29 Mei 2006

Kabar dari Bangsari

Kamis pagi (25/05/06) aku mudik. Setelah semalaman naik kereta ekonomi dan bau asap di seluruh badan, pada waktu sehabis subuh aku sampai di rumah.

Tidak banyak yang berubah pada Bangsari dalam beberapa tahun tahun terakhir. Di antara yang sedikit itu adalah jaringan listrik yang sudah merambah sebagian besar rumah penduduk, tiga hari menjelang lebaran yang lalu. Selain itu tidak banyak yang berubah. Jalan tetap seperti kubangan kerbau. Bahkan kalo kita bisa memancing belut didalam kubangan-kubangan sehabis banjir besar. Sawah tetap mengepung seolah hendak menelan desa sepanjang waktu. Waktu berjalan lambat dan hidup gampang ditebak.

Aku sendiri heran, apa yang selalu kurindukan dari Bangsari. Hawanya panas, mungkin hampir mirip dengan Wanagalih dalam "Para Priyayi". Airnya berbau lumpur meski bening tidak berkarat. Tanahnya hitam, liat dan labil. Setiap truk lewat seluruh rumah dekat jalan berguncang dan karenanya jalan desa tidak pernah bagus lebih dari setahun.

Ikatan batin yang membuatku betah dan selalu merindukannya. Darah-daging-tulangku terbuat dari saripati Bangsari. Selain itu karena semua keluargaku ada disana.

Tidak ada hal-hal menarik lain. Kecuali sabtu pagi itu, tiba-tiba tanah bergunjang keras sekitar 2-3 menit. Orang sekampung saling berteriak: "Lindhu... lindhu". Selanjutnya kehidupan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

5 komentar:

nanang mengatakan...

Memang kampung halaman nan jauh di mato takkan biso dilupo....

Bangsari mengatakan...

Sudah pindah ke Padang Den Mas?

Bag0nK mengatakan...

desaku yang kucinta
pujaan hatiku
tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku

tak mudah kulupakan
tak mudah tercerai
selalu kurindukan
desaku yang permai

... ayo nyanyi... :)

Bangsari mengatakan...

he..he.. ternyata sering kangen kampung juga ya mas?

jakober mengatakan...

Bangsari....Awas jangan coba-coba, ben ndeso akeh premane lho....!