12 Juni 2006

The Art of Nasi Uduk

Judul diatas saya ambil dari salah satu judul essainya Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya "Affair: Obrolan tentang Jakarta". Seno menilai, nasi uduk adalah salah satu dari sangat sedikit identitas yang masih dipunya orang-orang Jakarta (yang dia sebut Homo Jakartensis) saat ini. Nasi uduk lah yang menjadikan Homo Jakartensis memaknai "kembalinya segala sesuatu". Wis mbuh lah!

Pada suatu malam yang berlalu belum terlalu lama, Ndoro Seten VanMagelang mengajak saya dan mas Bahtiar untuk menjajal si nasi ajaib. Saya yang masih kuper di Jakarta tanpa pikir panjang mengiyakan ajakan Sang Ndoro. Kami bertiga jalan kaki dari kosan ke arah pasar Kebon Kacang sekitar 5 menit.

Sesampainya disana, kami segera memasuki salah satu kedai nasi uduk yang didominasi warna kuning (selak ngelih je...). Tanpa ragu-ragu karena sudah berpengalaman sebelumnya, Ndoro memesan 3 potong ayam potong beserta lalapan dan ubo rampenya. Saya memperhatikan seolah melihat keajaiban.

Berselang sepeminuman teh, hidanganpun tersedia. Ternyata nasi uduknya dibungkus daun pisang seukuran nasi kucing di angkringan Jogja. Bahkan mungkin lebih kecil dan lebih sedikit. Tapi yang terpenting adalah, rasanya gurih dan dahsyat. Serasa menjadi Ndoro!

Dan ternyata bukan itu saja kelebihan nasi uduk. Kedahsyatannya terasa lebih lagi ketika tagihan disodorkan. Waks... Mahal amat!

Meski saya terkesan dengan rasanya, saya tidak habis mengerti mengapa nasi uduk - yang tidak menyewa tempat mewah, tidak menggaji banyak karyawan, tidak mendandani pegawai dan tidak membeli lisensi dari manapun seperti halnya waralaba - begitu mahal? Sekali lagi terbukti, saya memang anak Bangsari yang masih tetap ndeso dan gumunan...

11 komentar:

wedhouz mengatakan...

hidup cah ndeso...

Bag0nK mengatakan...

nasi uduk asli mahal yak?
saya hampir tiap pagi sarapan nasi uduk "palsu" (yg jualnya orang jawa tengah!) + telor + 2 tahu = Rp 3500. tambah kopi jadi Rp 4500.
lumayaaaan... kenyang... :)

pembeli juga mengatakan...

tapi makasih Dab, semoga laen kali aku ganti yang traktir jenengan ... :)

chocoluv mengatakan...

hmmm,,, nyam nyam ssssssssrrrrrp ;P

Ely mengatakan...

mending masak sendiri ya bang....ato cepat2 punya istri ....jadi nggak perlu beli nasi uduk!

Hedi mengatakan...

tuku cedak omahku wae, murah meriah 3000 hehehe...

@YU mengatakan...

walah..marahi..pengen wae....dadi ngelih aku...

Anonim mengatakan...

Nasi uduk merupakan uba rampe bagi kelompok sosial tertentu untuk mengukuhkan bahwa mereka tidak udik, sehingga tidak pernah makan nasi udik.....bukan udik-udik upil lho

Ely mengatakan...

halo bangsari...met berakhir pekan ya, apa masih nongrong di warung nasi uduk?

ulin mengatakan...

Di Hotel J.W Marriot ada nasi uduk engga..?:)

Herlily mengatakan...

Hallo,
Apakah masih menyimpan Affair-nya Seno Gumira? Kalau masih bolehkah saya pinjam? Saya sedang cari buku tersebut tapi ternyata sudah tidak ada di toko2 buku. trims ya..