"kenapa sih kerja kalian semua ngata-ngatain aja, lihat dulu tuh negara kalian, kalian mestinya baca lebih banyak buku biar paham soal Islam yang sebenarnya, soal infaq, dari zaman rasul juga udah diterapin, kalian nya aja yang ngga tau dan ngga mau tau, saya yakin kalian ini orang-orang yang ngaku tuhannya Allah, tetapi ketika di ajak berqur'an langsung memperlihatkan kuduk kalian, sombong....udah banyak yang saya saksikan, orang-orng yang saya ajak pada hancur hidupnya karena kesombongannya. tapi lihatlah nanti, orang yang tak pernah belajar, lihatlah, nanti! suatu saat kamu akan menjilat ludah sendiri, makanya banyak-banyak baca dan bandingkan buku-buku tafsir yang ada, jangan asal ngemeng.dosa!"
Demikian salah satu komentar dalam tulisan terdahulu. Pengirimnya menggunakan identitas deepestheart. Blog itu tak bisa dibuka dan menyisakan sebuah pesan: "Blog ini melanggar Syarat Layanan Blogger dan hanya terbuka bagi pengarangnya saja".
Keadaan negara Indonesia yang carut marut ini sering kali dijadikan promosi gratis bagi gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Menggunakan logika: karena menjadi warga negara Indonesia hanya kacau yang didapat, pastilah dengan menjadi warga negara Islam semuanya akan lebih baik. Selanjutnya disertai dalil-dalil: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.2:208)"
"Tuh, kan. Apa saya bilang? Cuma negara islam yang bisa mengatasi keadaan ini. Coba kalo dari dulu, pasti hal beginian tak akan sampai terjadi. Masuklah ke dalam tanah yang dijanjikan Allah", kata Abi saat mentilawahi saya dulu. Juga disertai tekanan: "jika tak hijrah ke negara islam (masuk NII), berarti kamu kafir. Dan pada masanya negara itu berdiri, darahmu menjadi halal bagi kami". Cara pendekatan seperti ini seringkali terbukti ampuh dalam merekrut anggota baru.
Berbeda dengan aliran islam lain yang hidup di Indonesia, gerakan ini sulit terdeteksi. Oleh karenanya, meski terus eksis dan berkembang, resistensi terhadap kelompok ini jarang benar-benar kuat. Sebagian kalangan malah menganggap NII adalah proyeknya aparat kita sendiri guna melemahkan gerakan kelompok islam radikal. Pada sebagian kasus, tempat tilawah yang dekat dengan aparat sering dijadikan argumen yang menguatkan dugaan itu. Tempat saya mendapat tilawah dulu juga cuma berjarak tak lebih dari 50 meter dari sebuah markas korps berseragam. Seperti sebuah pepatah lama, “Jika ingin membunuh kuda, gunakanlah kuda!"
Tak bisa dipungkiri, gerakan ini masih hidup dan terus mencari pengikutnya di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan sampai ke negara tetangga. Seorang mantan penggiat pernah memperkirakan, tak kurang dari 200 ribu pengikut yang tersebar di berbagai kota di Indonesia masih aktif hingga saat ini. Kang Bahtiar punya pengalaman yang jauh lebih banyak mengenai hal ini.
Maning kang......