Minggu siang seorang teman lama ngajak jalan ke Subang. Aku sendiri belum pernah ke Subang apalagi dari
Rupanya temanku dimintai tolong bosnya umengantarkan beliau dan ibunya. Aku sendiri janjian bertemu si teman di sekitar MM Bekasi. Selanjutnya kami menuju rumah si Bos. Sampai di rumah si bos, makan siang basa-basi dan bercakap-cakap sebentar, berangkatlah kami berempat naik sedan ke Subang. Temanku menyetir sementara aku yang tidak bisa nyetir duduk di samping kemudi sekedar menemani. Si Bos dan ibunya duduk di jok belakang.
Si Bos adalah seorang ibu-ibu berumur setengah baya, seorang petinggi di suatu departemen. Mengikuti temanku aku memanggilnya Ibu. Sedangkan ibunya si Bos adalah seorang nenek yang sudah berumur. Kami memanggilnya Simbah. Hanya dalam tempo tidak terlalu lama kami sudah akrab seolah telah saling mengenal selama bertahun-tahun.
Simbah berumur 74 tahun. Semua rambutnya sudah memutih. Meski begitu, beliau kuat dan terbiasa menempuh perjalan jauh, tentu saja naik pesawat. Tiga hari sebelum perjalanan hari itu Simbah ke
Di tengah perjalanan mengingat persedian bensin menipis, kami memasuki sebuah pom bensin yang terletak di pinggir tol. Sejujurnya aku heran juga ada pom bensin di tol, tapi biarlah. Itu hal yang aku ngga ingin tahu. Aku tidak tahu tepatnya daerah itu. Kira-kira setengah perjalanan kembali di sela hangatnya perbincangan kami, Simbah muntah-muntah layaknya orang mabuk kendaraan.
Temanku segera menepikan mobil dan kami semua turun. Ibu sibuk menolong Simbah serta membersihkan jok belakang mobil kami menggunakan kertas tisyu. Sementara aku dan temanku menyaksikan dan berjaga-jaga jika mereka butuh bantuan. Beberapa saat kemudian disamping juga karena hawa panas jalan tol, kami memutuskan melanjutkan perjalanan kembali. Di kursi belakang si bos memijiti dan melumuri Simbah dengan minyak kayu putih. Sepanjang perjalan tersisa Simbah tidur dan baru bangun saat kami sampai di tujuan.
Sesampainya tujuan, temanku segera mengajakku keliling
Disitu kami sempat sholat jamak sambil menunggu Simbah selesai diurut dan dipijat. Simbah sempat meminta kami semua menginap semalam, tapi kami membujuknya untuk pulang karena kami tidak siap menginap. Kami pun melanjutkan perjalan pulang kembali.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat, mungkin karena kami bertiga semakin akrab dan saling meledek. Sementara Simbah tidur sedikit mendengkur. Mendekati gerbang tol Bekasi Timur, Simbah mendengkur keras tapi hanya sekali itu. Sesudah itu tenang kembali.
Keluar pintu Tol saatnya aku turun untuk melanjutkan perjalanan pulang ke kos naik bis. Begitu aku turun, Ibu minta pindah ke depan menempati tempat yang kutinggalkan dan meninggalkan Simbah sendirian di belakang.
Setelah mereka berlalu, aku mendapatkan bisku. Ke Tanah Abang.
Sesampainya di kos aku menerima sms: " Bangsari, ada hal penting yang ingin ku sampaikan. Besok aku telpon ke kantormu". Setelah membalas: "Ok", aku pun tidur. Tubuh yang lelah membuatku tidak berusaha menebak apa hal penting tersebut.
Pagi-pagi si teman menelponku di kantor sesuai janjinya semalam. Singkat saja pembukaan pembicaraan kami pagi itu: " Simbah meninggal semalam!".
6 komentar:
wah-wah ... menemani saat akhir ... :(
begitulah. Simbah meinggal dan kami tidak ada yang tahu.
pelajaran bagi kita semua, bahwa semua yang bernyawa akan kembali pada-Nya. Semoga kita ditetapkan diatas ketaatan kepada-Nya,"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati manusia, tetapkan aku diatas agamaMu".Amiin.
Amin...
blaik ... ganti lek ot tem plet...:)
Nice! Where you get this guestbook? I want the same script.. Awesome content. thankyou.
»
Poskan Komentar