31 Mei 2006

Ngupi diatas Thamrin

Ngupi di ketinggian apalagi di atas Thamrin adalah sesuatu yang sensasional dan sangat istimewa buat saya yang udik. Bagaimana tidak, tempat tertinggi di atas permukaan tanah yang menurut saya paling istimewa sebelumnya ya, di atas pohon kelapa belakang rumah di Bangsari sana. Terutama saat angin bertiup kencang membuat pohon bergerak meliuk. Mata takut melihat ke bawah. Kaki bergetar menahan capai dan takut. Lagi pula kan tidak mungkin ngupi di atas pohon kelapa? Ah, tapi itu kan dulu... Sekarang mana berani manjat pohon tinggi itu lagi. Mending naik lift. He..he..

Sambil ngupi saya menikmati Monas. Dulu, bapak bangsa Soekarno pernah menjadikannya sebagai proyek mercusuar yang katanya bagian dari nation and character building itu. Meski makin hari katanya makin tak terurus. Saya ngga begitu paham, yang saya tahu kupinya enak!

30 Mei 2006

Potret Bencana Indonesia: Masih Banyak Tangan yang Tega Berbuat Nista


Saat makan siang kemarin, sekilas aku melihat sebuah koran lampu merah basi berumur sehari. Ada sebuah judul menarik di halaman utama: " Tiket Pesawat Ke Jogja Naik Akibat Calo". Sekilas Info yang ditayangkan sebuah tv swasta juga menyoroti hal yang sama. Detik dan beberapa media juga memberitakan maraknya calo di bandara. PT. Angkasa Pura II sampai melakukan razia bekerjasama dengan polres bandara. Hasilnya, 12 calo diringkus pada sabtu malam dan 16 lainnya pada minggu pagi. Menurut informasi yang beredar, para calo menjual tiket sejuta lebih mahal dari harga normal.

Sulit dimengerti, para calo yang notabene tinggal jauh dan tidak merasakan dampak gempa sedikitpun begitu tega mengambil untung atas peristiwa memilukan itu. Apalagi bisa ditebak, para calon penumpang menuju Jogja itu pastilah orang-orang yang terkena dampak langsung atau mungkin sukarelawan. Sulit diterima akal jika mereka mau berwisata atau menghamburkan uang.

Terngiang juga dalam benak beberapa waktu yang lalu ketika seorang akademisi dari kampus biru menceritakan perilaku para elit jakarta setelah tsunami Aceh. Banyak dari mereka yang memanfaatkan momen itu untuk menangguk untung atas nama rekonstruksi Aceh. Yang terjadi di lapangan adalah, proyek-proyek ditinggalkan para korban Tsunami.

Pada skala kecil ketika terjadi banjir besar di sekitar Bangsari beberapa tahun lalu, perilaku yang sama juga terjadi. Para pejabat yang seharusnya mendistribusikan bantuan malah menjualnya kembali ke pasar lokal dengan berbagai alasan. Bapak yang waktu itu masih menjabat diintimidasi karena tidak mau ikut ambil bagian. Celakanya, banjir di sekitar Bangsari terjadi setiap tahun.

Begitulah. Indonesia sedang mengalami pembusukan, bahkan mungkin sudah hampir selesai. Nurani menjadi barang yang sulit didapat disini.

Semua begitu? Nanti dulu. Tidak semua! Masih banyak dan bahkan sebagian besar masih bersih dan berhati nurani. Sayangnya, kitab suci telah memperingatkan:
"Berhati-hatilah kamu terhadap azab yang tidak hanya akan menimpa orang-orang dzalim diantara kalian. Tetaplah menyeru kepada kebaikan dan menahan yang mungkar."
Rasanya inilah saat dimana tidak hanya para pendosa yang menderita. Berdoa dan bertawakkal. Tabik!

29 Mei 2006

Jogja, aku bersedih atas semua yang kau derita...

Pukul 10:00 dari tv aku melihat tayangan kota Jogja, tempat yang pernah kutinggali selama 8 tahun, porak poranda. Running text memberitahukan jumlah korban mencapai 81 orang. Aku sms dua teman menanyakan kebenaran berita itu, tapi sms itu tertunda sampai sehabis duhur. Jawaban mereka melegakan: " Kota Jogja aman, hanya genting-genting kos yang melorot". Sampai sore aku tidak melihat tv lagi.

