26 Desember 2006

Mendadak Homo

Selepas maghrib, acara kumpul-kumpul di Semanggi pun diakhiri. Bebek pamit pulang dengan Irwan, Mita hendak shopping dengan Yuniar (belum punya blog) dan saya pulang dengan Kang Bahtiar.

Mumpung masih dia area Semanggi, saya ajak Kang Bahtiar ke supermarket di lantai bawah. Maksud saya sekedar melihat-lihat, barangkali ada yang menarik. Paling tidak cuci mata murah meriah.

Saya membeli sekilo jeruk santang yang ukurannya seupil-upil itu. Kang Bahtiar membeli satu liter susu segar coklat, sepaket yakult, seikat bengkoang dan beberapa perlengkapan mandi. Setelah itu, kami pulang melewati area cafewalk tempat kami berkumpul sebelumnya.

Ternyata, kami jumpai lagi Mita dan Yuniar sedang mengantri di depan sebuah mesin penarikan uang. Rupanya mereka juga sehabis jalan-jalan di dalam plasa.

Segera kami terlibat dalam perbincangan lagi. Seperti pada perbincangan sebelumnya, perbincangan kali ini pun ndladrah kemana-mana tanpa fokus. Sampai akhirnya tentang topik ini.

"Eh, kamu tinggal dimana sih?", tanya Yuniar.
"Di kebon kacang. Seberang Sarinah Thamrin, belakang PBB", jawab saya.
"Serumah?", tanya Yuniar lagi.
"Ngga cuman serumah, sekamar malah", timpal Kang Bahtiar.
"Wah, jangan-jangan..."
"Oh, tentu... Cinta kan universal, tidak mengenal jenis kelamin!", Canda Kang Bahtiar.
"Beneran nih? Temen gue lagi minta di cariin pacar. Namanya Paulus, tapi panggilannya Paula. Gimana, mau ngga?", Yuniar meminta klarifikasi saya.
"Hus! Aku ini normal. Ngga ada minat begituan",
"Dia itu tuh TeOPe BeGeTe deh. Orangnya stylis, wangi, baik hati dan yang terpenting, dia tajir. Sempurna kan?", dia masih saja bersemangat berpromosi.
"Enak aja! I am 100% normal", saya meyakinkan.
"Yun, coba aja biar tahu dia normal apa ngga. Gimana?", Kang Bahtiar berseloroh.
"Soalnya, gue lihat kamu tuh punya bakat. Meski lelaki, kamu tuh cantik. Gerakanmu lembut. Coba Mit, Mas Bah, caranya berdiri saja cukup meyakinkan. Iya to?", kali ini dia meminta pendapat Mita dan Kang Bahtiar. Yang dimintai pendapat hanya tertawa saja. (Mita yang sedang sakit tenggorokan malah jarang bicara.)
"Ngawur!", elakku.
"Kalo memang engga, kenapa belum punya pacar juga?"

Saya pun kehabisan kata-kata. Aduh biyung, aduh Gusti... Paringono bojo ayu...

25 Desember 2006

Suami Idaman

Sepulang dari jalan-jalan saya dapati Mas Budi, penghuni kamar sebelah di Kos Kebon Kacang sedang melakukan ritual akhir pekan. Bersih-bersih.
Saya meledeknya: "Benar-benar calon suami idaman! Nanti, Istri Abang pasti bangga punya suami yang rajin bersih-bersih".
Mas Budi tertawa kecil menanggapi ledekan saya.

Sepulang dari jalan-jalan itu pula, saya baru sadar kalau celana jeans yang saya kenakan, jahitan di bagian lutut kanan terlepas agak lebar. Akibatnya, bagian ini sedikit menganga. Untuk menjaga supaya tidak ndladrah lebih parah, segera saya jahit dengan peralatan jahit tangan seadanya.

Gantian Mas Budi yang meledek saya:
"Benar-benar calon suami idaman! Nanti, Istri Mas pasti bangga punya suami yang pintar menjahit".

Kami tertawa bersama, kedudukan sekarang imbang 1-1.

Ah, tapi sayangnya jodoh tak semudah bersih-bersih di akhir minggu atau menjahit celana jeans. Seandainya semudah itu...

Liburan kok nang Jakarta?

Asem ki! Kabeh podo liburan, aku malah nang Jakarta. Kapan iso libur yo...?

Bahkan toilet pun punya aturannya sendiri

Toilet cowok

Toilet cewek

Cewek po cowok yo?

Buanglah "ampas" pada tempatnya

Sopo sing biasane ngene? Hayo, ngakuo...

14 Desember 2006

Kartu kredit; kemudahan atau kebutuhan?

"Kartu kreditnya pak...", kata seorang petugas dari Bank *** pada saya di bagian depan sebuah toko swalayan.
"Oh, tidak. Terimakasih", jawab saya sambil lalu.

Lima meter sesudahnya, seorang petugas lain, kali ini perempuan, menawari hal yang sama.
"Kartu kreditnya pak..."
"Tidak, terimakasih..."

Kemudian saya masuk membeli jeruk. Untuk mengobati sariawan. Keluar dari situ, petugas yang lain menghampiri saya. Kali ini perjuangannya lebih serius.

"Kartu kreditnya pak. Kami dari Bank *** sedang mengadakan promo khusus lho. Silahkan brosurnya..."
"Oh, maaf. Saya tidak tertarik. Sudah punya", saya mencoba membohonginya. Maksud saya biar dia saya tidak bertanya lebih lanjut. Eh, ternyata dugaan saya salah.
"Kartu kredit bapak dari bank apa?"
"Bank ANU. Memangnya kenapa Mba?", saya tak enak juga mengacuhkannya.
"Yang Silver apa Gold?"
"Silver"
"Apa tidak diupgrade sekalian?"
"Lho, banknya kan lain. Memang bisa?"
"Oh, bisa pak. Mari saya jelaskan lebih lanjut. Mari, duduk dulu. Mari."
"Waduh, maaf sekali. Saya rasa kartu kredit saya sudah cukup"
"Maaf ya pak, tapi tawaran kami lebih bagus. Bla..bla..bla..bla.. Coba bandingkan dengan kartu kredit yang bapak miliki saat ini"
"Maaf sekali, Mba. Saya tak membutuhkannya. Maaf ya... Permisi..."
Dia masih mengikuti langkah saya, terlihat sekali dia sedang bersemangat. Dengan senyum yang agak dipaksakan saya permisi segera. Dia menyerah dan berbalik.

*****

Saya tak habis pikir dengan si petugas. Apa tampang saya cukup pantas untuk pemegang kartu kredit? Rasanya kok tidak. Saya menduga dia sedang dikejar setoran dari kumpeninya. Kemungkinan lain, dia terpesona dengan saya. Cewek gitu lho. He..he..he.. (narsis dikit boleh dong).

Kartu kredit. Saya belum paham benar apa fungsinya, selain sebagai semacam peminjaman uang yang pengembaliannya bisa dicicil. Lebih dari itu, saya tak paham. Saya sendiri tidak punya dan merasa tidak memerlukannya. Paling tidak, belum untuk saat ini.

Terus terang saya takjub dengan para penjual kartu kredit ini (penjual apa bukan ya?). Lha wong jualan kartu kredit kok mirip jualan kacang goreng, semua orang ditawari.

Dalam benak saya, kartu kredit ini kan hanya semacam alat bantu untuk mempermudah pembayaran. Lha, kalo ATM saja sudah cukup mudah, ngapain pakai kartu kredit segala? Mungkin ada yang menjawab: tapi kan kartu ATM lebih terbatas, beda dengan kartu kredit yang fleksibel. Pertanyaannya, ini untuk kebutuhan apa untuk kemudahan? Bukannya butuh dan mudah itu berbeda? Lagipula, semakin mudah mengeluarkan uang (dan atau utang), keuangan cenderung semakin kacau. Kalo semua orang punya kartu kredit, pada akhirnya apa malah tidak menyengsarakan orang yang berkeuangan pas-pasan macam saya? Saya masih meyakini, kartu kredit sepantasnya dimiliki oleh orang-orang yang kelebihan duit yang tak mau ribet.

