Segera setelah Mbah Surip dan Rendra meninggal dalam jeda yang hampir beriringan beberapa saat yang lalu, saya dan beberapa kawan mendapat kabar bahwa Gus Dur sakit keras. Saraf-saraf ditubuhnya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan. Singkatnya, disentuh sedikit sudah kesakitan. Tentu saja kami jadi berburuk sangka, jangan-jangan kali ini beliau akan segera menyusul. Maka, segera saja kami putuskan untuk membezuk beliau di kediamannya di daerah Ciganjur.
Lha kami ini siapa kok sok ikut-ikutan mbezuk? Embuh. Kayanya aneh saja, kalau sebagai orang yang mengaku nahdliyyin kok ndak pernah ketemu GD langsung. Anehnya lagi, saya yang bukan siapa-siapa ini sempat merayakan sukuran pernikahan tepat setahun yang lalu di Wahid Institute, rumah kediaman GD semasa kecil dekat masjid matraman, ujung Menteng. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.
Sewaktu kami datang, banyak sekali tamu mengantri di depan masjid. Mulai dari tokoh terkenal, kerabat, hingga orang-orang yang seperti kami. Simpatisan. Mba Ainun lah freepass kami dalam melewati protokoler. Meski begitu, sebagai figuran, tentu saja kami mendapatkan giliran terakhir. Sambil menunggu dibawah pohon mangga, saya mengamati keadaan sekitar.
Rumah ini lumayan besar, dengan sedikit sentuhan jawa. Terutama pada pintu masuknya yang terbuat dari kayu jati berukir. Jendelanya dari jati polos. Beberapa pot bunya diletakkan di depan rumah. Dua buah mobil hitam terparkir agak jauh di depan. Di samping kiri, terbentang lahan kosong yang luas. Sepertinya tidak dimanfaatkan.
Konon, rumah dan tanah ini adalah pemberian dari Pak Harto semasa berkuasanya dulu. Ketika itu kedaannya masih sangat sepi dan gung liwang liwung. Setelah GD jadi presiden, dan jalanan menuju kesana diperbaiki, kawasan ini menjadi ramai dan harga tanah melambung tinggi.
Lamunan saya terhenti saat kami mendapat kabar kemungkinan GD tak bisa dijenguk. Beliau baru saja tertidur. Untungnya, saat kami kehabisan harapan, tiba-tiba ada kabar kalau GD bisa ditemui. Dengan terburu-buru, kami memasuki ruang tamu.
Ruang tamunya besar dan hampir kosong melompong. Tidak banyak perabot di sini. Seset tempat duduk terletak di dekat jendela. Petugas pengawal kepresidenan memanfaatkanya untuk menonton televisi yang dinyalakan tanpa suara. Di ruang ini pula GD tidur.
Dia berbaring di atas lantai yang dilapisi karpet. Begitulah caranya tidur sedari dulu. Kulitnya menghitam akibat proses penumpukan zat besi yang tidak tersaring proses cuci darah selama bertahun-tahun, kurus dan lemah.
Dibuka oleh Mba Ainun yang sudah jadi bagian dari keluarga Ciganjur, satu-satu diantara kami memperkenalkan diri: Yudi, Kang Joko, Omith, saya sendiri. Tidak banyak yang diomongkan kecuali pas bagian Yudi. Sebagai anak Madiun, dia ditanya: " Apanya Semaun le?". Yang ditanya gelagepan menjawab tak begitu jelas. Di belakang, karuan saja kami jadi cekikikan.
Meski dalam keadaan sakit, GD tetap melaksanakan ritual seperti biasa. Bangun setiap jam 4 pagi, memberikan pengajian secara bandongan kepada santri-santri, dan mewajibkan putri-putrinya yang belum menikah untuk "menyetor" sema'an Al Qur'an seminggu sekali.
Itulah tatap muka saya dengan GD. Sekali dan satu-satunya. Setelah itu saya dengar beliau berangsur-angsur sehat. Sukurlah.
