09 Juni 2009

Kota Balap

Mungkin cuma di kota ini, balap massal (yang barangkali terbesar di dunia) berlangsung setiap hari.

Begitulah. Setelah pindah ke tempat baru, saya baru "merasakan" jakarta yang sesunguhnya. Ya di jalanannya itu, terutama di pagi hari. Meskipun itu hanya berlangsung tak sampai setengah jam tiap hari kerja. Deru ribuan mesin kendaraan sepertinya tak kalah dengan raungan balap di televisi. Memaksa jantung para pelintas berdetak lebih cepat.

Konon katanya , kota ini dihuni 13 juta orang di malam hari dan menjadi dua kali lipatnya di siang hari. Bisa dibayangkan, berapa juta orang berseliweran di jalanan setiap saat. Kendaraan mengalir seperti air bah. Sesekali aliran mengecil, sesekali meluap.

Namun, justru di situlah asyiknya menjadi bagian dari kota ini. Setidaknya, saya coba anggap begitu. Lha daripada capek-capek mikirin macet, kan mending dianggap hiburan aja. Biar agak mendingan lah.

Mengendarai sepeda motor, saya cuma bisa menggeber laju hingga 40-an km per jam. Lebih dari itu, saya takut. Dan karena laju yang lambat itu, saya bisa melihat sisi yang jarang saya perhatikan. Baliho-baliho raksasa, gedung-gedung tinggi yang megah plus yang tidak selesai-selesai dari kapan tahu, dll yang ternyata tak jelas polanya. Hampir semuanya terlihat kusam. Bahkan daun-daun pohon di sepanjang jalannya juga terlihat menghitam. Beda banget dengan Singapura atau bangkok misalnya (jelas ga sekelas). Juga ternyata jalanan protokol kita tak begitu mulus.

Karena laju yang menyiput itu pula, otomatis saya selalu disalip pengendara lain. Motor, mobil, bus, angkot dan bajaj. Praktis cuma tukang sayur yang bisa salip. Dan di situ pula saya merasakan denyut kota ini yang begitu kencang.

Saya suka memperhatikan barisan sepeda motor yang mendominasi jalanan. Dengan helm besar berkaca hitam plus jaket tebal berwarna gelap, mereka seperti barisan dementor dalam film Harry sang penyihir. Sementara yang tidak, seperti sudah diberi instruksi entah oleh siapa, mereka memasang muka datar, kaku dan dingin. Tak jarang terlihat masih ada sisa kantuk di wajahnya. Sesekali saya lihat ibu-ibu berdandan di dalam mobil.

Kesemuanya dalam ketergesaan. Saling berlomba menyalip apa saja yang di depannya. Beradu cepat, beradu balap. Gas pol rem pol. Begitu aliran sedikit melambat, bunyi klakson segera menggema. Sedikit-sedikit tet. Sedikit-sedikit tet.

Kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan klakson-klakson itu memang tak berguna. Lha gimana engga coba, wong kendaraan ada di segala penjuru gitu. Mau digimanain juga ya tetap saja jalanan penuh alias macet. Jadi, sepertinya ritual bunyi klakson bersaut-sautan itu muspro. Herannya, kok ya bisa jadi tradisi massal. Ngga ada yang ngasih perintah. Pun ngga ada yang ngajarin.

Atau, kadang saya malah curiga jangan-jangan klakson itu sebenarnya menggambarkan ketakutan si pengendara itu sendiri. Takut terlambat. Wah, kalau gitu ada tambahan hantu baru dari sekian yang sudah di kota ini. Anehnya, ketakutan itu kok bisa massal gitu ya? Embuh.

Saya sendiri sih kurang begitu peduli. Alon-alon waton kelakon (kira-kira berarti: biar lambat asal selamat) terasa lebih nyaman. Dan nyatanya ya cuma sesekali saja telat. Biarin.

