28 Juni 2006

Cimplung, gethuk dan ketan Ireng dalam kemasan, makanan marginal mengundi nasib

Seorang klien membawakan oleh-oleh ke ruang kerja kami, maksudnya anda sekalian bisa tebak sendiri. Sebuah kotak makanan bertuliskan Chiquita Pastries beserta alamat dan sederet nomor telepon di bagian permukaan kotak. Isinya: 2 kotak kecil cimplung, 2 potong besar gethuk dan 2 kotak kecil ketan ireng. Biasanya saya tidak tertarik dengan makanan-makanan mereka, bukan karena tidak doyan, tapi saya khawatir mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dari saya. Tetapi saya jadi tertarik setelah Ibenk -salah satu preman Bangsari yang ikut terdampar di belantara Jakarta- berteriak: "Hoalah, cuma cimplung!". Saya terhenyak dan terbayang Bangsari.

Kami menyebutnya "cimplung"!. Singkong yang diolah menjadi sangat lengket dan super manis. Di Bangsari, cimplung dibuat dengan cara memasukkan singkong mentah yang sudah dikupas begitu saja ke dalam cairan nira mendidih yang sedang diproses menjadi gula merah. Lama proses pembuatan persisnya saya tak tahu. Setelah sekian waktu proses, diangkatlah dan jadilah dia cimplung yang putih, lengket, manis dan lezat.

Kotak suguhan itu tiba-tiba menjadi sangat istimewa bagi saya. Saya masih terbuai dalam lamunan sebelum menyadari kotak itu sudah dijamah teman-teman. Menyisakan cimplung sekotak, bagian yang justru paling istimewa bagi saya.

Saya terkesan dengan mereka yang berani mengambil resiko mengemas secara apik makanan seperti cimplung, gethuk, ketan ireng maupun makanan tradisional. Di Jakarta makanan jenis itu, sebagaimana di bagian lain di Indonesia, bukanlah makanan yang memiliki kelas. "Makanan wong kere!", orang Bangsari menyebutnya. Makanan yang sulit "dijual" selayaknya brownies, croissant, roti dll.

Bagi saya pribadi makanan harus dimaknai sebagai fungsinya, pengganjal perut, tidak peduli dalam kemasan emas sekalipun. Tapi apalah saya ini! Saya bukan ukuran mayoritas, bahkan sebaiknya tidak bagi siapapun kecuali saya sendiri. Pedagang menyandarkan permainan bisnis atas dasar kecenderungan umum, bukan saya. Maka sungguh sulit saya membayangkan bagaimana mereka bisa memenej secara baik menjualnya dengan layak.

Dan sungguh, saya mengagumi orang berani yang mengambil resiko itu. Tabik!

11 komentar:

Ely mengatakan...

aku kok jadi membayangkan cimplung itu seperti apa?

kalo gethuk plus ketan ireng itu makanan favoritku , untung ndak ada foto2nya, kalo ada bisa ngiler aku, pingin!!

Sahrudin mengatakan...

cimplung = singkong direbus pakai nira? nek ning magelang, kalau nggak salah, itu namanya "bajingan" atau "bajigur". ngeri yo jenenge?

btw, apa kabar, mas ipul? sehat? bahagia? salam buat kawan-kawan di situ... :)

saya,

Bagonk mengatakan...

Panganan gratis biasane pancen enak kok mas, kekekek... *tes komen pake opera mini*

bahtiar.com mengatakan...

wes gratis, nganggo rebutan maning ... tampah enak :)

lebar iku ono rokok sam su :)

anang mengatakan...

Nek lereng Merapi jenenge "bajinguk", jadi keinget dulu waktu kecil suka nyemplungi telo godhok di wajan genenan badheg....uenak cen.

elly.sawljq mengatakan...

Aduh makanan tradisional jangan diledek dong, nanti kalo udah jauh dari Indo baru kangen.
Kemarin ketemu ubi kayu seger dipasar tani, trus cepet2 beli. Sampe rumah buat gethuk, anter2in temen, semua jd sentimentil n berkaca2 kok ari gini aku inget buat gethuk. Lha, inget dong... wong aku orang Indonesia.
Tapi anak2ku bengong....sambil nanya "ini boleh dimakan bunda?" waduuuh....

ulin mengatakan...

Makanya dinamain cimplung ya... karena singkongnya diCIMPLUNGin ke dalam cairan nira mendidih...:)

@YU mengatakan...

ono kene telo goreng dadi panganan elit..la wong regane tikel telu dibanding brownies..opo meneh dibanding croisant......

ipoul_bangsari mengatakan...

wuih, saya ngga nyangka ternyata banyak yang punya nostalgia dengan makanan udik itu. he..he..

Hedi mengatakan...

aku ga pernah punya nostalgia dg cimplung, tp pernah makan...wuenak tenan...mbok dilempar nang blok m, rek! :p

k winarta mengatakan...

sayang, oran-orang di kampuangku kurang kreatip kali, jadi aku tidak mengenal cimplung. kalau gethuk dan ketan ireng masih ada. cenil dan nogosari ada juga kok

:)