27 Juli 2006

Mendambakan bank impian; Balada pekerja kelas bawah

Tidak dapat dipungkiri, kemajuan jaman juga berimbas pada perilaku pekerja kelas bawah seperti saya. Terutama yang berhubungan dengan uang dan penyimpanannya. Sudah sangat tidak masuk akal untuk ukuran sekarang, menyimpan uang dibawah bantal maupun lemari pakaian.

Bagi saya, uang dalam bentuk tunai mendatangkan masalah psikis yang sulit saya atasi. Kekhawatiran dan kecenderungan hidup boros. Akibatnya, penghasilan yang tidak seberapa tersebut menguap begitu saja tidak berbekas.

Di bangku SD dulu, guru mengajarkan: "Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya". Bagi saya, menjadi pandai dan kaya adalah mustahil! Rekam jejak di sekolah jelas mengindikasikan saya termasuk golongan rata-rata kebawah. Secara ekonomi, saya juga tidak pernah dan tidak bercita-cita menjadi kaya. Keinginan saya sangat sederhana, bisa menyisihkan sebagian penghasilan yang saya terima dalam bentuk tabungan.

Celakanya, orang-orang seperti saya, yang bekerja untuk melayani orang, selalu didesak waktu dan lebih sering menerima bayaran dalam bentuk tunai, tidak memiliki waktu untuk sejenak keluar sekedar menyetor uang ke bank pada jam kantor. Waktu kerja yang masuk sebelum orang kantor datang dan keluar setelah mereka pulang, semakin menegaskan betaqpa susahnya berhubungan dengan institusi itu.

Saya bermimpi, tentang sebuah bank yang bisa melayani sampai malam bahkan kalau mungkin 24 jam. Jika kantor pos saja bisa, mengapa bank tidak?

Adakah bank seperti itu?

25 Juli 2006

Ngaji mahal gaya Jakarta

"Sejauh mana sedekah mempunyai kekuatan mengubah hidup anda? Sejauh apa sedekah bisa mengangkat hidup seseorang? Bagaimana sedekah secara ajaib bekerja menyelesaikan masalah seseorang? Bagaimana keinginan yang semula begitu sulit dicapai oleh seseorang, lalu dengan mudah bisa dicapai dengan bersedekah? Temukan jawabannya di: The Power of Giving, Inspiring Seminar. Sabtu, 5 Agustus 2006 pukul 09.00-15.00. Pembicara: Ustad Yusuf Mastur dari Wisata Hati."
Investasi Peserta:
-Rp 975.000,-
-Rp 150.000,- (bagi pemegang Sertifikat Wakaf Tunai PPPA*)
*Sertifikat PPPA adalah donasi untuk Program Pembibitan Penghafal Al Qur'an (PPPA). Donasi berupa Sertifikat Wakaf Tunai senilai Rp 1.200.000,- waktu 5 (lima) tahun (Rp 20.000,-/bulan)

Iklan Republika, lembar Bisnis & Ekonomi, halaman 14 (21/07/06).
Membaca iklan ini saya heran bukan kepalang dengan orang-orang jakarta. Lha wong ngaji kok mahalnya ngga ketulungan. Lagian waktunya cuman 5 jam, tidak sampai sehari.

Bukannya meremehkan ngaji, tapi menurut saya ngaji harus didasarkan pada semangat kesederhanaan dan keikhlasan. Di pesantren depan rumah saya di Bangsari sana, ngaji itu gratis tis! Kalo mau ngaji sampai mati sekalipun seperti pernah terjadi pada seorang santri beberapa tahun silam, tetap saja gratis. Bahkan sampai penguburannya pun gratis.

Disini, di Jakarta ini, saya kaget setengah mati. Lha wong ngaji kok mahalnya nangujubilah. Dan dari iklan ini pula saya baru tahu kalo ternyata hafalan kitab suci sudah ada sertifikatnya. Dengan agak sembrono saya curiga jangan-jangan juga sudah ada pula sertifikat kapling rumah di surga sana.

Mungkin ada yang menyangkal, kalo seminar saja boleh mahal, mengapa ngaji ngga boleh? Soal seminar yang mahal saya masih bisa menerima karena faktor gengsi dan tetek bengek. Tapi kalo ngaji sampai sebegitu mahal bagi saya tidak masuk akal. Lagi pula apa sih nilai plus dari ngaji di hotel berbintang?

Sekali lagi terbukti, saya memang naif dan ndeso...

20 Juli 2006

Wikipedia ala Kawunganten

Sambil menunggu makanan jatah lembur datang, saya iseng-iseng googling menggunakan kata kunci "kawunganten", kecamatan saya di kampung sana. Dan saya menemukan sesuatu yang unik, khas orang Cilacap.

Ternyata Wikipedia juga bisa jadi sumber yang sangat menggambarkan realitas bawah yang tidak neko-neko. Hanya minta perbaikan jalan. Itu saja. Sangat sederhana!