Lha kok, tiba-tiba saya mendapatkan kabar, dia telah meninggalkan kita untuk selamanya. Selamat jalan Gus...
Selengkapnya...
30 Desember 2009
In Memoriam GD
18 November 2009
Setahun yang lalu

Hari ini, setahun sudah usia pernikahan kami. Saya menganggap itu sebagai prestasi.
Ada sedikit cerita tentang mengapa tanggal ini yang kami pilih. Ya. Bener-bener kami berdua yang memilihnya. Bukan pilihan kedua orang tua kami, apalagi menggunakan rumus-rumus njelimet berpatokan weton dan primbon. Permintaan dari mamanya (Bapak sudah almarhum) cuma satu: akad nikah harus dilaksanakan sebelum dia naik haji. Nah. Rupanya, ada alasan yang baginya sangat prinsip. Seperti banyak orang jawa timur lainnya, mama sudah menyiapkan diri kalau-kalau nanti dipanggil Pengeran di tanah suci sana. Owalah...
Cilakanya, eh ndak ding. Itu berarti kami cuma punya waktu ndak sampe dua bulan. Ya sudah lah. Maka kami pilihlah tanggal itu. Alasannya, cuma karena pada tanggal itu kami berdua bisa cuti dan tanpa diganggu pekerjaan. Sesederhana itu. Kami percaya sepenuhnya, tidak ada yang namanya hari buruk. Manusia lah yang kemudian mempersepsikannya sebagai baik atau buruk. Dan kami percaya setiap hari adalah hari baik.
Nyatanya, setahun berlalu dan kami baik-baik saja. Padahal saya belum bisa makani, nyandangi dan mapani. Belum bisa makani, wong buktinya dia masih bekerja. Belum sepenuhnya bisa nyandangi, wong duit saya hanya baru cukup untuk hidup saya sendiri. Dan masih tetap ngontrak.
Hebatnya, kami tetap selamet. Karena itu kami merayakannya...
Selengkapnya...
12 November 2009
Singapore #4: Mount Sophia nomor 7

Mount Sophia nomor 7. Sebuah alamat yang kami berempat belum pernah tahu, ke sana lah kami menuju. Mengingat waktu yang sudah larut, maka langsung saja kami menghampiri pangkalan taksi. Ada empat taksi mangkal berjajar di sana. Tak jauh dari situ, dua tiga orang terlihat sedang mengelilingi tong sampah. Merokok. Tebakan saya, mereka orang Indonesia. Selebihnya, sepi.
Secarik kertas berisi alamat kami sodorkan ke tukang taksi dan dia langsung mengiyakan. Ajaib! Sesuatu yang jarang saya jumpai di jakarta.
Dalam perjalanan, secara iseng teman yang duduk di samping sopir bertanya, darimana dia bisa tahu alamat dimaksud. Jawabannya ternyata dari GPS yang terpasang di dashboard mobil. Layarnya seukuran tivi kecil, jauh lebih besar dari GPS versi burung biru di Jakarta. Saya perhatikan, selama perjalanan si supir melakukan aktivitas menerima atau membaca pesan di layar itu, sepintas membaca peta dan berkali-kali mengobrol di telepon (sesuatu yang terasa janggal di Jakarta) plus melayani pertanyaan-pertanyaan kami. Oh iya, argometernya juga tertera di situ.
Kurang dari 30 menit, kami sampai di alamat. Adi sang tuan rumah, teman main rekan sepabrik yang hanya saya kenal lewat jejaring facebook, telah menanti di depan penginapan. Dan kami harus banyak berterima kasih kepadanya atas semua panduannya ke semua tempat tanpa diminta. Dari dia juga saya jadi tahu banyak hal. Berapa yang harus dibayar untuk naik MRT atau bus, dimana lokasi makanan yang halal dan bagaimana sertifikasi halal itu bisa diperoleh, tentang orang-orang kaya Indonesia yang tinggal dan mengendalikan bisnis dari sana, dan terlalu banyak hal yang saya tak bisa ingat satu-satu.