Tapi benarkah ketergesaan itu disebabkan ketakutan terlambat? Sepertinya sih tidak. Buktinya, di sore hari pun mereka berperilaku sama. Lebih dahsyat malahan. Sebagai ilustrasi, kalau di pagi hari saya cuma butuh waktu 25-an menit, di sore hari butuh waktu yang hampir separuh lebih lama dari itu. Eh, tapi itu kan plus njemput bini ding. Padahal (menurut logika saya) seharusnya kita sudah ngga perlu risau mikirin kerja lagi lho. Artinya, tinggal santainya saja lah. Tapi yo mbuh. Wong logika saya ndak nyampe.

Jadi, sebenarnya apa yang membuat penduduk kota ini begitu tergesa?

Embuh (lagi). Yang penting, jangan sampai saya menjadi seperti itu. Menjadi pribadi-pribadi yang tergesa. Lebih cilakanya lagi, menjadi pribadi yang selalu diburu-buru hantu kota ini.

Semoga saja tidak. Werrrrr!


foto diambil dari sini.

03 Juni 2009

Bebaskan Ibu Prita!



Sekembali dari pengasingan, saya dikejutkan oleh 2 berita heboh: Manohara dan Ibu Prita. Untuk yang pertama, ah, sudahlah. Tayangan berulang hampir sepanjang hari itu bukan saja bikin bosan, juga eneg. Saya ndak yakin masih ada yang kuat menerima pemberitaannya. Belum lagi adanya isu bahwa berita dalam kasus ini ngga semuanya benar. Woh! Untunglah tak ada tipi di rumah kontrakan kami. hehehe.

Untuk kasus kedua, menurut saya ini sungguh telah menodai rasa keadilan. Lha gimana engga? Orang komplain tentang pelayanan Rumah Sakit (yang katanya bertaraf internasional) kok malah dipenjara? Bukankah sudah menjadi hal yang jamak bila keluhan ketidak-puasan dilayangkan ke milis atau surat pembaca media besar? Sungguh aneh bin ajaib.

Herannya, berita tentang kasus ini "cuma" muncul di internet dan sebagian koran. Sungguh berbeda dengan pemberitaan kasus pertama. Sepertinya ada yang salah dengan media kita. Ah, sudahlah.

Kembali ke soal Ibu Prita. Bukankah selama ini juga banyak kasus serupa yang justru karena diselesaikan dengan baik, malah bisa menjadi cara promosi yang jauh lebih effektif? Sepertinya dalam hal ini pihak RS Omni tidak bisa bermain cantik.

Hal yang kemudian saya tangkap adalah RS Omni bertindak diluar batas, sama sekali tidak elegan dan sangat arogan. Jadi, jangan salahkan ibu Prita jika kemudian citra yang muncul di benak publik adalah: Omni memang tak layak kunjung.

Nah, lho!

20 Mei 2009

Sing Jembar Segarane

"Telpun saya kok ga diangkat?", ketus suara seorang pelangggan di ujung seberang sana.

Saya pun terpaksa menjelaskan, bahwa dalam beberapa kasus saya harus multi tasking dan multi asking. Dan berpindah-pindah tempat. Dan ngleremke ati. Sehingga tak mungkin semua telpun bisa saya angkat. Lagian sih, telponnya ke telepon pribadi.

Apa? Pribadi? Emang ada batas ruang pribadi? Kami tuh bayar bukan untuk urusan pribadi tauk. Huh!

Begitulah. Pelanggan terkadang tidak (mau) mengerti, bahwa pelayan punya kemampuan terbatas. Bahkan dalam keadaan fit seratus persen sekali pun. Tak mungkin seseorang bisa melayani lebih dari inderanya sendiri. Tak mungkin orang menerima telpun dua atau lebih sekaligus. Mustahal. Belum lagi kenyataan bahwa pekerja mana pun kan tidak mungkin fit terus menerus. Ada yang namanya capek, lagi tidak happy, tabungan menipis, kos yang semalam bocor, bisul yang menyembul tadi pagi de el el. Intinya, pelayan bukan superman.

