02 Mei 2013

Posting Via Hape. Kurang Keren Apalagi Saya Ini?

Fitur ini sudah ada sejak lama. Seingat saya sih beritanya begitu. Mungkin sudah lebih dari 3 tahun yang lalu.

Ajaibnya, saya baru mencobanya pagi ini. Bwahaha.

Lumayan buat pengganti posterous yang mati.
-----

Sent from my BerryBerry® Kriditanphone from Sinyal Angus, Mbayar Teruuusss...!

Jebulnya Sudah Lama Saya Tak Menulis

Tak penting juga sih. Toh era blog telah lama berlalu, seperti diramalkan oleh Oom Roy beberapa taun yang lalu.

Demikian.

Lalu saya teringat ucapan Pram yang kira-kira bunyinya: "Menulislah. Karena dengan begitu engkau kan tau sumber kekusutan pikiranmu". Jadi, sebenarnya si penulis lah yang membutuhkan daripada pembacanya.

Nah!
-----

Sent from my BerryBerry® Kriditanphone from Sinyal Angus, Mbayar Teruuusss...!

15 Februari 2013

Jadi Bilal Dadakan

Jumatan barusan terasa sedikit aneh. Speaker masjid tak berfungsi sama sekali alias mati total sehabis khotib menyelesaikan tugasnya hingga shalat selesai dilakukan.

Semula saya, dan mungkin sebagian besar jamaah di lantai bawah, berpikir speaker akan diperbaiki lebih dulu sebelum shalat dimulai. Beberapa saling menengok bingung satu sama lain seperti hendak bertanya, termasuk saya. Nyatanya speaker tidak diperbaiki sama sekali. Yang terdengar malahan teriakan "amin" yang panjang dan lantang dari jamaah lantai atas.

Masjid ini terbagi menjadi dua lantai. Imam dan khotib plus sebagian besar jamaah ada di lantai atas, sementara jamaah di lantai bawah hanya kebagian suara dari pengeras suara.

Tempat favorit saya adalah di lantai bawah persis di bawah tangga besi kecil dengan lubang di lantai atas yang sempit dan belum pernah saya lihat ada orang masuk dan keluar dari situ. Siapapun pengusul tangga ini pastilah orang yang paham Fiqih. Karena alasan itu pula lah saya menyukai posisi ini. Sudah tentu tangga ini tidak dipakai, hanya sebagai sarat biar sah saja. Sementara tangga yang dipakai naik-turun jamaah ya ada di belakang.

Maka sangat wajar bila tanpa pengeras suara jamaah di bawah tidak bisa mendengar suara dari atas. Begitu pun sebaliknya.

Dari tempat favorit saya ini, pada posisi berdiri saya hanya bisa melihat punggung seorang jamaah di atas dari bawah. Tidak lebih. Itu pun kalau dia juga berdiri. Selain pada posisi keduanya berdiri, saya sama sekali tak bisa melihat mereka.

Kembali ke takbiratul ihram.

Antara kaget dan bingung, juga sambil mengintip jamaah di atas, saya memutuskan untuk takbir sendiri. Begitupun jamaah lantai bawah lainnya. Pendeknya, takbir dilakukan sendiri-sendiri tanpa komando.

Sambil shalat, saya mikir. Ini bagaimana kalau nanti tidak ada yang berinisiatif menjadi bilal? Maksud saya, orang yang mengulang ucapan imam para setiap posisi shalat dengan keras dan lantang supaya jamaah lainnya bisa mengikuti imam dengan baik. Pasti kacau balau dan jamaah bisa bubar sendiri-sendiri. Saya sendiri juga sempat bingung. Ya wis. Saya memantapkan diri menjadi bilal, dengan catatan kalau tidak ada orang lain yang melakukannya.

Dan benar saja. Saat jamaah atas mulai melakukan ruku', saya "terpaksa" menjadi pemandu bagi jamaah bawah. Masalahnya, saya juga tidak bisa mendengar suara imam. Hanya sedikit gerakan makmum yang bisa saya intip. Maka saya melaksanakan jurus tertinggi sepanjang hayat. Ilmu kira-kira!

Semua gerakan setelah ruku' sudah dipastikan hanya berdasar perkiraan. Saya sendiri ndak yakin berapa lama delay tiap gerakan kami dengan gerakan imam. Namanya juga darurat. Pokoknya sampai takhiyyat pertama berakhir, semuanya berjalan lancar. Setidaknya saya berharap demikian.

Masalahnya terbesar ada pada posisi duduk takhiyyat akhir. Sudah tidak bisa mengintip, tidak pula terdengar suara dari atas sama sekali. Semula saya berharap akan terdengar sedikit saja suara imam atau makmum dari atas. Saya memasang telinga baik-baik cukup lama. Malah bisa dibilang lama sekali.

Dan nyatanya tidak terdengar suara dari atas sama sekali. Pun jamaah bawah tidak ada yang mengucapkan salam. Sampai akhirnya saya mendengar suara gaduh anak-anak yang berlarian di luar. Saya memutuskan mengucapkan salam. Dan jamaah lantai bawah lainnya mengikuti.