Pada akhirnya hal ini memang soal pilihan. Dituntut kesadaran pribadi dalam hal ini. Tapi, dengan rayuan yang memborbardir dan didengungkan setiap saat melalui berbagai cara, apa ya bisa berpikir jernih? Saya memilih untuk tidak memilikinya. Maksud saya, belum.

Bagaimana dengan Anda?

13 Desember 2006

Jakarta

Di sini, di Jakarta
Banyak hal yang membingungkan dan menggelisahkan

Manusia dikejar bayang-bayangannya sendiri

Mengejar ketidaksejatian

Ditipu oleh pikirannya sendiri

11 Desember 2006

Kabar seorang kawan

Seorang kawan lama di Jogja menelepon, mengabarkan kampus mengijinkannya untuk menyelesaikan skripsinya.

Sebut saja dia MK, seorang aceh yang ikut merasakan dampak tsunami secara tidak langsung. Saat peristiwa tsunami terjadi, dia baru seminggu datang dari Aceh. Kabar keluarganya tak pernah jelas hingga kini.

Sejak itu dia menghilang dari dunia kampus, seingat saya lebih dari satu semester. Saat mentalnya siap, pihak kampus menolak ijinnya untuk aktif kembali dan menyelesaikan skripsinya. Alasannya, masa kuliahnya telah melewati batas. Nasibnya kini menggantung.

Lobi dekan dan wakil rektor sempat dia lakoni. Tapi lagi-lagi terbentur masalah administratif. Pihak universitas beralasan hal ini menjadi wewenang fakultas dan fakultas mengatakan ini wewenang jurusan. Sementara jurusan merasa tidak berwenang memberi ijin. Berputar-putar tanpa penyelesaian.

Entah ada angin apa yang berhembus, tiba-tiba saja minggu lalu pihak jurusan memanggil kembali mahasiswa-mahasiswa abadi termasuk MK. Ada ijin dari rektor, begitu yang saya dengar.

Masalahnya kemudian, biaya yang harus ditanggung teman saya ini tidak sedikit. Uang SPP yang tertunggak beberapa semester, uang kompensasi melewati masa studi dll. Kalo tak salah, totalnya sekitar enam jutaan rupiah lebih.

Teman saya bingung hendak kemana mencari uang sebanyak itu. Saya yang ditelepon juga tak kalah bingung.

Saya jadi membayangkan, seandainya kita memiliki lembaga sosial yang memadai. Seandainya...

06 Desember 2006

Kaos kaki dua kencingan

"Kaos kaki, kaos kaki! Kaos kaki bang!", seorang pedagang Bundaran HI menawari kami. Si penjual kaos kaki ini berdasi dan bersepatu layaknya orang kantoran. Dagangannya ditenteng dalam tas. Sekilas penampilannya tidak menampakkan dia seorang pedagang.

"Ngga ah. Udah punya. Lagian saya kan cuman make sandal jepit. Barang kali mas yang make sepatu ini butuh", tunjuk saya pada kang Zumuk.

Yang ditunjuk malah mesam-mesem seperti prawan ditari rabi, membuat pedagang itu keki. Tak mau kalah, si abang itu mengulangi lagi tawarannya, kali ini dengan bumbu sedikit humor.

"Ayo bang. Murah kok. Cuman 2 ribu. Dua kali kencing doang... Masa kurang murah?"

Si Endik terkekeh hingga terbatuk-batuk.

Ayo, sapa mau kaos kaki seharga dua kali kencing?

29 November 2006

Asuransi jiwa, supaya sehat jiwa?

Ada kejutan istimewa hari ini untuk kami para buruh pabrik. Sebuah polis asuransi jiwa!

Waks! Barang apa pula ini? Untuk apa? Apa hubungannya dengan saya? Dan beberapa pertanyaan lain segera memenuhi kepala.

Segera saja si penjual asuransi menerangkan panjang lebar mengenai asuransi. Apa pentingnya asuransi, mengapa harus berasuransi dll sampai-sampai saya mengantuk.

Pada awal penjelasan, saya sempat mengalami salah persepsi sedikit mengenai asuransi jiwa ini. Dan ini cukup menggelikan buat saya. Saya salah mengartikan
jiwa sebagai sama dengan kewarasan. (Buktinya ada rumah sakit jiwa!) Asuransi jiwa berarti asuransi kewarasan, supaya apabila jiwanya owah (gila) bisa mendapat keringanan biaya di rumah sakit jiwa. Untung saja persepsi saya tidak berlanjut. he..he..he..

Dalam benak saya yang ndesit, asuransi jiwa adalah sebuah keanehan produk peradaban modern.

Saya masih sulit mengerti logikanya.
Lha, wong jiwa kok diasuransikan. Kalo jiwanya hilang, apa lantas bisa diganti?
"Mati ya sudah, mati saja. Tak mungkin kembali", begitu biasanya orang kampung saya bernalar.
"Yang mati biar saja mati. Tapi yang hidup kan butuh uang", balas si penjual.

Namun penjelasan ini tak cukup memuaskan saya. Bagaimana mungkin kematian akan menjamin hidup orang lain? Sungguh tak masuk akal.

Penjelasan dari seorang rekan lebih mudah saya terima. Secara
guyon maton, dia berujar: " Kita (pekerja di pabrik) memang berpotensi sakit jiwa. Karena itulah kita membutuhkan jaminan".

Nah!

27 November 2006

Hujan Jakarta, derita petani

Hari ini Jakarta diguyur hujan deras. Saya segera teringat pada Bangsari. Semestinya, pada saat-saat seperti ini, mereka sedang bersiap-siap memulai musim tanam padi. Iring-iringan para lelaki memanggul cangkul melewati depan rumah di pagi hari. Ibu-ibu menyiapkan makanan bagi pekerja. Harapan berlimpahnya panen kelak dan harga bagus menyelimuti setiap orang.

Berita di Kompas menyatakan, Bank Dunia menuduh tingginya harga beras sebagai penyebab naiknya jumlah orang miskin di Indonesia. Untuk itu, penurunan harga beras mutlak harus dilakukan. Begitu berita yang saya baca. Berita lainnya menyebutkan, pemerintah hendak menaikkan harga pupuk bagi petani.

Meski saya tahu para petani (Bangsari) tak akan menyerah karena masalah ini, tapi saya yakin hal ini cukup membuat mereka bersedih.

Lantas, kemana perginya yang disebut negara itu?

25 November 2006

Doa Lumpur Lapindo

Duh Gusti...
Limpahkanlah untuk mereka yang telah membuat segala kesusahan ini terjadi, balasan yang dahsyat dan setimpal di dunia dan akhirat kelak. Sebagaimana mereka telah membuat begitu banyak kerusakan dan kesengsaraan bagi begitu banyak orang lainnya. Amin...

23 November 2006

Cerita-cerita mengenai nuklir Kang Tabah

Bagi anda yang ingin tahu lebih lanjut mengenai apakah reaktor kita aman atau bagaimana reaktor chernobyl meledak, silahkan mampir ke Kang Apaaja.
(Saya mau nongkrong di HI dulu. he..he..he..)

21 November 2006

Iklan pembangunan PLTN itu

"Menurut UU ketenaganukliran kita, PLTN harus dibangun oleh korporasi. Apapun itu bentuknya, asal bukan pemerintah. Itu kalo jadi lho..." Kang Apaaja memulai obrolan kami sore itu.

"Lah, njur piye karepmu kang?" jawab saya sekenanya.

"Yang aneh, sampai sekarang belum ada konsorsium apapun yang terlihat berminat mendirikan PLTN.Tapi iklan PLTN yang dibintangi Gogon dan Dewi Yul itu kok sudah mulai gencar ditayangkan di tv ya? Njur kuwi duite sopo?" seolah-olah pertanyaan ini ditujukan ke saya, tapi saya tahu itu hanya unggah ungguh supaya saya tidak merasa direndahkan. Lha, bagaimana tidak? Kang Apaaja ini latar belakangnya media, tepatnya orang tv. Sudah gitu, posisinya bagus lagi. Saya jelas tak sebanding, apalagi kalo ngomongin bab iklan.

"Coba bayangkan mas. Kalo itung-itungan saya tak meleset, paling tidak biaya iklan untuk itu menghabiskan dana Rp 2,43 M perbulan. Lha kalo PLTN ngga serius mau dibangun, opo ora edan kuwi?", tanyanya.