Karena baru sampai selepas tengah malam, kami tak sempat kemana-mana. Kecuali mencari pengganjal perut ke tempat makan terdekat. Hujan deras mengguyur saat kami memutuskan keluar. Salahnya kami, kami pikir tempat terdekat itu ya benar-benar dekat. Lha ternyata jaraknya ada sekiloan lebih. Saat berangkat, tak begitu terasa. Tapi begitu hujan menderas sewaktu pulang, jarak segitu terasa begitu berat. Belum lagi lelah yang mulai menyerang, ngantuk dan belum juga mandi.
Kloter kedua datang sekitar sejam setelah kami selesai makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:30-an dan mereka kehabisan energi untuk mencari makan. Dan kami harus cepat tidur untuk menyimpan tenaga guna jalan-jalan esok hari. Dua teman kami memisahkan diri menginap di kawasan Arab Street.

Paginya kami baru bisa memperhatikan sekeliling. Penginapan ini dulunya komplek gereja. Ini terlihat jelas dari sebuah salib yang masih bertengger kokoh di puncak aulanya. Kemudian tampat ini beralih fungsi menjadi Kampus Trinity College sekaligus pemondokan mahasiswa. Ya kira-kira mirip asrama mahasiswa Darma Putra di Jogja lah. Bedanya, di sini kamarnya lebih kecil dan ranjangnnya bersusun. Layaknya asrama, di sini juga disediakan dapur kecil, televisi milik bersama dan kamar mandi umum. Bedanya lagi, tersedia air panas dan dingin untuk mandi. Air krannya, sebagaimana standar sana, layak minum. Begitu sterilnya, kata Adi, orang sana cenderung jadi penakut. :P
Mount sophia terletak di perbukitan kecil, dekat dengan The Istana dan favoritnya kebanyakan orang Indonesia, Orchard Road. Mount sophia juga relatif dekat dengan kawasan backpacker di seputaran YMCA. Ke Marina Bay pun tak terlalu jauh. Sebenarnya sih bisa dikatakan hampir kesemua tempat itu relatif dekat. Lha wong singapura itu kecil je. Hal yang sangat saya sukai dari tempat penginapan kami adalah, suasana yang sepi dan pemandangan yang indah.
Berapa harga per malam? Ini dia pertanyaan yang sering di ajukan orang. Di hari terakhir, kami dikenakan SGD 30 per kepala. Ya, sangat murah untuk ukuran sana. Tapi kata teman saya, di Arab Street dan sekitarnya yang termasuk pusat kawasan backpacker, harganya sedikit berbeda. Tapi ya itu, harus mau berbagi dengan orang lain.
- untuk kamar berdelapan, harga perkepala SGD 15
- untuk kamar berenam, harga perkepala SGD 18
- untuk kamar berempat, harga perkepala SGD 21
- untuk kamar berdua, harga perkepala SGD 25
- untuk kamar berdua, kamar madi didalam, harganya beda lagi
Plus gratis sarapan pagi. Oh iya, seringkali harga penginapan di sana belum termasuk biaya registrasi SGD 20. Katanya, untuk uang member yang berlaku selamanya. Entahlah.
Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009 Selengkapnya...