Di luar, jamaah atas sudah menenteng sajadah. Sebagian malah sudah klepas klepus menikmati merokok.

Begitulah. Jumatan kali ini dimulai dengan teriakan "Amin..." dan diakhiri dengan teriakan anak-anak. Nuwun sewu, Gusti...


29 Januari 2013

Kwaci Seharga 65 Juta


Sekitar 3-4 tahun yang lalu, adik saya yang waktu itu sedang kuliah di Al Azhar, dengan biaya dari organisasi akhirnya bisa pulang. Jelas ini peristiwa yang istimewa bagi kami. Masalahnya, apalagi kalau bukan perkara biaya? Hehehe.

Nah. Sudah menjadi kebiasaan bagi siapa pun mahasiswa yang pulang ke Indonesia, maka dia akan mendapat berbagai macam titipan. Apalagi saat hendak balik ke sana. Namanya juga sudah tradisi.

Begitulah. Ceritanya, salah satu orang tua dari teman adik saya juga hendak menitipkan oleh-oleh. Tidak istimewa. Hanya sebungkus kwaci. Tidak lebih.

Beliau, yang ternyata adalah salah satu kyai sepuh di Cilacap, menyempatkan untuk menemui adik saya di rumah dan terjadilah obrolan hangat ngalor ngidul.

Singkatnya, lalu sang tamu pamit dan selanjutnya barang titipan dikumpulkan menjadi satu dengan yang lain. Sampai di sini semua baik-baik saja.

Cerita kemudian beralih ke adik saya. Karena kepulangannya dibiayai organisasi dengan tujuan untuk membantu adik-adik kelas yang hendak kuliah di sana, maka mau tak mau dia musti tinggal agak lama di sini. Pendeknya, dia baru bisa berangkat lagi sekitar 3 bulan kemudian.

Rupanya pak kyai yang kemudian baru mengetahui hal ini sepertinya agak "gelo" dan mengutus santrinya untuk mengambil titipan tadi. Sampai di sini kami tak tahu lanjutan ceritanya.

Beberapa bulan kemudian, Bapak saya mendapat kelanjutan cerita tadi dari Kyai Mujib, kyai pesantren dekat rumah yang disegani dan masih bersaudara dengan kyai sepuh tadi.

Jadi, rupanya pak kyai tersebut akhirnya memutuskan untuk mengantar sendiri kwaci kegemaran sang anak langsung ke Mesir sana. Itung-itung sekalian ingin menjenguk dan mungkin sedikit plesir. Sang ibu juga diajak serta.

"Jebul, murah. Berdua cuma 65 juta pulang pergi", cerita Kyai Mujib menirukan cerita pak kyai sepuh sambil geleng-geleng kepala antara tak percaya dan takjub.

Kalau dipikir-pikir sebenarnya ngga heran juga sih. Wong memang nyatanya kyai sepuh tadi memang berada.

Cuma ya itu tadi. Lha wong cuma kwaji kok ya jadinya sampai puluhan juga. Byuh!

Gambar diambil tanpa ijin dari sini.

28 Januari 2013

Sekilas Tentang Harga Padi

Malam minggu kemarin, seperti biasa, saya menelpon ibu. "Padi kini turun jadi 500 kurang seprapat", sebut Ibu di seberang telepon. Maksudnya Rp 475.000,- per kwintalnya. Ini berarti turun signifikan dibanding beberapa bulan yang lalu saat harganya mencapai 600 ribuan. Malah kalau tak salah padi kami sempat dihargai lebih dari itu. Jelas ini kabar yang menyenangkan bagi petani

Lebih menyenangkan lagi seandainya itu terjadi pada jayanya lumbung kami yang bisa memuat hingga 14 ton sekali panen. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat tanah kami masih utuh dan anak-anak baru memulai sekolah. Sayangnya tidak begitu.

Kemudian ingatan saya terbang, ceile terbang, ke taun 93-94 saat masih duduk di bangku SMA di Jombang sana.

Dalam satu perjalanan dengan kereta ekonomi yang penuh sesak setelah libur lebaran, saya berangkat bersama Kang Udin, santri pondok khufadz Tebuireng yang sudah seperti keluarga bagi kami. Mukanya murung sepanjang jalan.

Usut punya usut, pangkal masalah adalah harga padi yang sedang turun. Masalahnya, itu berimbas pada uang sakunya yang mau tak mau ikut menciut.

Belum lagi, menjelang panen tanamannya sempat roboh sehingga padinya terendam air. Padi roboh menjelang panen jelas musibah bagi petani. Harganya dipastikan turun jauh. Maka, tambah sedihlah dia punya tampang.

Seingatku dia sempat menyebut angka Rp 18.000,- per kwintalnya. Empat ribu lebih murah dari harga normal di kampung kami waktu itu. Pokoknya bakalan priatin kuadrat deh.

Trus? Ya sudah, itu saja.

So, apa yang mau disampaikan dalam cerita ini? Tidak ada. Sekedar berbagi cerita saja. Lumayan untuk melatih kelenturan jari. :D