"Pak Bupati Cilacap, jalan raya Kawunganten lor ngantek Binangun rusak parah, warga njaluk diaspal?
Seumur hidup rakyat kawunganten lor mbayar pajak tapi dalane koh ora tau didandani? Pemerentahe bisane mung narik pajak, ora bisa mbangun. Persis preman! Nek mung kaya gue aku sih bisa. Kecil lah... Pancen nek ditiliki dalan Binangun ngalor, apa maning nek mbrabas alas tekan Citembong karo Kedungwadas, angel diambah wong. Aku bolak-balik nang kana taun 86-91. Jarene nganti siki ya durung didandani. Nggumuni, jaman kaya siki isih ana dalan sing angel diambah. Pak Camat Kawunganten aja nganti Kawunganten sing maju mung gonggoman pasar thok.
Ora mung kawunganten, daerah-daerah Bulaksari ya parah banget koh. masa sing jenenge dalan bisa pating jrenggul kaya dipaculi. dadi nek numpak kendaraan kaya nunggangi jaran.
Retrieved from http://map-bms.wikipedia.org/wiki/ Kecamatan_Kawunganten ".

19 Juli 2006

Obrolan tsunami menjelang panen

Bangsari sedang menunggu panen sadon (panen di musim kemarau). Seperti yang sudah-sudah, menjelang panen para petani serentak memperbaiki sepeda untuk mengangkuti hasil panen mereka sendiri maupun mbawon (memburuh panen). Bengkel sepeda Kang Hudi di depan rumah saya di Bangsari sana ikut mendapat berkah dari perbaikan-perbaikan sepeda ini.

Sore itu tidak kurang dari 8 orang tua-muda berkumpul disana termasuk saya. Sembari menunggu sepeda diperbaiki, kami berbincang segala macam ngalor-ngidul tak tentu arah. Dalam sebuah perbincangan, saya sedikit berkeluh kesah terhadap orang-orang tua mengenai negeri kita yang diterpa bencana bertubi-tubi. Tidak lupa saya menyinggung soal tsunami yang menimpa Aceh beberapa waktu yang lalu. Namun waktu itu tsunami Cilacap dan sekitarnya belum belum terjadi.

"Katanya menurut berita, sebelum bencana Tsunami terjadi di Aceh, Indonesia sudah diperingatkan oleh badan-badan dunia lho...", kata saya mengharap jawaban bijak para orang tua. (Sebagai catatan, menurut berita liputan sebuah tv swasta, waktu tsunami Cilacap dan sekitarnya terjadi, peringatan juga sempat diberikan oleh lembaga lain).

Tanpa basa basi mereka menjawab: "Jangankan orang atau badan atau institusi atau apapun yang memperingatkan, wong Gusti Allah saja ngga dipercaya kok! Apalagi mereka!"

Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Begitu telak kata-kata itu menghantam saya...

18 Juli 2006

Cekelan dari Kang Wasbir

Sudah menjadi tradisi orang-orang Bangsari, seseorang yang merantau akan dibekali cekelan (pegangan; petuah). Bentuk cekelan itu bisa bermacam-macam. Kang Wasbir, penjaga masjid kami, memberikan sebuah cekelan untuk saya.

Cekelan itu berupa sebuah singir (berasal dari bahasa arab syi'ir dan diindonesiakan menjadi syair) warisan orang-orang tua. Supaya saya mempunyai pegangan di rantau, supaya tetap bisa mempertahankan idealisme ala Bangsari. Singir ini biasa dijadikan sebagai pujian, pengantar sholat dalam tradisi Bangsari yang NU. Pujiannya berbunyi seperti ini:

Sholatullah salamullah
'Ala thoha rasulillah
Sholatullah salamullah

'Ala yasin khabibillah

Rahmat salam mugi tetep
Kanjeng nabi Toha utusane Allah
Rahmat salam mugi tetep
Kanjeng nabi Yasin kasihe Allah

Eling-eling sira bakale mati
Gumlethak ing lobang kang den tutupi
Lobang kebek blatung makethi-kethi
Nyokoti badan buh ngabuh-ngabuhi

Mati iku selawase mung sepisan
Mati bagus bakal nemu kenikmatan
Mati sasar selawase kesengsaran
Rohe iku den kunjara ing pasiksan

Umur siji dibuang-buang percuma
Sebab ora peduli maring agama
Ngalor ngidul kumanthil kanthil ing donya
Wusanane ning kubur nemu cilaka

Getun temen getun temen umur siji
Ora guna sebab riya kelawan drengki
Ora bekti maring kang maha suci
Ngumbar hawa nafsu kang den pengini

Iku dina kabeh makhluk padha susah
Padha nangis tobate tanpa paedah
Padha nelangsa ngadhep nungkul dina landrat
Wruh pakewuh lan tutupe lawang tobat

Padha bingung ngreksa maring dina janji
Tanpa guna kari ngreksa awak siji
Weruh maring Cahyane kang Maha Agung
Ngerasa jembar uripe wong kang kemlungkung