Ya bagi-bagi tugas dong. Kami kan bayar, ngga gratis. Enak aja kamu ngelak.

Lha situ ngapain maunya tilpun ama saya kalo dah tau harus bagi-bagi tugas? Emangnya ga bisa dilayani orang lain apa?

Plak! Bluk! Plak! Mau dipecat kamu?

30 April 2009

Restorasi

Entah bagaimana ceritanya, kok tempat makan di kereta api sampai disebut sebagai restorasi. Menurut saya sih artinya ya perbaikan. Tapi siapa sangka ternyata KBBI Daring juga mengakui makna tersebut dengan definisi: “gerbong kereta api yg dijadikan restoran”. Saya menduga ini sebagai serapan dari kesalah-kaprahan dari jaman baheula. Kalau pun dugaan saya benar, biarlah salah kaprah ini tetap saya lestarikan.

Dan entah dimulai dari kapan, restorasi telah menjadi tempat berbagai kegiatan biasa berlangsung. Yang paling sering tentu saja urusan perut: makan, minum, atau ngerokok. Di luar urusan perut pun ada. Minta pijit, bisa. Ngecas telepon genggam bisa. Yang ini paling banter cukup lima ribu perak. Bantal untuk ganjalan punggung bertumpuk-tumpuk menggunung ada di sini.

Transaksi lain yang juga jamak adalah beli tempat duduk. Kalau Anda Cuma berhasil mendapatkan tiket tanpa tempat duduk (TD), cobalah tanyakan pada petugas di restorasi. Dengan sumringah petugas akan memberi tahu. Dijamin. Tak peduli kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif, hampir bisa dipastikan tersedia itu yang tuan dan nyonya kehendaki. Asal harga cocok, cingcai lah.

Hal unik lainnya, kita bisa minta diberhentikan di mana pun kita mau. Tinggal bilang saja. Di tengah persawahan sekali pun bisa dilayani. Dengan catatan, akan lebih mudah jika perjalanan malam. Pokoknya: lu minta, gua ada. Setidaknya begitulah yang pernah saya lakukan.

Dan fungsi yang paling umum, ini favorit saya, restorasi menjadi tempat ngobrol dan bergosip. Yang ini sih biasanya muncul karena kebutuhan akan teman ngopi dan merokok. Apalagi untuk kereta eksekutif (kalau yang ini saya baru sekali seumur hidup) yang berpendingin dan tak berjendela, restorasi menjadi surga bagi para ahli hisap. Para pecandu berat bahkan cuma duduk di restorasi di sepanjang perjalanan.

Jangan salah! Gosip di sini seringkali lebih bermutu daripada sajian dialog politik basi yang ditayangkan televisi lho. Dalam perjalanan ke jakarta beberapa waktu yang lalu, saya menemukannya.

Tiga orang (dua senior, satu yunior) dari kesatuan berbeda saling ngrasani para petinggi yang memobilisasi para serdadu guna kepentingan politik. Efeknya, kesatuan terpecah-pecah dalam beberapa kubu. Tentang penculikan mahasiswa di masa lalu, tentang campur tangan mereka dalam berbagai konflik di daerah, juga tentang siapa saja pelaku pembuatan uang palsu dari waktu ke waktu.

Juga tentang seorang konglomerat berinisial TW yang rajin mengadakan pesta dan membagi-bagikan uang kepada semua (ya semua) orang di Mabes AD dengan jumlah hingga milyaran rupiah setiap minggunya. Si yunior dengan terang-terangan mengatakan menerima setidaknya sejuta ripis setiap minggunya. Itulah sebabnya, menurut dia, bisnis judinya tak pernah tersentuh hukum. Dia pula yang ikut mensponsori penggulingan seorang presiden di masa lalu karena dia mencoba menggusik bisnis haramnya.

“Saya yakin, di 2014 nanti dia akan mengincar posisi RI satu!”, katanya meyakinkan.

Yah, namanya juga gosip. Tentang kebenarannya silahkan pikirkan sendiri.