Menjelang maghrib aku berangkat ke pool bis yang membawaku ke tanah rantau, semalam perjalanan naik bis. Di tengah derit suara bis karena jalan yang seperti "kali asat", sayup-sayup aku mendengar kru bis rame membicarakan korban gempa di Jogja mencapai 2.000 orang. Setengah tidak percaya, aku mencoba sms teman. Ternyata benar, kerusakan dimana-mana. Ribuan orang meninggal. Yang masih hidup tidak berani tidur dalam rumah. Semalam-malaman sepanjang perjalanan diisi dengan sms dan telpon. Sms, YM dan Milis lebih menyibukkan sehari kemudian.

Jogja, aku bersedih atas semua yang kau derita...

Kabar dari Bangsari

Kamis pagi (25/05/06) aku mudik. Setelah semalaman naik kereta ekonomi dan bau asap di seluruh badan, pada waktu sehabis subuh aku sampai di rumah.

Tidak banyak yang berubah pada Bangsari dalam beberapa tahun tahun terakhir. Di antara yang sedikit itu adalah jaringan listrik yang sudah merambah sebagian besar rumah penduduk, tiga hari menjelang lebaran yang lalu. Selain itu tidak banyak yang berubah. Jalan tetap seperti kubangan kerbau. Bahkan kalo kita bisa memancing belut didalam kubangan-kubangan sehabis banjir besar. Sawah tetap mengepung seolah hendak menelan desa sepanjang waktu. Waktu berjalan lambat dan hidup gampang ditebak.

Aku sendiri heran, apa yang selalu kurindukan dari Bangsari. Hawanya panas, mungkin hampir mirip dengan Wanagalih dalam "Para Priyayi". Airnya berbau lumpur meski bening tidak berkarat. Tanahnya hitam, liat dan labil. Setiap truk lewat seluruh rumah dekat jalan berguncang dan karenanya jalan desa tidak pernah bagus lebih dari setahun.

Ikatan batin yang membuatku betah dan selalu merindukannya. Darah-daging-tulangku terbuat dari saripati Bangsari. Selain itu karena semua keluargaku ada disana.

Tidak ada hal-hal menarik lain. Kecuali sabtu pagi itu, tiba-tiba tanah bergunjang keras sekitar 2-3 menit. Orang sekampung saling berteriak: "Lindhu... lindhu". Selanjutnya kehidupan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

24 Mei 2006

Untuk Apa TV dan Lukisan itu?


Sebuah televisi menyala terus menerus tanpa ada yang menonton. Dibelakangnya tergantung lukisan minyak karya seorang pelukis terkenal yang luar biasa besar, kira-kira 2 X 5 meter bahkan mungkin lebih.

Benar-benar pemborosan yang tidak perlu! Selain saya buta seni, saya berkeyakinan jika uang untuk beli TV dan lukisan itu akan lebih bermanfaat jika diberikan pada orang yang membutuhkan termasuk saya. Begitulah otak saya yang kuno ini berfikir. Menurut anda?

Iklan Rokok di Kaos Kaki


Entah karena pabrik rokoknya yang sedang berpromosi ataukah karena si pembuat kaos kaki yang kehabisan ide. Barang kali keduanya memang saling membutuhkan. Tak tahulah saya. Yang jelas harganya, kata si empunya kaos kaki, cuma Rp 10.000,- dapat 3 pasang kaos kaki serupa. Tempat jualnya pun di jembatan penyeberangan depan Plasa Semanggi. Indonesia gitu...

23 Mei 2006

Liburan itu Menyenangkan, Tapi....


Kamis besok (25/5/2006), libur 4 hari dimulai. Seperti yang sudah-sudah, libur membuat banyak orang (termasuk saya dan semoga demikian juga anda) ikut senang.

Ternyata jumlah liburan kita banyak. Sebagai gambaran, daftar liburan selama tahun 2006 adalah: Libur lebaran, Idul Fitri, Idul Adha, Nyepi, Maulid Nabi, Kelahiran Isa Al-Masih, wafat Isa Al-Masih, Kenaikan Isa Al-masih, Waisak, Isra' Mi'raj, Libur peringatan kemerdekaan 17 Agustus, Libur peringatan momen-momen kepahlawanan nasional, Libur tahun baru (Masehi, Imlek dan Hijriyah). Semuanya ada 13 hari. Banyak ya? Eits... Tapi tunggu dulu. Itu belum termasuk libur cuti bersama lho.

