05 Juni 2006

Dasi, Jakarta dan Indonesia


Hari ini untuk pertama kalinya para karyawan pria dikantor kami diwajibkan memakai dasi. Katanya sih dengan memakai dasi akan menaikkan gengsi dan harga diri si pemakai sambil pada saat yang bersamaan menghargai para klien.

Waks... Sejak kapan dasi menjadi azimat yang begitu luar biasa? Bagaimana mungkin? Dalam benak saya itu adalah sebuah kebohongan besar. Tidak mungkin dan tidak akan mungkin demikian. Yang mungkin terjadi adalah, perasaan semu menjadi "setara" dengan para pelopor pemakai dasi. Siapa lagi kalo bukan bule?

Saya sendiri tidak begitu paham untuk apa para bule memakai dasi. Reka-reka pikiran udik saya mengatakan bahwa dasi hanyalah aksesoris dari busana yang lebih mapan yaitu jas, busana yang pada awal revolusi industri digunakan kelas menengah sebagai simbol perlawanan terhadap kaum borjuis. Artinya, dasi sangat tidak merepresentasikan apapun, apalagi tanpa jas. Untuk apa?

Tapi begitulah Jakarta, kota yang menelan semesta. Apapun ditelan demi image yang mereka bangun. Dasi seolah-olah menjadikan seseorang menjadi lebih bergengsi, kosmopolit, modern dan tentu saja lebih maju. Itulah Jakarta.

Benarkah itu hanya berlaku Jakarta? Rasanya kok tidak. Secara lebih luas Indonesia melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Bangsa kita memang sangat suka meniru, bahkan keliru beranggapan dengan meniru kita menjadi sama dan sederajat dengan mereka bangsa-bangsa maju. Pada beberapa hal, boleh meniru begitu. Sayangnya kita meniru pada hal-hal yang menurut saya tidak perlu.

Namun begitu, yang namanya aturan tetaplah aturan. Suka maupun tidak tetap harus ikut. Tidak terkecuali saya. Celakanya saya merasa tidak sreg. Saya jadi sedikit khawatir, jangan-jangan diri saya sendiri yang tidak beres? Wis ben lah!

Untuk itu, jangan kaget jika suatu saat anda melihat saya memakai dasi dengan menunduk tidak percaya diri pura-pura tidak melihat anda. Bukan karena saya tidak mau menyapa anda, saya tidak nyaman dengan dasi yang saya kenakan.

Sesungguhnya saya tak ingin, tapi aturan tetap aturan. Maaf...

20 komentar:

Bag0nK mengatakan...

waw... kalau saya setuju pakai dasi membuat kita kelihatan lebih rapi & keren... :)
coba dulu mas... pasti suka deh... :)

Bangsari mengatakan...

semoga saja, cuma masih gondok nih... :(

wedhouz mengatakan...

hahaha...
kalo saya kerja cuma pake kaos oblong bolong plus kathok kolor.
ngga necis babar blas plus tetep klowor... hehehe

@YU mengatakan...

keren sih keren..tapi kenapa lagi2 penampilan yang di utamakan???
kebiasaan!! melihat seseorang dari luarnya saja...*kog aku yg sewot:D*

Ely mengatakan...

Suami saya punya banyak dasi tapi ogah pakai dasi ke kantor. Yang dinilai khan hasil kerjanya, bukan penampilannya.

Salam kenal ya.

Bangsari mengatakan...

waduh, teman yang make dasi cuman mas bagOnk... :((

Ely mengatakan...

Kalau ditanya kapan Indonesia akan beradab, saya juga blom tahu bang..... mungkin bisa kita mulai dari diri kita sendiri.

itu foto dasinya bangsari ya?

Ely mengatakan...

Oh ya....apa boleh blognya aku link?

Bangsari mengatakan...

Benar, itu dasinya bangsari. tepat pagi pertama sebelum berangkat kerja.

kalo mau ngelink, dengan senang hati saya ijinkan.

anang mengatakan...

untung ndak suruh pake dasi ratnasari....abot Dab!!!

chocoluv mengatakan...

hehehe,,, kayaknya kalo dasi tu malah kayak salesman :P

Ely mengatakan...

Blognya dah tak link, thanks ya!

Silahkan kalau mau ngelink....eh...maturnuwun blog saya dah di link, tapi nama saya bukan walanda, dan sekarang saya lagi di Jerman.

Ely mengatakan...

bangsari itu letaknya dipulau mana?

kalau masih dikepung dgn sawah, ladang, hutan yang luas, sama dong dengan desa hassel, dimana saya tinggal sekarang.

Bag0nK mengatakan...

waduh, teman yang make dasi cuman mas bagOnk... :((
=================================
hahaha... saya kerja di pabrik koq.. mana pernah pakai dasi... :)

tapi kalau memang perusahaan mewajibkan pakai dasi pasti saya ikuti... lupakan soal suka atau tidak suka, perusahaan berhak koq menyuruh karyawannya mengikuti suatu aturan berpakaian tertentu.
daripada kita ikuti dengan terpaksa, mending kita ikuti dengan senang hati to...? :)

kalau cuma mengikuti kemauan saya, saya sebetulnya males pakai seragam pabrik, karena kaku & gak trendy gitu looooh... :)

Bangsari mengatakan...

Buat mas anang:
dasi ratna sari dah kadaluarsa euy, bisa keracunan saya!

Buat Mba Chocoluv: betul, lha wong saya ngga pernah pake dasi, jadi ya susah nyari yang cocok. yang penting kewajiban terpenuhi.

Buat Mba ely: thanks dah dilink. dah tak ganti lho... Bangsari itu ada di Jawa juga, tapi ngga tahu ya sepertinya lambat tersentuh peradaban tuh. listrik saja baru masuk 3 tahun yang lalu.

Buta mas bagOnk: saya lagi nyoba merasakan pake dasi. masih belum enjoy nih. maklum biasanya cuma pake oblong je...

onanymous mengatakan...

dasi barang mahal gak berfungsi :(
emang mengherankan kok, kenapa penghormatan kepada seseorang diukur dari pakaiannya ya?

ulin mengatakan...

kebanyakan orang memang suka ngeliat orang yang pake dasi mas...lebih rapi gitu loh...:)

k winarta mengatakan...

setuju. orang-orang yang ikut-ikutan ( apalagi trend) itu bukanlah sebuah pribadi, mereka hanyalah bagian dari kolektif.

tak penting benar seperti apa penampilan kita, yang lebih penting adalah output yang bisa membuat "senang" orang di sekeliling kita.

kalau emang cakep, pakai baju dekil pun akan tetap cakep. bahkan telanjang pun.

hi hi hi hi

Bangsari mengatakan...

ha..ha..ha.. dasi kok pake acara telanjang segala.

AB 1 D mengatakan...

MAS, COBA DASINYA MAHALAN DIKIT, PASTI JALANYA TEGAK SEPERTI ROBOCOP. LEBIH PD. KRN BIASANY ORNG YG SERING PAKE DASI TAU MN DASI YNG BAGUS. BI PUN BERGANTI NM JADI Bang Ipul. HA...HA...HA...