Saya diam sesaat, tak tahu bagaimana menanggapi.

"Njur, kuwi duite sopo?", geragapan saya berusaha merespon.

"Lha yo kuwi yang jadi pertanyaan."

"Kira-kira siapa Kang?"

"Aku juga ngga tahu."

"Kalo menurut saya sih, paling-paling juga miliknya para menteri yang pebisnis itu. Bagaimana mereka bergerak kalo tidak ada jaminan dari penguasa? Biasanya juga gitu kan?", ujar saya ngawur.

"Kalo gitu, kenapa konsorsium itu belum juga muncul?"

"Kalo soal konsorsium mah gampang. Apa sih yang ngga bisa diatur di negara ini?"

"Maksudnya?"

"Mungkin mereka belum mau muncul untuk menghindari resistansi masyarakat. Dengan belum muculnya konsorsium, resistansi itu menjadi tidak ada. Seperti yang sudah sudah, isu nuklir akan menjadi sasaran empuk banyak kalangan. Masyarakat boleh saja tidak setuju, tapi tanpa bentuk, masyarakat memprotes siapa? Sederhanya, siapa yang akan didemo? Ini kan seperti manajemen konfliknya komunis itu Kang. Nanti pada saatnya diperlukan, konsorsium itu mak bedunduk dibuat dan dimunculkan. Jadi, resistansi itu bisa dihindari, minimal dikurangi.", saya mencoba berteori.

Kang Apaaja pun manggut-manggut. Mungkin karena sepakat, atau lebih mungkin lagi karena bingung. Sebelum sempat berpikir lebih jauh dan membantah teori saya, segera saya lemparkan pertanyaan lain.

"Memang maumu gimana Kang?"

"Maunya saya, kalo memang PLTN hendak dibangun, saya pengin melamar mas"

"Halah, yen kuwi ra sah diomongke, aku yo pengin Kang..."

20 November 2006

Saat otak berdiam diri

Otakku serasa diam beberapa hari terakhir.
Entah sedang ngapain tuh organ.
Tak ada denyut seperti biasa yang kurasakan.
Tak ada yang dipikirkan.
Tak ada aktifitas.
Diam.
Tak bergerak.
Tak ada yang dipikirkan.
Tak ada yang dikhawatirkan.
Otak diam.
Hati tenteram.
Betapa menyenangkannya saat-saat seperti ini...

(iki ngomong opo to janjane?)

13 November 2006

Undangan pernikahan untuk si jomblo

Jodoh, seperti halnya rejeki, kelahiran maupun kematian adalah bagian dari kehidupan. Terkadang (terlihat) begitu mudah dan mengalir bagi sebagian orang dan begitu sulit bagi sebagian yang lain.

Sebuah kartu undangan pernikahan menyadarkan si Jomblo ini akan kenyataan tersebut.

Anda mengalami jomblo juga? Selamat bergabung, kawan...

07 November 2006

Pendidikan sangat murah ala Al Urwatul Wutsqo

Apa yang bisa kita dapatkan dengan uang 50 atau 100 ribu rupiah? Sepotong baju, sebuah celana, barangkali? Makan siap saji berdua di Mall atau mungkin pulsa telpon seminggu. Anda bisa menambah sendiri daftarnya. Tapi saya rasa tak banyak yang bisa dilakukan dengan uang sejumlah itu.

Namun di sana, uang sejumlah itu berarti banyak. Tepatnya di pondok pesantren dan lembaga pendidikan Al Urwatul Wutsqo desa Bulurejo, kecamatan Diwek kabupaten Jombang Jawa Timur. Sekitar 10 kilometer ke arah timur dari Tebuireng. (Tebuireng, anda tentu familiar, adalah pondok pesantren yang melahirkan beberapa tokoh besar antara lain: Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, A. Wahid Hasyim dan putranya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan juga tokoh politik Yusuf Hasyim alias Pak Ud.) Tapi dalam hal ini saya tak membahas tentang Tebuireng.

Al Urwatul Wutsqo berasal dari bahasa arab yang secara harfiah berarti tali yang kuat. Mengapa dinamakan begitu, saya tak begitu paham. Setahu saya pondok ini diasuh oleh kyai dan nyai muda yang progresif. Maklum saja, meski hidup mereka berbasis tradisi, tapi keduanya memiliki pendidikan yang tinggi, master. Tapi terus terang saya tak begitu paham dengan profil kedua pengasuh tersebut. Saya lebih akrab dengan pak Misbach Halimi, salah satu pengasuh pondok yang juga berpendidikan magister.

Mengapa soal master-masteran ini saya kemukakan? Karena dalam kehidupan pesantren, tradisi keilmuan kampus ralatif kurang mendapat tempat. Bahkan pada pesantren-pesantren yang masih sangat berbasis tradisi, sekolah lebih dianggap sebagai kemubadziran daripada kemanfaatan. Muspro, orang jawa bilang.

Saya pernah iseng-iseng tanya: "untuk apa sih kyai pakai master-master segala?”. Pak Misbach menjawab: "Bukan kami yang butuh gelar itu. Tanpa gelar itu Depag (Departemen Agama) dan Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional) akan meremehkan institusi kami. Kami ingin meyediakan pendidikan bagi anak-anak miskin, tapi pendidikan yang diakui resmi oleh Depag dan Diknas. Sehingga kedepannya mereka memiliki harapan hidup yang lebih baik. Tak dapat dipungkiri, ijasah masih menjadi panglima dalam mencari pekerjaan di Indonesia. Kami membekali mereka dengan ijasah. Tidak muluk-muluk."

Pondok pesantren ini memiliki sekolah: Madrasah Ibtidaiah (SD), Madrasah Tsanawiyah (SMP), Madrasah Aliyah dan SMA. Sedangkan di tingkat yang lebih tinggi ada Pendidikan Guru SD (PGSD) dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang sifatnya filial (kelas jauh). Semua statusnya kini disamakan. Tiga hari yang lalu pak Misbach mengabari sudah ada satu lagi tambahan cabang pendidikan tinggi lain, tapi saya lupa namanya.

Dari leaflet sederhana yang saya perolah dari bapak saya, pendidikan disini Gratis: SPP, Uang Gedung, Ujian Pendaftaran, buku, seragam. Siswa hanya dituntut rajin dan disiplin. Uang makan bagi yang mondok Rp 100.000,-/bulan. Yang tidak mampu JUGA DIBEBASKAN. Kursus Komputer, seni musik, pramuka, PMR, Olahraga, Ngaji, Menghapal Al Qur'an dll. Juga tersedia program akselerasi: sekolah dua tahun bagi yang pandai.

Bagaimana alokasi dana yang hanya 100 ribu tersebut? Perinciannya sebagai berikut: 60 ribu untuk uang makan, 10 ribu untuk kas pondok, 10 ribu untuk sekolah dan 20 ribu uang cadangan siswa itu sendiri. Bagi yang kemampuannya hanya 50 ribu, tetap diterima. Yang kemampuannya 30 ribu juga tetap diterima. Bahkan yang tidak mampu sama-sekali, seperti Udin tetangga saya, juga tak masalah. Hebatnya lagi, tidak ada hutang yang harus dibayar dikemudian hari. Pendeknya, semiskin apapun calon muridnya, mereka akan tetap diterima dan dididik.

Jika biaya pendidikan disana sedemikian murahnya, berarti muridnya banyak dong? Ehm, sebenarnya tidak. Hanya sekitar 50-an santri. Pada kenyataannya mencari orang miskin yang mau menempuh pendidikan dalam keprihatinan tidaklah gampang. Meski yayasan ini sudah ada dari sebelum tahun 2000-an, pada kenyataannya jumlah santrinya tidak mengalami peningkatan berarti. Untuk itulah, mereka meminta pihak lain untuk menyebarkan informasi ini, salah satunya kepada bapak saya yang diserahi tugas menajdi penyampai informasi untuk daerah Bangsari dan sekitarnya.

