dalam gendongan dan segerombolan anak-anaknya, mungkin juga anak orang lain. Bapak-bapak setengah baya bertatap mata kosong, bertopi dan merokok. Anak-anak kecil usia sekolah laki-laki perempuan yang ceria sambil berlagu.

Mereka menadahkan tangan. Meminta receh, kalo mungkin lembaran kertas yang lebih berharga.

Mereka disana. Ribuan, bahkan mungkin jutaan. Dari pagi, siang, malam hinga pagi lagi. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Hingga orang yang lewat menganggap mereka sebagai aksesoris pelengkap kehidupan. Sudah sewajarnya. Lumrah dan biasa.

Mereka tidur, bangun, makan, minum, mandi, buang hajat hingga tidur lagi disana. Mereka menderita, tertawa, sakit, beranak juga disana. Sebagian mati, dan sebagian besar antara hidup dan mati.

Mereka disana. Di Indonesia. Negeri dengan sejuta keajaiban.

Buminya mengandung segala yang berguna bagi kehidupan. Ada bergunung-gunung emas, tembaga, perak, timah, besi, titanium dan semua logam yang ada dalam tabel periodik Mendeleyev. Ada minyak bumi, gas alam, batu-bara tua dan muda dan sebagainya. Hutan Indonesia begitu luasnya hingga menjadi paru-paru dunia. Lautnya seperdelapan luas bumi dengan ikan yang tak pernah habis. Tanahnya teramat subur hingga tongkat yang ditancapkan pun menjadi tanaman. Setiap jengkal tanah, air dan udaranya mengandung kebaikan.

Tidak ada negeri yang melebihi ataupun hanya setara Indonesia. Keindahannya melebihi Jonggring Saloka. Bahkan dalam cerita pewayangan, para dewa pun memimpikannya.

Penguasa Indonesia dari zaman ke zaman begitu mulia, begitu dermawan dan murah hati. Materi, dunia, kesenangan dan keindahan bukan hanya tidak penting, bahkan dianggap meracuni dan karenanya harus ditinggalkan rakyat. Penguasa memberikannya untuk bangsa lain. Semua. Semua diberikan untuk bangsa lain.

Bagaimana dengan sebagian besar penghuninya?

Rakyat Indonesia adalah rakyat terbaik bagi penguasa yang pernah Tuhan ciptakan. Patuh dan setia dalam keadaan apapun, kapanpun. Tidak pernah bertanya, berteriak, apalagi menuntut. Rakyat di negara lain mungkin sudah angkat senjata, tapi mereka tidak. Mereka puas menyaksikan mimpi yang disuguhkan si kotak ajaib.

Mereka percaya masa yang lebih baik akan datang segera. Masa 61 tahun merdeka tidaklah seberapa. Mereka percaya masa penuh kebahagian akan datang segera. Masa yang gilang gemilang. Dimana tidak ada lagi penderitaan dan kesengsaraan. Yang ada hanyalah kebaikan, keindahan dan kesempurnaa.

Ya, segera. Masa itu sudah semakin dekat. Tak bisa dipungkiri lagi. Masa itu sudah didepan mata. Begitu mereka meyakini.

Sambil menunggu, mereka turun ke jalan. Menadahkan tangan. Mereka lusuh, dekil dan kotor. Mereka ada dimana-mana. Di emperan, di trotoar, di jembatan penyeberangan, di pasar, di depan supermarket, di depan rumah sakit, di depan masjid selepas jumatan dan semua tempat berlalu lalangnya banyak orang.

Dirgahayu Indonesia...

02 Agustus 2006

Obrolan pagi, kawin dan gaji kecil

Pagi-pagi sebelum jam kantor mulai, seorang teman menyapa saya.
"Hoi, di tempat lu ada lowongan ngga? Gue butuh duit nih, gue mau kawin!"
"Busyet dah! Emang kamu kira aku banyak duit? Kamu bisa lihat sendiri, aku juga belum kawin. Lagian kerjaan yang sekarang emang kenapa?", saya balik bertanya.
"Kan gue udah bilang, gue butuh duit buat kawin. Yang sekarang ngga cukup."
"Waduh, kalo gitu masalah kita sama dong."
"Trus gimana nih?"
"Mana aku tahu? Lagian kamu kan lebih beruntung. Kamu sudah punya calon, sedangkan aku belum."

.......

Obrolan pun berlanjut tanpa arah dan solusi.

Jakarta, Jakarta... Sesusah itukah menikah disini? Dan menilik kemampuan saya pribadi, rasa-rasanya kok saya juga ikut khawatir. Aduh Gusti, paringono kiat...

Para Tetua, piye iki?