30 Juni 2006

Jumatan dan onta yang terlepas

Di depan rumah kami terdapat masjid pesantren Bangsari, tempat diadaknnya Jumatan rutin. Sebenarnya lebih tepat kalo dikatakan nama Bangsari diambil sebagai nama awal pesantren kami. Kira kira mirip seperti pesantren Tebuireng, Tambak Beras, Ploso dll yang diambil dari nama daerah tersebut meski sebenarnya ada nama yang resmi untuk pesantren-pesantren itu. Biasanya nama resminya kurang dikenal.

Dalam tradisi Bangsari, setiap jumat menjelang tengah hari, merupakan ajang lomba untuk lebih dulu mencapai masjid terlebih lagi para orang tua yang sudah merasakan cukup atas kehidupan dunia. Menurut pengajian di masjid pesantren bercorak NU depan rumah, barang siapa yang sampai paling dulu ke masjid di hari Jumat, tentu saja dalam rangka Jumatan, akan mendapatkan pahala selayaknya berkorban seekor onta. Sehingga mereka berlomba seawal mungkin mencapai masjid.

Biasanya para kakek-nenek berangkat sekitar jam sepuluh pagi bahkan terkadang lebih awal. Mbah San Ngumar, Mbah Barudin, Mbah Nardi, Kaki Yono, Kyai Jalal, Pak Hanapi, Kaji Somad, Kaji Kidul, Mbah Abdul Majid alias Kaji Lor kakek saya, dan tentu saja Mbah Kyai Syarbini sendiri sebagai pemegang tampuk kekyaian di pesantren termasuk pelopor kelompok ini. Kalangan bapak-bapak diwakili Pak Darso bapak saya sendiri, Kang Miswan, Kang Wasbir, Pak Ngabas, Kang Pangat, Kang Hudi adalah kelompok yang datang sesaat kemudian. Di bawahnya adalah kelompok pemuda yang rajin mengatur keperluan masjid dan tentu saja menjadi pengawal kelompok terakhir. Kami, kelompok yang paling muda alias remaja ke bawah adalah kelompok penggembira dalam perlombaan itu.

Saya termasuk kelompok terakhir. Kelompok yang paling suka bicara sendiri ketika khotbah berlangung. Kelompok yang pemalas, dalam arti biasanya baru berangkat setelah adzan pertama dikumandangkan. Kami selalu duduk di barisan paling belakang dekat pintu keluar.

Orang-orang yang lebih tua sering menganjurkan kami berangkat lebih awal supaya mendapat pahala onta. Namun dasar anak-anak nakal, kami memberi alasan: " Memang para orang tua mendapat onta. Tapi ingat, mereka yang didepan pada ngantuk bahkan tidur, sudah pasti kamilah yang mendapatkannya. Karena kami tidak pernah ngantuk sedikitpun sampai khotbah selesai." Saya tersenyum mengingatnya. Kata-kata itu mengelikan saya sampai hari ini.

Sekarang, disini. Di seputaran thamrin, saya tetap setia menjadi kelompok yang berangkat terakhir. Tapi dengan sedikit kemajuan, saya mengantuk pada hampir semua khotbah yang berjalan. Ah, saya sudah mulai memasuki kelompok yang lebih tinggi, kelompok yang lebih tua...

Bagaimana dengan anda? Maaf, maksud saya bagaimana dengan onta anda?

8 komentar:

bahtiar.com mengatakan...

aku trimo etuk cempe wae ... :)

cepris mengatakan...

he...he... sudah lama saya tak liat onta :)

nunut ngiyup mengatakan...

sama, saya juga begituh... memang sulit konsentrasi 100% pada acara ibadat yang kita ikuti...

tapi saya menganggapnya sangat manusiawi koq... apalagi kalau pas khotbahnya sangat menjemukan... :)

Ely mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
elly.s mengatakan...

Apakah aku harus merasa beruntung karena tidak harus jumatan?
Ah aku patut merasa rugi karena nggak dapat onta...
Tapi kalau datang cepat ngantuk n datang lambat pas azan udah dimulai.. rasanya onta itu tak harus diberikan pada siapapun....

Ely mengatakan...

wah...saya ndak punya onta bang....

happy monday

ulin mengatakan...

Ternyata...Jum'atan ada hubungannya juga ya ama onta :)

kw mengatakan...

bangsari itu sebenarnya dimana to? ingin kusampaikan pertanyaan ini ketika pertama kali mampir kesini. namun malu.

malu bertanya memang tak dapat jawaban, namun banyak tanya katanya memalukan juga.

jadi aku cari-cari dipeta tidak ada bangsari. googling hanya nemuin bangsari seputar ipul, bahtiar dan bagok.

sehingga pertanyaan ini tetap kusampaikan, dimanakah sih daerah bangsari?