22 May 2008

Wong jakarta kelelegen dondong

Ya iya lah... Masa iya dong? Abdul saja abdullah, masa abdul dong?
atau
Ya iya lah... Masa iya dong? Mulan saja jameela, masa jamil dong?

Tak ada hujan tak ada angin, beberapa hari belakangan, kalimat ini tiba-tiba populer di pabrik wedang. Menggantikan kalimat lain yang sebelumnya juga sempat sangat populer
"Udah ujyan, becek, ngga ojhek...".

Terus terang saya heran. Kok orang jakarta senang dengan kelatahan ya? Mbok yaa kreatif sedikit gitu loh. Masa setiap kali ada kata atau kalimat yang populer, yang lain langsung ikut-ikutan. Emangnya kalo ngga ikut trus jadi ngga gaul gitu ya? Hehehe

Jangan-jangan, barusan pada klelegen (jawa, menelan secara tak sengaja) biji dondong ya? Ada yang tau darimana virus ini berasal kisanak?

Maning kang......

13 May 2008

Uang kondangan: berapakah nominal yang pantas?

Sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita untuk memberikan sumbangan saat seseorang yang kita kenal (atau tak jarang dianggap kenal) lagi punya gawe. Mulai dari pernikahan, khitanan, kelahiran, bermacam syukuran hingga kematian. Harga sosial yang harus dibayar sebagai tanda guyub rukun. Meski pada kenyataannya terdapat oknum si empunya gawe yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan. Ya, benar. Mencari untung. Modusnya, semua biaya hajatan didapat dari berhutang pada sebuah toko kelontong. Setelah hitung-hitungan hasil "panen", barulah semua hutang dibayarkan. Perkara setelah itu ternyata hasilnya tekor, ya terima nasib. Paling tidak sudah berusaha. :P

Di kampung, tepatnya kampung saya, sumbangan biasanya disampaikan secara langsung saat menyalami sohibul hajat. Umumnya berupa beras plus tempe, bihun, mie keriting, sayuran, panganan (pacitan) hingga hasil bumi. Namun kini, tradisi sumbangan berupa barang itu sudah mulai berkurang. Mulai mengikuti model orang kota yang cukup memasukkannya ke dalam kotak sumbangan bertuliskan "masukkan uang sumbangan disini" plus daftar absen di pintu masuk. Karena lubang kotaknya kecil, tentu saja sumbangannya tak mungkin berupa untelan telo. Lha, terus sumbangan berupa barang dibawa kemana? Ya langsung ke dapur seperti biasanya.

Menurut saya, penyampaian sumbangan melalui kotak ini terasa lebih bermartabat. Tuan rumah tidak terkesan mencari untung, si pemberi sumbangan juga tak perlu minder jika sumbangannya cuma sedikit.

Masalahnya, jika karena suatu dan lain hal, kita tak bisa menghadiri acara tersebut dan harus menyampaikannya secara langsung kepada calon si punya hajat. Yang tentunya lebih mudah dalam betuk uang bukan? Hendak dititipkan ke teman kok belum tentu bisa hadir. Mau tak mau akhirnya ya harus disampaikan sendiri.

Lantas bagaimana jika sesudah itu amplop langsung dibuka oleh si penerima? Bagaimana kalau kemudian sumbangannya dianggap kurang pantas? Lalu yang disebut pantas itu berapa?

Maka, bisik-bisik sesama calon penyumbang menjadi hal yang jamak. Supaya tidak disebut sok kaya. Atau sebaliknya, supaya tak terlalu sedikit. Lebih tepatnya, supaya terasa wajar dan tak dibilang pelit.

Maka, pertanyaan ini masih terasa relevan. Berapakah nominal uang kondangan yang pantas?

Maning kang......

05 May 2008

NII: Negara yang dijanjikan itu?