*****

Udin tetangga, seorang anak yatim. Tidak ada lagi yang mengasuhnya semenjak dia lulus SMP dan bapaknya menggantung diri karena kemsikinan yang sangat. Bapak saya membujuknya untuk masuk ke sana berbarengan dengan enam anak laki-laki lain dari desa kami dua tahun lalu. Bertujuh mereka menjadi santri disana sejak sejak itu. Pak Misbach meminta Bapak untuk menjadi penyalur anak-anak miskin yang ingin bersekolah. Semiskin apa pun mereka. Tahun ini Bapak mengantarkan tiga anak perempuan kesana. Tentu saja tak semua memiliki biaya. Terakhir kabar yang menurut saya cukup membanggakan adalah, salah satu dari mereka sudah mulai kuliah tahun ini. Sambil bekerja sedapatnya, serabutan.

Lalu darimana biaya bagi yang kurang atau tidak mampu bahkan tidak berbiaya sama sekali? Pak Misbach Halimi, yang memiliki jabatan resmi kepala sekolah SMA dan MA Al Urwatul Wutsqo, mengatakan bahwa biaya mereka yang tak mampu ditanggung yayasan pondok. Para santri juga diwajibkan bekerja, bekerja apa saja. Mulai dari turun ke sawah hingga sekedar mengepel lantai masjid. Prinsipnya, santri tidak boleh membuang waktu secara tidak berguna.

Lantas darimana pihak pondok membiayai mereka? Jawabanya: subsidi silang dari siswa yang sanggup membayar atau dari donatur yang mendatangi mereka jika ada. Bagaimana jika biaya dari siswa yang membayar dan dari donatur tidak mencukupi? Pak Misbach meyakini, tidak mungkin Tuhan meninggalkan mereka. Sebagaimana ulat yang tinggal di dalam batu sekalipun diberi makan oleh-Nya. Belum pernah terjadi para santrinya tak makan.

Ah, rupanya Jakarta mulai mempengaruhi pikiran saya.

Uang seratus ribu memang bisa berarti banyak.

Tabik!

Update: tambahan informasi atas pertanyaan mas Zamroni.

Jika Anda tertarik dengan program ini, atau Anda hendak menyalurkan anak didik, atau mungkin Anda hendak menyalurkan sumbangan dll, silahkan hubungi Bapak Misbach Halimi, kepala Sekolah Al Urwatul Wutsqo, di nomor 081803231870 atau ke alamat Jl Purnawirawan no 1 Jombang.

02 November 2006

Ayyyoooo... KUUUMPPPUUULLL!!!!

Saudara-saudara, mba Dindajou mau mengadakan dan memfasilitasi kopdar para blogger senior yang ahli tur mumpuni lho. Ada Pakde Gombal, Sir Mbilung, Paklik Pecas dll. Sampeyan pada belum kenal secara langsung to? (Saya juga belum ding. He..he..) Makanya ayo kita datangi acara ini. Pokoke dijamin sip dan meriah deh. Sampeyan bisa minta tanda-tangan para Celeb dunia maya. Sekalian juga bisa syawalan dan bermaaf-maafan atas segala komentar-komentar yang kadang-kadang salah seleh. Betul to?

Untuk itu, mari saudara-saudara sekalian, kita lurug acara ini.

Waktu : Jumat, 3 November 2006
Jam : 19.00 waktu Jakarta
Tempat : Kafe Omah Sendok, Jalan Taman Empu Sendok 45, Blok S, Jakarta Selatan, (di belakang pom bensin Senopati). 021 521 4531

Setelah itu, jangan lupa Kopdar di HI bersama Kang Bahtiar dan Kang Elzan dengan cerutu jengglong oleh-oleh spesial dari jogja. Asyik to?

01 November 2006

Kejatuhan Bulan

"Lu mau gue kenalin ama temen gue ngga?", kata temen pabrik.
"Boleh.", jawab saya kalem.
"Dia minta nomer lu dan udah gue kasih. Oke?"
"Mmm, entahlah. Mungkin oke. Coba gimana nanti saja."

*****

Sebentar kemudian HP butut saya mendapat pesan pendek. Tak sempat saya angkat. Sesaat kemudian ada pesan lagi masuk. Saya masih belum sempat angkat. Tak berapa lama, HP berdering. Saya masih belum sempat angkat juga. Tapi karena berdering berulang-ulang, akhirnya saya angkat juga.

"Halo, kenalkan saya Mira***. Saya bla..bla..bla... bla..bla..bla... bla..bla..bla... bla..bla..bla... bla..bla..bla... tak keberatan kenalan kan?"
"Oh, ngga papa kok. Makasih perkenalannya..."
"Lain kali disambung ya?"
"Insyaallah..."

Saya lihat ada 2 pesan di layar HP.

Pesan pertama: "Ass. Mas Bangsari, sy Mira***. maaf ganggu, lg krj ya!Met kerja dech, biar lancar, N' byk rezeki.slm kenal ya! sy kshno.tlp rmh sy 7750XXX."

Pesan kedua: "Ass. Ms P'knalan ya! Mira***, 08 Okt 79. sy anak bungsu. krj dBANK M***. Rmh di depok.klo mas Bangsari ada wkt, slkn HUB mira. sy tggu ya!metkrj, N'jgn lp mkn siang& sholat. BLS"

Belum sempat membalas, ada pesan baru masuk.

Pesan ketiga:"Mas Bang, usianya brp?krj bagian apa?tggl dmana?hoby nya pa?aku jd malu,SMS mas trus.mas donkyg SMS sy.mas gk mau knal ya ma sy?jujurya, mas udh pny pcr blm? bls donk!"

Saya balas begini: "Usia XX, krj di bagian *****, tggl di kebon kacang. hoby tidur. he..he.. makasih perkenalannya."

Saya tinggal sholat Dhuhur.

*****

Sekembali dari sholat, dua pesan tertera di layar HP.

Pesan pertama: " Tp mas, udh pny pcr blm? jujur, klo mira lg cr cln suami yg {soleh, setia, baik, romantis}sy gk suka cowo dugem.kriteria cln mas gmana?ciri2 fisik/sifat mas bgmn? BLS ya.atw telp krmh ku skrg."

Pesan kedua: "Mas, menurutmu enakan mana, qta kenal via telp dl, udh akrab br ketemuan orgnya?gmana maunya? Bls ya mas."

GUBRAK! Buset dah!

30 Oktober 2006

Gadis itu bernama Dian Novianti

Tak banyak informasi yang saya ketahui tentang dia. Namanya Dian. Dian Novianti. Dia menjadi anggota keluarga kami tepat seminggu sebelum lebaran kemarin (1427 H).

Hari itu, seorang ibu bersama seorang gadis kecil mendatangi Bu Lik saya, Adminah. Mereka datang dari Lebeng, kira-kira 40 km jauhnya dari Bangsari. Si ibu telah kami kenal sebelumnya, tapi gadis itu tidak. Gadis itu sendiri berumur sekitar 8 tahun. Kelas dua Sekolah Dasar. Sangat kurus. Berkulit sawo matang, berambut tipis dan lurus.

Setelah mengobrol sedikit, si ibu itu menyatakan keinginannya menitipkan si gadis kecil itu pada Bu Lik. Tanpa berpikir dua kali, Bu Lik pun langsung bersedia. Sebelumnya, Bu Lik yang tidak memiliki anak kandung juga sudah menerima titipan seorang anak laki-laki bernama Ishak. Tapi Ishak masih memiliki hubungan darah yang kuat dengan kami, berbeda dengan Dian.

Si Ibu bercerita bahwa suaminya tidak mau lagi menanggung biaya hidup si kecil Dian. Lebih tepatnya keberatan. Maklum saja, hidup mereka pas-pasan tanpa penghasilan pasti. Suami-istri tersebut kemudian berembuk bagaimana mengatasinya. Keluarlah ide itu, menyerahkan Dian pada Bu Lik saya. Status si kecil dalam keluarga itu juga titipan. Titipan dari Mbahnya Dian.

Mbahnya Dian, si mbah putri, bukanlah mbah kandung. Mbah kwalon, mbah tiri. Layaknya mbah kwalon, perhatian pada si kecil tak sama dengan mbah kandung. Selain itu, keluarga kakek nenek ini juga tidaklah mapan. Dan yang terutama, mereka sedang memiliki seorang bayi kecil. Tentu saja mbah-mbah ini tak mampu mengurusi Dian dan ketiga saudaranya. Ya. Dian adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya seorang laki-laki, sedang kedua adiknya saya tak mendapat informasi yang jelas.