Tanpa guna sambat-sambat adhuh biyung
Kabeh makhluk padha nangis nyuwun tulung
Ngrasa bejat badan apes longa-longo
Walese wong jugkir getun dhemen bungah

Aduh ati kapan bisane tobat
Maju dina maju parek maring pati
Aduh Allah nyuwun tulung nyuwun rahmat
Nyuwun slamet aning donya lan akhirat

11 Juli 2006

10 Juli 2006

Dilangkahi nikah

Rabu (12/7/06) besok adik perempuan saya menikah. Dia anak ketiga pada keluarga Bangsari. Anak pertama adalah seorang perempuan dan sudah menikah serta dikaruniai 2 anak. Anak kedua saya sendiri, seorang laki-laki, masih melajang, masih keluyuran di belantara Jakarta. Anak keempat seorang laki-laki, sedang diluar negeri menuntu ilmu karena beasiswa. Anak kelima seorang perempuan calon bidan di Jawa Timur sana. Anak terakhir seorang laki-laki dan bersiap-siap menyusul kakaknya diluar negeri.

Adik perempuan saya yang hendak menikah sedang sedih karena pernikahannya kemungkinan hanya dihadiri kakak pertama. Saudara-saudara yang lain masih belum jelas bisa pulang atau tidak.

Saya sendiri seperti dipenjara pekerjaan saat ini. Permohonan cuti belum mendapat respon atasan dengan alasan pekerjaan di kantor sedang mencapai titik paling krusial. Beliau berjanji jika pada hari selasa besok semua pekerjaan sudah selesai, saya diijinkan pulang. Sementara adik saya yang diluar negeri jelas tidak bisa pulang karena ongkos yang tidak sedikit. Adiknya lagi yang calon bidan sedang menjalani proses penting dalam pendidikannya dan belum mendapat ijin keluar asrama. Dan si bungsu sedang menempuh ujian yang menentukan kuliahnya kelak.

Saya tahu adik saya sedih. Saya sedikit menyalahkan penentuan hari yang terlalu mengikuti perhitungan Jawa. Bukannya perhitungan itu dibuat untuk kebaikan bersama? Kalo yang terjadi malah sebailiknya, apa tidak sebaiknya diganti? Tapi orang tua pihak keluarga mempelai laki-laki bersikukuh dengan pilihan hari mereka, dan orang tua kami ingin menghormatinya. Begitulah keluarga jawa saling menghormati.

Adik, selamat menempuh hidup baru. Semua doa kebaikan kulimpahkan padamu, semua kejelekan semoga terhindar darimu. Aku minta doa suwuk-mu semoga jodoh segera menghampiriku...

Cerita sejenis klik disini.

06 Juli 2006

Pizza hadiah kerja keras

Karena atasan puas dengan hasil pekerjaan kami, hari ini beliau menghadiahi dua pizza berukuran besar untuk kami berenam. Tentu saja kami senang karena tidak perlu membeli makan siang. Tempat makan siang yang ditempuh 10 menit berjalan kaki diterik matahari membuat kami lumayan sedikit malas. Dan pizza ini ibarat sebuah keajaiban kecil di saat penat seperti sekarang.

Omong punya omong, sampai hari ini saya masih juga beranggapan kalau pizza tidak bisa menggantikan nasi. Pizza dalam kategori saya masuk dalam keluarga roti, kelompok yang dalam kamus saya berarti "sekedar boleh, tapi jika ada yang lain sebaiknya tidak". Saya masih belum mengerti mengapa ada orang yang bisa puas hanya dengan memakan pizza. Saya pikir orang itu pasti hebat sekali adaptasinya.

Di kantor yang dulu, beberapa kali saya menolak makan pizza dari bos karena sudah terlalu sering. Saya nek, dalam arti yang sesungguhnya. Sekali dua kali dalam setahun boleh lah.

Bangsari banget ya? Begitulah.

Selamat buat anda para pendoyan pizza...

04 Juli 2006

Kerja paksa gaya kantoran

Setengah tahun yang lalu, Ibenk mantan preman Bangsari yang membantu pekerjaan saya sekarang ini pernah berujar. "Kerjaan cuma duduk seharian di depan komputer apa sih susahnya? Itu mah kecil! Ngga ada apa-apanya dibanding kerjaanku di rumah!"

Kami duduk sepanjang hari mengolah data sepanjang hari, dari pagi sampai pulang. Tidak pernah berpindah tempat. Dari senin sampai jumat. Terkadang sabtu minggu. Dan tiga minggu terakhir kami tidak sempat libur , kerja keras hingga larut malam. Setiap hari sepanjang minggu. Kami dihardik, didera dan dipacu.

Beberapa hari ini Ibenk mulai mengeluh. Ibenk mulai mengutuk dan memaki: "Gila! Kerjaan ini berat sekali!" Keluhan yang sebenarnya kami semua rasakan. Badan mulai meriang, sedikit pilek, dehidrasi, mata merah seperti hantu dan emosi mulai tak stabil.

Simbah tetap tenang, membuat kami sedikit terhibur. Bonus lembur membuat kami tersenyum...