09 November 2009
Singapore #3: Budget Terminal
Belum lama saya tahu, bahwa beberapa bandara menerapkan kebijakan untuk menempatkan maskapai-maskapai penerbangan murahnya khusus di satu terminal. Biasa disebut Budget Terminal, mungkin kependekan dari Low Budget Terminal. Ehtahlah. Pemisahan ini betujuan untuk menghindari penumpukan massa di terminal yang "lebih" mahal. Karena yang namanya murah itu ya biasanya selalu penuh peminat. Belum lagi, seperti disinggung pada tulisan pertama, biasanya penumpang murah itu cenderung pating crenthel banyak bawaan, relatif kurang tertib dan begitulah. Pokoknya dibedakan. Itu kata teman saya sih... Kuala Lumpur sudah menerapkan, Svarnabhumi iya dan Cengkareng sedang dalam proses. Singapura? Sudah pasti lah. Maka begitu pula si macan ini. Di Cengkareng sih masih campur dengan terminal biasa (2 D) dan dalam dalam proses ke terminal 3 (yang nantinya akan dikhususkan untuk penerbangan murah). Eh, masih katanya ding. Sementara di Changi, ya jelas sesuai kelasnya.
Terminal ini kecil, bercat coklat kekuningan, sangat bersih dan terang. Setelah saya perhatikan, terminal ini lebih mirip sebuah gudang yang tinggi dan luas dengan pengamanan ketat. Bentuknya mirip toserba Makro (yang tahunya saya cuma) di Jogja. Layaknya gudang, pilar-pilar bajanya langsung terlihat mata memandang. Selepas pemeriksaan imigrasi, terlihat cuma ada 3 atau empat konter jualan dan sebuah vending machine di sana. Sangat berbeda dengan terminal utama yang apa saja ada. Bahkan menginap di sana pun terasa nyaman. Lha wong semua kebutuhan pokok tersedia je. Yang bayar: makan, minum dan belanja dengan harga yang bisa dikata sama dengan di luar. Sedang yang gratisan, ada kolam renang, pijet kaki dan internet. Di budget terminal, apa yang saya sebut di atas juga ada tapi dalam skala lebih kecil. Tapi untuk urusan menginap, rasanya kok ndak tega rebahan di ubin lantai.
Satu hal lagi yang sangat terasa berbeda dengan terminal utama adalah, begitu keluar pintu terminal, suasananya mirip seperti suatu kota kecil di suatu negeri entah di mana. Jalanan yang sangat lebar, marka jalan yang banyak, pepohonan yang besar-besar dan tinggi serta lampu-lampu yang bertebaran. Dan sangat sepi.
Biarpun kecil, jangan ragukan fasilitasnya. Pertama, seperti sudah disebut didepan, mesin pijet kaki yang bisa dioperasikan sendiri. Kedua, banyak permen di sini. Di imigrasi maupun di bagian informasi yang berada tepat di samping pintu keluar. Toiletnya bagus dan sangat bersih, makanan berlabel halal dari Majelis Ulama Singapore dan ada beberapa taksi menunggu. Oh iya, jalan ke kota harus dicapai melalui terminal utama. Tapi tenang saja, tersedia bus menuju kesana. Gratis.
Berhubung kami ndak paham jalan menuju alamat, sementara waktu sudah mendekati tengah malam, maka kami putuskan menggunakan taksi. Menuju 7 Mount Sophia.
Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009
Selengkapnya...
05 November 2009
Singapura #2: Tiger Airways. Heh? Apanya Supra Fit tuh?
Tiger Airways?
Mendengar nama itu, dahi saya langsung berkerut. Yakin? Salah sebut kali? Ndak pernah denger tuh!
Bahkan sempat saya mengira itu "Thai Girl Airways". Thai Girl, yang biasa dibaca (dan diplesetkan) menjadi Tiger, adalah sebutan untuk wanita penghibur di negeri gajah sana. Tapi masa iya sih pesatuannya mereka sudah mampu memiliki maskapai penerbangan sendiri? Duh! Rasanya terlalu sulit untuk jadi kenyataan.
Namun karena teman seperjalanan dan pasangannya sudah memesan tiket pada maskapai itu, akhirnya saya juga mencari informasinya di internet. Dan ternyata memang ada di www.tigerairways.com. Dia sendiri juga mencoba karena rekomendasi temannya dan belum pernah mencoba sebelumnya. :D
Setelah membandingkan dengan maskapai lain, antara yakin dan tidak, akhirnya saya memesan tiket pergi-pulang untuk saya dan omith. Totalnya USD 118. Jauh lebih murah dibandingkan maskapi murah lainnya. Bahkan cuma separuh dari Singa Udara yang bermoto: Sekarang semua orang bisa terbang.