Banyak orang bilang kalo indonesia sudah kebanyakan liburan. Dalam tahun 2006 saja, jumlah libur resmi ada 13 hari (seperti tersebut diatas) plus cuti bersama 6 hari. Jika cuti yang diambil digenapkan sesuai jatah 12 hari, libur yang diijinkan berjumlah 25 hari. Karena dalam seminggu hari kerja hanya 5 maka dalam setahun libur sabtu minggu berjumlah 108 hari. Jadi total libur selama tahun 2006 berjumlah 133 hari.

Bayangkan, 133 hari! Lebih dari sepertiga alias 36,38 % dari total 365 hari dalam setahun. Belum lagi jika bolos-bolos ikut dicatat. Semoga saya salah hitung. Silahkan dikoreksi dan selamat berlibur panjang...

17 Mei 2006

Mumpung Mak Ngga Ada...

Kayaknya Mak ngga ada deh


Nyalain korek susah juga ya...


Akhirnya....




Ngrokok dulu ah...

15 Mei 2006

Di Cianjur Narkoba Boleh Diumpetin

Jauhi narkoba! Caranya dengan menyembunyikan barang haram itu. Kira-kira begitulah maksud pesan yang tertulis pada papan tersebut. Cuma Cianjur yang punya begini! (kiriman donna)

10 Mei 2006

Simbah


Minggu siang seorang teman lama ngajak jalan ke Subang. Aku sendiri belum pernah ke Subang apalagi dari Jakarta. Menurut inforamsi temanku, Subang hanya berjarak sekitar 2 jam perjalanan bermobil dari Bekasi, tempat tinggalnya kini, via tol.

Rupanya temanku dimintai tolong bosnya umengantarkan beliau dan ibunya. Aku sendiri janjian bertemu si teman di sekitar MM Bekasi. Selanjutnya kami menuju rumah si Bos. Sampai di rumah si bos, makan siang basa-basi dan bercakap-cakap sebentar, berangkatlah kami berempat naik sedan ke Subang. Temanku menyetir sementara aku yang tidak bisa nyetir duduk di samping kemudi sekedar menemani. Si Bos dan ibunya duduk di jok belakang.

Si Bos adalah seorang ibu-ibu berumur setengah baya, seorang petinggi di suatu departemen. Mengikuti temanku aku memanggilnya Ibu. Sedangkan ibunya si Bos adalah seorang nenek yang sudah berumur. Kami memanggilnya Simbah. Hanya dalam tempo tidak terlalu lama kami sudah akrab seolah telah saling mengenal selama bertahun-tahun.

Simbah berumur 74 tahun. Semua rambutnya sudah memutih. Meski begitu, beliau kuat dan terbiasa menempuh perjalan jauh, tentu saja naik pesawat. Tiga hari sebelum perjalanan hari itu Simbah ke Surabaya mengunjungi saudara-saudaranya. Dan sabtu, sehari sebelum mengajak kami ke Subang, Simbah baru saja datang dari Jogja. Seperti halnya di Surabaya, beliau juga mengunjungi saudara-saudaranya yang lain. Menurut Ibu, Simbah mempunyai kebiasaan mengunjungi saudara-saudaranya secara berkala.

Di tengah perjalanan mengingat persedian bensin menipis, kami memasuki sebuah pom bensin yang terletak di pinggir tol. Sejujurnya aku heran juga ada pom bensin di tol, tapi biarlah. Itu hal yang aku ngga ingin tahu. Aku tidak tahu tepatnya daerah itu. Kira-kira setengah perjalanan kembali di sela hangatnya perbincangan kami, Simbah muntah-muntah layaknya orang mabuk kendaraan.