Bapaknya Dian dulunya seorang yang cukup mapan untuk ukuran kampung, di Gombong sana. Kira-kira 80 km jauhnya dari Bangsari. Kegemarannya mabuk dan berjudi menghabiskan hampir semua hartanya. Sang istri, ibunya Dian bersaudara, menderita tekanan batin dan akhirnya jatuh sakit memikirkan kelakuan suaminya. Sampai akhirnya sang ibu meninggal dunia. Tinggallah Dian bersaudara bersama bapaknya yang bangkrut.

Sepeninggal istrinya, si Bapak ingin menikah lagi. Si calon istri baru bersedia dinikahi dengan satu sarat; tanpa kehadiran Dian bersaudara dalam keluarga mereka nantinya. Demi memenuhi kemauan si calon istri baru, Dian bersaudara harus disingkirkan. Pada suatu malam kemarau panjang yang dingin, mereka berempat dibuang di emperan sebuah toko di suatu kawasan perdagangan di Gombong. Ya, di buang! Ditaruh dan ditinggalkan begitu saja dengan harapan ada orang yang mau mengambil mereka.

Menurut ceritanya si ibu yang membawa Dian, semalaman si bapak tak bisa tidur memikirkan keempat anaknya. Tega larane ora tega patine. Pagi buta sebelum subuh, dia mendatangi anak-anaknya kembali. Mereka masih di tempat yang sama tak bergeming. Mereka kedinginan. Saling berpelukan dan menangis kecil sesenggukan.

Sang Bapak membawa mereka berempat pulang kembali ke rumah. Tapi itu hanya sesaat. Si Bapak kemudian membawa Dian bersaudara ke kakek-neneknya di sekitar Lebeng. Seperti sudah diceritakan diatas, kakek-neneknya keberatan menampung mereka. Oleh kakek-neneknya satu persatu mereka dititipkan ke saudara, tetangga atau kenalan yang mau menampung mereka. Ketiga saudara Dian ditampung kerabat, sedangkan Dian akhirnya sampai di Bangsari. Tanpa proses adopsi tentunya, karena kami tak mengenal kata adopsi.

Begitulah cerita Dian, si gadis kecil anggota baru keluarga Bangsari. Bagaimana ceritanya ketiga saudaranya? Entahlah. Tak banyak informasi yang saya dapatkan.

Bu Lik meyakini, setiap anak yatim membawa malaikat penjaganya sendiri yang melindungi dan mendatangkan rezeki buat si kecil. Bu Lik menyambutnya dengan sukacita...

19 Oktober 2006

Selamat mudik! Selamat berlebaran, Mohon maaf lahir dan bathin

Kepada Saudara-saudara yang tak mungkin disebut satu-persatu, di dunia maya dan dunia nyata. Dengan ini saya setulus hati meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah saya buat. Baik yang saya sengaja, terlebih lagi yang tak disengaja.

Begitu juga saya, insyaallah akan melakukan hal yang sama.

Selamat mudik. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan bathin. Tabik!

17 Oktober 2006

I need help, please...

Belakangan salah satu komputer yang saya gunakan terkena popcorn.net. Saya sendiri tak paham mahluk apakah itu? Yang saya tahu, tiba-tiba saja tuh penggangu muncul di layar monitor saya.

Pertama-tama muncul gambar berikut:

beberapa saat kemudian berubah menjadi sbb:


kemudian
setelah dilik menjadi
terakhir menjadi
Pesan ini selalu muncul tiap beberapa menit dan saya belum tahu harus saya apakan. Saya sudah coba me-remove program ini dari Control Panel tapi tak mempan.

Barangkali saudara-saudara tahu cara yang sederhana untuk menghilangkannya? Terima-kasih banyak sebelumnya lho...

15 Oktober 2006

Obrolan Kopdar terakhir sebelum lebaran

"Anak-anak jalanan itu kok ya sehat-sehat saja ya mas?", saya coba memancing percakapan kopdar di bibir kolam bundaran Hotel Indonesia jumat kemarin.

"Tahu darimana mereka sehat-sehat saja?", mas Elsan membalas.

"Lha, buktinya tak pernah saya dengar ada yang sakit kronis kemudian dirawat di rumah sakit. Tak pernah pula saya dengar ada yang mati di jalanan tuh", saya menjawab sekenanya.

"Ya jelas saja. Mereka kan golongan manusia yang sudah tidak diperhitungkan oleh negara, di luar stasitiknya BPPS. Kasarnya, mereka sudah tak dianggap manusia lagi. Jadi, kalau mereka mati ya sudah. Paling langsung dikubur. Hilang begitu saja."

"Bagaimana anda bisa ngomong begitu mas?", saya menimpali.

"Saya pernah merasakan kehidupan jalanan mas, bertahun-tahun. Sebagai pelaku."

"Kok negara bisa begitu tega ya? Bukannya mereka warga negara juga?"

"O alah mas, mas. Di negara ini mana ada sih yang namanya perlindungan negara? Warga yang membayar pajak rutin saja tak mendapatkan apa-apa dari membayar pajak, apalagi mereka yang liar. Coba lihat polisi di depan kita itu! Senjak kita duduk setengah jam lalu, dia sudah dua kali dapat obyekan. Polisi yang seharusnya jadi pelindung rakyat malah jadi preman bagi rakyat. Piye jal kuwi?"

Perbincangan semakin gayeng. Apalgi kopdar kali ini juga dihadiri Kang Bahtiar langsung dari Tangerang dan mas Endik dari Kalibata. Obrolan pun nggrambyang kemana-mana tak tentu arah.

Lumbu Kobis; Sayuran favorit saya saat mudik

Sebentar lagi mudik massal tiba.

Setiap mudik, selalu yang saya bayangkan adalah makanan berlimpah dan tentu saja lezat luar biasa. Ibu saya sangat pandai memanjakan kami semua dengan masakan-masakan istimewanya. Setiap anggota keluarga yang baru hadir akan disuguhi menu favoritnya masing-masing. Sehingga saat kumpul lebaran tiba dimana kami berkumpul dengan anggota keluarga terlengkap meski tak bisa semua, ibu akan memasak 5-7 jenis sayur sekali hidang.

Menu favorit saya yang belum pernah saya dapatkan ditempat lain adalah sayur lumbu kobis dan pecak lele.

Baiklah, saya ingin bercerita sedikit mengenai sayur lumbu kobis ini. Lumbu kobis, demikian kami orang Bangsari menyebutnya, adalah jenis talas yang tidak menghasilkan umbi. Kami memanfaatkannya hanya sebagai sayuran. Batangnya dan daunnya biasa dimasak. Keunikan talas jenis kobis yaitu tidak remuk saat dimasak, berbeda dengan kebanyakan talas lainnya.

Seperti kebanyakan talas, daun dan batang talas ini juga bisa menimbulkan gatal-gatal di sekitar lidah dan jika sedang sial bisa terasa di seluruh badan. Tapi itu hanya terjadi jika tak dimasak dengan tepat. Apalagi jika batangnyanya jarang dipetik. Semakin jarang dipetik semakin hebat gatal yang diakibatkannya. Oleh karena itu, produksi pertama-kedua biasanya hanya dibuang.

Untuk menghindari rasa gatal, biasanya Ibu saya merebus dulu sebelum dimasak lebih lanjut. Pertama-tama didihkan air, sesudah air mendidih masukkan potongan-potongan batang talas ini. Masak hingga agak lembut, biasanya sekitar 15 menit. Sesudah itu masukkan potongan daunnya. kira-kira 5 menit kemudian angkat dan tiriskan.

Hasil tirisan ini kemudian dicuci lagi untuk memastikan mengurangi kemungkinan gatal. Setelah diperas airnya, lumbu ini siap dimasak. Saya suka sekali lumbu kobis santan. Rasanya keret-keret saat dikunyah, mirip mengunyah sayur setengah matang. Selebihnya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Kalo boleh tau, makanan favorit anda di kampung apa? Selamat mudik dan menjumpai makanan favorit anda masing-masing...