"kenapa sih kerja kalian semua ngata-ngatain aja, lihat dulu tuh negara kalian, kalian mestinya baca lebih banyak buku biar paham soal Islam yang sebenarnya, soal infaq, dari zaman rasul juga udah diterapin, kalian nya aja yang ngga tau dan ngga mau tau, saya yakin kalian ini orang-orang yang ngaku tuhannya Allah, tetapi ketika di ajak berqur'an langsung memperlihatkan kuduk kalian, sombong....udah banyak yang saya saksikan, orang-orng yang saya ajak pada hancur hidupnya karena kesombongannya. tapi lihatlah nanti, orang yang tak pernah belajar, lihatlah, nanti! suatu saat kamu akan menjilat ludah sendiri, makanya banyak-banyak baca dan bandingkan buku-buku tafsir yang ada, jangan asal ngemeng.dosa!"

Demikian salah satu komentar dalam tulisan terdahulu. Pengirimnya menggunakan identitas deepestheart. Blog itu tak bisa dibuka dan menyisakan sebuah pesan: "Blog ini melanggar Syarat Layanan Blogger dan hanya terbuka bagi pengarangnya saja".

Keadaan negara Indonesia yang carut marut ini sering kali dijadikan promosi gratis bagi gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Menggunakan logika: karena menjadi warga negara Indonesia hanya kacau yang didapat, pastilah dengan menjadi warga negara Islam semuanya akan lebih baik. Selanjutnya disertai dalil-dalil: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.2:208)"

"Tuh, kan. Apa saya bilang? Cuma negara islam yang bisa mengatasi keadaan ini. Coba kalo dari dulu, pasti hal beginian tak akan sampai terjadi. Masuklah ke dalam tanah yang dijanjikan Allah", kata Abi saat mentilawahi saya dulu. Juga disertai tekanan: "jika tak hijrah ke negara islam (masuk NII), berarti kamu kafir. Dan pada masanya negara itu berdiri, darahmu menjadi halal bagi kami". Cara pendekatan seperti ini seringkali terbukti ampuh dalam merekrut anggota baru.

Berbeda dengan aliran islam lain yang hidup di Indonesia, gerakan ini sulit terdeteksi. Oleh karenanya, meski terus eksis dan berkembang, resistensi terhadap kelompok ini jarang benar-benar kuat. Sebagian kalangan malah menganggap NII adalah proyeknya aparat kita sendiri guna melemahkan gerakan kelompok islam radikal. Pada sebagian kasus, tempat tilawah yang dekat dengan aparat sering dijadikan argumen yang menguatkan dugaan itu. Tempat saya mendapat tilawah dulu juga cuma berjarak tak lebih dari 50 meter dari sebuah markas korps berseragam. Seperti sebuah pepatah lama, “Jika ingin membunuh kuda, gunakanlah kuda!"

Tak bisa dipungkiri, gerakan ini masih hidup dan terus mencari pengikutnya di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan sampai ke negara tetangga. Seorang mantan penggiat pernah memperkirakan, tak kurang dari 200 ribu pengikut yang tersebar di berbagai kota di Indonesia masih aktif hingga saat ini. Kang Bahtiar punya pengalaman yang jauh lebih banyak mengenai hal ini.

Maning kang......

02 May 2008

Akhirnya, negara kita sudah bebas korupsi

"Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hendak dibubarkan". Begitu beritanya di sini dan di sini.

Logikanya, karena KPK tak diperlukan lagi, itu berarti sudah tak ada lagi korupsi di negara kita. Bukan begitu ki sanak?

Akhirnya, sebagai orang awam saya bisa ikut berbahagia. Sambil berdoa, semoga semuanya bertambah baik. Supaya tidak perlu terus kecemplung di jakarta dan bisa balik kampung. Semoga...

Maning kang......

18 April 2008

SMS Mimpi

Jumat, 18 April 2008 pukul 09:17:56, sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya.

"Bpk. MUCH. SYAEFULLOH Yth, Siap memiliki Lexus? Saksikan undian Gebyar Hadiah Tahapan di acara TV Gebyar BCA Indosiar Sabtu pukul 21 WIB. TAHAPAN BCA "
Pengirim:
BCA
Pusat pesan:
+62816124
Sempat saya balas: "pekken wae le..." (bahasa jawa, yang artinya kurang lebih "ambil saja nak...")
Lha jebule gagal.

Maning kang......