Temanku segera menepikan mobil dan kami semua turun. Ibu sibuk menolong Simbah serta membersihkan jok belakang mobil kami menggunakan kertas tisyu. Sementara aku dan temanku menyaksikan dan berjaga-jaga jika mereka butuh bantuan. Beberapa saat kemudian disamping juga karena hawa panas jalan tol, kami memutuskan melanjutkan perjalanan kembali. Di kursi belakang si bos memijiti dan melumuri Simbah dengan minyak kayu putih. Sepanjang perjalan tersisa Simbah tidur dan baru bangun saat kami sampai di tujuan.

Sesampainya tujuan, temanku segera mengajakku keliling kota Subang sekaligus bertemu teman-teman lamanya sewaktu masih di bangku SMP dulu. Sekitar 2 jam kami keliling kota di tengah guyuran hujan, menjenguk beberapa temannya dan rame-rame makan bakso di pojokan alun-alun. Setelah itu kami sempat keliling kota sebentar sebelum kami mengantarkan teman-teman itu dan pulang kembali ke rumah dimana Simbah berada.

Disitu kami sempat sholat jamak sambil menunggu Simbah selesai diurut dan dipijat. Simbah sempat meminta kami semua menginap semalam, tapi kami membujuknya untuk pulang karena kami tidak siap menginap. Kami pun melanjutkan perjalan pulang kembali.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat, mungkin karena kami bertiga semakin akrab dan saling meledek. Sementara Simbah tidur sedikit mendengkur. Mendekati gerbang tol Bekasi Timur, Simbah mendengkur keras tapi hanya sekali itu. Sesudah itu tenang kembali.

Keluar pintu Tol saatnya aku turun untuk melanjutkan perjalanan pulang ke kos naik bis. Begitu aku turun, Ibu minta pindah ke depan menempati tempat yang kutinggalkan dan meninggalkan Simbah sendirian di belakang.

Setelah mereka berlalu, aku mendapatkan bisku. Ke Tanah Abang.

Sesampainya di kos aku menerima sms: " Bangsari, ada hal penting yang ingin ku sampaikan. Besok aku telpon ke kantormu". Setelah membalas: "Ok", aku pun tidur. Tubuh yang lelah membuatku tidak berusaha menebak apa hal penting tersebut.

Pagi-pagi si teman menelponku di kantor sesuai janjinya semalam. Singkat saja pembukaan pembicaraan kami pagi itu: " Simbah meninggal semalam!".

08 Mei 2006

Musim Yang Tepat Untuk Hamil


Dikantor saya lagi musim hamil. Dua teman kerja di kantor yang menikah belum seberapa lama sedang hamil muda. Di kantor lama ternyata juga baru ada yang "ketiban pulung" hamil muda. Apa sekarang memang musim yang cocok untuk hamil hamil (dan barangkali hamil lagi) ya? He..he..

Berani mencoba?

Menjadi Saksi Kehebatan Dunia Maya (Sisi lain Mas Bahtiar)


Minggu (07/05/06) pukul 07:00 pagi ketika mataku masih terpejam, Mas Bahtiar ditelpon sebuah radio siaran. Sehari sebelumnya mereka sudah saling janjian untuk wawancara pagi itu. Wawancara disiarkan langsung pagi itu selama kira-kira setengah jam. Tokoh lain yang ditampilkan pada dialog interaktif itu adalah Sri Paku Alam, penguasa Paku Alaman Jogja. Adapun tema yang dibahas saat itu adalah mengenai sepeda antik dan komunitasnya di Jogja.

Mas Bahtiar di wawancarai sebagai anggota Jogja Onthel Club, sebuah paguyuban sepeda antik yang selalu nongkrong di perempatan Kantor Pos Besar Malioboro. Sedangkan Sri Paku Alam dihadirkan sebagai panelis.

Rasanya aneh sekaligus kagum bagi saya yang belum pernah melihat wawancara radio apalagi disiarkan secara live dan jarak jauh. Tapi itulah kemajuan dunia teknologi. Dunia semakin mengglobal dan tidak berjarak lagi. Usut punya usut, radio tersebut mendapatkan informasi tentang Mas Bahtiar dari Blognya.

Selamat Mas…

04 Mei 2006

(Mencoba) Menjadi Don Juan



Pertama kali membaca Poligablog-nya Sahrudin, saya sama sekali tidak ngeh. Saya tidak habis mengerti mengapa seseorang memiliki beberapa blog sekaligus. Apa ngga repot tuh?.