14 Oktober 2006

Dikerjai Pakde Gombal

Pakde Gombal memang suka iseng. Saya sudah pernah jadi korbannya dan gambar di atas menjadi buktinya. Gambar tersebut diambil selepas acara Pengajian Dotcomers di Virtual beberapa waktu lalu, tanpa saya sadari. Gambar diambil dari sini.

Tak lupa disertai narasi gambar sbb:

iPOUL PENERUS iPOD

PLAYER terbaru dari Apple nanti bakal lebih kaya fitur. "Bisa merangkap setrika, rice cooker, magic jar, blender, ponsel, timbangan, dan GPS," kata Moch.Syaefulloh, kepala riset Gombaltronics.

Wuih! Susah benget buat dibayangin! "Lha iyalah. Saya saja juga susah ngebayanginnya. Penginnya sih itu alat bisa berfungsi jadi sepeda!" katanya.

Ipoul, bukan iPoul, yakin bahwa impian adalah penggerak utama kemajuan zaman.

Hati-hati, anda juga bisa menjadi salah satu korbannya suatu saat. Tapi terus terang saya merasa tersanjung...

13 Oktober 2006

Snapple! Minuman jus membikin pintar

Dalam sebuah acara buka bersama di Movenpick Marche Restaurant dekat perempatan kuningan sana, saya berkenalan dengan minuman ini. Snapple! Di labelnya tertulis Juice Drink.

Apa yang menarik? Pertama, saya belum pernah minum minuman ini (ndeso ya?). Kedua, warnanya yang atraktif-provokatif (piye jal kuwi?) menarik. Ketiga, karena harganya mahal (paling tidak menurut saya) tapi saya tak perlu bayar alias gratis. Keempat dan yang ini bagian paling menarik, di balik setiap tutup botolnya terdapat informasi mengenai hal-hal unik. Snapple menyebutnya Real Fact!

Apa saja isi tulisannya? Tutup botol pertama yang saya minum bertuliskan "Real Fact # 110; Frogs never drink". Tutup botol kedua bertuliskan "Real Fact # 110; The only continent without reptiles or snakes is Antarctica". Tutup ketiga entah apa tulisannya, saya sudah kekenyangan. Tepatnya kembung.

Iseng-iseng saya ambil tutup botol teman-teman yang lain, informasi yang tertulis sangat beragam. Lagi-lagi karena masih dalam suasana kebanyakan minum, saya tak ingat lebih lanjut.

Dari browsing, saya baru tahu kalo ternyata tak semua informasi yang tertulis itu adalah benar. Untuk itulah Snapple mengajak anda mendapatkan Real Fact dengan mengunjungi http://www.snapple.com/ atau dapatkan informasi tambahan di sini.

Bagaimana pengalaman Anda dengan Snapple?

29 September 2006

Dalam keadaan darurat, cara pipis menunjukkan siapa anda

Apa yang anda lakukan jika sedang bermobil di jalanan yang macet total dan hasrat menyiram bumi tak bisa ditahan lagi? Untuk anda yang laki-laki, mungkin tak terlalu rumit. Soal cara bisa bermacam-macam. Tapi soal cara pipis perempuan, saya sulit membayangkannya. Nah, ini dia teman saya punya cerita.

Dari suatu acara buka puasa bersama, cerita ini terungkap. Lazimnya buka puasa, obrolan tidak dibatasi pada suatu masalah. Apapun boleh, asal sopan. Sedikit urakan pun tidak masalah. Ngobrol jorok pun, tak ada yang protes. Namanya juga acara tak resmi.

Dia seorang perempuan, tentu saja modis dan cantik. Cara berpakaiannya sangat perempuan, selalu mengenakan rok. Dalam suatu perjalan menggunakan mobil pribadi menuju bandara dengan diantar sang pacar, jalanan sungguh macet luar biasa. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dia kebelet pipis!

Lho, bukannya tinggal minggir dan pipis? Selesai!

Tapi tak semudah itu saudara-saudara. Ini jakarta! Kemacetan membuat banyak hal menjadi lebih rumit. Pada banyak kasus banyak orang menerima nasibnya dengan pasrah.

Masalahnya, hasrat pipis sang kawan sudah diluar kontrol. Kalo tak dituruti, bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Akhirnya, keluarlah ide brilian itu.

Si perempuan kawan saya itu meminta pada si jurumudi agar dentuman musik diperkeras, dia tak mau suara pipisnya terdengar sang buah hati. Segera dia pindah ke tempat duduk belakang. Di sana lah dia menuntaskan hasratnya. Lega.

Lho, memang pipis di lantai mobil? Tidak saudara! Rupanya dia memanfaatkan botol minuman Mizone yang bermulut lebar itu dan tentu saja kertas tissu.

"Makanya sampai sekarang, gue sayang banget ama tuh merek. Lubangnya itu lho, pas banget buat kita-kita".

Tawa kami pun meledak tak terkendali.

Anda punya pengalaman lain?

27 September 2006

Puasa Parno

Gara-gara DPR mengadakan public hearing tentang kinerja pabrik tempat saya bekerja, suasana kantor menjadi lebih parno dari biasanya. Klien-klien kami rupanya mengadu ke dewa-dewa negeri ini. Entah apa hasil kesimpulannya. Yang jelas semua yang dikantor kalang kabut.

Telpon berdering tanpa henti dari pagi hingga sore, bahkan saat jam istirahat dan lewat jam kantor sekalipun. Orang-orang yang saya tidak pernah dengar (instansi maupun nama) sebelumnya, juga ikut-ikutan menelepon kami. Apa saya yang ditanyakan, saya tak tahu persis. Lha, wong akeh banget je...

Saya yang biasanya jadi penonton, terpaksa diikutkan menjawab telepon-telepon yang sudah tentu sebenarnya bukan bagian saya. Apa boleh buat!

Efek lain dan yang paling serius adalah, bos semakin sering marah tak beraturan tidak peduli bulan puasa. Jika bos marah, semua yang dimarahinya dianggap bukan manusia. Otomatis para manajer dan staf menjadi panik. Kerja menjadi sekedar bagaimana bos tidak marah.

Saya yang pegawai rendahan, tak luput ikut menjadi korban. Semua orang yang biasanya cuek dengan kehadiran saya, tiba-tiba menjadi sangat aktif memarahi saya. Ini seperti transfer energi. Jika bos memarahi para manajer, kemudian para manajer memarahi staf dan para staf memarahi saya, lantas saya harus memarahi siapa?

Jawaban saya adalah: NGEBLOG! He..he..

Mbok, ternyata kerja di Jakarta itu cuman pada padu penggaweyane...

SMS dodol itu!

Sebuah pesan dari Indosat masuk ke HP saya. Bunyi pesannya saya ketikkan ulang sesuai yang saya terima sbb: "Aktifkan layanan GPRS MENTARI anda (Rp.5/kb), Gratis : Download Games, Wallpaper, Ringtone, dll dengan akses ke wap.klub-mentari.com pengirim: INDOSAT, Dikirim: 11:00:08, 27-09-2006 ".

Terus terang saya mulai kesal dengan sms-sms sejenis ini. Dari pagi ini saja saya sudah 2 kali mendapatkan sms dari INDOSAT. Isinya bermacam-macam, mulai dari promosi undian, game baru, pertunjukan band dll. Belakangan hampir tiap hari saya mendapatkan sms dari INDOSAT, makanya saya mulai gerah.

Yang membuat saya kesal adalah karena seringkali momen datangnya sms itu berbarengan dengan hal yang menurut saya lebih penting. Sungguh tak menyenangkan misalnya, saat dag dig dug menanti sms penting dari keluarga, doi atau keputusan rapat penting, tiba-tiba masuk sms dari INDOSAT.

Bagaimana dengan penyedia layanan mobile phone Anda?

25 September 2006

Hari pertama ngantor dalam keadaan puasa

Di hari pertama ini saya ngantuk, kurang bersemangat dan disemprot habis oleh bos. Disemprot? Emang bos ngga puasa? Mbuh, ra urus!

Bagaimana dengan anda?

