25 Juli 2006

Ngaji mahal gaya Jakarta

"Sejauh mana sedekah mempunyai kekuatan mengubah hidup anda? Sejauh apa sedekah bisa mengangkat hidup seseorang? Bagaimana sedekah secara ajaib bekerja menyelesaikan masalah seseorang? Bagaimana keinginan yang semula begitu sulit dicapai oleh seseorang, lalu dengan mudah bisa dicapai dengan bersedekah? Temukan jawabannya di: The Power of Giving, Inspiring Seminar. Sabtu, 5 Agustus 2006 pukul 09.00-15.00. Pembicara: Ustad Yusuf Mastur dari Wisata Hati."
Investasi Peserta:
-Rp 975.000,-
-Rp 150.000,- (bagi pemegang Sertifikat Wakaf Tunai PPPA*)
*Sertifikat PPPA adalah donasi untuk Program Pembibitan Penghafal Al Qur'an (PPPA). Donasi berupa Sertifikat Wakaf Tunai senilai Rp 1.200.000,- waktu 5 (lima) tahun (Rp 20.000,-/bulan)

Iklan Republika, lembar Bisnis & Ekonomi, halaman 14 (21/07/06).
Membaca iklan ini saya heran bukan kepalang dengan orang-orang jakarta. Lha wong ngaji kok mahalnya ngga ketulungan. Lagian waktunya cuman 5 jam, tidak sampai sehari.

Bukannya meremehkan ngaji, tapi menurut saya ngaji harus didasarkan pada semangat kesederhanaan dan keikhlasan. Di pesantren depan rumah saya di Bangsari sana, ngaji itu gratis tis! Kalo mau ngaji sampai mati sekalipun seperti pernah terjadi pada seorang santri beberapa tahun silam, tetap saja gratis. Bahkan sampai penguburannya pun gratis.

Disini, di Jakarta ini, saya kaget setengah mati. Lha wong ngaji kok mahalnya nangujubilah. Dan dari iklan ini pula saya baru tahu kalo ternyata hafalan kitab suci sudah ada sertifikatnya. Dengan agak sembrono saya curiga jangan-jangan juga sudah ada pula sertifikat kapling rumah di surga sana.

Mungkin ada yang menyangkal, kalo seminar saja boleh mahal, mengapa ngaji ngga boleh? Soal seminar yang mahal saya masih bisa menerima karena faktor gengsi dan tetek bengek. Tapi kalo ngaji sampai sebegitu mahal bagi saya tidak masuk akal. Lagi pula apa sih nilai plus dari ngaji di hotel berbintang?

Sekali lagi terbukti, saya memang naif dan ndeso...

14 komentar:

dihantuiTUHAN mengatakan...

Biasa aja tho Mas, begitu masa promosinya udah habis khan memang harus BAYAR...hehehe. Mungkin jaman sedemikian hebat, jadi "konsumen" sudah tidak keberatan kalau NGAJI saja harus BAYAR. Mahal atau enggak khan relatif, dijamin rebutan klo setelah selesai dapet sertifikat "tidak grogi menghadapi malaikat" atau "LULUS dijamin masuk surga"

Ely mengatakan...

saya juga kaget baca postingan diatas, sudah sebegitu komersialkah kehidupan di jkt?

tifoso mengatakan...

bukannya itu memang iklan seminar mas...?

Hedi mengatakan...

*welcome to belantara komersil*

dijamin masuk surga ga sih? :p

Bangsari mengatakan...

Mas Anggun, saya mau "beli" sertifikat yang kaya gitu mas.

Mba ely, karena saya heran makanya saya posting. he..he..

Mas Bagong, judulnya memang seminar, tapi menurut saya tetap pengajian. cuma beda tempat saja. lha wong ustad itu dai kok. bingung? begitu juga saya. he..he..

Mas Hedi, masuk belantara komersil saya jadi seperti makhluk dari luar angkasa. aneh, terasing dan dicurigai orang. hiks...

Citra mengatakan...

wah..mas..ini sih masih termasuk murah..karena ada lagi yg lebih mahal biayanya untuk sekedar ngaji atau seminar keagamaan.., banyak temen2 gw mas..yg mau ngaji hanya ditempat-tempat yg harus kelihatan "wah".., dan menurut gw itu suatu keanehan..tapi kata temen2 gw sih ada 2 tujuannya sambil ngaji sekalian cari jodoh yg kaya..hi..hi...

mpokb mengatakan...

orang jakarta duitnya pada banyak2 amat yakk..?!

Anonim mengatakan...

hebat..

eko mengatakan...

pengajian kok di komersilkan :-(

Moes Jum mengatakan...

Bang Ipoel, lha sampeyan kan tamatan pesantren juga. Mending ikutan bikin bisnis pengajian kayak gitu aja ... lumayan lahh cari duit tambahan di luar gaji nguli ... hehehe

MaNongAn mengatakan...

Dakwah dan Komersil. Gak munafik kita mencari ilmu sebanyak²nya agar bisa kita JUAL dikemudian hari. Kalau saya melihat, Dakwah plus ini hanyalah salah satu cara kepintaran mereka utk mengolah manajemen. Toh ... semua manajemen perlu biaya. *garuk²*
"Positif thinking" ajah semoga niat mereka benar² utk mencerdaskan umat.
-=he509x™=-

elly.s mengatakan...

Kalo ngaji nya dihotel kan harus bayar hotelnya dong mas...tul ah positif thinking... siapa tahu mereka ikhlas...

Abdul mengatakan...

terus terang mas, saya ngga suka tuh sama ustadz2 gitu, kecuali Aa Gym :-) ...

introspeksi sendiri2 aja deh...tapi ingetin mereka2 itu juga lho

Anonim mengatakan...

Pemikiran macam begini nih yang bikin Non-Muslim makin kaya dan guru ngaji makin melarat..

Kenapa banyak orang yg malas ngaji dan malah banyak yg gak bisa mengaji ya karena ngaji dianggap remeh dah murahan bahkan gratis..
Kalau sekolah TK aja tingkat International dimaklumin bayar TK aja sampe 5jt per-Bulan karena embel-embel international. Kenapa ilmu akhirat tidak boleh mahal.. Dunia emang udah GILA.

Bayar KULIAH 14juta per-semester sekarang dianggap wajar dibanding bayar ngaji 1juta per bulan..
EDAAAN.. EDAAAN...

Saya lebih senang biaya Ngaji juga premium supaya lebih dianggap berharga dan tidak dianggap remeh lagi.

GILA nggak, di sebuah keluarga anak yg pintar dan cerdas dikirim pendidikan ke luar negeri yg mahal luar biasa, anak yg bego dan bandel dikirim ke pesantren disuruh mengaji. GILA... GILAAA...