30 Mei 2006

Potret Bencana Indonesia: Masih Banyak Tangan yang Tega Berbuat Nista


Saat makan siang kemarin, sekilas aku melihat sebuah koran lampu merah basi berumur sehari. Ada sebuah judul menarik di halaman utama: " Tiket Pesawat Ke Jogja Naik Akibat Calo". Sekilas Info yang ditayangkan sebuah tv swasta juga menyoroti hal yang sama. Detik dan beberapa media juga memberitakan maraknya calo di bandara. PT. Angkasa Pura II sampai melakukan razia bekerjasama dengan polres bandara. Hasilnya, 12 calo diringkus pada sabtu malam dan 16 lainnya pada minggu pagi. Menurut informasi yang beredar, para calo menjual tiket sejuta lebih mahal dari harga normal.

Sulit dimengerti, para calo yang notabene tinggal jauh dan tidak merasakan dampak gempa sedikitpun begitu tega mengambil untung atas peristiwa memilukan itu. Apalagi bisa ditebak, para calon penumpang menuju Jogja itu pastilah orang-orang yang terkena dampak langsung atau mungkin sukarelawan. Sulit diterima akal jika mereka mau berwisata atau menghamburkan uang.

Terngiang juga dalam benak beberapa waktu yang lalu ketika seorang akademisi dari kampus biru menceritakan perilaku para elit jakarta setelah tsunami Aceh. Banyak dari mereka yang memanfaatkan momen itu untuk menangguk untung atas nama rekonstruksi Aceh. Yang terjadi di lapangan adalah, proyek-proyek ditinggalkan para korban Tsunami.

Pada skala kecil ketika terjadi banjir besar di sekitar Bangsari beberapa tahun lalu, perilaku yang sama juga terjadi. Para pejabat yang seharusnya mendistribusikan bantuan malah menjualnya kembali ke pasar lokal dengan berbagai alasan. Bapak yang waktu itu masih menjabat diintimidasi karena tidak mau ikut ambil bagian. Celakanya, banjir di sekitar Bangsari terjadi setiap tahun.

Begitulah. Indonesia sedang mengalami pembusukan, bahkan mungkin sudah hampir selesai. Nurani menjadi barang yang sulit didapat disini.

Semua begitu? Nanti dulu. Tidak semua! Masih banyak dan bahkan sebagian besar masih bersih dan berhati nurani. Sayangnya, kitab suci telah memperingatkan:
"Berhati-hatilah kamu terhadap azab yang tidak hanya akan menimpa orang-orang dzalim diantara kalian. Tetaplah menyeru kepada kebaikan dan menahan yang mungkar."
Rasanya inilah saat dimana tidak hanya para pendosa yang menderita. Berdoa dan bertawakkal. Tabik!

5 komentar:

Hedi mengatakan...

Nila setitik rusak susu sebelanga...

Bangsari mengatakan...

Saya khawatir kalo sudah saatnya Indonesia di azab sebagai bangsa. Bencana begitu beruntun.

Anonim mengatakan...

potone sangar ... :)

nanang mengatakan...

Habis manis sepah ditelan........:(

ulin mengatakan...

Ya... begitulah Indonesia :(