20 September 2006

Menu READ MORE, kesawaban Pake Dhany

Ini semua akibat kesawaban barokah-nya Pake Dhany, si orang pinter dari pabrik kertas Leces itu. Gara-gara ada menu "READ MORE" atau dalam bahasa Pake "Lanjutannya...!" dalam blog beliau, saya jadi penasaran habis.

Bagaimana tidak? Saya juga memakai blogspot, persis seperti yang dipakai si Pake, tapi kok saya tak bisa memotong tulisan seperti beliau ya? Akibatnya, halaman muka blog saya menjadi sangat panjang ke bawah. Saya pengin yang ditampilkan pendek-pendek saja.

Usut punya usut, ternyata saya harus sedikit memodifikasi template blogspot saya. Lewat saling komen dalam blog, beliau menyarankan saya membuka tutorial ini.

Saudara-saudara! Ternyata benar apa kata Pake Dhany ini. Sangat gampang dan cepat lho... Kalo ngga percaya, silahkan coba saja sendiri. Gratis, tis, tis...

Tapi ada yang masih mengganjal buat saya, sampai saat ini saya belum bisa mengedit tulisan yang sudah diposting sebelumnya. Ditambah lagi saya buta HTML. Akibatnya, pas saya coba-coba edit, semua jadi kacau balau. Waduh, ternyata belum hilang juga kegaptekan itu. He..he..

Akhirnya saya menyerah, saya kembalikan ke bentuk semula. Menu READ MORE tak jadi hinggap di blog saya. Ada yang tahu cara lebih mudah? Tolong ajari saya...

BTW, terima-kasih banyak atas ngelmu-nya, Pake Dhany... Nuwun...


18 September 2006

Gusti, hidup kok rumit begini to?

Jodoh dan bobot, bibit, bebet

Duh Gusti... Kemana lagi saya harus berkeluh-kesah kalau bukan kepada-Mu. Gusti kan yang menciptakanku, ya sudah jadi seyogyanya kalo aku juga berkeluh-kesah kepada-Mu. Ngga papa to Gusti?

Sebenarnya saya malu pada-Mu. Lha, Gusti saja tak kawin dan tak berkeluarga, kok saya yang cuma hamba malah minta itu. Memang saya akui Gusti itu top markotop. Tapi saya tak setabah Gusti, saya butuh teman untuk bisa tetap waras di Jakarta ini.

Gusti, dalam dua tahun terakhir, kedua orang tua sering mengajak saya berbicara tentang keluarga dan perkawinan.

Bapak-Ibu selalu berkata: "Karena perkawinan itu untuk memadukan dua manusia berbeda untuk selamanya, maka carilah wanita yang baik, saleh, taat-mengabdi, berketurunan baik dll. Kalo tidak begitu, maka kamu hanya akan mendapati kesengsaraan selama hidupmu, bahkan diakhirat kelak. Kamu akan menyesal".

"Oleh karena itu, dia harus lah wanita yang memiliki bobot, bibit dan bebet yang sesuai denganmu". Bobot berarti kualitas, kadang diyakini bermakna kekayaan. Bibit berarti kualitas fisik, induk semang, lebih ke fisik. Bebet berarti asal-usul, silsilah, trah. Bebet juga sering disalah-pahami menjadi kasta, tingkatan sosial keluarga.

"Perkawinan itu menyatukan dua keluarga besar, bukan hanya kalian berdua."

Intinya, saya harus mendapatkan calon yang pas untuk saya, "terlebih untuk keluarga saya".

Gusti, Berbicara tentang "terlebih untuk keluarga", terus-terang saya belum pernah mendapatkan nilai bagus di mata ortu terutama Ibu. Dari semua teman wanita yang pernah akrab dengan saya, yang entah bagaimana caranya Ibu selalu tahu, Ibu belum selalu mentertawakan pilihan saya.

Gusti, saya sudah bolak-balik buka kitab suci-Mu. Sampai saat ini saya belum pernah menemui yang mirip-mirip dengan bobot, bibit dan bebet itu.

Latar belakangnya begini, Gusti

Gusti, maaf saya hendak bercerita sedikit. Bukannya meremehkan ilmu-Mu, bukan. Sungguh! Supaya saya lebih lega saja. Cerita awalnya begini.

Saya dilahirkan dalam lingkungan pesantren yang sangat kental bernuansa NU tradisionalis. Di depan rumah berdiri sebuah pesantren kecil, sebagian besar santrinya laki-laki. Berjarak sekitar satu kilometer ke utara, terdapat pesantren lain yang mayoritas santrinya perempuan. Belum lagi dua di timur, dua di barat dan satu lagi di selatan. Meski semuanya hanya pesantren-pesantren kecil.

Menurut cerita para orang tua, saya memiliki garis keturunan yang baik. Dari jalur bapak, katanya para leluhur saya adalah orang-orang pemerintahan. Sedangkan dari jalur ibu, katanya lagi, saya memiliki darah kyai dan pedagang.

Gusti, pada perkembangannya karena kami hidup dalam lingkungan spiritual yang kuat, orang tua saya cenderung melihat bobot, bibit, bebet yang bersifat kesantri-santrian.

Celakanya, dalam ukuran Bangsari, saya dianggap cukup cerdas dibanding teman-teman sebaya. Karena itu saya di sekolahkan dan dididik cenderung nasionalis-umum, dibanding santri-tradisionalis, meski basic kesantrian saya masih melekat. Inilah yang kemudian menjadi masalah bagi saya.

Sekolah umum menjadikan saya cenderung beraliran plural, tak terkecuali dalam masalah calon mbokne anak-anak itu.

Gusti, aku minta bantuan-Mu

Gusti, mereka maunya saya dapat calon simbok yang kuat kesantriannya. Yang tahu ilmu fikih, bisa baca arab gundul dan tentu saja keluarganya berdarah putih. Itu kan susah banget carinya di Jakarta ini Gusti... Selepas SMP saja, saya sudah harus merantau. Mana semoat cari yang begitu?

Saya maunya sederhana saja kok. Yang kalo saya lihat seperti sabda-Mu "tashurrun an naadhirin", enak dilihat dan "saa ighootun li asy syaribiin" alias enak diminum. Apanya? Alaah, kaya gitu kok pake nanya. Gusti pasti tahu kan? :D Dan syarat terakhir, dia harus dekat dari kampung halaman, bahkan kalo bisa tetangga sendiri. Biar gampang, murah dan efisien saat mudik.

Duh Gusti, rasanya kok lebih sulit hidup dengan filosofi daripada firman-Mu. Katanya semua manusia sama dan sederajat. Tapi mengapa harus ada bobot, bibit dan bebet yang menyusahkan saya itu?

Tolongin saya Gusti, please... Ntar keburu berkarat dimakan zaman, saya bisa sengsara seumur hidup. Duh!

12 September 2006

PLTN jadi dibangun? Yang benar nih?

Membaca tulisan Jalan Sutera tentang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), saya kaget. Saya baru tahu kalo pemerintah akhirnya berani mengiklankan secara terbuka isu sensitif ini ke publik melalui iklan di tv. Maklum saja, saya tidak punya tv dan jarang menontonnya.

Saya jadi ingat masa-masa kuliah di Teknik Nuklir dulu. Pada tahun pertama dan kedua, sebagian besar dari kami, para mahasiswa, bercita-cita setelah lulus bekerja di PLTN. Kelihatannya keren dan wah! Menurut informasi yang beredar waktu itu, PLTN akan dibangun sekitar tahun 1998.

Namun, guratan nasib menentukan lain. Sampai saya dan teman-teman lulus, PLTN belum juga dibangun. Tuntutan hidup memaksa saya dan juga teman-teman yang lain, mau tak mau, mencari pekerjaan di luar kenukliran. Dan terdampar lah saya di tempat lain yang sama sekali tak berhubungan dengan nuklir. Sebagian yang lain terserak dimana-mana. Sebagian sukses, dan sebagian sisanya entah.

Membahas jadi dan tidaknya PLTN dibangun, sebenarnya saya tak terlalu yakin. Seminar tahun 2005 lalu yang diselengggarakan MIPA ITB di Bandung dengan mengundang petinggi-petinggi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), pakar-pakar dari Tokyo Institut of Technology Jepang dan peneliti-peneliti nuklir UGM tidak menemukan titik terang.