28 April 2009

BHI no 13: Muhammad Rohibun


Nama lengkapnya Muhammad Rohibun. Rumahnya cuma berselisih satu rumah plus sebuah jalan dari tempat tinggal saya di kampung. Ya kira-kira berjarak seratusan meter.

Selepas sekolah menengah atas di Sidareja, sebuah kota kecamatan berjarak tiga kilo kayuhan sepeda plus setengah jam naik bus, dia merantau ke Jakarta. Prestasi terbaiknya di sekolah, ranking ke 2 dari 38 murid di tahun ketiganya. Selebihnya, ya cukup sepuluh besar saja. Maklumlah, jauhnya perjalanan itu sudah lebih dari cukup untuk menguapkan ingatan tentang pelajaran yang didapat seharian. Namun bagi kami orang Bangsari waktu itu, bisa lulus sekolah menengah saja sudah hebat. Masalahnya, setelah itu mau ngapain?

Maka, mengadulah nasih di kota. Dan sebagaimana umumnya calon perantau dari desa kami, dia tak tahu mau kerja apa. Pokoknya merantau! Perkara nanti kerja apa atau jadi apa, itu urusan nanti.

Sewaktu pertama kali saya kerja di Jakarta, dia masih menjadi penjaga toko kecil kepunyaan kakaknya di sebuah daerah di Jakarta Timur. Pekerjaan sebagai bell boy di sebuah hotel di jakarta pusat pernah dia jalani selama 6 bulan sebelum hotel itu tutup. Setelah itu, ya balik lagi jadi penjaga toko.

Begitu dia tahu saya bekerja di Jakarta, dia segera menemui saya. Minta pekerjaan. Begitu bersemangatnya sampai-sampai dia bersedia mengelap sepatu saja jika diperlukan. Semula saya terbahak-bahak mendengar permintaannya. Lha gimana bisa saya ngasih kerjaan kalau saya juga cuma tukang wedang? Namun ada satu hal yang saya akui, keteguhan hatinya.

Karena jenis pekerjaan saya termasuk baru di pabrik, sehingga bos memberi kebebasan untuk merekrut para asisten tukang wedang. Namun untuk sampai mengajaknya bergabung, saya sangat tidak yakin. Saya lebih suka merekrut para calon yang punya skill dan pendidikan lebih baik.

Ternyata, skill yang bagus juga bisa mendatangkan masalah. Mereka kurang antusias dan cenderung ogah-ogahan bekerja. Mungkin karena mereka menganggap pekerjaan itu terlalu remeh, sehingga sering tidak masuk, kebanyakan main dan yang paling tidak menyenangkan, tiba-tiba mereka berhenti bekerja. Silih bergantinya orang membuat saya tak tahan juga pada akhirnya. Beberapa bulan kemudian, saya memanggilnya.

Pekerjaan pertama, tukang angkut-angkut, sortir dan hal-hal remeh lainnya. Di saat-saat rehat, dia minta diajari para tukang wedang lainnya untuk mengoperasikan mesin. Dan sunguh ajaib. Dalam tiga-empat bulan berjalan, dia sudah menguasai semua prosedur dan tetek bengeknya. Selanjutnya, tak usahlah saya ceritakan di sini.

Kini, tiga tahun kemudian, dia sudah menjadi staff infrastructure & architecture di salah satu perusahaan IT di sekitar Duren Tiga. Tugasnya: maintenance server, jaringan dan hosting web. Jauh melampaui saya yang masih mengoperasikan mesin wedang yang itu-itu saja. Satu-satunya hal yang masih tersisa dari pekerjaannya bersama saya adalah, dia masih mengetik dengan sebelas jari.

Menurut saya, dia mewakili gambaran umum tentang anak-anak kampung. Bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh mereka untuk berkembang adalah: kesempatan yang cukup. Masalahnya, gimana caranya ngasih kesempatan buat yang lain?


Link terkait
BHI no 1-12
BHI no 11