Setelah dipikir-pikir, lama-lama saya penasaran juga. Lha, gimana bisa ngerti, kalo mencoba saja belum pernah?

Setelah itu saya coba poligablog. Dan saya baru sadar. Ini kan gratis, semau gue dong! Mau poligablog kek, mau ngga kek. Suka-suka gue! He..he..

Maka dengan semangat mencoba gratisan itulah, saya mulai mencoba menjadi Don Juan

03 Mei 2006

Mabuk Lift


Lift seperti halnya alat mekanis buatan manusia lainnya tidak terkecuali kendaraan bermotor, terkadang memiliki efek bagi orang-orang tertentu.

Dua teman seruangan kerja selalu mengeluh pusing bahkan terkadang mabuk. Tiap kali naik lift sang teman bersiap ekstra "seolah mau perang". Untuk mengurangi efek selama di lift sang teman mencoba berpegangan pada sesuatu, entah pada pegangan dinding kamar lift ataupun pada teman yang lain.

Setelah sebulan lebih, teman pertama sudah mulai bisa menikmati dan tidak terlalu mabuk. Teman kedua yang baru seminggu ternyata lebih parah dari teman pertama. Terkadang setelah keluar Lift mukanya pucat seperti sedang sakit.

Celakanya, gedung kantor kami tidak menyediakan tangga. Yang ada hanya tangga darurat kebakaran. Bisa di pakai keluar, tapi tidak bisa masuk ruangan kecuali ke lantai basement yang juga tempat parkir.

Apakah anda termasuk yang menderita selama naik lift?

02 Mei 2006

Menolong Orang di Jalan Tol


Siapa bilang di Jakarta rasa peduli terhadap orang lain semakin langka? Seorang kawan yang baru saja ngajari saya ngeblog menunjukkan bahwa Jakarta bukanlah halangan untuk peduli dan berbuat baik pada orang lain. Dia baru seminggu datang dari Jogja dan berniat untuk mengadu nasib di Jakarta.

Pada perjalanan keliling-keliling melalui tol Jagorawi sekedar ingin tahu kota Bogor, sang kawan yang kebetulan satu-satunya lelaki yang bisa nyetir mobil dalam rombongan kami menghentikan mobil. Ada kerikil yang nyangkut di Wiper kaca depan mobil rombongan, sementara hujan mulai turun dengan lebatnya. Kami khawatir jika tidak dibuang akan menimbulkan goresan-goresan tidak indah pada kaca mobil saat wiper bergerak-gerak menyingkap air hujan.

Sebagai orang yang tidak pernah punya mobil, bahkan membayangkan akan punya pun tidak, tentu saja kami tidak ingin memberi kesan teledor pada Mba Nisa Sang Juragan Sajadah, Tuan Putri Baik Hati Van Kebon Kacang sekaligus pemilik "Kijang" yang sudah merelakan mobilnya plus segala tetek bengeknya selama perjalanan kami.

Saat kami berhenti dan membuka jendela untuk membuang si kerikil, seseorang mengetuk mobil kami. Si Bapak minta ijin untuk meminjam kunci roda. Rupanya ban belakang mobil si Bapak, yang diparkir sekitar 10 meter di belakang mobil rombongan, kempes. Dengan sedikit bingung karena kami belum paham barang yang di maksud, kami mulai mencari di bawah kolong kursi mobil. Kira-kira 2 menit kemudian kami menemukan barang yang kami curigai sebagai yang di maksud si Bapak. Ternyata benar. Benda berbentuk salib itu yang Bapak maksud.Segera saja Bapak berlari dalam derasnya hujan untuk segera memulai ganti roda belakang. Sang kawan keluar untuk sekedar memayungi si Bapak. Kira-kira 10 menit proses tersebut selesai. Dengan mengucapkan terima kasih si Bapak mengembalikan alat tersebut.

Hal yang sepele tetapi mulia. Semoga engkau mendapatkan lebih dari yang kau impikan di Jakarta ini Kawan....

01 Mei 2006

Menunggu

Aku menunggumu disini. Di Kebon Kacang seberang Sarinah Thamrin. Kepakkan sayapmu seluas bumi. Aku menunggumu dengan cinta....

Akhirnya.....


Dengan bantuan Mas Bahtiar, aku memulai blog ini....