Semua panelis waktu itu sepakat, bahwa Indonesia akan mengalami krisis energi yang serius pasca 2015. Untuk itu, mereka merekomendasikan PLTN harus mulai dibangun tahun 2008 atau maksimal 2010. Pembangunan PLTN itu sendiri memakan waktu 5-8 tahun hingga operasi ekonomisnya, tergantung jenis dan dayanya. Menurut perkembangan terbaru, bisa lebih cepat lagi. (Ndoro Seten, tolong koreksi kalau salah.)

Sedikit melihat ke belakang, sejak jamannya Sukarno, rencana pembangunan PLTN sudah digagas. Siwabessy adalah ahli nuklir pertama yang dilahirkan dari ambisi ini. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah reaktor penelitian di BATAN Serpong.

Tahun 70-an, kita sudah memiliki cukup banyak ahli nuklir yang kemudian bersama-sama membuat buku yang kemudian menjadi salah satu kitab suci pengajaran di Teknik Nuklir, "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir", di sponsori oleh BATAN. Untuk lebih mendukung ide itu, pada tahun 1977 didirikanlah Teknik Nuklir, dengan pengajar sebagian dari BATAN. Penelitian tentang struktur tanah pada tahun 70-an menyimpulkan: lokasi pembangunan PLTN terbaik berada di Tanjung Muria, Jepara.

Suharto mencanangkan, akhir tahun 90-an merupakan awal dibangunnya PLTN. Namun, krisis moneter yang maha dahsyat melengserkannya lebih dulu. Ide tentang PLTN pun ikut menguap.

Meski demikian, ide pembangunan PLTN tidak pernah benar-benar mati. Bahkan persaingan penyedia PLTN dalam merayu Indonesia masih terasa hingga sekarang. Jepang, Korea, negara-negara Eropa dan Kanada. Bahkan rasan-rasan dengan beberapa orang yang saya rasa cukup kompeten mengatakan, sebenarnya kita sudah pasti akan menggunakan reaktor dari Kanada (CANada Deuterium Uranium, CANDU).

Masalahnya dari dulu selalu sama, BATAN (dan juga BAPETEN yang lebih baru) bukanlah lembaga pengambil keputusan. Selama ini isu PLTN lebih berbau politis, sehingga keputusan itu pun bersifat politis. Keputusan presiden tergantung DPR, DPR tergantung uang, tekanan media, LSM, masyarakat dll. Belum lagi tekanan internasional.

Yang meragukan bagi saya adalah: "Kalo memang benar akan dibangun, kapan dan siapa yang berani memulainya?".

Presiden-presiden terdahulu tidak ada yang berani mengambil keputusan itu. Akan kah SBY berani? Mari kita lihat bersama...

Pekerja kapal jauh dari aturan norma-norma? Nanti dulu...

Ini cerita masih mengenai Mas Marno. Berbincang dengannya, saya agak surprise dengan cara pandangnya tentang hidup.

Sebelum bertemu dengannya saya beranggapan orang-orang kapal, entah kapal nelayan atau pun kapal pesiar, adalah jenis manusia yang paling jauh dari Tuhan. Hidup yang keras dan jauh dari sanak saudara membuat hal itu terjadi. Hidup hanya dan untuk kesenangan.

Bertemu si mas ini, saya berubah pikiaran. Pandangannya tentang dunia mirip dengan ilmu ma’rifat guru-guru saya di pesantren dulu.

"Urip kuwi mung mampir ngombe. Sangat pendek dan sementara dalam sebuah perjalan agung yang sangat panjang. Karenanya ambillah dunia secukupnya. Semakin banyak kau ambil, semakin berat beban yang kau pikul."

"Saya sudah mengelilingi bumi ini dalam sepuluh tahun terakhir. Saya bertemu bermacam-macam bangsa, bahasa dan budaya. Apa yang saya dapat kemudian? Kefanaan! Persepsi kita tentang dunia lah yang membuat fikiran kita menjadi ruwet."

"Dunia hanya tipuan dan permainan belaka. Semakin dikejar, semakin tak terbatas. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Begitulah dunia. Bahkan dengan menelannya, kau tak kan berpuas hati."

"Sekarang yang diperlukan hanyalah sebuah kesadaran. Bahwa kekayaan terbesar adalah saat dimana dunia ini tidak lagi kau perlukan. Merasa lah cukup, karena itu puncak dari kekayaan. Tinggalkan dunia sebelum kau meninggal dunia"

"Jalani hidup sebagai pengabdian kepada yang Khalik, apa pun dan dimana pun kamu bekerja."

(Hidup di Jakarta dan tetap waras kok rasanya berat ya?)

11 September 2006

Nasi dan warna kulit menentukan gaji

Beberapa hari setelah membaca tulisannya Mas Moes Jum tentang kerja di kapal pesiar, lha kok njur saya yang dapat giliran.

Akhir minggu yang baru saja lewat, saya diajak calon mbokne anak-anak safari keliling mengunjungi saudara-saudaranya seseputaran Jabotabek. Maklum, si perempuan cantik yang ketiban sial bertemu saya ini, juga perantau, tapi bukan pekerja kapal siar. Sehingga kesempatan berkunjung dengan saudara-saudaranya juga sangat terbatas.

Salah satu saudaranya yang kita kunjungi pada akhir minggu itu bekerja di kapal pesiar, sebut saja Mas Marno, sedang pulang kampung. Dia mendapat cuti sebulan tiap 6 bulan bekerja.

Mas Marno bekerja sebagai penanggung jawab bagian purchasing. Untuk itu si Mas ini harus keliling dunia hampir setiap waktu, dari satu negara ke negara yang lain. Dan sudah barang tentu dia memiliki banyak anak buah, diantaranya bule.

Mengenai warna kulit ini, dia punya cerita.

Menurutnya, adalah sebuah keganjilan bahwa penanggung jawab bagian purchasing tidak berkulit putih. Pada awal perekrutan, si Mas ini dites bersama dengan tiga calon lain yang semuanya bule. Tidak bisa dipungkiri, aroma warna kulit masih sangat kental dalam bisnis ini dan karenanya dia dipulangkan paling awal.

Berselang satu setengah bulan kemudian, dia dipanggil kembali. Rupanya ketiga bule tersebut hanya tahan bekerja semingguan. Dalam sebulan ketiganya dicoba semua dan tidak satu pun yang sanggup. Akhirnya, mau tak mau pilihan terakhir jatuh ke tangan Mas Marno ini.

Setelah tawar menawar gaji, jadilah dia penanggung jawab bagian purchasing. Si Mas tentu saja senang berkat gajinya yang naik berlipat.

Sekian bulan waktu berjalann dan pekerjaan berhasil baik, si Mas ini baru tahu kalo anak-anak buahnya yang bekulit putih bergaji lebih tinggi dari dia. Sudah barang tentu dia melancarkan protes minta kenaikan gaji ke atasan.

"Saya mentraining mereka dari awal, mengawasi mereka bekerja. Tanggung jawab saya lebih banyak dari mereka. Dan terbukti, saya satu-satunya dari empat orang yang bertahan dan berhasil mengurusi divisi ini. Tapi mengapa gaji saya lebih rendah dari bawahan-bawahan saya? Untuk itu saya protes! Saya minta kenaikan gaji!"

Dengan santai si bule atasannya menjawa: "Coba sekarang kamu pikir. Para kulit putih itu memakan keju, sedangkan kamu hanya nasi. Sekilo keju berharga 500 ribu rupiah, lha kalo beras cuman 4 ribuan. Mereka tinggal di Eropa yang mahal, sedang kamu masih juga tinggal di Indonesia yang murah meriah. Sewa apartemen mereka dalam setahun saja bisa digunakan untuk membuat rumah di Indonesia. Jadi, dengan sangat menyesal saya tidak bisa menaikkan gajimu."

07 September 2006

Blog, Sarana Untuk Menjaga Kesehatan Jiwa

Membaca header-nya Pakde Gombal mengenai cara mudah membuat emblem, saya jadi tertarik. Hasilnya seperti yang anda lihat.

Tidak ada ruginya kalo anda mencoba. Sangat mudah dan cepat.

Kalau anda tertarik silahkan buka di sini.