Tapi ya itu. Harga segitu tanpa bagasi dan nomor kursi. Sebenarnya masih ndak yakin saya. Tapi, ah sudahlah. Kalau pun nanti pesawatnya jelek, waktunya molor-molor dan di atas nanti akan terjadi rebutan kursi, toh itu cuma perjalanan sejam lewat sedikit. Tak jadi soal. Saya pernah mengalaminya sewaktu penerbangan ke Kendari dan selamat.
Oh iya, masih ada satu masalah lagi. Tidak ada perwakilannya di Indonesia. Jadi kalau tiba-tiba pesawatnya tidak datang, ya terima nasib. Salah sendiri jadi orang susah. Hahaha.
Namun itu belum selesai. Keraguan saya bertambah satu lagi setelah tak satu pun diantara kami yang tahu dimana letak terminalnya. Dari mana seharusnya kami naik di bandara Cengkareng? Dan ternyata memang tidak diterakan di tiket mau pun di website-nya. Byuh! Dan lagi-lagi setelah browsing sana-sini lewat internet, akhirnya kami mendapat informasi tempatnya berada di terminal 2 D. Terpujilah engkau penemu teknologi ini.
Kekhawatiran itu belum juga habis. Loket boardingnya cuma satu. Itu pun berada jauh di deretan paling ujung. Hmm... sepertinya memang bukan pilihan yang bagus, pikir saya dalam hati. Untungnya, kami mendapatkan nomor tempat duduk bersebelahan dekat koridor. Ndak bisa minta dekat jendela. Ya sudah. Setidaknya adegan rebutan kursi itu ndak bakalan terjadi. Satu risiko terkurangi. Di tiket tertera naiknya dari Gate 4.
Di ruang tunggu, antrian penumpang tumpah ruah. Banyak diantaranya bukan orang Indonesia. Ya jelas lah. Lha wong penerbangan ke luar negeri kok.
Tak lama berselang, terdengar pengumuman dari pengeras suara, penumpang disilakan memasuki pesawat. Maka ritual antrian para fakir segera dimulai. Beragam manusia, dengan berbagai jinjingan bergelantungan karena ga mau rugi, berbaris menuju pesawat.
Dari ujung lorong, saya melihat supirnya. Eh, maksudnya pilotnya. Bule. Ndak penting juga sih. Tapi setidaknya bagi manusia bermental inlander macem saya, ini bisa mengikis sedikit rasa khawatir.
Dan kekhawatiran saya langsung sirna begitu memasuki pintu pesawat. Pesawatnya baru, berjenis Bus Udara Boeing 737-400. Dindingnya putih dan bersih sekali. Dan yang penting lagi, lampunya hidup semua!!! Belum lagi awak kabinnya yang cantik-cantik dan ganteng. Halah. Pokoknya lebih yahud dari si Singa Udara atau Asia Udara. Apa karena rutenya masih baru? Semoga tidak.
Dari majalah gratisan versi maskapai, saya mendapat informasi tambahan. Maskapai ini baru saja berulang tahun yang kelima sejak pertama kali terbang dari Changi (entah kemana, lupa). Dan lagi-lagi dari Internet, rute CGK-SG ternyata baru dibuka sejak maret 2009 yang lalu (kalau ndak salah).
Satu "cacat" kecil, penumpang tidak diberi minum selama perjalanan yang 1 jam 20 menit itu. Tapi ada sebungkus kecil kacang bawang asin yang enak. Kata temen, ini kacang benar-benar sebuah jebakan betmen. Disuruh ngemil biar beli kehausan. :P Di atas semua itu, si macan tetep jempol!
Mau?
Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009
Gambal diambil dari sini
Selengkapnya...


